Randa Abdel-Fattah: Suara Pro-Palestina Dibungkam atas Nama Kebebasan Berekspresi
Foto: Yuda Wijaya/UWRF 2026
Penulis Palestina-Mesir Randa Abdel-Fattah membahas pembatasan kebebasan berekspresi dan pembungkaman suara pro-Palestina melalui novel terbarunya, Discipline. Ia mengangkat persoalan tersebut dalam sesi diskusi Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) 2026 yang dipandu Gill Westaway, penerjemah dan penyunting yang banyak menjembatani karya sastra Indonesia ke panggung internasional.
Novel Discipline berlatar di Western Sydney pada Mei 2021, ketika Israel melancarkan agresi ke Gaza. Ceritanya mengikuti seorang jurnalis dan akademisi yang menghadapi sensor di lingkungan institusi mereka. Keduanya juga bergulat dengan rasa bersalah atas sikap pasif dalam menghadapi ketidakadilan. Melalui kisah tersebut, Abdel-Fattah mengangkat persoalan tanggung jawab moral dan dampak sikap diam, terutama dari kelompok yang memiliki privilese.
Dalam diskusi tersebut, Abdel-Fattah juga menyinggung sejumlah peristiwa nyata yang menjadi konteks novelnya, mulai dari perjuangan warga Sheikh Jarrah hingga pengalaman pribadinya menghadapi pembatalan agenda akibat tuduhan “sensitivitas budaya”. Pengalaman itu memperlihatkan bagaimana isu Palestina turut memunculkan persoalan tentang batas kebebasan berekspresi, termasuk ketika seseorang menyuarakan kritik terhadap kebijakan Israel.
Lewat Discipline, Abdel-Fattah mengajak pembaca melihat hubungan antara sastra dan struktur kekuasaan, sekaligus mempertanyakan siapa yang memiliki ruang untuk berbicara dan suara siapa yang justru dibungkam. Ia juga menyoroti pentingnya melawan narasi kolonialisme, imperialisme, dan supremasi kulit putih yang memengaruhi cara publik memandang Palestina. Dalam sesi UWRF 2026, pembahasan tersebut turut mengarah pada satu hal: pentingnya terus memelihara harapan bagi kemerdekaan Palestina. Berikut wawancara Magdalene (M) bersama Abdel-Fattah (A).
Baca juga: ‘Invisible Women’: Data Laki-laki yang Utama, Perempuan Nanti Saja
M: Novel Discipline berangkat dari kisah seorang remaja Muslim Arab yang ditangkap setelah memprotes kontrak kerja sama produksi senjata dengan Israel di sebuah universitas. Mengapa Kamu memilih mengangkat kisah ini, dan bagaimana penangkapan tersebut menjadi pintu masuk untuk membicarakan dampak represi terhadap masyarakat?
A: Saya sudah lama ingin mengeksplorasi persoalan ini melalui sebuah novel. Awalnya, saya membayangkan cerita tentang remaja laki-laki yang ditangkap karena memprotes kerja sama universitas dengan industri senjata Israel. Saya ingin melihat bagaimana penangkapan berdasarkan undang-undang antiterorisme tidak hanya berdampak pada orang yang ditangkap, tetapi juga merambat ke keluarga, lingkungan pendidikan, dan komunitasnya.
Sebagai orang tua, saya memahami ketika situasi seperti ini terjadi, keluarga biasanya berusaha melindungi anak-anak mereka dari pemberitaan, wartawan, hingga rasisme di ruang publik. Anak perempuan yang mengenakan hijab, misalnya, mungkin diminta untuk tidak keluar rumah karena khawatir mengalami pelecehan. Anak laki-laki bisa diminta mencukur janggut agar tidak menjadi sasaran kekerasan atau diskriminasi.
Namun, setelah 7 Oktober, saya menyadari akuntabilitas juga harus menjadi bagian penting dari cerita. Saya kemudian menempatkan novel ini pada 2021, ketika Israel kembali membombardir Gaza.
Saya ingin mengritisi dua institusi yang menurut saya turut berperan dalam memungkinkan terjadinya genosida, yakni media dan dunia akademik. Melalui dua tokoh utama yang bekerja di kedua lingkungan tersebut, saya ingin memperlihatkan bagaimana institusi-institusi ini menghadapi, bahkan turut melanggengkan, persoalan tersebut.
