Bagi Saya, Penelope adalah Pemimpin Sebenarnya di “The Odyssey”
*Peringatan spoiler.
Ada dua kelelahan yang saya rasakan sepanjang tiga jam menonton The Odyssey karya Christopher Nolan.
Kelelahan pertama muncul saat mengikuti perjalanan Odysseus dan para awaknya yang seolah tidak pernah selesai untuk kembali ke Ithaca. Laut demi laut, pulau demi pulau, monster demi monster. Perjalanan pulang terasa begitu panjang hingga saya ikut bertanya-tanya, mungkinkah seseorang masih menjadi dirinya sendiri setelah berpuluh tahun terus-menerus berperang melawan dunia?
Kelelahan kedua justru datang dari tempat yang nyaris tidak bergerak, Kastil Ithaca. Di sanalah Penelope bertahan. Awalnya saya mengira ia hanya akan menghabiskan waktu dengan menunggu suaminya pulang. Dugaan itu ternyata keliru.
Sejak awal saya memang cukup ragu menonton The Odyssey. Pengalaman menyaksikan film-film Christopher Nolan hampir selalu meninggalkan kesan serupa: Maskulin, penuh perang, serta berpusat pada tokoh laki-laki yang memikul beban sejarah dunia. Sebut saja Dunkirk (2017), Oppenheimer (2023), hingga Tenet (2020). Berulang kali Nolan memperlihatkan laki-laki yang menyelamatkan dunia, atau justru menghancurkannya.
Saya pun menduga The Odyssey akan menjadi satu lagi kisah tentang laki-laki yang pulang sebagai pahlawan. Namun, adegan yang paling lama tinggal di kepala saya justru bukan perjalanan Odysseus, melainkan kepemimpinan Penelope.
Baca Juga: Muak dengan Film ‘Reboot’? Kenapa Industri Film Cuma Jualan Nostalgia?
Kepahlawanan Lain
Banyak ulasan tentang The Odyssey masih memperdebatkan apakah Christopher Nolan berhasil menerjemahkan epos Homer secara utuh. Emily Wilson, penerjemah perempuan pertama The Odyssey ke Bahasa Inggris, bahkan menilai kompleksitas Penelope dalam puisi aslinya belum sepenuhnya muncul dalam film. Kritik tersebut tentu memiliki pijakannya sendiri.
Sebagai penonton, saya justru menangkap hal yang berbeda. Nolan mungkin tidak memperluas ruang dialog Penelope sebanyak yang diharapkan para ahli sastra klasik. Namun, ia menghadirkan dua bentuk kepahlawanan yang berjalan berdampingan.
Odysseus memperjuangkan jalan pulang. Penelope memperjuangkan agar rumah itu tetap ada ketika ia akhirnya pulang.
Selama ini saya terbiasa menyaksikan film yang memaknai kepahlawanan sebagai sesuatu yang selalu bergerak. Pahlawan digambarkan berkelana, berlayar, menaklukkan, mengalahkan, atau menyelamatkan. Jarang sekali saya menemukan film yang memperlihatkan bertahan sebagai tindakan yang sama heroiknya dengan mereka yang terus berpindah dan berjuang di luar rumah.
Padahal, keduanya sama-sama sedang bertahan. Odysseus menghadapi badai dan ketersesatan. Penelope menghadapi benturan keyakinan dengan orang-orang yang menganggap suaminya telah mati.
Percakapan yang paling membekas bagi saya bukan ketika Odysseus bersiasat menaklukkan berbagai rintangan dalam perjalanannya. Momen itu justru datang ketika Telemachus mulai goyah.
Selama bertahun-tahun para pelamar memenuhi kastil, menghabiskan persediaan kerajaan, sembari terus menekan Penelope agar segera memilih suami baru dan menikah lagi. Mereka perlahan memprovokasi Telemachus hingga terpikir mengambil takhta, menggantikan ayahnya yang dianggap telah mati.
Di tengah tekanan itulah Penelope mengucapkan kalimat yang, bagi saya, menjadi jantung film ini.
“Ithaca tidak pernah tanpa pemimpin. Selama dua puluh tahun, akulah pemimpinnya.”
Saya hampir tidak percaya Nolan menuliskan kalimat sekuat itu untuk seorang tokoh perempuan. Kalimat tersebut langsung mengubah cara saya memandang Penelope.
Ia bukan lagi perempuan yang setia menunggu suami. Ia adalah penguasa yang mempertahankan stabilitas politik sebuah kerajaan. Di saat perempuan dalam sejarah kerap dikenang karena kesabarannya, Penelope justru digambarkan memiliki kapasitas kepemimpinan yang sepadan dengan suaminya.
