24/07/2026
#WaveForEquality Issues Politics & Society

Sudah Saatnya Berhenti Anak-emaskan Putramu karena Dia Laki-laki

Pola asuh yang selalu membela anak laki-laki saat berbuat salah dapat menumbuhkan rasa berhak atas orang lain. Psikolog dan orang tua berbagi cara mengajarkan konsekuensi, emosi, dan consent tanpa kekerasan.

  • July 24, 2026
  • 7 min read
  • 23 Views
Sudah Saatnya Berhenti Anak-emaskan Putramu karena Dia Laki-laki

Peristiwa penyekapan di Bandung menyingkap tabir pola asuh pelaku semasa kecil. Melansir Republika, dalam siniar bersama Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, ayah Taufik mengungkap bahwa sejak kecil dirinya selalu mengistimewakan Taufik karena dianggap anak paling ganteng di antara saudara-saudaranya. Selain itu, ia selalu membela Taufik bahkan saat melakukan kesalahan.

Pengakuan tersebut kemudian memicu pembahasan di media mengenai bagaimana pola asuh dapat memengaruhi cara anak memandang relasi, menyelesaikan konflik, dan menggunakan kekuasaan. 

Namun, psikolog klinis Adela Witami mengingatkan bahwa tidak tepat menyimpulkan suatu tindak kekerasan hanya dari satu faktor, termasuk pola asuh. Menurutnya, perilaku seseorang dibentuk oleh berbagai faktor yang saling mempengaruhi. 

Meski tidak dapat menjelaskan tindakan seseorang secara tunggal, percakapan mengenai pola asuh penting karena jadi salah satu ruang untuk membahas bagaimana nilai-nilai tentang relasi, empati, dan penyelesaian konflik mulai dipelajari sejak masa kanak-kanak.

Berdasarkan social learning theory, kata Adela, anak mengobservasi setiap tindakan yang mereka lihat. Dari observasi itu mereka akan menilai tindakan yang menguntungkan atau efektif baginya dalam menyelesaikan masalah. 

Oleh karena itu, apabila sejak kecil anak terbiasa menyaksikan kekerasan, atau melakukannya tanpa adanya konsekuensi, anak dapat menilai bahwa kekerasan adalah tindakan yang menguntungkan baginya.

“Atau justru ketika dia melakukan kekerasan atau melakukan hal yang merugikan orang lain, dia akhirnya diberikan reward atau pujian … itu membuat dia belajar bahwa ternyata kekerasan adalah suatu hal yang efektif dalam berperilaku,” jelasnya.

Oleh karena itu, membangun pola asuh yang sehat dapat menjadi salah satu langkah untuk memutus rantai maskulinitas beracun. Bagi sebagian orang tua, kesadaran itu dapat diterapkan dalam praktik pengasuhan sehari-hari, termasuk oleh Rahan, seorang influencer yang sering bicara tentang pola pengasuhan.

Baca juga: 5 Cara Laki-laki Berhenti Jadi ‘Anak Tambahan’ di Rumah

Memutus Rantai Maskulinitas Beracun

Sebagai ayah dari tiga anak, Rahan sadar betul pentingnya peran parenting dalam memutus maskulinitas beracun. Salah satu cara yang Rahan dan pasangannya lakukan adalah dengan tidak mengistimewakan anak-anak ketika mereka melakukan kesalahan. 

“Anak-anak ketika bikin salah itu mereka harus menerima konsekuensinya dan tidak boleh mencari pihak lain atau apapun untuk menjadi kambing hitam untuk disalahkan. Jadi nggak pernah ceritanya misalnya kalau anak-anak jatuh itu yang salah lantainya,” ujarnya ketika diwawancara Magdalene lewat konferensi video (3/7).

Rahan bilang ia tidak pernah memberi justifikasi untuk kesalahan yang anak-anaknya buat. Hal ini bertujuan agar anak-anaknya memahami bahwa tindakan yang mereka lakukan salah dan memiliki konsekuensi.

Saat anak tidak dituntut untuk bertanggung jawab, menurut Rahan dampaknya adalah sang anak kelak akan merasa “entitled” atau berhak untuk menyakiti orang lain tanpa menyadari bahwa tindakan yang dilakukannya salah, sebagaimana yang terjadi pada kasus Taufik.

