5 Artikel Pilihan: Kasus Persekusi Transpuan, Cowok Bingung, hingga Uji Materi PP 71/2019 ke Mahkamah Agung
1. Bayang-bayang Impunitas dalam Kasus Persekusi Transpuan
Peringatan pemicu: Kasus kekerasan terhadap komunitas transpuan.
Sepekan setelah video persekusi terhadap sejumlah transpuan di Bogor, Jawa Barat, beredar luas, belum ada tanda para terduga pelaku diproses hukum. Padahal, organisasi masyarakat sipil menilai aparat penegak hukum memiliki dasar untuk menindak dugaan tindak pidana tersebut tanpa harus menunggu laporan dari korban.
Situasi ini relatif berbeda dengan penanganan kasus Ferdian Paleka pada 2020. Melansir Tempo.co, Ferdian ditahan kepolisian tidak lama setelah melakukan prank sembako berisi sampah kepada seorang transpuan di Bandung, Jawa Barat.
Baca artikel selengkapnya di sini.
2. Ancam Hak Digital Warga, Korban Moderasi Konten dan Koalisi Masyarakat Sipil Gugat PP 71/2019
Koalisi masyarakat sipil yang tergabung dalam Tim Advokasi untuk Demokratisasi Ruang Digital Indonesia (TAKDIR) mengajukan permohonan uji materi Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2019 tentang Penyelenggaraan Sistem dan Transaksi Elektronik (PP 71/2019) ke Mahkamah Agung, Rabu (22/7). Langkah hukum ini ditempuh sebagai respons atas berbagai kasus moderasi konten yang terjadi sejak penerapan Sistem Kepatuhan Moderasi Konten (SAMAN).
Koalisi TAKDIR terdiri atas Lembaga Bantuan Hukum Pers (LBH Pers), Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (ELSAM), Southeast Asia Freedom of Expression Network (SAFEnet), Aliansi Jurnalis Independen (AJI), Project Multatuli, Magdalene.co, dan Remotivi.
Baca artikel selengkapnya di sini.
3. Ada Apa dengan ‘Cowok Bingung’? Saat Validasi Jadi ‘Currency’ di Relasi
Belakangan, linimasa media sosial saya dipenuhi cerita tentang laki-laki yang sudah memiliki pasangan, tetapi masih aktif meninggalkan komentar genit di unggahan perempuan lain. Tak jarang mereka mengirim direct message, atau sengaja menjaga komunikasi dengan mantan tanpa sepengetahuan pasangan. Ketika dikonfrontasi, enggak sedikit yang beralasan, “Cuma cari teman,” “Biar seru aja,” atau “Enggak ngapa-ngapain,” “enggak ada niat selingkuh.”
Anak-anak muda kerap melabeli kecenderungan ini sebagai “cowo bingung”. Istilah ini umumnya merujuk pada laki-laki yang mengaku mendamba hubungan serius, tetapi tetap menikmati perhatian dari perempuan lain. Meski terdengar seperti istilah bercanda, saya justru melihat ada persoalan yang lebih besar di baliknya.
Simak artikelnya di sini.
4. Saat Kekalahan di Lapangan Dibawa Pulang ke Rumah
Olahraga sering dirayakan sebagai ruang sportivitas, kesehatan, hiburan, dan kebanggaan bersama. Dalam sepak bola, misalnya, kita bisa melihat bagaimana satu pertandingan menyatukan orang-orang yang bahkan tidak saling mengenal. Mereka memakai warna yang sama, menyanyikan lagu yang sama, dan menaruh harapan pada tim yang sama.
Namun, di balik euforia itu, ada sisi yang jarang dibicarakan dengan serius: bagaimana olahraga, terutama yang sarat rivalitas dan kontak fisik, dapat menjadi ruang yang ikut merawat agresi dan maskulinitas toksik.
Baca artikel lengkapnya di sini.
5. Ketika Ozempic Jadi Tren, Aku Berhenti Menyalahkan Tubuhku
Bagi kita yang chronically online, fenomena ini mungkin terasa sulit diabaikan. Di berbagai premiere film, unggahan Instagram, wawancara karpet merah, hingga potongan video di TikTok, semakin banyak figur publik tampil dengan tubuh yang jauh lebih kecil dibandingkan beberapa tahun lalu. Perubahannya sering begitu drastis hingga memancing spekulasi.
Dari sanalah istilah “tren Ozempic” ramai dibicarakan. Ozempic sendiri adalah obat diabetes yang belakangan ikut populer karena efeknya terhadap penurunan berat badan. Di media sosial dan pemberitaan hiburan, nama obat ini kemudian melekat pada fenomena tubuh selebritas yang mendadak sangat ramping. Bukan sekadar terlihat lebih langsing, tetapi benar-benar skinny.
Baca artikel selengkapnya di sini.





















