07/07/2026
Issues

Sudah WNI, Janda Pula: Stigma yang Warnai Perempuan Orang Tua Tunggal

Janda kerap menghadapi stigma sosial lebih berat dibanding duda. Di tengah tekanan itu, mereka juga harus menanggung beban pengasuhan, finansial, dan minimnya dukungan.

  • May 26, 2026
  • 7 min read
  • 634 Views
Sudah WNI, Janda Pula: Stigma yang Warnai Perempuan Orang Tua Tunggal

Sebelum melayangkan gugatan cerai ke pengadilan pada 2017, Poppy Dihardjo, 50, sudah lebih dulu melalui tantangan sebagai orang tua tunggal. Kala itu, Poppy harus membiasakan dinamika hidup yang baru bersama anak. Sebab, mantan pasangannya telah meninggalkan rumah sejak 2015.

Bagi anak Poppy, kata “kerja” sempat terdengar menakutkan. Ayahnya pergi dengan alasan bekerja, tetapi tidak pernah kembali ke rumah. Pengalaman itu membuat anak Poppy dihantui rasa takut ditinggalkan.

“Setiap mau berangkat kerja, anakku nanya, ‘Pulang jam berapa? Bakal pulang enggak?’ Terus jam empat dia nelponnangis-nangis, karena papanya pamit kerja tapi enggak pernah pulang,” cerita Poppy.

Situasi tersebut membuat Poppy belajar memahami emosi anaknya. Ia berusaha membangun kembali rasa aman dengan memastikan anaknya tetap merasa ditemani meski ia bekerja. Caranya beragam, mulai dari mengizinkan anak menjemput ke kantor hingga melakukan telepon dan video call selama bekerja.

Di tengah proses itu, Poppy juga menghadapi ketakutan lain. Mantan pasangannya sempat mengancam akan membawa anak mereka ke Ambon. Ancaman tersebut menambah tekanan emosional dalam proses pengasuhan yang sudah tidak mudah dijalani sendirian.

Pengalaman serupa dialami Sutan Mochamat Yasin, 53, ayah tunggal sekaligus pendiri komunitas Single Parents Indonesia in Motion (SPINMOTION). Setelah bercerai, Sutan memutuskan meninggalkan pekerjaan korporat dan beralih menjadi wiraswasta agar memiliki waktu yang lebih fleksibel untuk mengurus anak.

“Kalau kerja di korporat, susah menjalankan tugas sebagai orang tua tunggal. Apalagi kalau mesti dinas luar kota,” ungkap Sutan.

“Kalau wiraswasta, saya fleksibel membagi waktu antara bekerja dan mengurus anak.”

Perubahan pekerjaan itu hanya satu dari banyak penyesuaian yang harus dijalani orang tua tunggal. Selain persoalan ekonomi dan pengasuhan, mereka juga menghadapi stigma sosial yang terus melekat.

Baca Juga: Apa yang Saya Pelajari dari Perceraian Orang Tua

Stigma dan Beban Pengasuhan

Di masyarakat, duda kerap dicap gagal memimpin rumah tangga. Sutan mengaku pernah menerima komentar serupa setelah bercerai. Namun, ia memilih menanggapinya dengan santai dan menekankan perceraian tidak selalu disebabkan oleh satu pihak saja.

“Setidaknya saya tetap berusaha bertanggung jawab sebagai ayah,” ucap Sutan.

Sementara itu, stigma terhadap janda sering kali lebih tajam. Poppy mengaku kerap menerima candaan seksis setelah menyandang status janda. Ia disebut perempuan penggoda dan dianggap dapat mengancam keharmonisan rumah tangga orang lain.

Peneliti Petra Mahy, Monika Swasti Winarnita, dan Nicholas Herriman menjelaskan akar pandangan tersebut dalam Presumptions of promiscuity: reflections on being a widow or divorcee from three Indonesian communities (2015). Dalam penelitian itu, janda dipersepsikan sebagai perempuan yang sudah berpengalaman secara seksual dan tidak lagi terikat relasi, sehingga diasumsikan dapat merayu laki-laki mana pun dan dianggap tidak bermoral.

