“Aduh, kamar lo berantakan banget. OCD gue kambuh jadinya.”
“Gila, kosan lo jorok banget! Gak bisa nih gue, jadi OCD ngeliatnya.”
Celetukan-celetukan itu beberapa kali keluar dari mulut teman-temanku setiap kali mereka melihat sesuatu yang kotor dan berantakan. Aku memahami mereka sedang bercanda, dan mungkin tidak mengetahui dengan benar apa yang dimaksud dengan Obsessive-Compulsive Disorder (OCD).
Dulu, aku juga memiliki pemahaman yang sama. Berbekal informasi yang terbatas dari internet, aku mengira OCD hanyalah kondisi ketika seseorang merasa sangat tidak nyaman melihat ruangan yang kotor atau barang yang tidak tersusun rapi. Semua berubah ketika aku akhirnya didiagnosis OCD.
Sejak menerima diagnosis itu, aku mulai banyak membaca dan mencari informasi. Dari situlah aku memahami OCD tidak sesederhana “gila kebersihan” atau “gila kerapihan”.
Dikutip dari situs pemerintah Amerika Serikat National Library of Medicine, Obsessive-Compulsive Disorder (OCD) atau gangguan obsesif-kompulsif adalah gangguan neuropsikiatri yang dikenal luas karena obsesi dan kompulsi yang berulang.
Menukil International OCD Foundation (IOCDF), obsesi adalah pikiran, gambaran, atau dorongan yang muncul berulang kali dan terasa di luar kendali. Pikiran-pikiran ini sering datang tanpa bisa dikontrol dan menimbulkan kegelisahan. Sementara itu, kompulsi adalah tindakan atau perilaku yang dilakukan untuk menenangkan pikiran tersebut.
Contoh pikiran obsesif adalah ketakutan terhadap kotoran atau penyakit. Untuk meredakan kecemasan itu, seseorang dapat mencuci tangan berulang kali. Bagi orang tanpa OCD, rasa takut tersebut mungkin hilang setelah mencuci tangan sekali. Namun, bagi orang dengan OCD, ketakutan itu dapat terasa jauh lebih besar hingga membuat seseorang terus mencuci tangan atau mandi berulang kali sampai kulitnya kering dan terluka.
Baca juga: Disabilitas Taktampak: Penuh Penghakiman, Minim Pengakuan
Hidup dengan OCD
Perjumpaanku dengan OCD sebenarnya dimulai jauh sebelum aku mengenal istilah itu. Sejak kecil, pikiranku terasa seperti kaset rusak yang terus berputar. Kepalaku selalu memintaku melakukan sesuatu berulang-ulang agar rasa cemas mereda.
Saat masih sekolah, misalnya, setiap selesai memasukkan buku pelajaran ke dalam tas, aku selalu mengeceknya berkali-kali. Tanpa sadar, aku bisa terpaku selama lebih dari satu jam hanya untuk memastikan buku yang kumasukkan sudah benar.
Hal serupa terjadi ketika menutup botol minum. Aku harus memastikan berulang kali tutup botol benar-benar rapat. Aku akan membuka kembali botol itu, menutupnya lagi, lalu membaliknya berkali-kali demi memastikan air di dalamnya tidak akan tumpah.
Dari kebiasaan-kebiasaan yang tampak sepele itu, tanpa kusadari aku mulai membentuk berbagai ritual dalam keseharianku. Aku merasa harus melakukan sesuatu dengan cara tertentu, atau aku akan dihantui kecemasan bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi.
Misalnya, setiap kali menonton film atau serial di layanan streaming, pikiranku terus memerintahkanku untuk me-rewind tayangan yang sedang kutonton. Jika tidak kulakukan, sesuatu yang buruk akan terjadi dalam hidupku. Untuk meredakan ketakutan itu, aku akan mengikuti perintah tersebut dan me-rewind video setiap kali pikiran itu muncul.
Aku juga memiliki ketakutan terhadap angka tertentu, yakni 4 dan 13. Jika aku menyadari suatu tindakan kulakukan sebanyak empat atau tiga belas kali, kecemasan langsung muncul dan aku merasa harus mengubah jumlahnya. Misalnya, jika aku melangkah dan sadar jumlah langkahku empat, aku akan segera melangkah sekali lagi agar pikiranku tenang.
Pengalaman-pengalaman itu mungkin terdengar aneh atau tidak masuk akal bagi orang lain. Namun, bagi orang dengan OCD, pikiran-pikiran yang mengancam itu terasa sangat nyata. Aku mungkin tahu secara logis tidak ada hubungan antara rewind video atau angka tertentu dengan kejadian buruk, tetapi rasa takut dan cemas di dalam otakku seperti “dibajak” dan beroperasi di luar kendaliku. Otakku terus memberi sinyal seolah ada ancaman yang harus segera diatasi.
