07/07/2026
Issues

Blackout Sumatera: Di Balik Mati Listrik di 5 Provinsi Sumatera

Sejak Jumat (22/5), blackout yang terjadi di Sumatera tidak hanya menyebabkan kerugian ekonomi masyarakat tetapi juga menyebabkan korban meninggal dunia.

  • May 26, 2026
  • 3 min read
  • 552 Views
Blackout Sumatera: Di Balik Mati Listrik di 5 Provinsi Sumatera

Sejak Jumat (22/5), pemadaman listrik total (blackout) melumpuhkan jaringan listrik di sebagian besar wilayah di Sumatera: Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Jambi, dan sebagian Sumatera Selatan.

Bermuara di Jambi

Melansir Antara (24/5), PLN mengindikasi gangguan awal berawal dari sistem transmisi 275kV antara Muaro Bungo dan Sungai Rumbai di Jambi yang diduga dipengaruhi kondisi cuaca. Gangguan ini yang memicu gangguan berantai pada sistem kelistrikan Sumatera sehingga berdampak pada sejumlah pembangkit di berbagai wilayah.

Darmawan Prasodjo, Direktur Utama PLN meminta maaf pada masyarakat akibat padamnya listrik di Sumatera. 

“Kami sekali lagi memberikan upaya yang terbaik, mengerahkan seluruh kekuatan yang kami punya dan kami terus siaga agar sistem kelistrikan bisa segera pulih kembali,” ujarnya saat konferensi pers (22/5).

Baca juga: Di Banasu, Jalan Rusak dan Kehamilan Sama-sama Menakutkan

Lima Orang Meninggal

Sejak blackout terjadi sampai Senin (25/5), BBC Indonesia melaporkan lima orang dilaporkan meninggal dunia akibat keracunan karbon monoksida dari genset dan tenggelam di sungai.

Dampak ke Usaha Kecil

Blackout tak sekadar menyebabkan gelap gulita di berbagai wilayah, tetapi berdampak besar terhadap kerugian ekonomi masyarakat.

Kompas.id mencatat sejumlah pabrik berhenti beroperasi karena harga solar industri juga tinggi, sehingga kerugian semakin semakin besar jika terus menyalakan genset. UMKM dan pedagang kecil yang bergantung pada listrik mengalami keterpurukan akibat alat operasi tidak bisa bekerja.

Baca juga: Dari Arus Sungai ke Hidup: Kisah Kemandirian Energi Dusun Kedungrong, Kulon Progo

Dampak ke Perempuan dan Disabilitas

Dalam skala rumah tangga, blackout membuat aktivitas harian terhenti, terhambatnya akses air bersih, sampai memicu kepanikan dan tenaga psikologis bagi warga. Bagi perempuan, disabilitas, dan kelompok rentan lainnya, dampaknya sering kali lebih kompleks. 

Mulai dari terganggunya kebutuhan sanitasi saat menstruasi, risiko bagi perempuan hamil, sampai tantangan tambahan bagi mereka yang merawat bayi dan orang sakit.

Bukan yang Pertama dan Derita Orang Sumatera

Kondisi ini bukan yang pertama kali terjadi. Sejarah mencatat, blackout massal terjadi selama tiga kali di Sumatera: 2019, 2024, dan 2026.

Hal serupa juga diungkap oleh Media Wahyudi Askar, Founder CELIOS, dalam post Instagram-nya, ia menyampaikan bahwa mati listrik sudah dialaminya sejak kecil, hampir setiap minggu. Menurutnya, kondisi yang saat ini terjadi karena transmisi listrik di Sumatera rapuh, sementara tata kelola kelistrikan timpang.

Baca juga: Transisi Energi Tersandera Elit, Janji Hijau cuma ‘Omon-omon’?

Ironi Pulau yang Dieksploitasi

Blackout Sumatera jadi sebuah ironi, karena pulau terbesar ketiga di Indonesia ini, merupakan salah satu wilayah dengan sumber daya energi nasional terbesar. Bahkan, produksi batubara di Sumatera Selatan sepanjang 2025 tembus 120 juta ton, menurut data Indonesian Meaning Association.

Sementara cadangan batubara di Sumatera Selatan tercatat sebagai yang terbesar kedua secara nasional, mencapai 13,05 miliar ton setelah Kalimantan Timur. 

Pada 2025, Pulau Sumatera berkontribusi sebesar 18,15% kebutuhan produksi batubara nasional.

Di sisi lain, blackout Sumatera dinilai telah memperlihatkan kegagalan sistem kelistrikan yang terlalu bergantung pada infrastruktur terpusat dan energi fosil. Juru Kampanye Renewable Energy Trend Asia Beyrra Triasdian mengatakan, di tengah krisis iklim yang membuat cuaca ekstrem semakin sering terjadi, model seperti ini hanya memperbesar risiko jutaan masyarakat kehilangan layanan dasar.

“Pemerintah harus segera mempercepat desentralisasi energi berbasis energi terbarukan komunitas untuk membangun sistem yang lebih tangguh, adil, dan tidak mudah lumpuh saat krisis,” ujar Beyrra dalam siaran pers, mengutip AFU.ID (24/5).

Trend Asia mencatat, blackout di Sumatera merupakan kejadian kedua dalam kurung waktu kurang dari 5 tahun dengan alasan gangguan yang sama yaitu akibat cuaca buruk.

“Ini Ironi sebab energi fosil yang menyokong ketenagalistrikan Indonesia saat ini merupakan salah satu penyumbang utama krisis iklim yang memicu cuaca ekstrem,” tegas Beyrra.

Menurut Beyrra, pemerintah harus segera memulihkan seluruh sistem kelistrikan Sumatera, dan memberikan kompensasi adil bagi masyarakat terdampak blackout.

About Author

Sonia Kharisma Putri

Sonia suka hal-hal yang cantik dan punya mimpi hidup berkecukupan tanpa harus merantau lagi. Sekarang lebih suka minum americano daripada kopi susu keluarga.