14/10/2026
Culture Opini Screen Raves

Saat Kapitalisme Ubah Buruh Jadi Monster dalam ‘Resident Evil’ Zach Cregger

Bryan hanya ingin menyelesaikan pekerjaannya dan pulang dengan selamat. Namun, tuntutan kerja dan sistem yang mengabaikan keselamatannya perlahan merenggut kemanusiaannya.

  • October 14, 2026
  • 9 min read
  • 7 Views
Saat Kapitalisme Ubah Buruh Jadi Monster dalam ‘Resident Evil’ Zach Cregger

Setelah berjibaku dengan laptop berjam-jam, pekan lalu saya memutuskan pergi ke bioskop. Dari sekian banyak film yang sedang tayang, pilihan saya jatuh pada Resident Evil, film terbaru garapan Zach Cregger.

Bagi para penggemar, Resident Evil, yang dikenal sebagai Biohazard di Jepang, sejak lama identik dengan seri gim survival horror garapan Capcom. Dalam gimnya, pemain harus bertahan hidup di tengah wabah sambil mengatur isi tas dan memilih antara melawan monster atau melarikan diri, sebab peluru dan obat penyembuh sangat langka.

Namun, esensi tersebut sempat bergeser ketika Resident Evil diadaptasi ke layar lebar. Selama bertahun-tahun, waralaba ini lebih dikenal lewat enam film aksi yang dibintangi Milla Jovovich sebagai Alice, agen rahasia tangguh sekaligus mesin pembantai monster. Dalam film-film tersebut, unsur horor kerap menjadi pelengkap aksi.

Baca juga: Bagi Saya, Penelope adalah Pemimpin Sebenarnya di “The Odyssey”

Versi Cregger membawa pendekatan berbeda dengan mengembalikan ketegangan bertahan hidup sebagai pusat cerita. Film ini membuat saya menahan napas, terlonjak dari kursi, bahkan berteriak tanpa peduli penonton lain. Cregger menyulap bioskop menjadi ruang eksperimen tentang cara kerja horor ketika penonton tidak lagi merasa aman hanya dengan duduk diam.

Perubahan paling terasa ada pada karakter utamanya. Cregger menanggalkan figur pahlawan super dan menggantinya dengan Bryan, kurir medis biasa yang diperankan Austin Abrams.

Bryan bukan agen khusus dengan kemampuan taktis atau keahlian menggunakan senjata. Sepanjang film, ia kerap ragu, mengambil keputusan yang salah, dan kebingungan saat menghadapi monster. Ketakutannya bahkan membuat ia bertindak ceroboh hingga tampak konyol di mata penonton.

Namun, justru di situlah keberhasilan Cregger mengadaptasi Resident Evil. Penonton ikut merasakan frustrasi dan kepanikan Bryan ketika ia membidik makhluk yang menyerang atau berusaha melarikan diri dari situasi hidup dan mati. Gerakannya yang gugup mengingatkan pada pengalaman pertama pemain gim survival horror.

Bahasa visual film turut memperkuat sensasi tersebut. Sudut pandang first-person, seperti ketika pemain memegang senjata dalam gim, dipadukan dengan komposisi gambar terbatas dan ancaman dari sudut tersembunyi. Penonton hanya mengetahui sebanyak yang diketahui Bryan, sehingga ketika ia tidak memahami apa yang ada di hadapannya, kita pun ikut berada dalam ketidaktahuan itu.

Struktur perjalanan Bryan juga menyerupai desain level dalam gim, mulai dari kecelakaan di jalan, wilayah terisolasi, lorong penuh ancaman, hingga rumah sakit dan laboratorium. Setiap lokasi menghadirkan bahaya baru yang menuntut strategi berbeda. Pistol mungkin cukup untuk menghadapi satu ancaman, tetapi senjata yang lebih kuat pun tidak menjamin keselamatan ketika amunisi selalu terbatas.

