27/07/2026
Culture Opini Screen Raves

‘Perfect Crown’: Drama Mahal yang Terlalu Sibuk Terlihat Cantik

‘Perfect Crown’ punya visual mewah, bintang besar, dan premis menarik tentang monarki Korea modern. Sayangnya, drama ini lebih sibuk terlihat elegan daripada membangun romansa dan konflik yang benar-benar hidup.

  • May 28, 2026
  • 7 min read
  • 2685 Views
‘Perfect Crown’: Drama Mahal yang Terlalu Sibuk Terlihat Cantik

Foto: GQ India

(mengandung spoiler)

Satu hal yang tidak saya prediksi dari Perfect Crown adalah bagaimana drama Korea ini justru menjadi buah bibir bukan karena romansa IU dan Byeon Woo-seok, bukan pula karena visualnya yang mahal, melainkan karena kontroversi produksinya.

Sebagian penonton Korea diberitakan memprotes drama ini karena dianggap keliru menggambarkan upacara naik takhta karakter utamanya. Dialog, kostum, dan detail seremoni dipersoalkan. Petisi untuk menghapus drama ini sempat muncul. Para aktor, rumah produksi, stasiun televisi, hingga kru sudah meminta maaf dan stasiun MBC bahkan mengedit ulang adegan yang dipermasalahkan.

Yang lebih membingungkan lagi, Perfect Crown adalah sebuah cerita fiksi yang membayangkan bagaimana jika Korea Selatan masih dipimpin oleh monarki.

Di satu sisi, reaksi ini bisa dipahami. Korea memiliki trauma historis yang panjang terkait kolonialisme, pendudukan, perang, dan perebutan identitas budaya. Representasi tentang sejarah, kerajaan, simbol negara, atau ritual tradisional bukan sekadar urusan estetika. Bagi sebagian orang, ia menyangkut ingatan kolektif, martabat nasional, dan bagaimana budaya mereka ditampilkan di ruang publik.

Namun di sisi lain, Perfect Crown juga bukan drama sejarah. Ia adalah cerita fiksi yang membayangkan bagaimana jika Korea Selatan modern masih dipimpin oleh monarki. Ini dunia alternatif, bukan rekonstruksi sejarah. Maka, setelah memahami sensitivitas itu, pertanyaan lain tetap perlu diajukan: apakah masalah terbesar Perfect Crown benar-benar terletak pada akurasi upacara kerajaan?

ulasan drakor perfect crown
Foto: IMDB

Menurut saya, tidak.

Tokoh utama drama ini adalah Seong Hui-ju (IU), CEO Castle Beauty yang merasa harus terus membuktikan kemampuannya kepada ayahnya, Seong Hyeon-guk (Jo Seung-yeon). Hui-ju tidak tahu apakah ia diperlakukan tidak adil karena statusnya sebagai anak di luar nikah, karena ia perempuan, atau karena keduanya. Yang jelas, ia tidak rela Castle Beauty, perusahaan yang reputasinya ia bangun dengan susah payah, jatuh ke tangan saudaranya, Seong Tae-ju (Lee Jae-won), yang jelas-jelas tidak kompeten.

Bagi Hui-ju, menikah dengan laki-laki yang tepat menjadi salah satu strategi untuk mengukuhkan posisinya. Masalahnya, tidak ada laki-laki yang benar-benar terasa tepat.

Lalu masuklah Pangeran I-an (Byeon Woo-seok), adik dari raja yang telah meninggal. Ia menjalani tugasnya tanpa banyak protes, hidup dalam rutinitas istana yang kaku dan nyaris tanpa kehidupan sosial. Satu-satunya orang yang bisa disebut temannya adalah ajudannya, Choi Hyeon (Yoo Su-bin). Ketika Hui-ju, adik kelasnya dulu, tiba-tiba datang dan melamarnya, hidup I-an yang membosankan langsung berubah.

