27/07/2026
Community Update

Singaraja Literary Festival 2026 Ajak Publik Menafsirkan Ulang Stri Sasana

Mengangkat tema Stri Sasana: Energi Keseimbangan Semesta, Singaraja Literary Festival 2026 mengajak publik membaca ulang manuskrip kuno tentang perempuan sebagai ruang dialog yang tetap relevan hingga kini.

  • July 27, 2026
  • 5 min read
  • 23 Views
Singaraja Literary Festival 2026 Ajak Publik Menafsirkan Ulang Stri Sasana

Foto: Dok. Singaraja Literary Festival 2026

Manuskrip kuno kerap diperlakukan sebagai warisan budaya yang menyimpan jawaban. Naskah-naskah itu dijaga, disimpan, lalu dibaca sebagai pedoman yang nyaris tak boleh dipertanyakan. Padahal, sebuah manuskrip baru benar-benar hidup ketika dibaca ulang, diperdebatkan, dan dipertemukan dengan pengalaman masyarakat yang terus berubah. Gagasan inilah yang menjadi benang merah Singaraja Literary Festival (SLF) 2026 yang berlangsung pada 3–5 Juli di Singaraja, Bali, dengan mengusung tema Stri Sasana: Energi Keseimbangan Semesta.

Festival tahun ini mengangkat Stri Sasana, lontar yang selama ini dikenal membahas perempuan dalam tradisi Bali. Alih-alih menjadikannya pedoman tentang bagaimana perempuan “seharusnya” hidup, SLF mengajak publik melihat manuskrip tersebut sebagai ruang dialog. Pertanyaannya bukan lagi sekadar apa isi Stri Sasana, melainkan bagaimana teks itu tetap relevan ketika dibaca oleh generasi yang hidup dalam konteks sosial berbeda.

Pendiri sekaligus Direktur Festival, Kadek Sonia Piscayanti, mengatakan manuskrip tidak seharusnya berhenti sebagai benda arsip. Menurutnya, warisan budaya hanya akan tetap hidup jika terus dipertemukan dengan pertanyaan-pertanyaan baru yang lahir dari pengalaman masyarakat hari ini.

Foto: Dok. Singaraja Literary Festival 2026

Baca juga: ‘Salihara International Performing Arts Festival 2026’: Rayakan Keberagaman Seni Asia

Ruang Tafsir

Pendekatan tersebut terasa sepanjang festival. Lebih dari 40 program digelar selama tiga hari, mulai dari diskusi, lokakarya, bedah buku, teater, pemutaran film, hingga musikalisasi puisi. Namun, yang paling menonjol bukan banyaknya acara, melainkan gagasan yang menghubungkan seluruh rangkaian kegiatan itu, yakni pengetahuan tidak pernah selesai dan tafsir atas sebuah manuskrip akan terus berubah mengikuti perkembangan zaman.

Hari pertama festival mengajak peserta menelusuri akar lahirnya pengetahuan. Berbagai diskusi mempertemukan sastra dengan sejarah, filsafat, identitas lokal, hingga kesehatan mental. Salah satunya menghadirkan Romo A. Setyo Wibowo dan Ayu Utami yang membahas bagaimana sastra dapat membantu seseorang memahami dirinya sendiri.

Romo A. Setyo Wibowo mengingatkan bahwa manusia tidak selalu bisa mengendalikan apa yang terjadi dalam hidupnya. Yang bisa dikendalikan adalah cara menyikapi setiap pengalaman. Sementara Ayu Utami mengajak publik kembali mendengarkan diri sendiri di tengah kehidupan yang semakin dipenuhi target dan tekanan.

Sekilas pembahasan ini tampak jauh dari Stri Sasana. Namun, justru di situlah benang merah festival terlihat. Pengetahuan tidak dipahami sebagai kumpulan aturan, melainkan sesuatu yang membantu manusia membaca kehidupan dari berbagai sudut pandang.

