07/07/2026
Culture Opini

Ketika Isyana Dicurigai: Mengapa Karya Gelap Tak Selalu Berarti Sesat

Isyana Sarasvati dituduh membawa unsur ‘satanic’ lewat karya terbarunya. Padahal, membaca karya seni hanya dari simbol gelap bisa membuat kita gagal melihat perjalanan kreatif seorang musisi secara utuh.

  • May 28, 2026
  • 6 min read
  • 469 Views
Ketika Isyana Dicurigai: Mengapa Karya Gelap Tak Selalu Berarti Sesat

Foto: REDROSE Records

Belakangan, musisi dan penyanyi Isyana Sarasvati kembali ramai dibicarakan. Bukan karena pencapaian musikalnya, bukan pula karena keberaniannya mengeksplorasi genre, melainkan karena sebagian warganet menuduh karya terbarunya mengandung unsur pemujaan setan.

Pemicunya adalah teaser visual bermata satu dengan unsur api di sekelilingnya, yang kemudian dikaitkan dengan lagu barunya, “Babel”. Dari sana, spekulasi bergulir cepat. Ada yang menghubungkannya dengan Menara Babel, yakni kisah tentang manusia yang berusaha membangun menara hingga ke langit dan memberontak terhadap Tuhan.

Tuhan murka sehingga mengacaukan komunikasi mereka dengan menciptakan banyak bahasa hingga manusia tidak lagi bisa bersatu. Ada pula yang memperluas tuduhan sampai ke hal-hal personal, dari nomor mobil sampai ketertarikan Isyana pada visual bernuansa darah.

Isyana sendiri tidak banyak menanggapi. Ia hanya sempat me-repost unggahan Instagram suaminya, Rayhan Maditra, yang menulis: “Ujian besar bagi seorang musisi ketika karya yang lahir dari kejujuran justru dimaknai dengan cara yang jauh berbeda. Sering kali asumsi datang lebih cepat daripada keinginan untuk memahami. Semoga Tuhan melindungi kita semua dari segala bentuk fitnah di bulan suci ini. Amin.”

Kalimat itu sebenarnya cukup menggambarkan masalahnya: asumsi sering datang lebih cepat daripada upaya memahami.

Baca juga: Cerita Muram dan Tawa dalam Satu Dekade Seorang Isyana

Satu album, banyak wajah Isyana

Teaser mata satu yang diperdebatkan bukanlah teaser khusus untuk lagu “Babel”, melainkan bagian dari teaser chapter terakhir album kelima Isyana, EKLEKTIKO. Album ini dirilis dalam empat chapter: Lunora, Mamiu, Cecilia, dan Abadhi. Masing-masing chapter berisi empat lagu, kecuali Abadhi yang berisi enam lagu. “Babel” adalah salah satu lagu dalam chapter Abadhi.

Bagi penggemar Isyana, perjalanan album ini bukan sesuatu yang tiba-tiba. EKLEKTIKO dirilis bertahap sejak Mei 2025 hingga Mei 2026. Judulnya sendiri memberi petunjuk penting: Isyana sedang menunjukkan sisi eklektik dirinya sebagai musisi. Ia tidak hanya tinggal di satu genre, satu warna, atau satu persona artistik.

Di chapter Lunora, misalnya, Isyana tampil lebih pop dan kolaboratif. Ia bekerja bersama Baskara Putra atau Hindia, Vidi Aldiano, dan Afgan. Lagu “Hari Ini” bersama Hindia bicara tentang bangkit dari kegagalan. “Frenemy” bersama Vidi mengangkat dinamika hubungan pertemanan yang rumit. “Something New” bersama Afgan mengeksplorasi nuansa UK garage dan house ala 2000-an.

Chapter Mamiu memperlihatkan sisi lain: lebih playful, cerah, dan banyak dipengaruhi J-pop serta dunia gim. Visualnya menggunakan animasi bergaya anime Jepang, dengan warna pink yang kuat. Dalam Eklekticon, konferensi pers yang dibuat untuk menjelaskan album ini, Isyana pernah bercerita bahwa saat kecil ia sangat menyukai warna pink sampai ingin semua barangnya berwarna pink.

Lalu, chapter Cecilia membawa pendengar ke wilayah yang lebih personal dan spiritual. Di sini Isyana berbicara tentang pendewasaan diri, kehilangan, dukungan keluarga dan sahabat, serta hubungannya dengan Tuhan. Lagu “Aku Rindu” menceritakan pengalaman keguguran yang pernah ia alami dalam pernikahannya. “I’m on My Way” berbicara tentang proses menerima musibah, berdamai dengan kenyataan, dan menjadi lebih dekat dengan Tuhan. “Terima Kasih Dariku” adalah penghormatan untuk orang-orang yang selama ini menjadi sistem pendukungnya.

Dengan konteks itu, tuduhan bahwa Isyana sedang mengarahkan pendengar pada pemujaan setan terasa terlalu terburu-buru. Terlebih, jika kita melihat perjalanan album ini secara utuh, chapter Abadhi memang menjadi ruang bagi Isyana untuk kembali mengeksplorasi metal, symphonic metal, dan progressive rock—wilayah musikal yang sebelumnya juga pernah ia sentuh lewat lagu seperti “Il Sogno” dan “Unlock the Key”.