M: Judul Discipline memiliki beberapa makna: Disiplin sebagai bidang keilmuan, sistem aturan dan hukuman, maupun kemampuan mengendalikan diri. Bagaimana berbagai makna ini bekerja dalam novel, terutama ketika kita melihat meningkatnya pengawasan dan pembatasan terhadap suara-suara yang membela Palestina?
Sejak 7 Oktober, kita menyaksikan peningkatan pengawasan dan pendisiplinan terhadap suara-suara yang bersikap kritis. Hal ini tidak hanya dialami oleh warga Palestina, tetapi juga siapa pun yang menyuarakan penolakan terhadap genosida.
Pendisiplinan itu berlangsung secara harfiah melalui berbagai proses formal. Dokter, misalnya, dapat menghadapi pemeriksaan etik hanya karena mengunggah pernyataan tentang anak-anak yang ditembak di kepala. Guru bisa mendapat tekanan karena mengenakan pin Palestina, menghadiri demonstrasi, atau membicarakan Palestina di ruang kelas.
Di universitas, berbicara tentang genosida dan menyuarakan solidaritas, alih-alih bersikap netral, juga dapat berujung pada proses disipliner.
Sering kali, proses-proses tersebut dijalankan dengan itikad buruk, memiliki agenda yang jelas, bahkan dipengaruhi oleh tekanan dari pihak luar. Tujuannya adalah melemahkan dan membungkam suara-suara kritis.
Namun, saya juga ingin mengeksplorasi bentuk pendisiplinan yang lebih halus, yakni ketika seseorang mulai mengendalikan dirinya sendiri. Di tengah risiko kehilangan pekerjaan, kontrak, atau kesempatan berkarier, setiap orang di dalam institusi tersebut dihadapkan pada pilihan setiap hari: apakah akan bersuara, menurunkan nada bicara, memilih kata yang lebih aman, atau justru diam?
Saya ingin menunjukkan beban psikologis dari situasi itu. Ketika seseorang terus-menerus harus menyensor dirinya sendiri, ada harga yang harus dibayar, baik secara emosional maupun dalam hal kemanusiaan dan martabatnya.
M: Banyak institusi, termasuk media dan universitas, membanggakan komitmen mereka terhadap keberagaman dan inklusivitas. Namun, ketika orang-orang yang mereka representasikan menyuarakan kritik terhadap genosida di Palestina, suara mereka justru dibatasi. Bagaimana institusi menggunakan keberagaman sebagai tameng untuk mempertahankan citra, sembari menuntut kepatuhan?
A: Sebelum genosida, banyak institusi secara terbuka membanggakan komitmen mereka terhadap keberagaman, kesetaraan, dan inklusivitas. Mereka menjadikan identitas seseorang, seperti warna kulit, hijab, disabilitas, gender, maupun seksualitas, sebagai bagian dari strategi pemasaran untuk menunjukkan diri sebagai ruang yang aman bagi semua orang.
Namun, setelah 7 Oktober, ketika orang-orang dengan identitas tersebut bersuara menentang genosida, identitas yang sebelumnya dirayakan justru berubah menjadi beban. Di situlah kepalsuan di balik klaim kebebasan berekspresi, kebebasan akademik, dan demokrasi mulai terlihat.
Inilah kontradiksi liberalisme. Di satu sisi, ia mengagungkan gagasan besar tentang demokrasi dan kebebasan. Namun, ketika seseorang benar-benar menggunakan hak demokrasinya untuk menyampaikan pendapat, suaranya justru ditekan.
Melalui novel ini, saya ingin membawa pembaca lebih dekat pada pengalaman sehari-hari menghadapi kekerasan institusional tersebut. Saya ingin pembaca memahami bagaimana rasanya menjadi orang Palestina yang menyaksikan genosida, tetapi tetap harus datang bekerja, menjalani rutinitas, dan berpura-pura menjalani kehidupan normal.
Bayangkan Hannah, seorang ibu muda Palestina, yang harus bekerja dan membesarkan bayinya sambil melihat bayi-bayi Palestina lainnya dibom hingga tewas melalui layar ponselnya. Setelah itu, ia tetap harus mengikuti percakapan ringan di tempat kerja, sementara identitasnya sebagai perempuan Muslim Palestina terus dimanfaatkan sekaligus dibatasi oleh institusi tempatnya bekerja.