Dalam ulasan The Guardian tentang adaptasi Cregger, Keith Stuart membahas bagaimana film ini memahami konvensi permainan, mulai dari rekaman suara, surel, percakapan singkat dengan karakter nonpemain, hingga sumber daya yang sulit diperoleh. Informasi tentang dunia dalam film tidak disampaikan melalui eksposisi panjang, melainkan melalui potongan-potongan kecil yang harus dirangkai penonton di tengah ancaman yang terus bergerak.

Pendekatan tersebut menciptakan keterlibatan yang khas. Dalam gim, pemain harus memilih apakah akan menghabiskan peluru untuk membunuh musuh atau menyimpannya untuk menghadapi sesuatu yang lebih berbahaya. Setiap keputusan membawa konsekuensi, dan dalam film Cregger, keterbatasan itu menjadi sumber ketegangan karena Bryan tidak bisa menyelesaikan semua persoalan dengan kekerasan.

Perbedaan penting antara film dan gim terletak pada kendali. Ketika bermain, kita bisa menekan tombol jeda, mengulang bagian yang gagal, atau menyerahkan kontroler kepada teman ketika sudah terlalu takut. Di bioskop, tidak ada tombol semacam itu, sehingga penonton tidak bisa menghentikan film ketika situasi mulai terasa terlalu mencekam atau mengganti pemain saat karakter berada dalam bahaya.

Akibatnya, ketegangan tidak hanya menjadi sesuatu yang kita lihat, tetapi juga sesuatu yang kita alami secara emosional. Tubuh menjadi bagian dari pengalaman menonton, sementara Cregger memperlihatkan jika horor Resident Evil tidak semata-mata terletak pada rupa monsternya, tetapi juga pada perasaan kehilangan kendali atas keselamatan diri. Ia tidak sekadar mengadaptasi gim menjadi film, melainkan mengubah bioskop menjadi arena tempat penonton ikut merasakan perjuangan bertahan hidup.

Baca Juga: ‘Anne with an E’, Serial Berlatar Abad 19 dengan Isu yang Masih Relevan

Siapa yang Membuat Kita Menjadi Monster?

Teror dalam Resident Evil tidak berhenti pada perjuangan Bryan bertahan hidup. Di balik perjalanan penuh darah dan mutasi, ada pertanyaan yang lebih mengganggu: Mengapa Bryan harus berada dalam situasi tersebut sejak awal?

Kekacauan bermula ketika Bryan hampir menyelesaikan pekerjaannya. Ia seharusnya pulang, beristirahat, dan melanjutkan kehidupannya bersama pacarnya yang sedang hamil. Namun, seorang dokter menawarinya tugas tambahan untuk mengantarkan paket berprioritas tinggi bertanda Schedule A ke Raccoon City General Hospital. Perjalanan itu berbahaya karena Bryan harus melewati wilayah di luar zona aman dalam cuaca musim dingin yang ekstrem, tetapi sebagai imbalan, ia ditawari bayaran dua kali lipat.

Bryan menerima tawaran tersebut. Keputusan ini mungkin terlihat seperti kebodohan karakter film horor yang sengaja bertindak ceroboh agar cerita bisa berjalan. Namun, bagi seorang buruh atau pekerja kelas bawah, menerima pekerjaan tambahan demi penghasilan lebih besar bisa menjadi pilihan yang masuk akal.

Di sinilah film mulai memperlihatkan lapisan kritik sosialnya. Bryan tidak menghadapi malapetaka karena ingin menjadi pahlawan atau membuktikan keberanian, melainkan karena bekerja merupakan caranya memenuhi kebutuhan hidup. Bahkan ketika situasi berubah menjadi mimpi buruk, logika pekerjaan terus membayanginya: paket harus diantarkan, tugas harus diselesaikan, dan imbalan tambahan terasa terlalu penting untuk dilepaskan.

Karl Marx berulang kali menekankan bagaimana buruh harus menjual tenaga kerjanya demi mempertahankan hidup, sementara kendali atas proses produksi dan hasilnya berada di tangan pemilik modal. Secara formal, pertukaran antara buruh dan pemberi kerja mungkin tampak sukarela. Namun, ketika seseorang tidak memiliki alternatif ekonomi yang layak, kebebasannya untuk menolak pekerjaan menjadi sangat terbatas.

