Seorang anak menangis begitu tahu gurunya tidak lagi mengajar di kelompoknya. Ia menolak masuk kelas, terus memanggil nama gurunya, dan tidak mau ditenangkan oleh guru lain.
Di kesempatan lain, seorang ibu meneleponnya dari Malaysia. Anaknya masih terus menyebut nama gurunya, meski sudah lama tidak bertemu. Beberapa waktu kemudian, ibu dan anak itu terbang ke Jakarta—bukan untuk berlibur, bukan pula urusan kerja. Mereka datang hanya untuk menemui guru yang dirindukan sang anak.
Apa yang membuat seorang guru begitu melekat dalam ingatan anak-anak?
Perempuan yang mereka cari bernama Khairunissa. Hampir semua anak mengenalnya sebagai Miss Cherie—nama panggilan sejak kecil yang, dalam bahasa Prancis, chérie berarti “yang disayangi”. Ia tak pernah sengaja menjadikannya identitas di kelas, tapi lama-kelamaan hampir semua anak memanggilnya begitu.
Di usia 25 tahun, Cherie mengajar di sebuah daycare di Jakarta Barat. Pekerjaannya terdengar biasa: menemani anak bermain, belajar, makan, tidur siang. Tapi di balik rutinitas itu, ia menghabiskan hari-harinya membantu anak-anak memahami sesuatu yang jauh lebih rumit daripada mengenal huruf atau angka: perasaan mereka sendiri.
“Saat bersama anak-anak kecil, rasanya energi saya seperti di-charge,” katanya sambil tertawa.
Menjadi guru daycare bukan pilihan yang datang begitu saja. Ini pijakan menuju cita-citanya sebagai psikolog anak. Ketertarikannya pada dunia anak berawal dari mata kuliah Promoting Children saat kuliah di Malaysia. Setelahnya, ia menjalani sekitar lima tahun magang dan mendampingi anak usia dini, sebelum kembali ke Indonesia. Namun, seperti ia pelajari kemudian, teori tak selalu menjelaskan apa yang terjadi ketika berhadapan dengan anak-anak setiap hari.
Baca juga: Cerita Nakes, Guru Honorer, dan Pengasuh yang Tak Dibayar Layak: Ini Masalah Struktural
Kedekatan yang tak selalu terlihat
Di daycare tempat Cherie mengajar, sekitar 20 anak didampingi lima guru. Setiap tiga bulan, mereka bergantian menangani kelompok kecil, agar anak terbiasa berinteraksi dengan semua guru, bukan hanya satu orang. Bagi orang dewasa, ini terdengar sederhana. Bagi seorang anak, tidak selalu demikian.
Suatu hari, salah satu anak di kelompok Cherie menangis begitu tahu ia harus belajar bersama guru lain. Ia terus meminta tetap bersama Miss Cherie.
“Dia nangis, maksa ingin tetap sama aku, sedangkan pelajaran harus diasuh teacher lain,” cerita Cherie.
Naluri pertama orang dewasa biasanya segera menghentikan tangisan—menggendong, mengalihkan perhatian, atau membiarkan anak tetap bersama guru favoritnya. Cherie memilih jalan yang lebih sulit. Ia memberi pengertian bahwa hari itu ia akan belajar bersama guru lain, lalu benar-benar meninggalkan ruangan agar anak itu perlahan belajar percaya kepada guru lain. Baru setelah kelas selesai, ia kembali menemuinya. Saat menjemput, ia memastikan satu hal kepada anak itu: “Aku bilang kalau Miss Cherie enggak meninggalkan kamu.”
Belakangan Cherie sadar, mungkin bukan kegiatan belajar atau lagu pagi yang paling diingat anak-anak. Yang mereka ingat adalah bagaimana perasaan mereka ketika bersama seseorang.
Cherie pernah mendampingi anak yang setiap pagi menangis saat berpisah dari orang tuanya, tapi di kelas tampak tak acuh dan jarang bicara dengannya. Ketika pembagian rapor, orang tua anak itu bercerita bahwa setiap malam, anaknya selalu bertanya tentang Miss Cherie dan bercerita soal kejadian di sekolah bersamanya.
Cherie terdiam. Selama ini ia mengira anak itu nyaris tak memedulikannya, namun ternyata namanya terus dibawa pulang setiap malam. Momen itu membuatnya sadar, kedekatan anak dan guru tak selalu tampak di permukaan. Rasa aman yang mereka rasakan bisa tinggal jauh lebih lama daripada yang terlihat orang dewasa.
Baca juga: Bisnis ‘Daycare’ Menjamur, Perempuan Masih Sulit Akses ‘Daycare’ yang Layak?
Mendengar sebelum menenangkan
Bagi Cherie, jawaban atas semua ini tidak sesederhana “karena anak sayang gurunya”. Yang lebih penting adalah bagaimana anak merasa ketika bersama orang dewasa yang mendampinginya. Dan anak-anak tidak selalu butuh orang dewasa yang segera menghentikan tangisan mereka, melainkan seseorang yang mau memahami mengapa mereka menangis.