“Pada akhirnya ketika anak tidak dituntut untuk belajar bertanggung jawab, dia kan jadinya merugikan orang lain,” ucapnya.

Rahan juga menekankan pentingnya mengenalkan konsep penolakan dan juga persetujuan (consent) kepada anak-anak sedari dini. Ia mengajarkan kepada anak-anaknya bahwa hidup tidak dapat berjalan 100 persen sesuai dengan keinginan mereka. Ketika penolakan terjadi Rahan mengajarkan anak-anaknya mengelola emosi dengan baik.

“Jadi ketika mereka gagal, ketika mereka ditolak, itu mereka sudah biasa. Bahkan ketika mereka menangis karena kegagalan, kami tinggal memberikan pelukan ke mereka saja untuk mereka menenangkan tangisnya,” kisah Rahan.

Untuk consent, Rahan dan pasangannya mendidik anak-anak bahwa siapa pun, termasuk orang tua sendiri, harus meminta izin sebelum menyentuh tubuh mereka.

“Jadi kami juga selalu menekankan bahwa bagian tubuh kalian itu yang boleh memegang itulah diri kalian sendiri. Kalau ada orang lain, mereka harus bertanya apakah boleh atau tidak. Bahkan ketika untuk mencium pun, kami (orang tua) juga menerapkan itu,” paparnya.

Selanjutnya yang tak kalah penting dilakukan adalah jangan takut untuk mengajak anak berdiskusi perihal kasus-kasus yang viral seperti kasus Taufik atau kekerasan seksual FH UI.

“Terutama karena kami punya anak laki-laki, bagaimana pun juga lingkungan mereka masih banyak yang tidak berpikiran seperti mereka. Masih banyak lingkungan yang menganggap bahwa perempuan itu makhluk kelas dua,” ucapnya.

Baca juga: Dari bapak2ID Kita Belajar, Menjadi Bapak Tak Harus Kaku dan Absen di Rumah

Bukan Cuma Ayah

Upaya memutus rantai maskulinitas beracun tidak hanya bergantung pada figur ayah di rumah. Laki-laki dewasa lain yang hadir dalam kehidupan anak pun juga dapat menjadi sosok penting dalam membentuk cara anak laki-laki memahami emosi, relasi, dan identitas dirinya.

Hal itu dirasakan oleh Muh Agus Syam, seorang guru sekolah dasar (SD). Menurutnya, sekolah adalah ruang yang sangat strategis karena anak menghabiskan hampir setengah hari bersama guru.

“Ya, tentu perannya (orang dewasa selain ayah) besar sekali, apalagi seorang guru. Karena jujur kalau di SD kita itu mulai dari jam tujuh pagi sampai jam 12 siang, jadi hampir setengah hari anak-anak itu bersama kita,” ucapnya.

Agus menilai pemutusan rantai maskulinitas beracun tidak bisa dibebankan hanya kepada orang tua. Ia menyampaikan tidak semua anak laki-laki tumbuh dengan figur ayah yang hadir secara utuh. Karena itu, guru perlu hadir sebagai orang dewasa yang memberikan rasa aman kepada anak-anak.

Salah satu yang paling sering ia lakukan kepada murid laki-laki adalah memberi ruang aman bagi mereka untuk mengekspresikan emosinya. Ia mengatakan banyak anak laki-laki terbiasa menahan emosi karena takut dianggap lemah.

“Yang sering saya lakukan kepada anak laki-laki itu adalah bagaimana mereka tidak menyembunyikan kesedihannya. Mereka punya masalah, biasanya aku bilang, coba curhat dengan kami (guru). Dia punya masalah di rumah, coba memberikan ruang aman, bisa cerita dengan para guru-gurunya,” ujarnya.

Di lingkungan tempat Agus mengajar, ia masih kerap menemukan bentuk-bentuk maskulinitas beracun dalam keseharian anak-anak. Mulai dari saling mengejek, membentak teman, hingga merendahkan anak yang dianggap tidak sesuai dengan stereotip laki-laki.

“Teman-temannya bilang, ‘Kamu laki-laki kok mau jadi tukang makeup?’ Saat itu saya langsung menegur mereka. Saya bilang, itu adalah hobi dan keterampilan anak tersebut, bukan sesuatu yang harus diejek,” tutur Agus.