Hal serupa dialami Ashraf, seorang akademisi yang harus menghadapi tekanan untuk mengendalikan cara ia berbicara dan menyampaikan pandangannya. Ia bahkan harus mengorbankan sebagian prinsip moralnya demi bertahan di lingkungan akademik.
Pada akhirnya, institusi-institusi ini hanya menerima keberagaman selama orang-orang yang berbeda itu tetap sopan, tenang, mudah diterima, dan patuh. Mereka tidak menginginkan kemarahan, perlawanan, atau keberanian untuk menentang ketidakadilan.
Dalam novel, Hannah sebagai jurnalis terus dihadapkan pada tuntutan untuk bersikap netral dan objektif. Di tengah pemberitaan tentang pemboman Gaza, siapa sebenarnya yang menentukan batas antara objektivitas dan keberpihakan? Mengapa tuntutan netralitas justru dapat menjadi bagian dari kekerasan terhadap Palestina?
Gagasan tentang netralitas dan objektivitas telah lama menjadi pembenaran bagi berbagai bentuk kekerasan terhadap kami. Di rumah sakit, sekolah, universitas, maupun media, institusi-institusi tersebut kerap mengklaim tidak berpihak secara politik dan hanya bersikap objektif.
Namun, kita harus mempertanyakan apa arti netralitas dalam masyarakat yang dibangun di atas supremasi kulit putih dan kolonialisme. Dalam konteks seperti itu, bersikap netral justru berarti mempertahankan status quo dan menuntut mereka yang mengalami penindasan untuk tetap diam.
Hannah, misalnya, mempertanyakan bagaimana seorang jurnalis bisa bersikap objektif ketika bom terus dijatuhkan ke Gaza. Bagaimana cara melaporkan peristiwa tersebut secara netral?
Persoalannya juga terlihat dari standar yang berbeda ketika media mewawancarai orang Rusia mengenai kekerasan di Ukraina dan ketika mereka mewawancarai warga Palestina. Dalam kasus Ukraina, jurnalis dapat mengambil posisi moral yang tegas saat mempertanyakan kekerasan. Namun, ketika berhadapan dengan Palestina, orang Palestina justru kerap diasumsikan sebagai pihak agresor dan harus bersikap defensif sejak awal wawancara.
Karena itu, kita perlu melihat lebih jauh bagaimana konsep objektivitas bekerja dalam masyarakat yang dibangun di atas supremasi kulit putih dan kolonialisme.
Ada sebuah konsep dalam buku ini yang disebut point-zero perspective, yakni mitos Barat tentang sudut pandang yang seolah-olah berada di luar segala sudut pandang.
Orang-orang yang menuntut jurnalis atau akademisi untuk bersikap objektif sering kali benar-benar percaya mereka tidak berpihak. Mereka tidak menyadari sikap tersebut justru dapat menopang supremasi kulit putih dan memungkinkan genosida terus berlangsung. Keyakinan mereka sepenuhnya objektif inilah yang perlu kita bongkar.
M: Jika media menggunakan objektivitas untuk membatasi pemberitaan, universitas memiliki konsep kebebasan akademik. Melalui tokoh Ashraf, Kamu memperlihatkan bagaimana seorang akademisi ditekan untuk mengendalikan penelitian dan pernyataan publiknya demi menjaga reputasi universitas. Apa yang ingin Kamu tunjukkan tentang relasi antara kekuasaan, karier, dan kebebasan akademik?
A: Ashraf adalah tokoh yang merepresentasikan sosok minoritas Arab yang dianggap ideal atau model minority. Ia seorang Muslim sekuler yang berusaha mendekatkan diri pada nilai-nilai dan struktur kekuasaan yang dominan karena percaya kedekatan tersebut akan melindunginya.
Ada keyakinan selama seseorang mengikuti aturan permainan, ia akan berhasil. Selama ia tidak banyak bersuara, ia bisa menaiki tangga karier. Setelah mencapai posisi yang lebih tinggi, ia berharap dapat membantu dan membuka jalan bagi generasi berikutnya.
