04/08/2026
Issues Opini Politics & Society

Di Kasepuhan Gelaralam, Listrik Menyala karena Hutan Tetap Terjaga

Di Kasepuhan Gelaralam, listrik lahir dari hutan dan sungai yang tetap lestari. Cara masyarakat adat mengelola PLTMh memperlihatkan transisi energi dapat berjalan seiring dengan pelestarian alam dan nilai-nilai adat.

  • August 4, 2026
  • 6 min read
  • 26 Views
Di Kasepuhan Gelaralam, Listrik Menyala karena Hutan Tetap Terjaga

Foto: Laman resmi Kementerian Pariwisata

Gemericik air terdengar nyaris di setiap sudut Kasepuhan Gelaralam, kampung adat Sunda di Kabupaten Sukabumi. Di antara hamparan sawah, leuit atau lumbung padi, rumah-rumah anyaman bambu, dan hutan di kaki Gunung Halimun Salak, aliran air bukan hanya memenuhi kebutuhan sehari-hari masyarakat, tetapi juga menghidupkan Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMh) yang telah mereka kelola secara mandiri selama puluhan tahun.

Kasepuhan Gelaralam hampir tidak pernah kekurangan air. Selain berada di lereng Gunung Halimun Salak yang dialiri banyak sungai, masyarakat adat menjaga kelestarian hutan melalui aturan yang diwariskan turun-temurun. Pohon-pohon tidak ditebang sembarangan, sementara bambu yang digunakan untuk membangun rumah selalu ditanam kembali setelah ditebang.

Air yang terus mengalir dimanfaatkan bukan hanya untuk kebutuhan primer, seperti minum dan memasak, tetapi juga menjadi sumber energi terbarukan bagi PLTMh. Saat ini terdapat lima PLTMh di sejumlah titik dengan kapasitas antara 28 kW hingga 50 kW. Dari lima unit tersebut, tiga masih beroperasi untuk memenuhi kebutuhan listrik masyarakat.

Awal Juni lalu, saya bersama komunitas orang muda untuk keadilan energi, RE Agent, mengunjungi Kasepuhan Gelaralam untuk mempelajari pengelolaan energi berbasis mikrohidro. Saat itu masyarakat tengah memperbaiki salah satu fan belt atau sabuk kipas PLTMh yang putus pada pertengahan Mei. Kerusakan tersebut menyebabkan sebagian rumah mengalami pemadaman listrik selama sekitar sepuluh hari, sementara beberapa lainnya sempat padam total.

Perbaikan itu dilakukan sendiri oleh masyarakat. Pengetahuan teknis mengenai PLTMh telah dikuasai warga sehingga begitu komponen pengganti tersedia, pembangkit kembali beroperasi dan listrik kembali mengalir ke rumah-rumah. Perawatan maupun perbaikan instalasi juga dilakukan secara rutin tanpa bergantung pada pihak luar.

Pengalaman tersebut memperlihatkan kemandirian masyarakat dalam mengelola energi. Sebelumnya, pada November tahun lalu, RE Agent juga mengunjungi Dusun Kedungrong, Kabupaten Kulon Progo, DI Yogyakarta, yang memanfaatkan aliran Sungai Kalibawang sebagai sumber PLTMh. Di Kedungrong, pembangkit listrik mikrohidro membantu mengurangi biaya listrik bulanan, menopang usaha jahit dan mebel, hingga mengalirkan listrik untuk penghangat anak ayam milik warga.

Meutia, anggota RE Agent yang turut mengunjungi Kedungrong dan Gelaralam, melihat kedua komunitas tersebut sama-sama menunjukkan bagaimana energi terbarukan dapat memperkuat ketahanan masyarakat. Di Gelaralam, pengelolaan listrik dari PLTMh berjalan berdampingan dengan aturan adat yang melarang padi diperjualbelikan sehingga ikut menjaga ketahanan pangan warga.

“Saya memetik banyak pelajaran di sini, terutama tentang nilai, integritas, dan tetap terbuka pada kesempatan yang diberikan. Apa yang ada di Kasepuhan Gelaralam sangat diinginkan oleh banyak orang yang lelah dengan kehidupan perkotaan; kehidupan kota hanya terlihat seru di layar kaca saja,” kata Meutia.

Baca juga: Di Kaki Gunung Halimun, Orang Muda Belajar Energi dari Padi dan Leuit

Dari Gotong Royong hingga Turbin Air

Sudah hampir tiga dekade PLTMh mengalirkan listrik ke Kasepuhan Gelaralam. Ki Upat, ketua pengurus PLTMh di Kasepuhan Gelaralam sejak 1996, bercerita pembangkit tersebut dibangun secara gotong royong ketika kampung adat itu masih berada di Kecamatan Cikakak, sebelum berpindah ke Kecamatan Cisolok. Saat itu Kasepuhan dipimpin Abah Anom, ayah dari Abah Ugi yang kini menjadi Kepala Kasepuhan Gelaralam.

Awalnya, masyarakat belajar dari desa lain yang telah memanfaatkan PLTMh. Mereka membeli generator dan kabel dari kota, sementara mesin penggeraknya dibuat sendiri menggunakan kayu. Dengan peralatan sederhana, masyarakat dari berbagai kelompok usia, mulai anak-anak hingga para lansia, bergotong royong membangun turbin air yang kemudian menjadi sumber listrik kampung.