Komentar-komentar itu sempat membuat Poppy tersinggung. Ia memilih meninggalkan ruangan atau keluar dari grup pertemanan ketika mendengarnya. Namun, seiring waktu, Poppy mencoba memaknai ulang statusnya sebagai janda dan melepaskan stigma yang dilekatkan masyarakat.

“Kalau tahu kita siapa, tahu janda cuma menyatakan perempuan yang nggak lagi dalam ikatan pernikahan, I think we are fine,” tutur Poppy.

Selain stigma sosial, orang tua tunggal juga menghadapi persoalan aturan hak asuh anak yang dinilai belum sepenuhnya mempertimbangkan kondisi riil pengasuhan. Dalam Pasal 105 huruf a Kompilasi Hukum Islam (KHI), anak yang belum berusia 12 tahun atau belum mumayyiz dirawat oleh ibunya. Sementara anak yang sudah mumayyiz dapat memilih tinggal bersama ibu atau ayahnya.

KHI juga mengatur kewajiban ayah untuk menafkahi anak sesuai kemampuan, setidaknya hingga anak berusia 21 tahun atau mampu mengurus dirinya sendiri. Di sisi lain, Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan menyebut ayah bertanggung jawab atas pemeliharaan dan pendidikan anak. Jika ayah tidak dapat memenuhi kewajibannya, ibu dapat ikut membiayai kebutuhan anak berdasarkan putusan pengadilan.

Namun, dalam praktiknya, aturan tersebut dinilai belum sepenuhnya proporsional. Penentuan hak asuh berdasarkan usia anak kerap mengabaikan kesiapan orang tua dari sisi psikologis, ekonomi, dan sosial. Pola pengasuhan juga masih dibayangi pembagian peran tradisional, yakni ibu sebagai pengasuh dan ayah sebagai pencari nafkah.

Padahal, kondisi setiap keluarga tidak selalu sama. Dalam sejumlah kasus, hak asuh dapat diberikan kepada ayah apabila ibu dinilai tidak memungkinkan menjalankan pengasuhan, seperti yang pernah terjadi pada Marshanda.

Persoalan lain muncul ketika ayah tidak menjalankan kewajiban finansial setelah perceraian. Meski pengadilan telah menentukan biaya nafkah anak, banyak ibu tetap menanggung sendiri kebutuhan pengasuhan dan ekonomi keluarga.

Sutan mengaku sering menemukan kondisi tersebut di SPINMOTION. Menurutnya, masih banyak ayah yang menganggap tanggung jawab terhadap anak selesai setelah perceraian.

“Banyak ayah yang nggak paham, kewajibannya sebagai orang tua itu melekat sampai mati,” ungkap Sutan. “Sedangkan nggak ada konsekuensi hukumnya ketika ayah nggak menafkahi anak.”

Pengadilan Agama Surabaya, Jawa Timur, mulai menerapkan sanksi bagi mantan suami yang mengabaikan kewajiban nafkah anak. Sanksi tersebut berupa pemblokiran Nomor Induk Kependudukan (NIK), sehingga yang bersangkutan tidak dapat mengakses sejumlah layanan administrasi.

Kebijakan itu juga didorong oleh gerakan #IbuBergerak yang mengadvokasi pemenuhan hak hidup anak dari keluarga bercerai. Lewat gerakan tersebut, para ibu berupaya mendorong mantan pasangan tetap menjalankan tanggung jawab finansial terhadap anak.

Baca Juga: Yang Bersembunyi di Balik Pemberitaan Media tentang Janda

Dukungan yang Membantu Orang Tua Tunggal Bertahan

Di tengah berbagai tekanan, kehadiran support system menjadi penopang penting bagi orang tua tunggal. Sutan mengaku kehidupannya tidak selalu berjalan rapi setelah bercerai. Mengurus rumah, bekerja, membesarkan anak, sekaligus memenuhi kebutuhan pribadi sering kali membuatnya kewalahan.

Saat bercerai pada 2014, kedua anak Sutan masih berusia 10 dan lima tahun. Kondisi itu membuat anak-anaknya harus belajar mandiri lebih cepat, mulai dari memasak hingga membereskan rumah. Anak sulungnya bahkan beberapa kali mengambil peran layaknya orang dewasa di rumah.

