#HariAnak2026: “Maaf, Nak, Mama Masih Belajar Menjadi Orang Tua”
Anakku baru saja memasuki usia sepuluh bulan. Itu berarti sebentar lagi ia memasuki fase toddler. Seiring bertambahnya usia, aku juga mulai mengenali tantangan baru dalam keseharian kami yang tak lagi sama seperti beberapa bulan sebelumnya.
Belakangan, rumah kami terasa seperti arena eksplorasi tanpa jeda. Ia memanjat apa saja yang bisa dipanjat, membuka laci yang baru kututup, melempar dan menyemburkan makanan yang susah payah kusiapkan, menarik rambutku, lalu tertawa ketika aku berkata, “Jangan.” Hampir setiap sudut rumah kini berubah menjadi tempat bermain yang menuntutku terus sigap mengawasinya.
Ada hari ketika aku masih bisa tertawa melihat tingkahnya. Namun, ada juga hari ketika suaraku meninggi. Aku menghela napas, memalingkan wajah, lalu dihantam rasa bersalah yang begitu besar karena merasa gagal menjadi ibu yang sabar.
Belakangan aku mulai bertanya-tanya. Mengapa begitu banyak ibu merasa bersalah ketika kehilangan kesabaran? Mengapa rasa bersalah itu seolah menjadi bagian dari paket menjadi orang tua, sementara kelelahan yang melatarbelakanginya justru jarang dibicarakan?
Hari Anak Nasional memang telah lewat. Namun, setelah berbagai perayaan usai, pertanyaan itu justru terus menggangguku. Kita ramai membicarakan hak anak, mulai dari hak atas kasih sayang, pendidikan, kesehatan, gizi, hingga lingkungan yang aman. Namun, kita jarang membicarakan kerja yang membuat seluruh hak itu benar-benar terpenuhi setiap hari.
Jawabannya bukan uang semata. Pemenuhan hak anak dibayar dengan waktu, tenaga, pikiran, kesempatan, dan energi yang dicurahkan tanpa henti. Hingga hari ini, sebagian besar “biaya” tersebut masih dipikul oleh perempuan.
Baca Juga: ‘Mental Load’: Beban Tak Terlihat Perempuan Pemikul Kehidupan
Kerja Pengasuhan yang Tak Pernah Dianggap Kerja
Di banyak keluarga Indonesia, pengasuhan masih dipandang sebagai sesuatu yang alamiah bagi ibu. Seolah kemampuan mengingat jadwal imunisasi, menyiapkan makanan bergizi, menenangkan anak yang menangis tengah malam, mengatur jadwal tidur, hingga memastikan rumah tetap berjalan merupakan naluri, bukan hasil dari kerja yang dilakukan terus-menerus. Cara pandang tersebut membuat kerja pengasuhan seolah hadir dengan sendirinya dan tidak memerlukan pengakuan.
Padahal semua itu adalah kerja. Hanya saja, karena tidak menghasilkan upah, kerja pengasuhan jarang diakui sebagai kerja. Akibatnya, waktu, tenaga, dan kesempatan yang dicurahkan ibu seolah tidak pernah dihitung sebagai kontribusi ekonomi maupun sosial.
International Labour Organization (ILO) bersama Magdalene pada 2024 melakukan eksperimen sosial untuk mengukur kerja pengasuhan yang tidak dibayar. Empat dari lima perempuan yang menjadi partisipan menghabiskan lebih dari 40 jam setiap minggu untuk kerja pengasuhan dan domestik. Dua di antaranya bahkan mencatat lebih dari 103 jam per minggu, melampaui jam kerja penuh yang diatur dalam Undang-Undang Ketenagakerjaan. Jika kerja tersebut dinilai secara ekonomi, nilainya bahkan dapat melampaui pendapatan mereka dari pekerjaan formal.
Data tersebut menunjukkan sesuatu yang selama ini sering luput dari pembahasan mengenai hak anak. Hak anak tidak hadir dengan sendirinya. Di balik setiap anak yang makan tepat waktu, datang ke posyandu, memperoleh imunisasi, bermain, belajar, dan tidur dengan nyaman, ada seseorang yang memastikan semua itu terjadi.
Dalam banyak keluarga, seseorang itu adalah ibu. Namun, kerja pengasuhan baru benar-benar terlihat ketika ada yang tidak beres, misalnya saat anak sakit, rumah berantakan, atau ibu kehilangan kesabaran. Selama semua berjalan baik, kerja tersebut dianggap sebagai sesuatu yang wajar dilakukan perempuan, bukan sebagai kerja yang menopang kehidupan.
Baca Juga: ‘Care Economy’: Saat Merawat Diakui Sebagai Kerja Nyata
Hari Anak Tak Bisa Bertumpu pada Pengorbanan Ibu
Cara pandang tersebut membuat banyak ibu memikul rasa bersalah yang nyaris tidak pernah selesai. Saat kehilangan kesabaran, mereka merasa menjadi ibu yang buruk. Saat ingin beristirahat, mereka merasa egois, padahal yang sedang mereka alami bukan semata persoalan emosi, melainkan kelelahan akibat kerja pengasuhan yang terus dianggap sebagai tanggung jawab pribadi.
Ironisnya, pekerjaan yang menopang kehidupan justru menjadi pekerjaan yang paling sedikit dihargai. Selama kebutuhan anak terpenuhi, kerja pengasuhan dianggap berjalan dengan sendirinya. Pengakuan baru muncul ketika ada yang gagal atau tidak berjalan sesuai harapan.
Hari Anak Nasional memang telah berlalu. Namun, peringatannya seharusnya tidak berhenti pada slogan tentang pentingnya memenuhi hak anak. Perayaan itu juga perlu menjadi pengingat untuk melihat siapa yang setiap hari memastikan hak-hak tersebut benar-benar terpenuhi, sekaligus siapa yang selama ini menanggung beban terbesarnya.
Hak anak memang harus dipenuhi. Namun, pemenuhannya tidak boleh terus bergantung pada pengorbanan yang dianggap tak terlihat. Selama kerja pengasuhan masih diposisikan sebagai urusan privat perempuan, perlindungan terhadap anak dibangun di atas fondasi yang rapuh dan timpang.
Pengasuhan adalah kerja sosial. Karena itu, tanggung jawabnya juga perlu menjadi tanggung jawab sosial, dibagi lebih setara di dalam keluarga, didukung oleh kebijakan negara, dan diakui sebagai kerja yang memiliki nilai. Tanpa pengakuan tersebut, beban pengasuhan akan terus bertumpu pada pihak yang sama, sementara rasa bersalah terus diwariskan kepada ibu dari generasi ke generasi.
Malam ini mungkin aku akan kembali menatap wajah anakku yang tertidur. Mungkin aku akan kembali berbisik, “Maafin, Mama ya, Nak.” Namun kini aku memahami rasa bersalah itu tidak lahir begitu saja. Ia tumbuh ketika kerja pengasuhan terus dianggap sebagai pengorbanan pribadi, bukan kerja yang seharusnya diakui, dibagi, dan didukung bersama.
Mungkin yang perlu kita ubah bukan hanya cara ibu memandang dirinya. Yang lebih mendesak adalah mengubah cara masyarakat memandang pengasuhan, dari sesuatu yang dianggap naluri perempuan menjadi kerja yang menopang kehidupan dan layak menjadi tanggung jawab bersama.





