Saya melihat pola ini dalam banyak komunitas migran. Namun, generasi berikutnya justru mulai mempertanyakan model seperti itu dan menolak gagasan mereka harus menyesuaikan diri dengan kekuasaan agar bisa diterima.
Saya tidak ingin menggambarkan Ashraf sebagai penjahat ataupun pahlawan. Saya ingin menunjukkan bagaimana seseorang bisa begitu mudah tergoda oleh keyakinan dirinya akan menjadi pengecualian. Ia percaya jika cukup patuh dan bermain sesuai aturan, ia bisa berhasil tanpa harus mengorbankan prinsip-prinsipnya.
Namun, kita terus melihat untuk menaiki tangga kekuasaan, seseorang sering kali harus menginjak mereka yang berada di bawahnya. Ketika akhirnya mencapai posisi manajemen atau menjadi profesor, orang-orang yang sebelumnya berusaha bertahan justru dapat menjadi pihak yang paling keras membungkam orang lain.
Saya ingin menunjukkan betapa mudahnya seseorang terjebak dalam keyakinan ia bisa menjadi pengecualian dari sistem tersebut. Karena itu, penting bagi kita untuk melawan cara berpikir seperti ini.
Baca juga: Getir Perempuan Palestina: Ditundukkan Israel dan Bangsanya Sendiri
M: Novel ini banyak menggunakan monolog batin untuk memperlihatkan jarak antara apa yang dipikirkan tokoh dan apa yang berani mereka ucapkan. Apakah ini mencerminkan situasi ketika orang harus terus-menerus menimbang setiap kata karena ada risiko kehilangan pekerjaan atau kesempatan hanya akibat pilihan bahasa mereka?
A: Saya senang ketika pembaca menangkap hal tersebut. Sebagai penulis, kita terkadang tidak sepenuhnya menyadari bagian-bagian tertentu dari karya kita sampai orang lain membacanya dan memberikan interpretasi.
Saya rasa banyak orang yang berada di lingkungan seperti ini terus-menerus berdialog dengan dirinya sendiri. Ketika seseorang menuduh atau mengkritik kita karena cara berbicara, kita mungkin tidak langsung menjawab. Sebaliknya, kita memikirkan kembali apa yang sebenarnya ingin disampaikan, kata apa yang sebaiknya digunakan, dan apakah kita cukup aman untuk mengatakannya.
Ada orang-orang yang benar-benar kehilangan pekerjaan, diberhentikan, atau kehilangan kontrak hanya karena satu kata sifat yang mereka gunakan dalam unggahan media sosial. Mereka memilih sebuah kata ketika sedang sangat marah melihat apa yang terjadi, alih-alih menggunakan kata lain yang dianggap lebih bisa diterima.
Hal ini menunjukkan betapa besar risiko yang melekat pada pilihan kata. Salah satu tameng retoris terbesar yang digunakan untuk menyerang kami adalah gagasan persoalannya terletak pada kata-kata yang kami ucapkan, bukan pada bom yang mereka jatuhkan.
Perasaan pihak-pihak yang tersinggung seolah-olah lebih penting daripada tubuh dan nyawa manusia yang menjadi korban genosida. Karena itu, saya ingin memperlihatkan bagaimana seseorang harus terus menahan diri dan menyensor ucapannya di lingkungan seperti ini.
Pengalaman tersebut tidak hanya dialami oleh orang Palestina. Perempuan, misalnya, juga harus terus mempertimbangkan bagaimana mereka berbicara ketika berada di lingkungan yang sarat dengan misogini. Ada berbagai lapisan identitas dan ketimpangan yang saling beririsan, dan semuanya memengaruhi bagaimana seseorang dapat bersuara atau justru dipaksa untuk diam.
M: Salah satu dilema utama dalam Discipline adalah apakah seseorang sebaiknya bertahan di dalam institusi yang represif untuk mendorong perubahan, atau justru meninggalkannya. Setelah melihat keterlibatan media dan universitas dalam membungkam suara-suara pro-Palestina, bagaimana pandangan Kamu tentang pilihan tersebut sekarang?
A: Jika saya menulis novel ini hari ini, di tengah genosida yang sedang berlangsung, mungkin saya akan menulis akhir cerita yang berbeda. Namun, saya tidak ingin membocorkan akhir novel. Ketika menulisnya pada 2021, pertanyaan yang ingin saya ajukan adalah apakah seseorang masih bisa bertahan di dalam institusi dan membuat perubahan dari dalam.