Visual merah-hitam, nuansa gothic, api, dan simbol-simbol gelap memang sering hadir dalam genre ini. Namun, visual gelap tidak otomatis berarti ajakan pada penyembahan setan. Dalam seni, kegelapan bisa menjadi bahasa untuk membicarakan konflik batin, kekacauan, kehilangan, perlawanan, atau transformasi. Masalahnya, di ruang publik kita, visual semacam ini sering cepat disederhanakan menjadi “sesat”.

Baca juga: Kenapa Ada Musisi yang Masih Merilis Album Fisik di Era Digital Sekarang Ini?

Membaca Isyana sebagai musisi, bukan sekadar simbol

Di sinilah bias terhadap musisi perempuan ikut bekerja. Ketika perempuan tampil lembut, ia diminta lebih berani. Ketika ia berani, ia dicurigai. Ketika ia bereksperimen, ia dianggap “berubah”. Ketika ia memakai estetika gelap, ia dituduh berbahaya.

Sejarah juga menunjukkan bahwa perempuan yang dianggap terlalu pintar, terlalu mandiri, atau terlalu menguasai pengetahuan kerap dicurigai. Dalam sejarah Eropa abad ke-16 dan ke-17, banyak perempuan dituduh sebagai penyihir dan dihukum mati. Ahli teori feminis Silvia Federici dalam Caliban and the Witch membaca perburuan penyihir bukan semata sebagai soal takhayul, melainkan juga soal kuasa: bagaimana tubuh, pengetahuan, dan suara perempuan dikontrol oleh institusi dominan.

Tentu konteks sejarah itu tidak bisa disamakan begitu saja dengan tuduhan terhadap Isyana hari ini. Namun, ada pola yang masih bisa kita kenali, bahwa perempuan yang tidak mudah dimasukkan ke dalam kategori “aman” kerap dicurigai. Apalagi jika ia memainkan simbol, suara, dan visual yang tidak sesuai dengan ekspektasi umum tentang bagaimana perempuan seharusnya tampil.

Padahal, jika mau menelusuri karya Isyana lebih jauh, kita akan menemukan banyak lagu yang justru menguatkan. Dalam “Menarilah dengan Jiwamu”, ia mengajak pendengar merayakan langkah kecil dan memeluk diri sendiri. Dalam “Hari Ini”, ada ajakan untuk mensyukuri luka dan belajar membuka diri. Dalam “Untuk Hati yang Terluka”, ia mengingatkan bahwa tidak mendapatkan yang kita impikan bukan berarti hidup selesai. 

Dalam “Anganku Anganmu” bersama Raisa, ia bahkan menyanyikan pesan tentang berhenti membenci dan memberi ruang bagi setiap orang untuk melukis ceritanya sendiri.

Artinya, karya Isyana tidak bisa dibaca dari satu visual, satu lagu, atau satu asumsi yang terlanjur viral. Ia harus dibaca sebagai perjalanan seorang musisi yang sejak kecil belajar musik, tumbuh dalam berbagai genre, dan terus mencari bentuk ekspresi baru. Kadang pop, kadang klasik, kadang teatrikal, kadang metal, kadang terang, kadang gelap.

Kita boleh tidak suka pada semua pilihan artistik Isyana. Kita boleh merasa tidak cocok dengan genre tertentu. Tetapi tidak suka berbeda dengan menuduh. Kritik terhadap karya seni seharusnya dimulai dari kemauan untuk membaca konteks, mendengar lirik, memahami perjalanan album, dan memberi ruang pada kemungkinan bahwa simbol tidak selalu berarti tunggal.

Baca juga: Boikot Artis Bayaran hingga Latar Peringatan Darurat di Konser Musisi: Cara Rakyat Melawan

Tanggal 21 Mei 2026, seluruh sisa lagu dalam album EKLEKTIKO dirilis bersamaan. Ini seharusnya menjadi kesempatan bagi pendengar musik Indonesia untuk melihat karya Isyana secara lebih utuh, bukan sekadar menghakiminya dari potongan visual yang beredar.

Sepanjang kariernya, Isyana dikenal sebagai musisi yang terbuka pada kolaborasi dan eksplorasi. Ia rutin merilis karya, tampil di festival, mempersiapkan konser tunggal, dan terus memperluas bahasa musikalnya. Ia tidak tiba-tiba hadir sebagai sensasi sesaat, melainkan tumbuh dari proses belajar yang panjang.

Karena itu, sebelum menuduh seorang seniman “sesat” hanya karena estetika karyanya terasa asing, mungkin kita perlu bertanya: apakah karya itu benar-benar berbahaya, atau kita yang belum terbiasa melihat perempuan mengambil kendali penuh atas imajinasinya sendiri?

About Author

Tenni Purwanti

13 tahun di industri media di Jakarta dan kini sedang berbahagia menjadi ibu rumah tangga di Bandung sambil sesekali menulis fiksi dan esai. Bisa disapa di Instagram @rosezephirine