07/07/2026
Issues Opini Politics & Society

‘I Cut, You Choose’: Cara Kami Besarkan Anak Lelaki Agar Sadar Kesetaraan Gender dari Rumah 

Praktik sederhana dalam pembagian peran di rumah dapat membentuk cara pandang anak terhadap kesetaraan gender. Ini cara-cara yang telah kami terapkan di keluarga.

  • April 15, 2026
  • 3 min read
  • 1156 Views
‘I Cut, You Choose’: Cara Kami Besarkan Anak Lelaki Agar Sadar Kesetaraan Gender dari Rumah 

Memang sesederhana frasa di atas, I cut, you choose menjadi landasan praktik berbagi pekerjaan rumah tangga yang sehari-hari kami lakukan. Ketika mempersiapkan makan siang, biasanya suami yang memotong roti dan saya yang memilih potongan favorit. Hal serupa berlaku saat memasak makan malam, tugas dibagi secara bergantian melalui prinsip I cook, you clean

Untuk urusan sekolah juga demikian, saya memilih menjemput anak sementara suami mengantarnya berangkat. Ketika ada rapat orang tua di sekolah, kehadiran tidak dibatasi pada salah satu pihak. Praktik ini kami terapkan sejak awal membangun rumah tangga dan menjadi bagian dari keseharian yang konsisten. 

Dari kebiasaan tersebut, anak laki-laki kami tumbuh dengan melihat ayahnya memasak atau berbelanja kebutuhan rumah tangga sebagai hal yang wajar. Ia tidak mengenal batas kaku antara pekerjaan ayah dan ibu. Baginya, merapikan kamar atau mencuci pakaian merupakan life skills yang perlu dimiliki setiap anak untuk menjadi pribadi yang mandiri. 

Ketika saya mewawancarainya untuk tulisan ini, saya menanyakan bagaimana ia akan bersikap jika ada teman perempuan di sekolah yang sedang menstruasi. Ia menjawab akan membantu dengan meminta pembalut ke perawat sekolah dan mendampingi temannya beristirahat jika diperlukan. Respons tersebut menunjukkan pemahaman yang tidak diliputi rasa jijik atau stigma. 

Jawaban itu juga mencerminkan perubahan cara pandang terhadap hal yang selama ini kerap dianggap tabu. Dalam pengalaman kami, anak tidak melihat menstruasi sebagai sesuatu yang harus dijauhi. Hal ini menjadi bagian dari proses belajar memahami tubuh dan pengalaman orang lain secara lebih setara. 

Baca Juga: Buruh Perempuan Ceraikan Suami, Peran Gender Normatif Memang Sudah Basi

Bukan Hanya Peran, tetapi Juga Ruang Suara 

Jika diperhatikan, pembahasan mengenai kesetaraan gender di Indonesia menunjukkan perkembangan dalam berbagai aspek kehidupan. Dalam keseharian, semakin banyak laki-laki yang terlibat dalam pekerjaan domestik maupun pengasuhan anak. Di ruang publik, keterlibatan ini kerap ditampilkan sebagai indikator perubahan. 

Namun, kesetaraan tidak hanya berkaitan dengan pembagian peran yang terlihat. Aspek lain yang tidak kalah penting adalah ruang bersuara. Dalam banyak situasi, perempuan masih menghadapi keterbatasan dalam menyampaikan pendapat, baik di lingkungan kerja maupun akademik. 

Pertanyaan mengenai apakah perempuan telah memiliki ruang yang aman untuk bersuara, terbebas dari kekerasan seksual, atau dari praktik seperti mansplaining, masih relevan untuk diajukan. Demikian pula dengan stereotip lama yang mempertanyakan kapasitas perempuan sebagai pemimpin. 

Dalam praktiknya, ketimpangan masih terlihat di berbagai sektor, termasuk dalam struktur pemerintahan. Jumlah perempuan dalam jajaran kabinet masih terbatas dan sering ditempatkan pada bidang yang dilekatkan dengan isu perempuan, seperti pendidikan atau kesejahteraan sosial. Sementara itu, sektor strategis lain masih didominasi oleh laki-laki. 

Baca Juga: Dapur Terbuka, Rumah yang Lebih Setara?

Kondisi tersebut mencerminkan tantangan yang masih dihadapi dalam upaya mencapai kesetaraan. Perbedaan upah, serta meningkatnya kasus kekerasan terhadap perempuan di ruang digital maupun fisik, menunjukkan bahwa persoalan ini belum sepenuhnya teratasi. 

Upaya mendorong perempuan untuk lebih asertif menjadi salah satu pendekatan yang sering dilakukan. Namun, peran laki-laki juga menjadi bagian penting dalam proses ini, termasuk dalam membangun kesadaran untuk tidak menempatkan diri lebih tinggi dari perempuan. 

Dalam pengalaman kami sebagai orang tua, nilai tersebut mulai diperkenalkan melalui praktik sederhana dalam keseharian. Pembagian peran yang setara di rumah menjadi salah satu cara untuk membentuk pemahaman anak tentang relasi yang adil antara laki-laki dan perempuan. 

Tulisan ini saya selesaikan setelah kami sekeluarga makan malam bersama, dengan saya duduk di ujung meja, posisi yang biasanya diasosiasikan sebagai tempat kepala keluarga. “That’s the ideal place,” kata suami saya, sebelum kemudian menemani anak kami mengerjakan pekerjaan rumah sekolah. 

About Author

Riyani Indriyati

Riyani adalah pendiri dari Dahuni foundation, seorang mentor yang punya jiwa “restless” terutama jika menyangkut masalah perempuan dan pendidikan.