Foto: IMDB
Film Spider-Man: Brand New Day tengah ramai diperbincangkan di media sosial. Linimasa media sosialku, mulai dari X, Instagram, YouTube, hingga TikTok, dipenuhi wawancara para aktor, teori penggemar, dan video buatan fans. Sebagai penggemar berat Marvel sejak SMA, aku tentu tidak ingin melewatkannya. Seminggu terakhir, aku bahkan sibuk mencari waktu yang pas dan bioskop yang ingin kudatangi.
Namun, antusiasme itu perlahan memudar setelah aku membaca buku We Are Not Numbers. Antologi yang ditulis anak-anak Gaza dalam rentang 2012 hingga 2025 itu memperlihatkan kenyataan tanpa sensor tentang hidup di bawah pendudukan dan genosida yang dilakukan Israel. Aku membaca duka, kemarahan, rasa tidak berdaya, sekaligus impian dan harapan mereka akan masa depan yang lebih baik.
Buku tersebut mengingatkanku pada komitmen yang pernah kupegang untuk memboikot Marvel, meski sangat menyukai waralaba itu. Gerakan Boycott, Divestment, Sanctions (BDS) bersama organisasi pro-Palestina telah menetapkan Marvel dan perusahaan induknya, Disney, sebagai target boikot karena dua alasan utama.
Pertama, Marvel menghadirkan karakter komik asal Israel bernama Sabra (Ruth Bat-Seraph). Dalam Marvel Cinematic Universe, karakter tersebut diperankan aktris Israel, Shira Haas, melalui film Captain America: Brave New World.
Kedua, pada 2023, CEO Disney Bob Iger menyumbangkan dua juta dolar AS kepada Israel. Iger menyebutnya sebagai “bantuan kemanusiaan”, tetapi tidak menyinggung warga sipil Palestina yang dibantai di Gaza. Sebanyak satu juta dolar AS di antaranya juga disalurkan kepada Magen David Adom, organisasi yang mendukung militer Israel.
Dua alasan itu sempat membuat tekadku bulat. Aku berhenti menonton film Marvel di bioskop dan membatalkan langganan Disney+.
Lalu, ketika Spider-Man: Brand New Day dirilis, mengapa aku justru tergoda untuk menontonnya? Padahal, film ini tetap menjadi bagian dari entitas yang berkontribusi terhadap genosida di Palestina. Terlebih setelah mengetahui produsernya, Avi Arad, merupakan veteran tentara Israel yang terlibat dalam Naksa, peristiwa ketika Israel menduduki wilayah Palestina pada 1967.
Setelah merenung, aku menyadari jawabannya sederhana. Empati bukan sekadar perasaan yang muncul begitu saja, melainkan keterampilan yang harus terus dilatih dan diwujudkan dalam tindakan.
Baca juga: Sayup-sayup “Free Palestine” di Hollywood Kini Makin Bising
Empati Terlatih
Banyak orang menganggap empati sebagai sifat bawaan yang tidak bisa berubah. Padahal, menurut Julie Corliss, Executive Editor, Harvard Heart Letter, empati lebih menyerupai keterampilan hidup seperti berenang atau bermain musik. Kemampuan ini perlu terus dipraktikkan dan diasah sepanjang hidup agar tidak tumpul.
Pandangan tersebut diperkuat penelitian Rethinking Empathy Development in Childhood and Adolescence (2025). Penelitian itu menjelaskan manusia memang lahir dengan benih empati sebagai fondasi rasa kemanusiaan. Namun, fondasi tersebut tidak otomatis berkembang seiring bertambahnya usia.
Tanpa interaksi sosial yang sehat dan mendukung, benih empati hanya menjadi potensi yang tidak pernah tumbuh. Kemampuan memahami penderitaan orang lain membutuhkan latihan yang konsisten, bukan sekadar niat untuk peduli.
Temuan di bidang neurosains juga menunjukkan hal serupa. Tania Singer menjelaskan, ketika seseorang membiasakan diri memahami sudut pandang orang lain, jaringan saraf yang mengatur empati, yakni anterior insula dan anterior cingulate cortex, mengalami perubahan fisik dan menjadi lebih kuat.
Dalam The Social Neuroscience of Empathy (2009), Singer menjelaskan otak terus merestrukturisasi koneksi saraf melalui prinsip neuroplastisitas. Proses tersebut memperkuat hubungan antarsirkuit emosi sehingga kemampuan berempati ikut meningkat.
Namun, kemampuan biologis itu tidak bertahan dengan sendirinya. Ketika jarang digunakan, jaringan saraf empati mengalami synaptic pruning, yaitu pemangkasan koneksi antarsel saraf. Dampaknya, kepekaan sosial dan kemampuan memahami orang lain perlahan melemah.
Tanpa regulasi kognitif yang memadai, seseorang juga lebih rentan mengalami empathic distress. Dalam kondisi ini, penderitaan orang lain justru memicu kecemasan pribadi hingga membuat seseorang memilih berpaling atau terjebak dalam in-group bias.