Bryan mewakili kontradiksi tersebut. Ia bebas menerima atau menolak tugas tambahan, tetapi kebebasannya dibatasi kebutuhan material. Bayaran ganda tampak seperti kesempatan, padahal sekaligus menjadi mekanisme yang membuatnya bersedia menghadapi bahaya yang tidak sebanding dengan daya tawarnya. Risiko ditanggung buruh, sementara keputusan mengenai pekerjaan dan sistem yang melahirkan risiko itu tetap berada di tangan pihak lain.

Paket yang dibawa Bryan juga dapat dibaca sebagai simbol komoditas yang nilainya dianggap lebih penting daripada keselamatan manusia yang mengantarkannya. Ia terus bergerak melewati kekacauan, dikejar makhluk mengerikan, terluka, dan kehabisan tenaga, tetapi tanggung jawab profesional terus menjadi alasan untuk bertahan. Yang mengikatnya bukan hanya kemungkinan mendapatkan uang, melainkan keyakinan jika pekerjaan harus diselesaikan sekalipun tubuh dan kemanusiaannya menjadi taruhan.

Kritik ini beresonansi dengan gagasan Mark Fisher dalam Capitalist Realism: Is There No Alternative? (2009). Fisher menguraikan bagaimana kapitalisme hadir bukan sekadar sebagai sistem ekonomi, melainkan juga sebagai kerangka berpikir yang membuat tatanan tersebut terasa alamiah dan sulit dibayangkan penggantinya.

Kita terbiasa menganggap tekanan kerja, kelelahan, dan pengorbanan pribadi sebagai bagian normal kehidupan. Akibatnya, masalah seolah terletak pada kemampuan individu untuk bertahan, bukan pada sistem yang membuat hidup terasa seperti perjuangan tanpa akhir.

Bryan tidak berhenti untuk mempertanyakan mengapa ia harus mempertaruhkan nyawa demi sebuah pengantaran. Ia terus berusaha menyelesaikan tugasnya. Dalam situasi ekstrem, logika kerja itu tampak absurd, tetapi justru menyerupai kehidupan sehari-hari. Berapa banyak orang yang tetap bekerja ketika kelelahan, sakit, atau tertekan karena kehilangan pendapatan terasa lebih menakutkan daripada kehilangan waktu, tenaga, bahkan kesehatan?

Namun, hal yang lebih mengerikan dari perjuangan Bryan untuk bertahan hidup adalah ketika ia mulai kehilangan kemanusiaannya sendiri. Saat tubuhnya perlahan menyerah pada proses mutasi, ia masih berusaha memohon pertolongan kepada para ilmuwan yang berada dalam lingkungan kerja yang sama. Ia bukan lagi sekadar kurir yang menghadapi bahaya dari luar, melainkan manusia yang tubuhnya terancam berubah menjadi monster ketika orang-orang yang mungkin dapat menolongnya justru mengkhianatinya.

Adegan tersebut dapat dibaca sebagai gambaran bagaimana kapitalisme tidak hanya bekerja melalui ketimpangan antara pemilik modal dan buruh, tetapi juga melalui kondisi yang mendorong orang-orang dalam posisi rentan untuk bersaing, saling mencurigai, dan mengutamakan keselamatan masing-masing. Ketika sumber daya terbatas dan ancaman terus meningkat, sesama buruh dapat dipaksa memandang satu sama lain sebagai beban atau risiko, bukan sekutu.

Pengkhianatan para ilmuwan tentu tidak berarti buruh pada dasarnya tidak bermoral atau solidaritas mustahil terjadi. Sebaliknya, adegan itu memperlihatkan betapa rapuhnya solidaritas ketika keselamatan dijadikan tanggung jawab individual. Para ilmuwan menghadapi pilihan dalam sistem yang lebih besar daripada diri mereka sendiri, tetapi alih-alih bekerja sama menghadapi sumber persoalan, mereka memilih menyelamatkan diri dengan mengorbankan Bryan.

