07/07/2026
Culture Issues People We Love Prose & Poem

Dua Dekade Sihir Perempuan: Dari Horor Feminis hingga Sekolah Pemikiran Perempuan

Intan Paramaditha merayakan 20 tahun Sihir Perempuan dan menggugat patriarki lewat Sekolah Pemikiran Perempuan.

  • February 4, 2026
  • 5 min read
  • 5661 Views
Dua Dekade Sihir Perempuan: Dari Horor Feminis hingga Sekolah Pemikiran Perempuan

Dua minggu lalu, di sebuah kedai kopi di Cikini, tim Magdalene berbincang dengan Intan Paramaditha. Selama dua dekade terakhir, penulis ini konsisten menggugat nalar patriarki melalui karya sastra dan kerja intelektualnya. Ia hadir dengan kehangatan sekaligus ketajaman pemikiran yang khas. Di antara aroma kopi dan antusiasme yang mengalir, percakapan kami berpusat pada pencapaian teranyarnya yang kini menembus panggung sastra dunia. 

Baca juga: Horor, Tubuh, dan Perempuan: Dua Jam Bersama Intan Paramaditha

Tembus Panggung Sastra Dunia dan Bongkar Logika Pasar Global 

Buku Apple and Knife, kumpulan cerpen Intan yang diterjemahkan Stephen Epstein, terpilih masuk ke dalam seri legendaris Vintage Classics “Weird Girls” yang dijadwalkan terbit pada September mendatang. Seri ini merupakan kurasi eksklusif yang merayakan sembilan karya penulis perempuan pionir dalam eksplorasi weird fiction—genre yang memadukan horor, fantasi, dan fiksi ilmiah. Intan menjadi satu-satunya penulis perempuan Indonesia yang berada di rak yang sama dengan Angela Carter, Charlotte Perkins Gilman, hingga Ottessa Moshfegh. 

“Senang sih, karena beberapa karya di Weird Girls Series itu juga karya-karya yang waktu saya masih muda banget saya baca. Jadi ini adalah my weird girls goddesses,” ujar Intan dengan mata berbinar. 

Menembus panggung sastra dunia bukan proses instan bagi Intan. Ia menyebut perjalanan ini sebagai hasil diskusi panjang tentang cara membawa cerita lokal ke pasar global tanpa kehilangan konteks sosial dan politiknya. Dalam proses tersebut, ia bekerja sama dengan penerjemah seperti Stephen J. Epstein dan Tiffany Tsao yang memahami kompleksitas pengalaman perempuan di Indonesia. 

“Saya merasa beruntung bekerja dengan penerjemah yang paham betapa rumitnya menyajikan cerita kita untuk sudut pandang orang Barat yang sering kali problematis. Mereka tahu cara mendiskusikan hambatan itu supaya makna asli karya saya tidak hilang,” ungkapnya. 

Pada tahap tertentu, bahkan ada bagian yang diputuskan tidak diterjemahkan demi menjaga integritas konteks agar karya tersebut tidak direduksi menjadi konsumsi eksotis bagi pembaca luar. 

Keberhasilan ini, menurut Intan, justru menyingkap persoalan sistemik dalam promosi sastra Indonesia. Ia menyoroti nasib karya Ahmad Tohari yang telah diterjemahkan ke berbagai bahasa, namun peredarannya terbatas di lingkaran Indonesian Studies atau Asian Studies di universitas-universitas Eropa. 

“Di mana karya itu beredar dan siapa yang mendukungnya itu juga harus dipikirkan. Jadi tidak bisa dilempar begitu saja, pokoknya ada versi bahasa asingnya tapi tidak ada yang baca,” ujarnya. 

Ia membandingkan situasi tersebut dengan strategi Korea Selatan melalui Literature Translation Institute (LTI) Korea, yang secara aktif mempertemukan karya penulis dengan kritikus dan penulis lokal di negara tujuan. 

“Misalnya Han Kang punya karya baru di negara berbahasa Arab, nanti akan ada penulis yang menulis ulasannya dan itu bakal muncul lewat jaringan LTI Korea. Jadi ulasannya dipikirkan, di mana terbitnya juga dipikirkan,” jelasnya. 

Baginya, promosi sastra adalah kerja kolaboratif yang terencana. Tanpa ekosistem pasca-terjemahan, buku hanya menjadi artefak akademik, bukan medium hidup bagi pertukaran pengetahuan lintas budaya.