Hal tersebut terjadi karena otak gagal membedakan emosi diri sendiri dan emosi orang lain. Akibatnya, amigdala merespons beban emosional sebagai ancaman, lalu memicu pelepasan hormon stres kortisol secara berlebihan. Sebagai mekanisme pertahanan, otak mendorong munculnya kebas emosional atau numbing, seperti dijelaskan Singer dalam Empathy and Compassion (2014).
Aku menyadari proses itu pernah kualami. Sejak Oktober 2024 hingga akhir 2025, aku berusaha terus mengikuti perkembangan genosida di Palestina. Linimasa media sosialku dipenuhi informasi terbaru, termasuk melalui kanal siaran Let’s Talk Palestine yang rutin membagikan update kondisi warga Gaza.
Aku juga cukup sering menulis tentang Palestina dan mengikuti proyek Queer and Palestine, program membaca intensif selama tujuh minggu yang menjembatani solidaritas antara komunitas queer dan perjuangan rakyat Palestina. Selama program berlangsung, aku membaca berbagai buku, berdiskusi dengan peserta lain, lalu mulai lebih sadar terhadap pilihan sehari-hari.
Kesadaran itu tercermin dalam tindakan. Aku berhenti makan di sejumlah restoran, tidak lagi membeli produk tertentu, membatalkan layanan streaming, bahkan ikut memboikot aktor atau penyanyi yang terafiliasi dengan Israel atau memilih diam. Saat itu, diam terasa sebagai sikap politik yang menunjukkan ketidakberpihakan terhadap ketidakadilan.
Namun, seiring waktu, kebiasaan tersebut mulai luntur. Dengan alasan kesehatan mental dan rasa putus asa karena merasa tak mampu mengubah keadaan, aku mulai menyaring informasi tentang Palestina di media sosial. Video yang memicu kecemasan kulewati, buku dan artikel tak lagi kubaca secara mendalam, apalagi menulis tentangnya.
Belakangan aku menyadari perubahan itu ikut menumpulkan empati. Angka korban di Palestina perlahan berubah menjadi deretan statistik, bukan lagi manusia yang kehilangan keluarga, rumah, mimpi, dan masa depan. Aku merasa persoalan pribadiku sudah cukup berat sehingga tidak sanggup lagi menanggung beban emosional dari tragedi yang terus berlangsung.
Baca juga: Bungkam Demi Harta: Diamnya Selebriti Dunia atas Genosida Palestina
Menjaga Empati
Merasa putus asa atau mengalami burnout setelah terus-menerus menyaksikan kekerasan adalah hal yang wajar. Namun, berhenti peduli merupakan persoalan berbeda. Ketika empati memudar, fondasi kemanusiaan ikut terkikis dan ketidakadilan semakin mudah dinormalisasi.
Karena itu, melatih empati tidak cukup berhenti pada rasa iba. Tantangannya adalah menjaga kepedulian tetap hidup tanpa terjebak dalam empathic distress. Menurut Tania Singer dan Klimecki, salah satu caranya ialah mengubah empati afektif menjadi belas kasih aktif atau compassion.
Saat seseorang hanya menyerap penderitaan orang lain tanpa melakukan apa pun, otak memproses pengalaman tersebut sebagai ancaman bagi diri sendiri. Sebaliknya, ketika perhatian dialihkan menjadi tindakan, sekecil apa pun, otak mengaktifkan sirkuit yang berkaitan dengan motivasi dan ketahanan mental. Menyebarkan informasi, berdonasi, atau terus menyuarakan kebenaran dapat menjadi bentuk tindakan yang membantu menjaga harapan.
Di saat yang sama, kita juga perlu membangun batas emosional yang sehat. Jean Decety dalam The Social Neuroscience of Empathy (2009) menekankan pentingnya self-other distinction, yaitu kemampuan membedakan pengalaman emosional diri sendiri dan orang lain. Menjaga batas ini bukan berarti bersikap dingin, melainkan memastikan kita tetap memiliki kapasitas mental untuk peduli dalam jangka panjang.
Empati juga perlu dirawat melalui digital hygiene. Mengambil jeda dari tayangan visual yang traumatis bukan berarti mengabaikan penderitaan orang lain, melainkan memberi kesempatan bagi sistem saraf untuk pulih agar tidak mengalami kebas emosional.
Baca juga: Drakor ‘When The Phone Rings’: Bau Amis Propaganda Anti-Palestina
Selama jeda itu, empati tetap bisa dilatih melalui cara lain yang lebih sesuai dengan kondisi mental. Dr. Jamil Zaki dari Universitas Stanford menyebut membaca fiksi, menjadi pendengar aktif melalui deep listening, atau melakukan latihan perspective-taking sebagai cara yang efektif memperkuat kembali sirkuit empati. Dalam The War for Kindness: Building Empathy in a Fractured World (2019), Zaki menjelaskan kebiasaan tersebut berperan memulihkan empati sekaligus meningkatkan kepedulian sosial secara signifikan.
Pada akhirnya, empati bukan kemampuan yang akan bertahan dengan sendirinya. Ia perlu terus diasah melalui kebiasaan, refleksi, dan tindakan nyata. Di dunia yang dipenuhi ketidaksetaraan dan penindasan, menjaga empati tetap hidup bukan hanya penting bagi orang lain, tetapi juga bagi kemanusiaan kita sendiri.





















