Kenapa Banyak Orang Berduka atas Kepergian Musisi Vidi Aldiano?
Algoritme media sosial saya dipenuhi foto dan video penyanyi sekaligus podcaster, Vidi Aldiano sejak (7/3). Kali ini bukan video cuplikan PodHub, siniar Vidi yang dikelola oleh manajemen Deddy Corbuzier. Biasanya, promo PodHub tidak akan bertahan tiga detik sebelum akhirnya saya beralih ke video lain.
Namun kali ini berbeda.
Berita dan unggahan berkabung untuk Vidi saya baca satu per satu. Setidaknya ada dua informasi yang saya tangkap: Penyebab meninggal dan pandangan teman-temannya tentang dirinya semasa hidup.
Jujur, saya tidak terlalu mengikuti Vidi secara intens. Selain promo podcast, videonya di atas panggung sesekali lewat di media sosial. “Vidi Aldiano kelihatan beda banget ya sekarang?” tanya saya kepada teman ketika videonya tampil sebagai kolaborator di konser Laleilmanino & Friends lewat di Instagram beberapa bulan lalu.
Perubahan fisik Vidi terjadi karena ia menghadapi kanker ginjal. Ia meninggal setelah enam tahun berhadapan dengan penyakit tersebut.
Setelah membaca belasan unggahan duka di media sosial, saya menyadari satu hal: Vidi memiliki lingkaran pertemanan yang beragam, luas, dan tampak terawat.
Mulai dari penyanyi, aktor, komedian, hingga pemengaruh media sosial, banyak yang memiliki memori baik tentang dirinya. Aktor Dwi Sasono, misalnya, menulis di caption Instagram bahwa Vidi bukan sekadar penyanyi. Bagi orang-orang yang mengenalnya, ia dikenal ramah dan bersahabat.
Ia juga kerap digambarkan sebagai pribadi yang hangat. Pembawa acara Enzy Storia mengatakan Vidi selalu berusaha agar orang-orang di sekelilingnya tidak ikut bersedih, bahkan ketika ia sendiri berada dalam kondisi berat. Influencer Lutfi Afansyah Wijaya juga bersaksi Vidi menunjukkan keramahan kepada siapa pun yang ia temui di lokasi pekerjaan.
Baca juga: Bangkitnya Laki-laki ‘Green Flag’ dalam Media Kita: Pertanda Apa Ini?
Merawat Hubungan
Saya ikut sedih membaca berbagai kesaksian dari orang-orang yang berkabung setelah ditinggalkan Vidi. Pada saat yang sama, saya juga bertanya-tanya, bagaimana seseorang memiliki tenaga sebanyak itu untuk merawat pertemanan yang begitu luas?
Menurut cerita teman-temannya, Vidi merupakan orang yang selalu hadir di momen penting dalam hidup orang lain. Ia sendiri pernah mengaku menikmati bersosialisasi dengan banyak orang. Rekam jejak ini membuatnya mendapat julukan “duta persahabatan”.
Kualitas semacam itu terasa semakin jarang ditemukan.
Tak perlu melihat jauh. Saya sendiri sering merasa tidak sepandai itu mengelola hubungan, meskipun sadar hubungan tetap perlu dirawat.
Pesan untuk menjaga silaturahmi dengan narasumber kadang saya ketik dengan rasa lelah. Obrolan dengan keluarga jarang mencapai kedalaman emosional dan lebih sering berhenti pada percakapan teknis. “Mama sudah makan?”, “Adik mau pakai motor hari ini?”, atau “Kakak mau ke warung? Aku nitip ya.”
Belum lagi effort yang harus dikeluarkan untuk lingkaran pertemanan. Tidak jarang saya baru mengetahui ulang tahun teman dari story Instagram atau grup WhatsApp. Pesan yang saya kirim biasanya tidak lebih panjang dari “HBD” atau “WUATB”. Jika sedang rajin, mungkin ada tambahan “semoga” di antara dua akronim tersebut.
Saya tentu bukan satu-satunya manusia modern yang kesulitan menjaga relasi. Survei yang dilakukan Survey Center on American Life pada 2021 tentang persahabatan orang dewasa menunjukkan 91 persen orang dewasa kehilangan sahabat yang sudah mereka kenal selama sepuluh tahun.
Melihat cara Vidi merawat relasi mengingatkan saya pada konsep cinta yang ditulis oleh penulis feminis, bell hooks.
Dalam bukunya All About Love: New Visions, hooks menulis cinta bukan sekadar perasaan. Kasih sayang adalah tindakan yang perlu dilakukan secara sadar setiap hari. Ada komitmen di dalamnya.
Merawat cinta tidak berhenti pada menjaga perasaan seorang diri, tetapi juga memperlihatkannya melalui perkataan dan tindakan.
Cinta membuat manusia melandaskan hubungan sosial pada empati, tanggung jawab, dan penghargaan terhadap martabat sesama. Mungkin terdengar klise, tetapi pertanyaannya sederhana: sudahkah orang di sekitar kita benar-benar merasa kita cintai?
Atau justru kita berharap mereka mengetahuinya tanpa pernah menunjukkannya?
Jika melihat berbagai cerita tentang Vidi, tampaknya ia memilih cara pertama. Ia menunjukkan kasih sayang melalui kehadiran, perhatian, dan tindakan kecil dalam keseharian.
Baca juga: Menubuh: Ketika Tubuh Diakui sebagai Sumber Pengetahuan
Dirayakan
Ketika linimasa dipenuhi kabar duka tentang Vidi, saya juga melihat banyak komentar warganet yang bercita-cita meninggal seperti dirinya: Dirayakan dengan rasa kehilangan, tetapi tetap penuh penerimaan yang terasa hangat.
Bukannya ingin mematahkan harapan para warganet, tetapi cara orang memandang kita sebenarnya tidak pernah sepenuhnya bisa diatur.
Penulis Sophia Dembling pernah menulis penilaian kita terhadap diri sendiri sering kali berbeda dari cara orang lain menerima kita, baik dalam hal positif maupun negatif.
Ia memberi contoh pengalaman banyak orang introvert yang merasa dirinya dianggap sombong, tidak menyukai orang lain, atau tidak ramah. Padahal orang lain belum tentu melihat demikian. Persepsi tersebut sering kali hanya bayangan yang diciptakan pikiran sendiri.
Dalam hubungan romansa pun, seseorang kadang menemukan sisi baru dari dirinya melalui cara pasangan melihatnya. Hal-hal kecil yang sebelumnya tidak terpikirkan bisa menjadi bagian dari identitas diri karena diakui oleh orang lain.
Baca juga: Endah Widiastuti dan Hak Cipta yang Tak Kunjung Terang
Semua unggahan duka untuk Vidi tampaknya tidak muncul dari ruang kosong. Unggahan itu lahir dari cara hidup yang ia jalani sekaligus dari pengalaman orang lain yang pernah merasakan kehadirannya.
Kabar baiknya, kematian tidak harus dirayakan seperti itu.
Kita hidup dengan cerita masing-masing. Cara hidup yang kita pilih akan menentukan bagaimana kita dikenang oleh lingkungan sekitar.
Namun dari kepergian Vidi, ada satu pelajaran sederhana yang bisa kita ambil: menunjukkan kasih sayang kepada orang-orang di sekitar kita mungkin terdengar klise, tetapi selalu layak diusahakan.
Siapa sangka kita belajar cara merawat relasi yang otentik dari pelantun lagu “Status Palsu”.
Selamat beristirahat, Vidi.




