Secara konsep, Perfect Crown jelas mengingatkan pada Princess Hours, drama Korea 2006 yang dibintangi Yoon Eun-hye dan Ju Ji-hoon. Bedanya, Princess Hours diadaptasi dari komik populer Goong karya Park So-hee, sementara Perfect Crown adalah karya orisinal pemenang MBC Screenplay Contest 2022.

Sejak diumumkan, Perfect Crown memang sudah punya modal untuk menjadi tontonan besar. Bujetnya disebut mencapai 30 miliar won, dan dua pemeran utamanya sedang berada di puncak perhatian. Kemampuan akting IU sudah terbukti lewat My Mister dan When Life Gives You Tangerine. Sementara Byeon Woo-seok menjadi idola baru berkat Lovely Runner.

Perfect Crown tayang di Netflix
Foto: IMDB

Baca juga: ‘When Life Gives You Tangerines’: Ketika Romeo-Juliet Cabang Jeju Coba Runtuhkan Patriarki

Perfect Crown romansa kerajaan yang terlalu dipoles

Dari episode pertama, Perfect Crown juga tahu betul apa yang ingin ia jual: hiburan visual. Kalau kamu tipe penonton yang mudah luluh pada desain produksi cantik, kostum mahal, interior kerajaan modern, dan aktor-aktor yang dipoles nyaris tanpa cela, drama ini punya banyak hal untuk dinikmati. Tidak ada adegan yang tampak murah. Semua orang terlihat cantik dan ganteng, bahkan saat mereka sedang sekarat atau menghadapi kematian.

Sayangnya, di situlah masalah pertama Perfect Crown muncul. Drama ini begitu sibuk terlihat indah sampai lupa membuat kita benar-benar merasakan sesuatu.

IU dan Byeon Woo-seok sebenarnya tampil cukup baik. Mereka memainkan karakter sesuai kebutuhan drama. IU diberi ruang untuk tampil menggemaskan, tajam, dan sesekali mempermalukan dirinya sendiri lewat adegan-adegan komedi yang sengaja dibuat cringe. Byeon Woo-seok juga berhasil menjaga citra Pangeran I-an yang stoik, sebelum perlahan menunjukkan bahwa karakternya mulai jatuh hati pada Hui-ju.

Masalahnya, mereka tidak memiliki chemistry yang cukup kuat untuk menopang romansa ini.

Dalam genre seperti Perfect Crown, chemistry bahkan lebih penting daripada akting yang kompleks. Romantic comedy dibangun dari kepercayaan penonton bahwa dua karakter ini benar-benar saling jatuh cinta. Kita tidak selalu butuh karakter yang sangat tiga dimensional. Kita butuh percaya bahwa tatapan mereka berarti, canggung mereka terasa, dan tarik-ulur mereka membuat kita ikut gemas.

Dalam Perfect Crown, ilusi itu tidak sepenuhnya terbentuk. IU dan Byeon Woo-seok tampak fantastis dalam busana mahal dan riasan sempurna, tetapi hubungan mereka terasa hambar. Mereka terlihat seperti dua bintang besar yang sedang menjalankan adegan romantis, bukan dua karakter yang pelan-pelan saling menemukan.

Masalah kedua ada pada konflik dan karakter pendukung. Gong Seung-yeon berperan sebagai Yoon Yi-rang, kakak ipar I-an yang terobsesi menjadikan anaknya raja. Ada pula Min Jeong-woo (Noh Sang-hyun), politikus istana yang dekat dengan I-an dan menyimpan perasaan pada Hui-ju.

Keduanya dirancang menjadi sumber konflik bagi pasangan utama. Jeong-woo seharusnya membuat Hui-ju mempertanyakan hubungannya dengan I-an, yang sejak awal memang lebih transaksional daripada romantis. Yi-rang, sementara itu, digambarkan sebagai perempuan yang juga terperangkap dalam ambisi ayahnya sendiri.