Meski begitu, beban pengasuhan menjadi lebih ringan ketika kakak-kakak Sutan ikut membantu merawat anak-anaknya. Mereka hadir saat Sutan harus dinas ke luar kota atau tidak bisa menghadiri acara sekolah anak.

“Dukungan itu membantu sekali. Bukan cuma support berupa materiil ya, tapi hadir ketika saya membutuhkan bantuan untuk merawat dan terkait tumbuh kembang anak,” kata Sutan.

Poppy juga merasakan pentingnya dukungan dari orang terdekat. Ia sempat menjalani co-parenting bersama keponakannya. Mereka berbagi tugas pengasuhan, mulai dari urusan sekolah, kebutuhan rumah tangga, kondisi darurat, hingga biaya hidup sehari-hari.

“Kalau aku berhalangan hadir karena bekerja, keponakanku yang datang ke sekolah. Misalnya anakku sakit dan aku lagi nggak di rumah, dia yang nganterin ke rumah sakit. Pas aku nggak kerja beberapa bulan, dia yang bayar sekolah anakku dan beli kebutuhan rumah. Pokoknya kami kayak default parents,” ujar Poppy.

Selain keluarga, komunitas juga menjadi ruang aman bagi orang tua tunggal. Poppy mengaku mendapat dukungan dari jejaring perempuan, sahabat sejak SMP, hingga anggota support group Perempuan Tanpa Stigma (PenTas). Bagi Poppy, mereka adalah chosen family, yakni keluarga yang terbentuk lewat dukungan emosional dan pengalaman bersama.

Saat keluarga biologis meminta Poppy mempertimbangkan kembali keputusan bercerai, chosen family justru hadir mendukung pilihan hidupnya.

Sementara itu, Sutan mendirikan SPINMOTION karena melihat minimnya dukungan psikologis dan sosial bagi orang tua tunggal. Melalui komunitas tersebut, ia ingin menghadirkan ruang berbagi agar para orang tua tunggal merasa diterima dan tidak menjalani semuanya sendirian.

SPINMOTION memiliki berbagai kegiatan, mulai dari konseling psikologis, pelatihan kewirausahaan bagi pekerja sektor informal, panduan mengurus perceraian, hingga diskusi mengenai kesetaraan gender. Melalui kegiatan tersebut, komunitas berharap orang tua tunggal dapat lebih berdaya dan memperoleh dukungan yang mereka butuhkan.

Baca Juga: Bayangkan Pernikahan Disney, Nyatanya Berujung Cerai

Pentingnya dukungan sosial terhadap orang tua tunggal juga dijelaskan Sharon L. Manne dan Marc Glassman dalam Perceived control, coping efficacy, and avoidance coping as mediators between spouses’ unsupportive behaviors and cancer patients’ psychological distress (2000). Penelitian itu menjelaskan keluarga dan teman dapat menggantikan sebagian peran pasangan dalam memberikan dukungan instrumental maupun emosional.

Bentuk dukungan tersebut bisa berupa membantu menjemput anak, berbagi tugas pengasuhan, hingga menjadi tempat berbagi beban hidup dan pekerjaan sehari-hari.

Artinya, it does take a village to raise children. Kehadiran support system menjadi fondasi penting agar orang tua tunggal tetap mampu menjalankan pengasuhan. Dukungan dari keluarga, teman, maupun komunitas dapat membantu mereka bertahan sekaligus memiliki ruang untuk berkembang.

Ilustrasi oleh Karina Tungari

This article was produced by Magdalene.co as part of the #WaveForEquality campaign, supported by Investing in Women (IW), an Australian Government initiative. The views expressed in this article do not necessarily represent the views of IW or the Australian Government.

Series lainnya bisa dibaca di sini.

About Author

Aurelia Gracia

Aurelia Gracia adalah seorang reporter yang mudah terlibat dalam parasocial relationship dan suka menghabiskan waktu dengan berjalan kaki di beberapa titik di ibu kota.