Kita semua pasti familier dengan label NPD yang sering bermunculan di media sosial belakangan. Mulai dari pelabelan penjahat sampai jadi nama boy grup Indonesia, penggunaan kata NPD semakin umum digunakan sehari-hari. Namun, kepopuleran term ini tentu tidak datang tanpa konsekuensi. Rahelda Defianti, Psikolog Klinis Her Space, bilang semakin umumnya label NPD tanpa diagnosa yang jelas punya efek samping tersendiri.
“Khawatirnya kita jadi gampang memberikan label NPD pada karakteristik atau kondisi emosi seseorang,” kata Rahelda kepada Magdalene (9/10).
NPD sendiri adalah Narcissistic Personality Disorder, yakni gangguan kepribadian yang ditandai dengan ciri-ciri pola perilaku tertentu. Mengutip riset “Narcissistic Personality Disorder in Clinical Health Psychology Practice: Case Studies of Comorbid Psychological Distress and Life-Limiting Illness” (2017), NPD biasanya ditandai dengan pola sikap dengan rasa superioritas berlebihan secara terus-menerus. Gangguan ini juga ditandai dengan fantasi tentang kekuasaan, atau kedudukan yang terbatas. Penderitanya punya kebutuhan akan pujian atau perlakuan istimewa.
Baca juga: Panduan ‘Mindfulness’ dari Psikolog: Kelola Cemas, Bukan Abaikan Realitas
Pertebal Stigma Soal Gangguan Kepribadian
Melanjutkan penjelasannya, Rahelda bilang bahwa NPD sendiri merupakan gangguan kepribadian yang membutuhkan asesmen dan diagnosa khusus. Hanya bisa dilakukan profesional, pelabelan sembarangan yang marak terjadi berpotensi menebalkan stigma soal gangguan kepribadian. Pasalnya, orang dengan diagnosa NPD membutuhkan pertolongan profesional. Dengan stigma yang buruk, efek gangguannya akan sulit tertangani.
“Seseorang yang punya personality disorder ini punya pengalaman dan kesulitan. Sehingga kalau kita gampang melabel, lalu stigmanya meningkat, mereka jadi semakin tidak responsif terhadap lingkungannya. Ini bisa menghambat seseorang buat nyari bantuan dan memperparah gangguannya,” jelas Rahelda.
Dalam konteks relasi, stigma yang kian menguat ini juga bisa berdampak pada pola hubungan seseorang. Mereka yang punya gangguan NPD bisa menutup diri alih-alih meminta bantuan profesional dan memperbaiki relasinya. Hal ini tentu berbahaya bagi kelangsungan sebuah hubungan.
“Gangguan kepribadian ini kan juga berkaitan sama bagaimana dia menjalani relasi sama seseorang. Karena stigmanya tebal, orang dengan NPD bisa jadi enggan untuk berobat dan gangguannya semakin parah. Ini tentu berdampak pada perbaikan relasinya,” tambah Rahelda.
Menyambung penjelasan Rahelda, Luh Ayu Candra (Ayu), Psikolog Klinis Her Space, juga menyebut bahwa pemberian cap NPD tanpa diagnosa yang jelas bisa berujung pada peremehan gangguan mental. Tidak hanya itu, NPD yang kian populer ini bisa jadi jalan pintas bagi seseorang untuk menghindari refleksi dan perbaikan diri ketika terlibat dalam sebuah konflik. Sebagai akibatnya, persoalan mental yang sesungguhnya terjadi tidak bisa terdeteksi. Proses pemulihan pun jadi tidak tepat sasaran.
“Label ini bisa jadi jalan pintas untuk menghindari refleksi diri. Misalnya dalam hubungan, masalah hubungan kami itu karena di NPD. Padahal dinamika relasi biasanya melibatkan dua pihak,” terang Ayu.
Baca juga: Hidup dalam Siklus Kecemasan: Memahami Kami, Orang dengan OCD
Media Sosial Punya Pengaruh Besar
Dalam kepopuleran cap NPD, media sosial punya peran tersendiri. Ayu bilang konten-konten yang beredar secara bebas punya andil besar dalam hal ini. Belum lagi konsep kontennya yang dramatis dan menyentuh. Tanda-tanda umum yang belum tentu mengarah pada diagnosa NPD mendapat banyak views dan viral di media sosial.
“Tentu media sosial punya pengaruh besar. Misal, dengan konten-konten seperti ‘5 tanda pasanganmu NPD’ atau ‘Tanda-tanda kamu punya NPD’. Masalahnya, tanda-tandanya itu biasanya terlalu umum yang disebutkan. Jadi hampir semua orang itu bisa merasa, ‘ih ini aku banget atau ih ini tuh dia banget’,” kata Ayu.
Ayu sendiri menyebut fenomena yang terjadi di media sosial ini sebagai Efek Barnum. Menyadur Britannica, Efek Barnum sendiri adalah fenomena psikologis yang terjadi ketika individu percaya bahwa deskripsi kepribadian berlaku khusus untuk mereka, meskipun deskripsi tersebut berisi informasi umum yang berlaku untuk semua orang. Dalam konteks NPD hal ini bisa terjadi ketika konten-konten yang sebenarnya memuat informasi umum menyasar pada individu, dan membuat mereka yakin bahwa diagnosa itu cocok dengan sikapnya.
“Fenomena ini dikenal sebagai efek Barnum, yaitu kecenderungan merasa deskripsi yang sebenarnya umum itu cocok banget dengan diri kita. Banyak juga kreator tanpa latar belakang psikologi yang terlihat meyakinkan, sehingga informasi yang keliru itu ikut dipercaya,” jelas Ayu.
Sebuah riset bertajuk “The Impact of Social Media Coverage on Attitudes Towards Mental Illness and Violent Offending” (2022), juga menunjukkan bahwa media sosial berperan besar dalam membentuk stigma terhadap gangguan mental. Dilakukan secara eksperimen, temuan ini memperlihatkan bahwa pemberitaan gangguan tanpa konteks klinis dapat meningkatkan sikap negatif terhadap individu dengan gangguan mental.
Temuan ini secara umum menunjukkan bahwa cara media sosial membingkai pemberitaan soal gangguan mental dapat memengaruhi persepsi publik. Hal ini juga berpotensi memperkuat stigma terhadap orang dengan gangguan mental.
Baca juga: Disabilitas Taktampak: Penuh Penghakiman, Minim Pengakuan
Bagaimana Kita Menyikapinya?
Untuk merespons fenomena ini, Ayu sendiri menyarankan kita semua agar bisa memproses konten soal NPD yang bertebaran, dan tidak menelan mentah-mentah informasi tersebut. Kita perlu cermat membedakkan mana perilaku, dan mana diagnosis. Penggunaan label NPD juga dapat dikurangi.
“Jadi, daripada kita bilang ‘ih dia NPD banget’, lebih baik ‘perilaku dia nyakitin banget ya’. Nah ini dilakukan agar kita bisa tetap menjaga batasan antara perilaku dan diagnosis, tanpa harus memberikan sebuah label klinis,” jelas Ayu.
Selain itu, jika memang merasa terdampak dari perilaku seorang NPD, atau curiga ada sesuatu dalam dirimu yang mengarah pada gangguan tersebut, segera berkonsultasi dengan profesional.
“Itu jauh lebih bermanfaat daripada mencari jawaban dari konten-konten media sosial. Sebagai penonton kita juga bisa ikut menjaga ruang digital kita yang lebih sehat dengan tidak asal menyebarkan istilah klinis,” tutup Ayu.




