Menurutnya, intervensi kecil seperti menegur anak laki-laki saat melakukan kekerasan dapat membantu anak belajar bahwa tindakannya yang merugikan orang lain memiliki konsekuensi. Sebab menurut Agus, membiarkan perilaku merendahkan atau agresif tanpa teguran justru membuat anak menganggap tindakan tersebut wajar.

Baca juga: Anak Lelaki yang Dibesarkan Algoritme, Incel, dan Peran Pengasuhan Ayah

Konsekuensi Bukan Berarti Tak Sayang

Lalu, bagaimana cara mengajarkan konsekuensi kepada anak tanpa menggunakan kekerasan?

Psikolog klinis Adela Witami menjelaskan, dalam pembentukan perilaku dikenal konsep reward/reinforcement dan punishment. Namun, pendekatan yang lebih dianjurkan adalah menggunakan reward/reinforcement alih-alih punishment.

“Jadi ada yang disebut sebagai reward dan punishment. Kalau dalam pembentukan perilaku, sebenarnya lebih baik itu base-nya reward atau reinforcement dibanding punishment, karena kalau punishment bisa jadi anak itu berangkat melakukan sesuatu karena ketakutan, bukan karena intrinsik atau dorongan internal yang dia mau,” paparnya.

Reinforcement sendiri terbagi menjadi dua: positif dan negatif. Menurut Adela, bentuk positif dapat diberikan dalam bentuk yang sangat sederhana. Misalnya ketika anak menunjukkan perilaku baik, orang tua dapat memberikan apresiasi agar anak memahami bahwa perilaku tersebut dihargai. 

“Ketika anak berlaku baik, silakan dikasih hadiah. Hadiahnya tidak harus mahal. Bisa berupa pelukan, pujian, atau acknowledgement kepada anak,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa tujuan dari penguatan positif bukan memanjakan anak, melainkan membantu anak membangun motivasi intrinsik untuk berperilaku baik. 

Lalu, bagaimana ketika anak melakukan kesalahan? Di sini reinforcement atau penguatan negatif dapat bekerja. Adela menjelaskan reinforcement tidak sama dengan hukuman.

Adela mengatakan, orang tua tetap perlu memberikan konsekuensi. Namun, konsekuensi berbeda dengan pembalasan atau kekerasan. Ketika anak melakukan kesalahan lalu dibalas dengan kekerasan atau bahkan pewajaran, anak justru belajar bahwa kekerasan adalah cara yang wajar untuk menyelesaikan masalah.

Ia mencontohkan situasi ketika anak merebut mainan temannya. Menurutnya, orang tua dapat menghilangkan akses terhadap hal yang diinginkan oleh anak tersebut. Misalnya, anak diberi time-out atau tidak diperbolehkan bermain untuk sementara waktu, dan tidak dibelikan mainan yang diinginkannya. Dengan begitu, anak memahami bahwa perilaku merebut mainan tidak membawanya pada hasil yang ia inginkan.

“Jadi bisa nih para orang tua, daripada anak yang melakukan kekerasan itu dipukul, dilakukan kekerasan lagi, lebih baik diambil reward-nya yang dia mau,” jelasnya.

Sejalan dengan Adela, menurut Rahan dengan menuntut anak bertanggung jawab, anak dapat belajar menghormati orang lain dan mempelajari kesetaraan.

“Ketika dia belajar bertanggung jawab, menerima kekalahan, dan menerima penolakan, secara otomatis sebenarnya patriarki itu bisa luruh. Karena dari sisi patriarki, itu kan penomor satuan laki-laki. Nah, sementara dari sisi bertanggung jawab, menerima kekalahan, dan penolakan itu, itu kita menjadikan semua manusia itu setara,” pungkas Rahan.

Ilustrasi oleh Karina Tungari

This article was produced by Magdalene.co as part of the #WaveForEquality campaign, supported by Investing in Women (IW), an Australian Government initiative. The views expressed in this article do not necessarily represent the views of IW or the Australian Government.

Series lainnya bisa dibaca di sini.

About Author

Muhammad Rifaldy Zelan

Muhammad Rifaldy Zelan adalah penyuka makanan pedas tapi gak suka berkeringat. Ia juga suka duduk-duduk di taman dengan pikiran kosong.