Ki Upat dan Abah Ugi menyampaikan masyarakat Gelaralam terus mengikuti perkembangan teknologi. Namun, setiap teknologi disesuaikan terlebih dahulu dengan kebutuhan masyarakat dan nilai-nilai adat yang mereka pegang. Bagi mereka, teknologi bukan tujuan, melainkan alat untuk mendukung kehidupan masyarakat.

Pandangan tersebut juga menjadi perhatian Zaki, mahasiswa teknik sekaligus anggota RE Agent. Menurutnya, keterbukaan masyarakat Gelaralam terhadap digitalisasi dan perkembangan teknologi menunjukkan bentuk adaptasi yang tetap berakar pada kedaulatan masyarakat adat, bukan sekadar mengikuti arus modernisasi.

“Hasilnya sebuah anomali yang indah sekaligus menantang. Melalui mekanisme filter budaya dan penguatan media komunitas seperti TV Ciptagelar, mereka membuktikan bahwa menjadi modern tidak harus dibayar mahal dengan kepunahan identitas, dan bahwa kedaulatan sebuah bangsa justru diuji dari kemampuannya mendikte teknologi, bukan didikte olehnya,” jelas Zaki.

Baca juga: Diskusi #HororPanasBumi Kuliti Agenda Transisi Energi, Apakah Benar-benar Bersih?

Saat Energi Menjadi Cara Menjaga Hutan

Bagi masyarakat Kasepuhan Gelaralam, PLTMh tidak hanya berfungsi sebagai pembangkit listrik. Ki Upat mengatakan pembangkit itu juga menjadi wujud penghormatan masyarakat adat terhadap air sebagai sumber kehidupan. Karena bergantung pada aliran sungai, keberlangsungan listrik berkaitan langsung dengan upaya menjaga hutan dan mata air di sekitarnya.

“Dengan memanfaatkan air untuk PLTMh, masyarakat semakin sadar untuk menjaga alam dengan terus melestarikan nilai-nilai keluhuran,” ujar Ki Upat.

Hubungan tersebut membuat PLTMh tetap dipertahankan hingga kini. Keberadaannya menjadi penanda hutan dan sungai masih terjaga, sekaligus membuktikan sumber energi bersih dapat dimanfaatkan tanpa mengorbankan keseimbangan alam. Bagi masyarakat Gelaralam, menjaga pembangkit berarti menjaga sumber air yang menopang kehidupan sehari-hari.

Pengalaman itu juga memberi perspektif baru bagi anggota RE Agent. Valensiya melihat kemampuan masyarakat mengelola sumber daya di sekitarnya secara mandiri bukan hanya menjaga lingkungan, tetapi juga mempertahankan ruang bagi pengetahuan lokal untuk terus hidup. Sementara itu, Nazwa menilai pengalaman di Gelaralam menunjukkan modernisasi tidak harus mengorbankan akar budaya ataupun warisan leluhur.

“Keharmonisan masyarakat Gelaralam dengan alam juga menjadi tamparan sekaligus pengingat bagi kita tentang pentingnya menjaga ekosistem demi kelangsungan hidup generasi masa depan,” ujar Nazwa.

Praktik yang dijalankan masyarakat Gelaralam menunjukkan transisi energi tidak semata berbicara tentang mengganti sumber listrik, tetapi juga tentang siapa yang mengelolanya dan nilai apa yang menyertainya. Di kampung adat ini, teknologi hadir untuk mendukung cara hidup masyarakat, bukan mengubahnya.

Beyrra Triasdian, Juru Kampanye Energi Terbarukan Trend Asia, mengatakan pemahaman mengenai energi terbarukan semakin penting dimiliki orang muda. Menurutnya, kelompok inilah yang akan paling merasakan dampak krisis iklim akibat penggunaan energi fosil. Pengalaman Kasepuhan Gelaralam, kata Beyrra, memperlihatkan masyarakat adat memiliki pengetahuan sekaligus kemampuan untuk mengelola energi bersih secara mandiri.

“PLTMh tidak hanya menerangi rumah warga, tetapi juga membantu masyarakat membaca kondisi hutan di hulu melalui perubahan debit dan kualitas air. Dengan begitu, energi terbarukan menjadi bagian dari sistem penjagaan sumber air, hutan, dan kehidupan bersama. Energi didapat, hutan dijaga, masyarakat sejahtera,” kata Beyrra.

Pengalaman di Kasepuhan Gelaralam memperlihatkan transisi energi dapat tumbuh dari praktik yang telah lama dijalankan masyarakat adat. Di sana, listrik tidak dipisahkan dari kelestarian hutan, sumber air, maupun nilai-nilai yang diwariskan lintas generasi. Cara tersebut menunjukkan energi bersih dapat berkembang seiring dengan perlindungan alam ketika masyarakat menjadi pihak yang menentukan pengelolaannya.

Nur Herliati adalah juru kampanye energi terbarukan di Trend Asia. Tulisan dan kunjungan ini dilakukan oleh Trend Asia bersama RE-Agent, komunitas orang muda untuk keadilan energi. Tulisan ini adalah seri pertama dari “Refleksi Orang Muda Telusuri Kedaulatan Energi di Desa Adat Kaki Gunung Halimu.

Baca artikel bagian pertama di sini.

About Author

Nur Herliati