Mengapa orang dengan OCD mengalami hal seperti itu?
Mengutip National Library of Medicine, persoalan dalam OCD bukan semata-mata terletak pada munculnya pikiran intrusif, melainkan pada cara seseorang menafsirkan pikiran tersebut. Bagi orang lain, pikiran intrusif mungkin hanya dianggap angin lalu. Namun, bagi orang dengan OCD, pikiran itu dapat ditafsirkan sebagai ancaman sehingga memicu kecemasan dan dorongan untuk melakukan kompulsi.
Penafsiran yang membuat pikiran intrusif terasa lebih mengancam berkaitan dengan apa yang disebut sebagai distorsi kognitif di otak, yaitu pola berpikir atau keyakinan yang irasional dalam memaknai suatu pikiran atau situasi.
Hadirnya pikiran intrusif dan perilaku berulang dalam keseharian membuat orang dengan OCD mudah mengalami kelelahan mental. Waktu dan energi yang seharusnya dapat digunakan untuk bekerja, belajar, beristirahat, atau berinteraksi sering kali tersita oleh siklus obsesi dan kompulsi.
Karena itu, OCD bukan sekadar persoalan seseorang yang “terlalu suka bersih” atau “enggak tahan melihat sesuatu yang berantakan”. Mengutip IOCDF, OCD memiliki berbagai bentuk obsesi, mulai dari obsesi kontaminasi atau ketakutan bersentuhan dengan benda atau zat yang dianggap terkontaminasi, obsesi moral seperti ketakutan menyinggung Tuhan, hingga OCD pikiran magis yang membuat individu percaya secara irasional pikiran atau tindakan mereka dapat menyebabkan atau mencegah peristiwa buruk di dunia nyata.
Dengan demikian, menyederhanakan OCD hanya sebagai mania kebersihan justru mengaburkan pengalaman orang-orang yang hidup dengan kondisi ini.
Baca juga: Satu Tahun Berdamai dengan Diagnosis yang Sempat Saya Tolak
Jangan Asal Melabeli
Di era digital, berbagai gangguan mental, termasuk OCD, semakin dikenal luas. Namun, penggunaan istilah-istilah tersebut secara tepat masih menjadi pekerjaan rumah yang besar.
Banyak orang terbiasa mendeskripsikan suasana hati atau kebiasaan secara instan, sehingga dengan mudah melabeli dirinya OCD karena menyukai kebersihan, atau mengidentifikasi diri sebagai bipolar karena emosinya mudah berubah.
Padahal, kebiasaan menyederhanakan suatu gangguan mental dapat berujung pada stereotip dan menghambat proses pemulihan orang yang benar-benar membutuhkan bantuan.
Dalam penelitian Favre dkk. (2022), misalnya, responden yang merupakan perempuan dewasa dengan bipolar mengaku pengalaman mereka sering diinvalidasi oleh orang-orang di sekitarnya karena istilah bipolar digunakan secara umum untuk menggambarkan perubahan suasana hati. Padahal, gangguan bipolar jauh lebih kompleks daripada sekadar mood swing.
“Nah, sampai sekarang, ketika saya mengatakan bahwa saya bipolar, orang itu berkata kepada saya, ‘Yah, kamu juga bipolar, si anu juga bipolar’,” ungkap responden perempuan berusia 55-65 tahun.
Mengutip tulisan Grohmann dkk. (2024), temuan tersebut menunjukkan meskipun penggunaan terminologi psikiatri semakin meningkat di kalangan umum, stigma tidak otomatis berkurang dalam bahasa sehari-hari.
Baca juga: Review ‘Daily Dose of Sunshine’: Perbincangan Penting dan Jujur tentang Kesehatan Mental
Dalam kasus depresi, misalnya, semakin lazim penggunaan istilah depresi secara sembarangan dan menganggapnya sebagai sesuatu yang sepele justru dapat menjadi tantangan baru bagi orang yang hidup dengan depresi berat.
Karena itu, upaya melawan stigma terhadap gangguan mental tetap diperlukan. Salah satu langkah paling sederhana adalah mengedukasi diri dan memperkaya literasi tentang kesehatan mental. Dengan begitu, kita tidak akan mudah melabeli diri sendiri atau orang lain mengidap gangguan mental tertentu tanpa diagnosis dari profesional.





