Hari kedua kemudian menggeser fokus pada pertanyaan yang lebih mendasar, yakni siapa yang selama ini memiliki hak untuk menafsirkan pengetahuan. Pertanyaan ini menjadi penting karena selama berabad-abad banyak cerita tentang perempuan lebih sering ditulis dari sudut pandang laki-laki. Akibatnya, pengalaman perempuan kerap hadir sebagai objek pembahasan, bukan sebagai suara yang menentukan makna atas dirinya sendiri.

Melalui Workshop Menulis Feminisme, penulis Dian Purnomo mengingatkan masih banyak pengalaman perempuan yang tenggelam karena tidak pernah diceritakan langsung oleh mereka yang mengalaminya. Menurut Dian, sastra menjadi salah satu medium penting agar perempuan dapat merekam pengalaman, ingatan, dan pandangannya sendiri.

Gagasan serupa juga mengemuka dalam diskusi mengenai perspektif perempuan dalam sastra Indonesia. Para pembicara menegaskan pengalaman perempuan tidak pernah tunggal. Pengalaman tersebut dipengaruhi oleh kelas sosial, budaya, agama, bahasa, hingga ruang tempat seseorang tumbuh. Karena itu, sastra tidak bertugas menyamaratakan pengalaman tersebut, melainkan membuka ruang bagi keberagamannya.

Festival juga memperluas pembahasan tentang perempuan ke ranah lain, termasuk ekonomi dan kepemimpinan. Pesan yang mengemuka, perempuan bukan sekadar tokoh dalam cerita atau penjaga tradisi, melainkan individu yang ikut membentuk pengetahuan, memimpin komunitas, dan mendorong perubahan sosial.

Foto: Dok. Singaraja Literary Festival 2026

Baca juga: ‘Jagad’e Raminten’: Saat Nia Dinata Memotret Queer Tanpa Tragedi

Warisan Hidup

Memasuki hari terakhir, perhatian festival bergeser pada cara pengetahuan diwariskan kepada generasi berikutnya. Lomba baca puisi, presentasi karya penulis muda, lokakarya menulis, hingga bedah buku menjadi bagian dari upaya membangun regenerasi pembaca sekaligus penulis. Rangkaian kegiatan tersebut menunjukkan proses merawat pengetahuan tidak berhenti pada penciptaan karya, tetapi juga memastikan karya itu terus dibaca dan didiskusikan.

Festival juga memberi ruang bagi toko buku independen, komunitas literasi, dan penerbit untuk bertemu langsung dengan pembaca. Kehadiran mereka memperlihatkan kehidupan sastra tidak berhenti ketika sebuah buku diterbitkan, tetapi terus tumbuh melalui percakapan, distribusi, dan komunitas yang merawatnya.

Di sisi lain, berbagai pertunjukan teater, film, musikalisasi puisi, hingga stand-up comedy menunjukkan sastra tidak harus selalu hadir dalam bentuk teks. Sebuah gagasan dapat berpindah medium agar menjangkau lebih banyak orang tanpa kehilangan maknanya.

Cara pandang ini membuat Stri Sasana tidak lagi terasa sebagai manuskrip kuno yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Sebaliknya, manuskrip tersebut menjadi pintu masuk untuk membicarakan isu-isu yang masih relevan hingga sekarang, mulai dari relasi gender, identitas, hingga cara masyarakat memaknai warisan budaya.

Pada akhirnya, SLF 2026 tidak sedang mengajarkan cara membaca Stri Sasana yang paling benar. Festival ini justru menunjukkan manuskrip akan terus hidup ketika masyarakat berani mempertanyakan, menafsirkan ulang, dan menghubungkannya dengan pengalaman masa kini.

Di tengah berbagai perdebatan tentang perempuan dan kebudayaan, pendekatan semacam ini menjadi penting. Melestarikan warisan budaya bukan berarti membekukan maknanya. Sebaliknya, dengan terus membuka ruang dialog, manuskrip seperti Stri Sasana dapat tetap relevan dan menjadi bagian dari percakapan tentang bagaimana masyarakat memahami perempuan, pengetahuan, dan kehidupan hari ini.

Artikel ini diproduksi atau disusun dengan bantuan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk membantu mencari referensi. Ide tulisan, fakta, data, dan informasi di dalamnya telah melalui proses verifikasi dan penyuntingan redaksi.

About Author

Magdalene

.