Panduan ‘Mindfulness’ dari Psikolog: Kelola Cemas, Bukan Abaikan Realitas
Foto: IMDB
Belakangan, rentetan bencana dan tragedi terjadi di Indonesia, mulai dari kebakaran hutan, bencana alam, hingga kekeringan. Berbagai peristiwa tersebut memenuhi pemberitaan, termasuk ruang-ruang media sosial, dan membuat sebagian orang ikut merasa cemas saat mengikutinya. Di sisi lain, muncul pula rasa bersalah ketika melewatkan perkembangan dari rentetan tragedi tersebut.
Di tengah situasi ini, perbincangan soal mempraktikkan mindfulness ramai disebut di media sosial. Praktik ini disebut dapat membantu seseorang mengambil jeda dan mengurangi beban mental yang dirasakan saat terpapar berbagai informasi. Namun, bagaimana sebenarnya mindfulness bekerja secara psikologis ketika seseorang menghadapi berita buruk?
Pertanyaan itu kemudian saya bawa dalam obrolan dengan Rahelda Defanti dan Adela Witami, para psikolog klinis dari Her Space. Dalam obrolan tersebut, saya mempertanyakan beberapa hal, salah satunya apakah mindfulness bisa dipraktikkan di tengah situasi sosial saat ini.
Baca juga: Perempuan, Kesehatan Jiwa, dan Akses yang Tak Pernah Netral
Apa itu Mindfulness dari Sisi Psikologi
Berdasarkan definisi American Psychological Association (APA), mindfulness adalah kesadaran tanpa penghakiman atas keadaan internal, sensasi tubuh, pikiran, emosi, dan lingkungan sekitar pada saat ini. Rahelda bilang praktik ini merupakan alat untuk melatih kesadaran, meregulasi emosi, sampai mengelola kecemasan. Secara manfaat, mindfulnessbisa membantu kita bertahan dalam situasi rentan.
“Ini bisa dipraktikkan untuk meregulasi emosi terutama ketika kita ada di tengah situasi fight or flight,” kata Rahelda (14/9).
Meski begitu, Rahelda menekankan mindfulness tidak sama dengan cara berpikir positif, menghindari situasi buruk, apalagi alat untuk mengabaikan sebuah peristiwa. Ia pun bilang ada perbedaan yang jelas antara mindfulness dan sikap apatis terhadap situasi sosial. Praktik ini merupakan metode untuk meregulasi emosi, bukan alat untuk membaca realitas sosial.
“Mindfulness sendiri itu punya batas yang jelas, yakni alat regulasi emosi, dan bukan alat analisis sosial,” imbuhnya.
Rahelda bilang, mindfulness memang bisa bekerja terutama pada relasi seseorang dengan pengalaman dan respons dirinya sendiri. Praktik ini bisa membantu individu menyadari pemberitaan atau tragedi seperti tyang membuat dirinya cemas, marah, atau kewalahan, lalu mengatur respons terhadap peristiwa tersebut.
Namun, mindfulness tidak dirancang untuk menjawab kenapa masalah itu terjadi, siapa yang terdampak, siapa yang bertanggung jawab, atau bagaimana struktur sosial menghasilkan masalah tersebut.
“Makanya, praktik mindfulness ini akan jauh lebih pas ketika diarahkan ke diri sendiri alih-alih menjadikannya gerakan atau gaya hidup. Semua orang situasinya beda-beda. Jadi praktik mindful-nya juga akan beda-beda,” tuturnya.
Batas tersebut penting dipahami karena mindfulness bekerja pada cara seseorang merespons pengalaman, bukan menghilangkan sumber persoalan yang memicu tekanan. Dengan begitu, praktik ini lebih tepat ditempatkan sebagai salah satu cara mengelola respons psikologis ketika menghadapi situasi yang berat.
Baca juga: Lebih dari Sekadar Pelupa: Ketika ‘Mom Brain’ Menyembunyikan ‘Mental Load’ Ibu
Dari Regulasi Emosi ke Aksi
Di lain sisi, Adela menjelaskan mindfulness merupakan praktik untuk terus hadir dan peduli di tengah situasi sosial yang ada. Dalam arti lain, dengan benar-benar mindful, kita bisa menyadari apa yang sedang terjadi, lalu mencari solusi dengan lebih rasional.
“Dengan mindful kita bisa lebih sadar dengan apa sih yang sebenarnya terjadi dan bisa lebih tenang untuk mengambil keputusan objektif. Jadi enggak terus terbawa pada kecemasan yg kadang membuat kita kalut, apalagi sampai enggak bisa ngapa-ngapain,” jelasnya.
Sebuah riset bertajuk “An experimental test of the mindfulness-to-meaning theory: Casual pathways between decentering, reappraisal, and well-being“ (2023), menemukan praktik mindfulness bisa membantu seseorang mengambil jarak psikologis dari penilaian atau reaksi awal terhadap sebuah peristiwa. Dari jarak tersebut, perhatian bisa menjadi lebih luas, sehingga individu dapat mengambil keputusan dengan lebih objektif.
Adela pun menambahkan mengambil jarak bukan berarti meninggalkan realitas. Dengan mindful, kita bisa memberi jeda, lalu bergerak dan berkontribusi sesuai dengan kapasitas masing-masing.
Baca juga: Hidup dalam Siklus Kecemasan: Memahami Kami, Orang dengan OCD
“Sebetulnya mindfulness bisa disatukan dengan aksi dan kontribusi kita. Jadi, bukan memilih antara ‘bergerak’ atau ‘istirahat’. Yang penting bukan selalu melakukan aksi yang sama, melainkan tetap menemukan cara untuk berkontribusi tanpa memaksakan diri sampai kehilangan kapasitas untuk terus terlibat,” kata Adela.
Senada, Rahelda menyebut dengan menyadari isu sosial secara mindful, kita bisa mengetahui kontribusi yang mampu dilakukan sesuai dengan kapasitas diri. Hal ini penting agar kita bisa terus meregulasi diri sambil tetap peduli terhadap situasi di sekitar.
“Kalau kita mindful, kita bisa mengidentifikasi apa yang bisa kita lakukan sesuai kapasitas kita. Jadi misalnya belum bisa turun ke jalan, kita bisa donasi, edukasi publik. Dengan sadar kita bisa berkontribusi dan menyesuaikannya dengan kemampuan dan kontrol diri kita,” tutup Rahelda.





















