Aktivisme Tanpa Panggung: Ruang untuk Introver di Gerakan Sosial
Apa yang sebenarnya dimaksud sebagai seorang aktivis yang ideal? Apakah mereka yang lantang berorasi, berdiri di atas mobil komando, dan menjadi pusat perhatian massa? Apakah ada ruang bagi orang-orang yang sensitif dan introver dalam konstelasi gerakan sosial?
Saya sering bertanya-tanya tentang hal ini, terutama saat menyaksikan Aksi Kamisan atau Aksi Agustus Kelabu pada Agustus–September 2025 lalu. Saya ingat berdiri di pinggir aksi, melihat seseorang berbicara penuh semangat di hadapan banyak orang. Teriakannya menggema, ajakannya menggetarkan. Tapi bagi saya, yang lebih nyaman dengan ruang tenang dan interaksi terbatas, semua itu terasa begitu jauh. Saya sulit membayangkan diri saya melakukan hal serupa. Bahkan hanya untuk hadir dalam kerumunan pun kadang sudah cukup melelahkan.
Pertanyaan lain pun mengemuka: apakah saya bukan bagian dari mereka yang bisa disebut “aktivis”? Apakah kontribusi saya, yang tidak turun ke jalan atau bersuara lantang, dianggap kurang berarti?
Refleksi ini mengingatkan saya pada konsep Extrovert Ideal, istilah yang diperkenalkan oleh Susan Cain dalam bukunya Quiet: The Power of Introverts in a World That Can’t Stop Talking (2012). Cain menjelaskan bagaimana dunia modern cenderung mengagungkan kualitas-kualitas ekstrover seperti percaya diri, ekspresif, dan vokal. Dalam kerangka ini, mereka yang introver—lebih pendiam, reflektif, dan sensitif terhadap stimulasi sosial—sering kali dianggap kurang “ideal”. Termasuk dalam dunia aktivisme.
Namun, apakah benar gerakan sosial hanya bisa diisi oleh mereka yang vokal dan ekstrover?
Baca juga: Pertanyaan ‘Kalcer’: Memang Boleh Turun Aksi Cuma untuk Nonton Musisi?
Peran introver yang sering dilupakan
Bagi banyak introver, bentuk aktivisme yang paling mudah dilakukan adalah aktivisme digital. Dari ruang pribadi, mereka bisa membagikan cuitan penting, menandatangani petisi daring, atau ikut kampanye lewat media sosial. Namun bentuk ini sering dianggap “ringan” atau kurang bermakna jika tak diiringi aksi langsung. Bahkan ada istilah khusus yang mengejek aktivisme semacam ini, yakni “clicktivism”. Tapi kalau memang tidak bisa turun ke jalan, apa lagi yang bisa dilakukan?
Jawabannya datang dari buku Social Justice for the Sensitive Souls (2023) karya Dorcas Cheng-Tozun. Ia menulis bahwa gerakan sosial tidak hanya membutuhkan orator dan pemimpin massa. Mereka yang memiliki jiwa sensitif dan introver dapat berkontribusi lebih jauh dalam aktivisme untuk keadilan sosial melalui berbagai peran: connectors (aktivis relasional yang membangun jejaring dan percakapan); creatives (seniman dan kreator yang membawa isu ke ruang publik); record keepers (pengarsip yang menyimpan informasi penting serta memelihara ingatan dan sejarah kolektif); builders (orang-orang yang menciptakan solusi dan teknologi baru untuk membantu masyarakat); equippers (pendidik dan mentor yang berbagi pengetahuan); dan researchers (orang yang menggunakan data dan riset untuk mendorong perubahan dan menawarkan ide perbaikan).
Keenam peran ini tentu hadir dan bisa saling mendukung satu sama lain, namun yang paling saya renungi adalah peran seorang record keepers. Pencatat ini memiliki fungsi penting, terutama dalam aksi massa. Dalam situasi yang mudah diputarbalikkan oleh narasi kuasa, dokumentasi dari warga biasa menjadi kunci untuk menjaga akurasi sejarah. Sebuah catatan jujur dari lapangan bisa menjadi pengingat kolektif bahwa sesuatu pernah terjadi, dan tidak boleh dihapus begitu saja.