Inilah mekanisme yang membuat sistem tersebut terus bertahan. Energi manusia habis untuk saling menyalahkan dan mengalahkan, sementara struktur yang menciptakan keadaan itu tidak tersentuh. Buruh akhirnya dapat menjadi bagian dari kekerasan terhadap buruh lain tanpa memiliki kuasa untuk mengubah keadaan yang memaksa mereka melakukannya.

Karena itu, mutasi Bryan bukan sekadar klimaks horor tubuh. Ia menjadi perwujudan manusia yang dihancurkan oleh keadaan yang tidak mampu dikendalikannya. Tubuhnya berubah menjadi monster setelah kebutuhannya dieksploitasi, keselamatannya dipertaruhkan, dan permohonan pertolongannya diabaikan.

Baca Juga: Review ‘She-Hulk: Attorney at Law’: Narasi Perempuan yang Menemukan Rumahnya

Pada titik ini, monster dalam Resident Evil justru terasa kurang menakutkan dibandingkan perjalanan Bryan sendiri. Kita tahu makhluk-makhluk itu berbahaya karena dapat membunuh dan mencabik tubuh manusia. Namun, di balik mereka terdapat perusahaan dan struktur kekuasaan yang memungkinkan bencana terjadi, sementara orang-orang biasa dipaksa menanggung akibatnya. Umbrella menjadi lambang kekuatan korporasi yang memperlakukan kehidupan sebagai sesuatu yang dapat dipertaruhkan demi kepentingan yang lebih besar.

Pada akhirnya, Resident Evil karya Zach Cregger menjadi lebih dari sekadar film horor atau adaptasi gim video. Film ini membuat kita merasakan ketakutan seorang pemain sekaligus menyadari jika perjuangan bertahan hidup tidak pernah sepenuhnya terpisah dari keadaan sosial yang membentuknya. Bryan mungkin melawan monster, tetapi ancaman paling mendasar terhadap kemanusiaannya telah hadir jauh sebelum ia bertemu monster pertama.

Yang tersisa setelah film selesai bukan hanya pertanyaan tentang siapa yang akan hidup dan siapa yang akan mati, melainkan juga tentang apa yang membuat manusia kehilangan kemanusiaannya.

Barangkali monster tidak selalu lahir karena manusia gagal melawan virus. Monster juga bisa lahir ketika sistem membuat kita percaya jika pekerjaan lebih penting daripada keselamatan, persaingan lebih masuk akal daripada solidaritas, dan penderitaan merupakan harga wajar untuk bertahan hidup.

Dalam dunia Resident Evil, tubuh manusia dapat berubah menjadi monster akibat infeksi. Dalam kehidupan sehari-hari, prosesnya mungkin tidak sedramatis itu. Ia bisa dimulai dari rasa lelah yang terus diabaikan, pekerjaan yang tidak bisa ditolak, atau sesama buruh yang terpaksa dikorbankan agar orang lain dapat bertahan. Itulah jenis horor yang paling sulit ditinggalkan setelah kita keluar dari bioskop.

About Author

Jasmine Floretta V.D

Jasmine Floretta V.D. adalah pencinta kucing garis keras yang gemar membaca atau binge-watching Netflix di waktu senggangnya. Ia adalah lulusan Sastra Jepang dan Kajian Gender UI yang memiliki ketertarikan mendalam pada kajian budaya dan peran ibu atau motherhood.

Click to access the login or register cheese

Royal ID adalah kunci utama akunmu. Di situs top up royal dream yang benar, Royal ID hanya dipakai untuk mengirim koin ke karakter yang tepat, bukan untuk mengakses akun. Tidak ada alasan bagi layanan mana pun untuk meminta password, PIN, atau kode OTP yang kamu terima lewat SMS. Kalau ada yang meminta hal itu, itu tanda bahaya dan sebaiknya segera ditinggalkan.