Pandangan saya sekarang, saya tidak akan begitu saja menyerahkan ruang-ruang tersebut. Saya akan mempertahankan hak untuk berada di sana, bahkan jika harus berjuang keras. Saya juga tidak menghakimi orang-orang yang memilih pergi. Ada kalanya kekerasan dan perlakuan tidak manusiawi yang dialami setiap hari sudah terlalu berat untuk ditanggung.
Namun, pengalaman tiga tahun terakhir memperlihatkan betapa besar keterlibatan dunia akademik dan media dalam memungkinkan genosida berlangsung. Menurut saya, institusi-institusi tersebut tidak bisa begitu saja diperbaiki atau direformasi. Keduanya telah menjadi bagian dari struktur yang menopang kekerasan.
Universitas, misalnya, berdiri di atas tanah yang dirampas dari masyarakat adat. Sejak awal, ada sejarah penindasan yang melekat pada institusi tersebut. Kita masih bisa melakukan kerja-kerja dekolonial di dalamnya, mendampingi mahasiswa, serta menghasilkan penelitian yang berpihak dan bekerja bersama komunitas. Namun, saya tidak yakin sistem universitas itu sendiri bisa diubah dengan mudah.
Universitas kini semakin menyerupai perusahaan yang berorientasi pada keuntungan, bukan lagi institusi publik yang mengutamakan pendidikan dan pembelajaran. Kita perlu memahami bagaimana kepentingan ekonomi-politik bekerja di baliknya. Hal serupa terjadi di media arus utama, ketika kepentingan bisnis, ruang iklan, dan tekanan ekonomi membatasi kemampuan jurnalis untuk bersuara. Karena itu, membangun ruang-ruang kita sendiri menjadi semakin penting.
M: Di tengah meningkatnya sensor dan represi terhadap seniman, penulis, serta pekerja kebudayaan yang menyuarakan Palestina, sering muncul anggapan seni seharusnya tidak berpolitik. Bagaimana Kamu melihat tuntutan untuk memisahkan seni dari politik, sementara institusi kebudayaan justru turut menentukan suara dan cerita siapa yang boleh ditampilkan?
A; Dalam tiga tahun terakhir, kita semakin sering menyaksikan perdebatan mengenai tujuan seni, terutama karena meningkatnya represi di berbagai ruang kebudayaan.
Saya ingin memberikan contoh. National Gallery of Australia di Canberra pernah menyelenggarakan pameran yang disusun bersama komunitas masyarakat adat Māori. Pameran tersebut menampilkan berbagai bentuk perlawanan dan agensi dari komunitas adat. Sebagai bagian dari mosaik karya yang dipamerkan, terdapat sebuah bendera Palestina dan kaus bergambar Palestina.
Namun, pihak penyelenggara diminta menutup kedua benda tersebut dengan kain putih agar pameran dapat terus berlangsung. Alasannya, simbol-simbol itu dianggap memecah belah dan tidak sejalan dengan prinsip apolitis institusi. Padahal, pameran tersebut sejak awal berbicara tentang pengalaman dan perlawanan masyarakat adat. Sulit membayangkan sesuatu yang lebih politis daripada itu.
Kita juga melihat kasus serupa dalam pameran fotografi di Melbourne pada 2024. Pameran tersebut menampilkan foto-foto dari berbagai belahan dunia tentang perlawanan masyarakat, tetapi tidak ada satu pun foto dari Palestina. Bagi saya, itu merupakan bentuk sensor yang disengaja.
Hal yang sama terjadi di festival sastra dan dunia penerbitan. Ada buku-buku yang ditarik atau menghadapi tekanan karena dianggap tidak sesuai dengan kepentingan tertentu. Semua ini kembali pada alasan yang sama: seni dan sastra seharusnya tidak berpolitik.
Namun, kita perlu mempertanyakan siapa yang sebenarnya diuntungkan oleh tuntutan tersebut. Ketika kekerasan dan penindasan terus berlangsung, meminta seniman untuk tidak bersikap politis justru berarti meminta mereka mengabaikan kenyataan.