Suatu ketika, seorang anak terus menangis saat sensory play—bermain media bertekstur seperti lumpur untuk melatih kemampuan sensorik. Alih-alih menyimpulkan itu sekadar manja, Cherie mengamatinya selama beberapa hari untuk memahami apakah tangisan itu karena takut, tidak nyaman dengan tekstur, atau ada pengalaman lain di baliknya.
“Aku biasanya observasi dulu sekitar dua sampai tiga hari. Baru setelah itu aku cari referensi lagi lewat jurnal atau literatur tentang perkembangan anak,” katanya.
Cara yang sama ia pakai saat anak marah atau menangis. Alih-alih langsung bertanya “kenapa menangis?”, ia memberi ruang bagi anak untuk merasakan emosinya dulu. Kadang ia mengajak bernapas perlahan sambil meniup telapak tangan, kadang membiarkan anak menangis sampai reda, setelah memastikan mereka aman.
“Pada saat anak lagi sedih, kita enggak boleh langsung tanya ‘kenapa’, karena otak mereka sedang ke-block. Yang pertama harus dilakukan adalah memvalidasi perasaannya,” ujarnya.
Hal serupa berlaku saat anak berbuat salah. Cherie tak pernah terburu-buru meminta anak minta maaf, karena kata maaf tak bermakna kalau anak belum paham apa yang terjadi.
“Rasa bersalah harus dibangun dan diajarkan. Kita enggak bisa meminta anak langsung minta maaf, tapi harus menjelaskan sebab-akibat dari perilaku yang dilakukan.”
Pendekatan ini tak menghasilkan perubahan instan. Anak tetap bisa menangis, marah, atau mengulangi kesalahan. Tapi bagi Cherie, di situlah kepercayaan perlahan terbangun. “Yang penting anak tahu kalau ada orang dewasa yang mau mendengarkan mereka.”
Menurut praktisi SDM sekaligus pengamat pendidikan anak usia dini, Indira Safirawarman, pengalaman emosional semacam itu justru paling membekas pada anak. Pada usia dua hingga enam tahun, anak sedang membangun rasa aman (secure attachment) dengan orang-orang yang konsisten hadir dalam hidupnya . Tak hanya orang tua, tapi juga guru atau pengasuh.
“Anak usia dini belajar terutama melalui interaksi. Mereka mengamati, meniru, lalu membangun rasa percaya kepada orang-orang yang secara konsisten hadir dan merespons kebutuhan mereka. Guru bukan hanya mengajarkan pengetahuan, tapi juga menjadi figur yang membentuk rasa aman dan kepercayaan diri anak,” jelas Indira.
Pengalaman emosional, katanya, sering tersimpan lebih lama daripada materi pelajaran. Anak mungkin lupa lagu yang dinyanyikan saat usia tiga tahun, tapi mengingat bagaimana gurunya memeluknya ketika takut, atau menemaninya saat menangis.
Bagi Cherie, pekerjaan ini tak selalu mulus. Ada hari-hari ia pulang dengan perasaan tidak tenang, mempertanyakan apakah kegiatan belajarnya cukup menarik atau apakah ia terlihat terlalu tegas.
“Kadang aku insecure. Takut pembelajarannya belum cukup menstimulasi anak, atau takut terlihat galak di mata mereka,” katanya.
Tapi keraguan itu tak membuatnya berhenti. Ia kembali membaca jurnal, berdiskusi dengan rekan guru, lalu mencoba lagi keesokan harinya. Sebab rasa aman, seperti ia pelajari, tumbuh dari kehadiran yang berulang.
Baca juga: Ibu-ibu yang Menunggu di Depan Kelas
Nama yang tersimpan ribuan kilometer jauhnya
Yang paling mengejutkan Cherie bukan tangisan atau rebutan perhatian anak-anak, melainkan bagaimana mereka mengingat: cara seorang guru menyapa mereka setiap pagi, siapa yang menemani saat takut mencoba hal baru, siapa yang duduk di samping mereka ketika menangis.
“Aku berharap anak-anak tetap menyayangi aku seperti aku menyayangi mereka,” katanya.
Harapan itu kembali dengan cara yang tak pernah ia duga. Beberapa bulan setelah meninggalkan daycare di Malaysia, seorang ibu menelepon: anaknya masih sering menyebut nama Miss Cherie, masih bertanya kapan bisa bertemu lagi. Tak lama kemudian, ibu itu datang bersama anaknya ke Jakarta—bukan untuk pindah, bukan untuk liburan. Mereka hanya ingin bertemu.
“Aku terkejut, campur haru,” katanya pelan.
Bagi anak itu, pertemuan itu mungkin hanya kunjungan singkat. Tapi bagi Cherie, momen itu jadi pengingat: anak-anak menyimpan ingatan dengan cara berbeda dari orang dewasa. Mereka mungkin lupa lagu di kelas atau warna krayon yang dipakai bertahun-tahun lalu. Tapi perasaan diterima, didengarkan, dan merasa aman bisa tinggal jauh lebih lama.
Dan barangkali, itulah yang membuat seorang anak rela menangis ketika gurunya berganti, atau mengingat namanya, bahkan setelah jarak ribuan kilometer memisahkan mereka.





