Baca juga: Santi Warastuti dan Legalisasi Ganja Medis: Saya Takkan Berhenti    

Dua Dekade Sihir Perempuan dan Sekolah Pemikiran Perempuan 

Tahun ini menandai dua dekade sejak terbitnya Sihir Perempuan, kumpulan 11 cerpen yang mengguncang peta sastra Indonesia dengan narasi gelap dan subversif. Menghadapi momentum ini, Intan berada dalam posisi yang ambigu. Ada kebahagiaan melihat karyanya tetap relevan bagi generasi baru, sekaligus kegelisahan karena struktur ketidakadilan terhadap perempuan nyatanya belum banyak berubah. 

Ia mencatat, meski konteks sosial bergerak ke era digital, pola penghakiman terhadap perempuan tetap serupa. Stigma terhadap perempuan yang dianggap melanggar norma moral terus diproduksi melalui istilah-istilah baru dengan daya rusak yang sama. 

“Pembunuhan terhadap perempuan atau femisida, stigma terhadap janda, itu masih terus ada. Sekarang juga muncul istilah seperti pelakor yang problematis karena menunjuk perempuan sebagai satu-satunya pihak yang disalahkan,” ungkapnya. 

Kontrol atas tubuh perempuan juga tetap berlangsung melalui mitos dan tabu menstruasi. Meski diskursus kesehatan reproduksi lebih terbuka, menstruasi masih kerap dianggap ‘kotor’ di banyak ruang sosial. Realitas ini sejalan dengan cerpen “Darah” dalam Sihir Perempuan, yang menggambarkan mitos jin penjilat pembalut dan tekanan bagi perempuan untuk menutupi tubuhnya. 

Dalam konteks inilah figur “penyihir” tetap relevan bagi Intan. Penyihir baginya bukan tokoh jahat, melainkan simbol perempuan berpengetahuan yang berani berdiri di luar norma. 

“Penyihir itu perempuan-perempuan berpengetahuan. Pengetahuan mereka sering dianggap berbahaya karena tidak sesuai dengan norma atau harapan rezim,” jelasnya. 

Gagasan tentang ruang pertemuan “para penyihir modern” kemudian melahirkan Sekolah Pemikiran Perempuan (SPP), kolektif yang didirikan pada 2020 bersama Andy Yentriyani, Cecil Mariani, Heidi Arbuckle-Gultom, Lisabona Rahman, Naomi Srikandi, dan Nyak Ina Raseuki. 

Benihnya muncul saat mereka menjadi juri hibah Cipta Media Ekspresi dan menilai ribuan proyek perempuan serta individu queer dari berbagai daerah. Mereka menemukan banyak pengetahuan perempuan yang tidak pernah mendapatkan panggung. 

Baca juga: Ketika Jurnalisme Bertemu Keberanian: Refleksi Antoinette Lattouf tentang Palestina dan Kekuasaan

“Padahal perempuan berpengetahuan itu ada, mereka mencipta, tapi suaranya tidak terdengar,” kata Intan. 

Dari situ, mereka mengidentifikasi efek Matilda, bias sistematis yang mengabaikan kontribusi intelektual perempuan. SPP hadir untuk menggugat struktur pengetahuan yang patriarkal, kolonial, kapitalistik, dan ekstraktif. 

“Kenapa teknik menenun Mama-Mama di NTT dianggap kerajinan, bukan pengetahuan? Kenapa mereka tidak dianggap expert?” tambahnya. 

Kurikulum SPP dirancang secara interseksional, mempertimbangkan kelas dan disabilitas, serta berfokus pada pemikiran perempuan Global South dan sejarah Nusantara. Produksi pengetahuan tidak hanya lewat tulisan, tetapi juga bunyi, tubuh, dan praktik kolektif. 

Mengelola kolektif tentu tidak bebas konflik. “Sisterhood is difficult,” ujar Intan. Tantangan inklusivitas, aksesibilitas, dan pendanaan terus dihadapi. Namun, ia melihat harapan pada alumni SPP yang kini aktif menggerakkan program-program kolektif tersebut. 

Bagi Intan, SPP bukan sekadar sekolah, melainkan ekosistem untuk memproduksi dan mempertukarkan pengetahuan perempuan. Sore itu di Cikini, kami pulang dengan pemahaman bahwa melalui sastra dan kerja kolektif, Intan Paramaditha sedang menanam benih perlawanan agar perempuan menjadi subjek berdaulat atas pengetahuannya sendiri. 

About Author

Jasmine Floretta V.D

Jasmine Floretta V.D. adalah pencinta kucing garis keras yang gemar membaca atau binge-watching Netflix di waktu senggangnya. Ia adalah lulusan Sastra Jepang dan Kajian Gender UI yang memiliki ketertarikan mendalam pada kajian budaya dan peran ibu atau motherhood.