Ada sebuah puisi pendek dari seorang penyair Palestina di Gaza (Mosab Abu Toha) yang menurut saya merangkum persoalan ini dengan sangat baik:
“Untuk bisa menulis puisi yang tidak politis, aku harus mendengar burung-burung bernyanyi. Agar bisa mendengar burung-burung itu, pesawat-pesawat perang harus berhenti.”
Bagi saya, puisi itu menjelaskan betapa absurd-nya tuntutan agar seni tidak berpolitik ketika perang dan kekerasan masih berlangsung.
M: Kamu pernah menulis seni tidak hanya bertugas menceritakan dunia yang sedang hancur, tetapi juga membantu kita membayangkan cara hidup yang berbeda. Dalam konteks itu, apakah Discipline ingin menawarkan harapan? Bagaimana kita bisa menerjemahkan harapan menjadi tindakan nyata, alih-alih sekadar membayangkan masa depan ketika pembebasan telah tercapai?
A: Saya selalu hidup dengan harapan. Bagi saya, masyarakat Palestina setiap hari mengajarkan harapan selalu ada karena manusia selalu memiliki kemampuan untuk bertindak, apa pun situasinya. Kemampuan untuk tetap menentukan sikap dan mengambil tindakan itu sendiri merupakan bentuk perlawanan yang sangat kuat.
Baca juga: ‘As Long As Lemon Trees Grow’: Trauma dan Perlawanan dalam Konflik Suriah
M: Ketika kita menjadi bagian dari gerakan pembebasan, ada godaan untuk terus membayangkan masa depan: Bagaimana kehidupan nanti ketika kita sudah merdeka dan bebas. Namun, kita juga perlu memikirkan pilihan-pilihan yang harus diambil setiap hari. Bagaimana kita menjalani kehidupan sekarang? Apa tanggung jawab kita terhadap diri sendiri dan orang lain?
A: Jika kita ingin melihat nilai-nilai tertentu hadir di masa depan, kita harus mulai menjalankannya hari ini. Harapan tidak cukup diwujudkan melalui kata-kata indah atau slogan. Ia harus diterjemahkan menjadi tindakan kolektif yang nyata.
Saya punya contoh sederhana dari percakapan dengan anak saya yang berusia sepuluh tahun. Ia terus-menerus meminta saya membelikannya telepon genggam, khususnya iPhone terbaru. Saya mengatakan jika nanti kami membelikannya telepon, kami akan memilih perangkat rekondisi, bukan model terbaru.
Ketika ia bertanya mengapa, saya menjelaskan ada anak-anak di Kongo yang terbunuh di pertambangan demi mendapatkan mineral yang digunakan dalam pembuatan telepon tersebut. Jadi, setidaknya hal yang bisa kami lakukan adalah tidak membeli perangkat baru.
Bagi saya, itulah contoh sederhana tentang bagaimana kita bisa mempraktikkan kepedulian terhadap kehidupan orang lain sekarang, bukan menundanya sampai masa depan yang kita bayangkan.
Setiap hari, kita dihadapkan pada pilihan tentang ingin menjadi manusia seperti apa dan ingin membangun masyarakat seperti apa. Ketika semakin banyak orang mengambil pilihan yang berpihak pada kehidupan dan kepentingan bersama, dampaknya akan merambat ke mana-mana. Dari pilihan-pilihan kecil itulah perubahan bisa dimulai.
Banyak dari kita sebenarnya memiliki kegelisahan dan keyakinan yang sama. Dalam percakapan sehari-hari, kita menolak kekerasan yang terjadi di Gaza dan berbagai bentuk penindasan di negara kita sendiri. Kita juga telah menyaksikan mobilisasi solidaritas global, termasuk gerakan Global Sumud Flotilla yang berupaya menembus blokade Gaza. Namun, semua itu seolah belum cukup untuk menggoyahkan para elite yang memegang kekuasaan. Setelah tiga tahun sejak 7 Oktober, bagaimana kita mempertahankan harapan ketika perubahan terasa begitu lambat dan kekerasan terus berlangsung?
Jangan menyerah. Ini bukan saatnya berputus asa. Lihatlah masyarakat Palestina. Perjuangan mereka bukan berlangsung selama tiga tahun, melainkan lebih dari seratus tahun. Ketika kita berbicara dengan seorang perempuan Palestina berusia 95 tahun, ia masih mengatakan dirinya tidak akan meninggalkan tanahnya.