Drakor Perfect Crown tayang dimana
Foto: IMDB

Di atas kertas, ini menarik. Masalahnya, eksekusinya tidak konsisten. Hubungan Jeong-woo dan Hui-ju tidak dibangun cukup kuat untuk membuat keraguan Hui-ju terasa emosional. Sementara konflik Yi-rang dan I-an terasa setengah-setengah. Pembuat Perfect Crown tampaknya ingin membuat karakter-karakter ini tetap humanis, tetapi hasilnya justru nanggung.

Yi-rang punya potensi menjadi antagonis yang benar-benar mengancam, tetapi drama ini sering menahannya. Jeong-woo, yang menjelang akhir berubah menjadi antagonis penuh, terasa seperti tiba-tiba berganti kepribadian, bukan berkembang secara organik dari luka atau cintanya pada Hui-ju.

Saya agak menyalahkan jumlah episodenya yang hanya 12 atas ritme drama ini yang terasa tidak stabil. Separuh awal Perfect Crown sebenarnya cukup efektif. Plotnya generik, tetapi masih menyenangkan. Hubungan I-an dan Hui-ju punya tarik-ulur yang lumayan menggemaskan. Intrik politiknya juga cukup seru, dari upaya membunuh raja kecil sampai misteri kematian raja sebelumnya.

Baca juga: Drakor ‘Lovely Runner’: Mari ‘Ter-sunjae-sunjae’ Bersama

Namun begitu memasuki paruh kedua, drama ini mulai ngos-ngosan. Konflik datang bertubi-tubi, tetapi tanpa set-up yang meyakinkan. Banyak kejadian terasa seperti dimasukkan karena cerita butuh kejutan, bukan karena karakter memang bergerak ke arah itu. Hasilnya adalah rentetan konflik yang generik dan, beberapa kali, sulit dipercaya.

Meski begitu, Perfect Crown masih punya satu hal yang layak dipuji: gagasan tentang cinta antara Hui-ju dan I-an. Hui-ju tidak mencintai I-an hanya karena ia tampan atau karena ia pangeran. Ia mencintainya karena, untuk pertama kalinya, ia bertemu seseorang yang melihat dirinya sebagai manusia utuh. Bukan sekadar CEO sukses, bukan anak yang terus berusaha diakui ayahnya, bukan perempuan ambisius yang harus selalu membuktikan diri.

I-an pun demikian. Ia dan Hui-ju sama-sama tahu rasanya hidup ditonton banyak orang, tetapi tidak benar-benar dikenal oleh siapa pun. Di titik ini, Perfect Crown sebenarnya menemukan inti emosionalnya. Sayangnya, inti itu tidak cukup sering diberi ruang untuk bernapas.

Drakor Perfect Crown berapa episode
Foto: IMDB

Pada akhirnya, kesalahan terbesar Perfect Crown bukan karena ia gagal menampilkan upacara kerajaan secara otentik. Kontroversi itu bisa diperdebatkan, dan sensitivitas publik Korea terhadap representasi budaya tentu tidak bisa begitu saja diremehkan. Namun sebagai drama, masalah Perfect Crown jauh lebih mendasar: ia terlalu sibuk terlihat mahal, elegan, dan sempurna, sampai lupa bahwa romansa butuh rasa, dan konflik butuh bangunan yang kokoh.

Perfect Crown adalah tontonan yang cantik, mudah dinikmati, dan sesekali menyenangkan. Tetapi untuk drama dengan modal sebesar ini, bintang sebesar ini, dan premis semenarik ini, “cantik” saja seharusnya tidak cukup.

Seluruh episode ditonton untuk ulasan ini. Perfect Crown dapat disaksikan di Disney+ Hotstar.

About Author

Candra Aditya

Candra Aditya adalah penulis, pembuat film, dan bapaknya Rico. Novelnya ‘When Everything Feels Like Romcoms’ dapat dibeli di toko-toko buku.