Baca juga: 7 Rekomendasi Film Aksi Perempuan Paling ‘Badass’
Menjaga dengan Teguh
Ada alasan mengapa kepemimpinan Penelope terasa begitu asing bagi banyak penonton. Selama berabad-abad, kita belajar mengenali pemimpin melalui kisah yang bergerak: ekspedisi, peperangan, penaklukan, penemuan, dan kemenangan. Kepemimpinan akhirnya lebih sering dilekatkan pada mereka yang pergi meninggalkan rumah lalu kembali membawa kejayaan.
Sebaliknya, mereka yang menjaga kehidupan tetap berjalan kerap dianggap sekadar menjalankan kewajiban. Kerja mempertahankan begitu mudah luput dari perhatian, seolah keberlangsungan hidup dapat terjadi dengan sendirinya.
Padahal, sebuah kerajaan tidak runtuh hanya karena rajanya pergi. Kerajaan runtuh ketika tidak ada yang menjaga tatanannya tetap hidup. Penelope menjalankan peran itu. Ia mempertahankan legitimasi takhta, menenangkan para tetua, membesarkan Telemachus, sekaligus menghadapi tekanan politik yang terus menggerus keyakinan orang-orang atas kepulangan Odysseus.
Selama dua puluh tahun, tidak ada monster yang ia bunuh. Namun setiap hari ia menghadapi ancaman yang tak kalah mengerikan: Keraguan yang perlahan mengikis kepercayaan sebuah kerajaan terhadap masa depannya sendiri.
Mungkin karena itulah sejarah lebih mudah mengingat perjalanan Odysseus daripada kepemimpinan Penelope. Bukan karena salah satunya lebih penting, melainkan karena kita lebih mudah menyebut seseorang sebagai pahlawan ketika ia menaklukkan dunia dibanding ketika ia berhasil mencegah dunianya runtuh.
Barangkali di situlah kejutan terbesar yang saya temukan dalam The Odyssey. Christopher Nolan tidak menjadikan Penelope sebagai versi lain Odysseus. Ia tidak mengubahnya menjadi sosok yang harus bertempur demi membuktikan dirinya layak disebut pahlawan. Sebaliknya, Nolan memperlihatkan kepemimpinan memiliki lebih dari satu wajah.
Odysseus memimpin melalui perjalanan. Penelope memimpin melalui keberlangsungan. Yang satu memastikan dirinya pulang, sementara yang lain memastikan masih ada Ithaca untuk tempat pulang.
Bagi saya, inilah bentuk kesetaraan gender yang paling menarik dalam film ini. Kesetaraan tidak selalu berarti perempuan dan laki-laki menjalankan peran yang sama, melainkan pengakuan yang setara terhadap kontribusi keduanya.
Sepanjang menonton, saya berkali-kali teringat pada anggapan tentang kerja domestik yang sering dianggap sebagai “tidak bekerja“. Berapa banyak perempuan yang mempertahankan rumah, keluarga, komunitas, bahkan organisasi, tetapi namanya nyaris tidak pernah masuk ke dalam kisah-kisah kepahlawanan?
The Odyssey tidak sedang membuktikan perempuan juga bisa menjadi pahlawan. Film ini justru mempertanyakan mengapa kita lebih mudah mengakui kepahlawanan yang tampak spektakuler dibanding kepemimpinan yang menjaga keberlangsungan hidup.
Selama ini kita mengingat The Odyssey sebagai kisah seorang laki-laki yang pulang setelah menaklukkan lautan, monster, dan perang. Padahal, kisah itu juga tentang seseorang yang memastikan masih ada kerajaan untuk tempat pulang. Jika Ithaca tetap berdiri selama dua puluh tahun, itu bukan semata karena Odysseus akhirnya kembali, melainkan karena Penelope tidak pernah berhenti memimpinnya.
Bisa jadi selama ini yang keliru bukan cara Penelope memimpin, melainkan cara kita mengenali kepahlawanan. Kita terlalu mudah mengagungkan mereka yang bergerak dan menaklukkan, sementara mereka yang menjaga keberlangsungan hidup kerap hanya menjadi latar bagi kepahlawanan orang lain.
Karena itu, kalimat Penelope, “Ithaca tidak pernah tanpa pemimpin,” terdengar jauh melampaui penegasan tentang takhta. Kalimat itu mempertanyakan cara kita membaca sejarah. Barangkali Ithaca memang tidak pernah kehilangan pemimpin. Yang hilang selama ini hanyalah kesediaan kita mengakui menjaga keberlangsungan hidup sebagai bentuk kepemimpinan yang sama pentingnya dengan menaklukkan dunia.
Penulis menggunakan Akal Imitasi (AI) sebagai asisten editor untuk membantu pengecekan koherensi antarbagian, mengidentifikasi pengulangan, serta memberikan masukan agar tulisan lebih efektif. Seluruh ide, sudut pandang, argumentasi, dan analisis dalam tulisan ini merupakan hasil pengalaman menonton serta pemikiran orisinal penulis.





















