13/10/2026
Economy Issues Opini

Ramai ‘Downgrade’ Ekonomi, ini 4 Pelajaran Penting untuk WNI

Belakangan ini masyarakat ramai memaparkan ‘downgrade’ hidupnya karena himpitan ekonomi. Apa maknanya?

  • October 13, 2026
  • 4 min read
  • 38 Views
Ramai ‘Downgrade’ Ekonomi, ini 4 Pelajaran Penting untuk WNI

Kita barangkali masih ingat, betapa budaya memamerkan kesuksesan di media sosial sempat jadi tren. Namun, hari-hari ini kita banyak menonton anomali tingkah laku masyarakat yang justru saling memperlihatkan penurunan taraf ekonominya, atau yang populer di lini masa sebagai downgrade gaya hidup.

Hal ini wajar terjadi. Sebab, belakangan ini kita mungkin sering mendengar berita buruk tentang situasi ekonomi nasional yang seperti tak berujung.

Sejak awal tahun, tekanan ekonomi kian terasa: Nilai tukar rupiah merosot hingga menyentuh rekor terlemah sepanjang masa, sementara harga bahan bakar minyak (BBM) ikut tertekan oleh krisis Selat Hormuz yang hingga kini belum menunjukkan titik terang.

Terlebih, ada potensi Super El Nino yang diprediksi berlangsung hingga awal tahun depan. Kondisi ini berpotensi menekan produksi pangan dan mendorong kenaikan harga bahan pokok.

Wajar jika kita merasa khawatir melihat berbagai tekanan ekonomi tersebut. Namun, kita juga perlu mewaspadai dampak lain yang tak kalah penting, yakni kecemasan finansial yang dapat mengganggu kesejahteraan psikologis dan kesehatan masyarakat.

Ancaman Nyata Kecemasan Finansial

Secara singkat, kecemasan finansial adalah kondisi psikologis berupa kekhawatiran berkepanjangan terhadap situasi keuangan pribadi dan kemampuan memenuhi kebutuhan hidup.

Kondisi ini dapat dipicu oleh berbagai faktor, mulai dari pendapatan rendah, pekerjaan yang tidak stabil, dan beban utang yang besar, hingga guncangan ekonomi seperti resesi atau pandemi.

Dalam situasi ketika harga kebutuhan pokok berpotensi meningkat sementara pendapatan tidak bertambah, ketidakpastian mengenai kemampuan memenuhi kebutuhan sehari-hari juga dapat memperbesar kecemasan finansial.

Gejala kecemasan finansial umumnya berupa pikiran berulang tentang kekurangan uang, ketakutan terhadap masa depan keuangan, hingga kesulitan mengambil keputusan finansial secara bijak.

Jika berlangsung terus-menerus, kecemasan ini juga dapat mengganggu kesehatan fisik, mulai dari insomnia, sakit kepala, dan kelelahan hingga gangguan pencernaan dan jantung. Dampaknya bukan hanya dirasakan individu, tetapi juga dapat menambah beban biaya kesehatan dan mengurangi produktivitas.

Besarnya dampak ekonomi gangguan mental juga tercermin dalam sebuah studi yang memperkirakan kerugian akibat stres dan gangguan mental pekerja di Indonesia mencapai Rp463 triliun per tahun, setara 2,1 persen PDB pada 2023. Sebanyak 88,5 persen kerugian tersebut berasal dari hilangnya produktivitas pekerja, bukan biaya pengobatan.

Harap-harap Cemas Menanti Kondisi Membaik

Kecemasan finansial berkaitan dengan ketidakpuasan atas kondisi keuangan saat ini dan kekhawatiran akan kemampuan memenuhi kebutuhan di masa depan. Kondisi ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari tingkat pendapatan dan kondisi sosial ekonomi hingga kebiasaan mengelola uang serta kemampuan menghadapi risiko finansial.

Ketika ekonomi tertekan, masyarakat cenderung menyesuaikan pola konsumsinya. Fenomena lipstick effect, yakni beralih ke barang yang lebih terjangkau atau kemewahan kecil, dapat menjadi salah satu bentuk penyesuaian sebelum akhirnya masyarakat mengurangi belanja secara lebih luas (downgrade).

Sebenarnya masih ada sinyal positif dalam sejumlah indikator ekonomi Indonesia. Ekonomi tumbuh 5,29 persen pada triwulan II 2026, sementara Indeks Keyakinan Konsumen pada September 2026 berada di level optimistis, yakni 118,1.

Namun, inflasi tahunan yang mencapai 3,28 persen pada September 2026 tetap perlu diwaspadai. Kenaikan harga barang dan jasa mengurangi daya beli jika tidak diimbangi peningkatan pendapatan.

Maraknya fenomena downgrade konsumsi menjadi salah satu indikasi bahwa sebagian masyarakat sedang meredam pengeluaran.

Berhemat dan Mengendalikan Diri

Meski terdengar klise, praktik self-control atau pengendalian diri dapat membantu mengurangi kecemasan finansial di tengah ketidakpastian ekonomi. Dengan mengendalikan pengeluaran impulsif dan mengelola uang secara bijak, kita bisa membangun kondisi keuangan yang lebih sehat.

Ada empat langkah yang bisa kita lakukan.

Pertama, buat anggaran yang realistis. Buat daftar pendapatan dan pengeluaran secara spesifik untuk bisa membuat rencana finansial yang bijak.

Dahulukan juga kebutuhan dasar dan berlakukan subsidi silang. Misalnya, di akhir pekan ternyata ada pengeluaran di luar kebutuhan dasar, anggaran untuk kebutuhan dasar di hari-hari berikutnya diperkecil. Jadi, kamu masih bisa tetap menjaga batasan.

Kedua, sebisa mungkin hindari utang konsumtif misalnya paylater untuk membeli TV. Jika memiliki utang, susun strategi pembayaran agar bebannya tidak menumpuk. Untuk pinjaman tertentu, pertimbangkan negosiasi restrukturisasi sesuai kemampuan membayar.

Ketiga, sisihkan dana darurat. Kita tidak pernah tahu apakah di masa depan situasi ekonomi akan lebih parah atau tidak. Karena itu, cadangan keuangan (sekecil apa pun itu) harus selalu tersedia.

Keempat, lakukan diversifikasi pendapatan. Jika memungkinkan, pertimbangkan sumber penghasilan tambahan untuk mengurangi ketergantungan pada satu sumber pendapatan dan memperkuat ketahanan finansial.

Di tengah ketidakpastian ekonomi, memahami kondisi keuangan pribadi dan mengambil keputusan secara terencana dapat membantu kita menghadapi tekanan finansial.

Namun, pengendalian diri bukan satu-satunya solusi. Kemampuan mengelola uang juga dipengaruhi oleh besarnya pendapatan, biaya hidup, dan kondisi ekonomi yang lebih luas.

Teresia Angelia Kusumahadi, Dosen Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya.

Artikel ini pertama kali diterbitkan oleh The Conversation, sumber berita dan analisis yang independen dari akademisi dan komunitas peneliti yang disalurkan langsung pada masyarakat.

About Author

Teresia Angelia Kusumahadi

Click to access the login or register cheese

Royal ID adalah kunci utama akunmu. Di situs top up royal dream yang benar, Royal ID hanya dipakai untuk mengirim koin ke karakter yang tepat, bukan untuk mengakses akun. Tidak ada alasan bagi layanan mana pun untuk meminta password, PIN, atau kode OTP yang kamu terima lewat SMS. Kalau ada yang meminta hal itu, itu tanda bahaya dan sebaiknya segera ditinggalkan.