Women Lead
November 05, 2021

Setop, Sampai Kapan Mau Bicara Buruk Soal Mantan?

Putus cinta saja sudah cukup sulit buat sebagian orang. Bicara jelek soal mantan akan membuat jalan penyembuhan terasa lebih menanjak.

by Purnama Ayu Rizky, Redaktur Pelaksana
Issues // Relationship
Mantan malau-maluin
Share:

Akhir Juli lalu saat duo kakak adik Billie Eilish dan Finneas merilis Happier than Ever, tak butuh waktu lama sampai “Silvi”, 27 menahbiskannya sebagai lagu favorit. Selain nyambung karena mengulas pengalaman terjebak dalam relasi toksik, ia lebih banyak kesengsem pada lirik di bait ketiga: “And I don't talk shit about you on the internet. Never told anyone anything bad. 'Cause that shit's embarrassing, you were my everything.”

“Bagian ini sekaligus menampar saya berkali-kali. Saya memang punya kebiasaan melarikan rasa sakit dengan mengingat-ingat keburukan mantan. Mantan saya mokondo, mantan saya enggak punya duit, mantan saya punya sindrom inferior, mantan saya kurang ini, kurang itu,” tuturnya pada Magdalene, (5/11). Tujuannya, kata dia, tak lain adalah agar bisa cepat sembuh dari luka, apalagi jika ekses sakit yang tertinggal di hati lumayan dalam.

Meski terkadang mengingat rapor merahnya selama jadi pacar lalu membicarakannya dengan sahabat, bikin dia lega, tapi kelegaaan itu tak bertahan lama. Fana. Setidaknya dari lirik tersebut ia menyadari itu semua. Bahwa membicarakan buruk mantan justru jadi hal yang memalukan dan melukai diri sendiri. Memalukan karena tak semua privasi mesti dibuka di ruang publik. Melukai karena kesakitan masa lalu itu sembuh justru ketika ia merawatnya, dan membicarakan buruk mantan tak membantu sama sekali.

Menurut Jane Greer, terapis keluarga dan pernikahan di Psychology Today, jika hubunganmu kandas dengan mantan, dan berkorban begitu banyak, wajar jika kamu terus marah. Masalahnya, jika kemarahan dipelihara alih-alih diselesaikan, kamu rentan melampiaskannya dengan mengungkapkan informasi pribadi, memutarbalikkan kebenaran, bergosip tentang aib, atau bahkan menyebarkan desas-desus tak perlu. Semua kamu lakukan demi mengalihkan rasa sakit dan dendam.

Baca juga: Baru Putus Cinta? Ini 5 Cara Buat Obati Patah Hati

Kita tentu masih ingat bicara buruk mantan tak jadi hak prerogatif warga biasa. Artis kaliber Hollywood pun acap kali saling sindir, membicarakan keburukan mantan di media sosial, bahkan sengaja membuatkan lagu spesial yang isinya adalah daftar dosa mantan di masa lalu. Saat Taylor Swift dan Calvin Harris putus lalu sang diva itu kedapatan bermesraan dengan Tom Hiddleston, Harris dengan semangat jihad menyerang Swift di Twitter. Ia bilang, Swift adalah orang yang culas karena berusaha “mengubur” musuh-musuhnya termasuk Katty Perry.

Pun, aksi saling menjelekkan mantan selama berepisode-episode dipertontonkan oleh Justin Bieber dan Selena Gomez. Menyindir lewat lagu, berbalas komentar buruk di Instagram masing-masing, saling tuduh tentang siapa sebenarnya tukang selingkuh, hingga mengorek luka lama dengan membuat status dan komentar buruk mantan.

Mantan adalah Cerminan Seleramu

Dalam artikel di Rappler berjudul “Kenapa Masih Bicara Buruk Soal Mantan”, Bisma, konsultan hukum yang membidani rubrik “Bincang Mantan” di media daring itu berkomentar, Segera taubat, setop ngejelek-jelekin mantan kamu. Biar bagaimanapun dulu kamu ngejar-ngejar, sayang, bahkan sempat punya rencana sehidup semati sama dia. Dia adalah cerminan dari seleramu.”

Saya kira pernyataan Bisma ada benarnya. Dalam kasus Silvi, ia mengaku telah menjalani relasi dengan mantannya selama lebih dari tujuh tahun, hingga akhirnya si lelaki meninggalkannya tanpa sebab dan menikahi perempuan yang baru ditemui beberapa bulan. Silvi jelas sakit hati, tapi menjelekkan mantannya, kata dia, sama saja ia tengah mempecundangi dirinya sendiri.

Wong, saya yang milih dengan sadar. Saya yang dulu mencintainya setengah mati, kami saling membahagiakan. Saya membantunya mencapai cita-cita jadi pengacara. Ia menyokong mimpi saya di bidang masak memasak. Jadi tak adil jika saya mengolok-olok lelaki yang sebenarnya adalah cerminan selera saya sendiri,” ungkapnya.

Baca juga: Jangan Abaikan Trauma Pasca-Putus

Soal cerminan selera ini sebenarnya pernah dijelaskan panjang lebar dalam riset German Family Panel yang dirilis BBC. Selama sembilan tahun, para peneliti melacak status hubungan 12.000 responden, dan 332 peserta yang telah menjalin hubungan romantis, menggambarkan kepribadian mereka dengan cara yang mirip dengan mantan pasangan. Tak benar jika preferensi selera memilih pasangan berubah seiring berjalannya waktu. Buktinya, responden mengaku memiliki “tipe” atau selera tertentu yang bertahan dari satu pasangan ke pasangan lain selama nyaris satu dekade.

Bagaimana Cara Menyikapinya?

Masih dilansir dari Psychology Today, Jane Greer memberikan sejumlah tips menghadapi blackmouth mantan, bergantung pada kondisi yang dihadapi. Jika mantan lebih banyak menyerangmu secara verbal di depan orang-orang terkasih—keluarga dan teman—pertimbangkan untuk menetapkan batasan sendiri. Jika mereka memberi tahumu bahwa si mantan mengatakan hal-hal buruk tentangmu, beri tahu mereka terlebih dahulu, kamu enggak ingin mendengarnya. Minta mereka untuk berhenti melaporkan kembali kepadamu detail kata-kata buruk dan menyakitkan.

Opsi lainnya, kamu bisa berinisiatif bertanya apakah orang dekatmu itu akan mempertimbangkan untuk menegur mantan, yang bergosip buruk tentangmu. Minta mereka menegaskan pada si mantan untuk berhenti membicarakanmu karena urusan berdua akan tetap jadi urusan berdua. Bahkan pasca-putus sekalipun.

Baca juga: ‘Rebound Relationship’: Ketika Cari Pelarian Pasca-putus Jadi Problematis

Ketiga, biarkan saja. Daripada lelah hati menanggapi dan mengklarifikasi satu per satu perkataan buruk tentang mantan, biarkan saja dia berkicau sesuka hati. Nilai diri kamu tak didefinisikan dari komentar orang lain, apalagi komentar bekas pacar yang jelas-jelas telah menyakitimu.

Pada akhirnya benci dan cinta memang tipis batasnya. Namun, kamu bisa mengatur setebal apa hatimu, seluas apa maafmu untuk berdamai dengan diri sendiri dan menyeleksi mana informasi yang layak didengar, mana yang lebih pantas masuk ke tong sampah.

Jadi wartawan dari 2010, tertarik dengan isu gender dan kelompok minoritas. Di waktu senggangnya, ia biasa berkebun atau main dengan anjing kesayangan.