Kita juga melihat bagaimana warga Palestina menyelundupkan benih-benih tanaman lokal melalui Seed Heirloom Project untuk menjaga kelestarian benih asli. Sebab, dari benih-benih itulah pengetahuan, sejarah, dan kebudayaan pangan mereka diwariskan. Di Gaza, ada orang-orang yang menggunakan pengering rambut untuk memanggang roti.
Ada pula dosen dan pelajar Palestina yang tetap menyelesaikan pendidikan mereka di tengah perang. Saya pernah berkomunikasi melalui Instagram dengan seorang siswa yang sedang menyelesaikan tahun terakhir sekolah menengahnya. Ia belajar di dalam tenda, di bawah ancaman bom dan dalam keadaan kelaparan. Bahkan perutnya terasa sakit ketika ia berusaha menyelesaikan pendidikannya.
Lalu, siapa kita hingga merasa berhak untuk menyerah? Kita semua perlu memahami masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan. Memang, perubahan terasa terlalu lambat. Bantuan makanan masih dihalangi masuk ke Gaza, sementara situasi di Tepi Barat juga semakin mengkhawatirkan. Palestina, Kongo, Sudan, Myanmar, Iran, Yaman, daftar penderitaan ini seolah tidak ada habisnya.
Namun, saya percaya kekuatan yang menindas sedang meronta-ronta dengan kekerasan terbesarnya justru karena ia sedang menuju kehancuran. Bayangkan sebuah ketel berisi air yang sedang dipanaskan. Jangan hanya melihat beberapa detik pertama lalu bertanya-tanya kapan air itu akan mendidih dan ketel mulai bersiul.
Ketika saat itu tiba, semuanya akan berubah.
Namun, bagi saya, yang lebih penting bukanlah menunggu kapan ketel itu akan bersiul. Pertanyaannya adalah: Apa yang bisa kita lakukan untuk membuat air itu lebih cepat mendidih? Bagaimana kita terus menambah panas dan tekanannya?
Itulah pekerjaan kita. Tugas kita bukan meramalkan apa yang akan terjadi 50 tahun mendatang. Saya sendiri mungkin tidak akan hidup untuk menyaksikan Palestina merdeka. Namun, saya akan memastikan orang tua dan anak-anak saya mengetahui perjuangan ini dan terus mewariskannya.
Artinya, setiap orang harus menanam benih. Sebanyak mungkin benih. Benih itu akan tumbuh, orang lain akan meraih dahannya, seseorang akan menemukan daunnya, dan kehidupan baru akan terus berkembang. Ketika kita mengubah cara pandang tentang apa artinya menjadi aktivis atau pembela keadilan, kita tidak akan terus-menerus terjebak dalam keputusasaan. Kita akan lebih sibuk memikirkan apa yang bisa dilakukan sekarang, dengan waktu dan kemampuan yang kita miliki, untuk membuat jalan menuju pembebasan menjadi lebih terbuka bagi generasi berikutnya.
Sebagai seorang Muslim, ada ajaran yang selalu saya ingat: Bahkan jika hari kiamat tiba dan saat itu kita sedang menanam pohon, teruslah menanam pohon tersebut. Itulah yang penting. Saya tidak terlalu memikirkan hasil akhirnya. Saya ingin mengukur diri kita dari upaya yang kita lakukan setiap hari. Sikap itulah yang akan menjaga kepedulian dan belas kasih kita, bahkan ketika kita terus menghadapi krisis kemanusiaan dan dunia seolah sedang terbakar.
Kita juga perlu melihat kembali apa saja yang sudah berhasil dicapai. Jangan abaikan kemenangan-kemenangan kecil maupun besar, mobilisasi solidaritas, dan perubahan yang telah terjadi. Ada begitu banyak kemajuan yang bisa kita catat. Generasi berikutnya bahkan tumbuh menjadi kelompok yang jauh lebih sadar secara politik, lebih aktif, dan lebih menginspirasi dibandingkan generasi kita sebelumnya.
Jadi, saya tidak punya waktu untuk berputus asa. Masih terlalu banyak yang harus kita kerjakan.


