Contohnya banyak. Jurnalis Vincent Bevins mencatat berbagai aksi protes global dalam If We Burn: The Mass Protest Decade and the Missing Revolution (2023). Akademisi Indonesia di Kanada, Merlyna Lim, menciptakan laman #WhatsHappeninginIndonesia yang mendokumentasikan lini masa Aksi Agustus Kelabu. Tapi bukan hanya jurnalis atau akademisi yang bisa mencatat sejarah.
Perpustakaan daring The Commons Social Change Library The Commons Social Change Library bahkan mendorong pendekatan pengarsipan berbasis komunitas, di mana siapa pun—tanpa gelar atau otoritas formal—bisa menjadi pencatat. Kita juga melihat ini dalam gerakan #BlackLivesMatter, dengan inisiatif seperti Documenting Ferguson dan Baltimore Uprising yang menggunakan crowdsourcing. Di Indonesia, ada Queer Indonesia Archive (QIA), proyek sukarela yang mendokumentasikan sejarah komunitas queer di tanah air.
Semua ini menunjukkan bahwa pencatatan bukan peran kecil. Ia adalah perlawanan terhadap lupa, terhadap distorsi narasi, dan terhadap kekuasaan yang menyelewengkan fakta.
Baca juga: Melawan Sambil Rebahan, Apa itu Aktivisme Digital dan Tantangannya
Dalam kekacauan, diam pun bisa menjadi tindakan
Pada Aksi Agustus Kelabu 2025, kita melihat bagaimana dokumentasi warga menjadi bukti yang menentukan. Ketika Affan Kurniawan dilindas kendaraan taktis, justru rekaman dari peserta di lapangan yang memperlihatkan kebrutalan aparat secara terang-benderang. Dalam situasi ketika otoritas gagal melindungi, bahkan berubah menjadi ancaman, mendokumentasikan bukan lagi sekadar “mencatat”, melainkan cara bertahan sekaligus membela.
Kerja merawat ingatan itu juga berlangsung di ruang digital. Berbagai pengguna internet saat itu segera mengumpulkan informasi, menyunting laman Wikipedia “August 2025 Indonesian Protests”, dan menautkan dokumentasi visual di Wikimedia. Mungkin hasilnya belum rapi atau sekomprehensif arsip profesional, tetapi kesadaran untuk tidak membiarkan peristiwa menguap sudah tumbuh, dan itu sendiri merupakan langkah penting.
Di titik ini, introver kerap punya modal yang sering luput dihargai: kepekaan, observasi yang tajam, serta kemampuan mendengar dan mencatat secara mendalam. Sifat-sifat ini bukan kelemahan, melainkan aset dalam kerja dokumentasi dan refleksi, jenis kerja yang kerap tak terlihat tetapi menentukan arah ingatan kolektif.
Memang, di dunia yang bising dan masih mengagungkan ciri-ciri ekstrover, introver akan terus berhadapan dengan tantangan. Seperti kata Susan Cain, banyak institusi sosial, mulai dari sekolah hingga tempat kerja, lebih ramah bagi mereka yang nyaman tampil dan bersuara. Namun introver tidak perlu mengubah diri atau tunduk pada Extrovert Ideal untuk dapat berkontribusi. Dalam gerakan sosial, selalu ada ruang bagi peran-peran lain. Bahkan dalam beberapa konteks, kerja sunyi justru bisa jauh lebih efektif.
Pada akhirnya, kita tidak perlu menjadi aktivis yang “sempurna”. Definisi aktivis ideal itu sendiri nyaris mustahil dipenuhi karena gerakan sosial bukan soal satu peran tunggal, melainkan orkestra yang saling melengkapi. Ada yang berjalan di garis depan; ada yang menjaga ritme dari belakang. Ada yang memegang mikrofon; ada yang memegang pena, kamera, dan catatan.
Jika dunia belum memberi ruang bagi introver, kita bisa membuat ruang itu sendiri. Sebab perubahan tidak selalu dimulai dari teriakan. Kadang ia tumbuh dari keheningan: dari catatan kecil yang tekun, dari dokumentasi yang konsisten, dari kesediaan untuk mengingat ketika yang lain memilih melupakan.
Ilustrasi oleh Karina Tungari
Puji P. Rahayu adalah Research Assistant di Yayasan Kurawal.





















