‘Ibunda’, Empat Dekade Kemudian: Prasangka yang Berbisik di Meja Makan
Pada 1995, saya menjadi anak sanggar di Teater Populer, Kebon Pala, Tanah Abang. Sutradara Teguh Karya mengizinkan saya belajar di sana, sembari membantu sebagai pembantu umum dalam produksi televisi Indonesia Berbisik, persembahan untuk 50 tahun Indonesia merdeka. Di sela-sela produksi, kami anak sanggar kerap masuk ke ruang audiovisual dan menonton film-film karya Pak Teguh—selingan sekaligus cara lain untuk belajar.
Di ruang itulah saya menonton Ibunda (1986) berulang kali.
Hampir tiga dekade kemudian, saya kembali ke film yang sama dengan pertanyaan berbeda. Filmnya tidak berubah. Indonesia telah banyak berubah. Saya pun telah berubah. Tetapi beberapa persoalan yang dibicarakan Ibunda terasa belum sepenuhnya meninggalkan kita.
Tentang prasangka, batas antara “kita” dan “mereka”, keluarga yang ingin tetap utuh, dan harga yang harus dibayar ketika harmoni dipertahankan tanpa keberanian menghadapi ketidakadilan.
Baca juga: ‘Sowan’: Film Pendek sebagai Perawat Ingatan Tragedi 65
Ketika prasangka memasuki rumah
Salah satu konflik penting dalam Ibunda berpusat pada hubungan Fitri (Ria Irawan), anak bungsu Ibu Rakhim (Tuti Indra Malaon), dengan Luke, pemuda asal Papua (masih disebut Irian Jaya ketika itu). Hubungan itu ditentang Gatot (Galeb Husein), suami Ida (Niniek L. Karim), kakak perempuan Fitri.
Penolakan terhadap Luke (Onny Mayor) melampaui soal suka atau tidak suka terhadap calon anggota keluarga. Di dalamnya bekerja batas sosial tentang siapa yang pantas diterima sebagai bagian dari “kita”. Psikologi sosial menjelaskan bagaimana batas semacam itu terbentuk. Kita cenderung mengategorikan dunia sosial ke dalam kelompok sendiri dan kelompok lain. Kategorisasi itu tidak selalu menghasilkan kebencian. Tapi ia dapat menumbuhkan keberpihakan, stereotip, dan perlakuan berbeda terhadap yang dianggap di luar kelompok.
Ibunda membawa mekanisme itu ke ruang paling dekat dengan kehidupan kita: keluarga. Kita membayangkan keluarga sebagai tempat penerimaan paling awal. Tapi di sanalah juga seseorang pertama kali belajar tentang batas—lewat komentar sambil lalu, keberatan yang dianggap wajar, atau kekhawatiran tentang “kecocokan”.
Karena itu prasangka dalam Ibunda terasa mengganggu. Ia jarang hadir sebagai kebencian terbuka. Ia lebih sering muncul sebagai penolakan yang tampak wajar dan sopan. Tapi hasilnya sama saja: seseorang dinilai bukan sebagai individu, melainkan berdasarkan identitas kelompok yang dilekatkan kepadanya.
Dalam kasus Luke, batas “kita” dan “mereka” tidak lagi berada pada jarak aman. Ia dicintai Fitri, dan karena itu hendak memasuki lingkaran keluarga. Ini ujian yang lebih nyata daripada sekadar menerima yang berbeda dari kejauhan.
Rasisme semacam ini tidak perlu berteriak. Ia cukup berbisik.
Baca juga: Menonton Kembali ‘Turang’, Film yang Dilarang dan Dilenyapkan Orde Baru
Ibu yang menanggung harmoni
Tapi Ibunda tidak hanya berbicara tentang siapa yang ditolak. Film ini juga membuat saya bertanya: siapa yang bekerja paling keras ketika sebuah keluarga menghadapi keretakan?
Ibu Rakhim berada di pusatnya. Kepadanya kecemasan, kekecewaan, konflik, dan harapan keluarga berulang kali bermuara. Ia mendengarkan dan menengahi. Tapi ia juga menimbang dan mengambil sikap.
Kita begitu terbiasa dengan figur ibu semacam ini sehingga nyaris tidak lagi melihatnya sebagai bentuk kerja. Kita memberinya nama yang terdengar luhur: pengorbanan. Padahal yang kita puji sebagai kekuatan seorang ibu kadang menyembunyikan pertanyaan tentang pembagian beban. Mengapa ia harus selalu menjadi yang paling kuat? Siapa yang diuntungkan karenanya?
Ibu Rakhim memang kuat. Tapi kekuatannya tidak perlu kita romantisasi. Melihatnya semata sebagai korban juga tidak adil. Ia bukan sosok pasif. Ia menimbang dan mengambil sikap berdasarkan keyakinannya sendiri, membedakan antara menjaga hubungan dan membenarkan prasangka.
Perbedaan itu penting. Keluarga yang utuh tidak selalu berarti keluarga yang adil, sebagaimana harmoni tidak selalu sama dengan ketiadaan konflik. Harmoni memungkinkan manusia hidup bersama. Tapi ketika ia menuntut agar ketidakadilan tidak dibicarakan, kita perlu bertanya: harmoni untuk siapa?
Dalam konflik mengenai Luke, yang dipertaruhkan bukan sekadar boleh-tidaknya Fitri mencintai seseorang berbeda latar belakang. Yang dipertaruhkan adalah kesediaan keluarga mengakui bahwa martabat seseorang tidak lebih rendah karena identitas etnisnya. Di titik itulah keberanian Ibu Rakhim terasa penting—bukan karena ia mampu menanggung semua persoalan keluarganya, melainkan karena ia tahu ada yang tidak boleh dikorbankan atas nama keutuhan keluarga: martabat manusia.
Halaman yang belum selesai dibaca
Membaca Ibunda hari ini berbeda dengan menontonnya pada 1986. Itu masa Orde Baru, lebih dari satu dekade sebelum Reformasi membuka ruang publik yang lebih luas untuk membicarakan hak asasi manusia. Dari jarak hampir empat dekade, keberanian Teguh Karya membawa prasangka etnis ke jantung sebuah drama keluarga terasa semakin penting. Luke bukan tokoh dalam konflik politik yang jauh dari keseharian. Ia hadir sebagai seseorang yang mencintai dan dicintai. Justru ketika hendak masuk ke dalam keluarga, identitasnya menjadi persoalan.
Tentu, kita bisa bertanya seberapa jauh film memberi ruang kepada perspektif Luke sendiri. Tapi pertanyaan itu tidak perlu menjadi alasan untuk mengadili Ibunda dengan ukuran zaman berbeda. Ia justru menunjukkan bahwa percakapan yang dibuka sebuah karya besar terus berkembang melampaui zamannya.
Indonesia hari ini bukan Indonesia 1986. Reformasi membawa demokratisasi dan ruang lebih terbuka untuk memperjuangkan hak warga negara. Tapi mengabaikan kemajuan itu sama kelirunya dengan menganggap demokratisasi otomatis menghapus prasangka. Kita masih bergulat dengan diskriminasi, stereotip rasial dan etnis, dan ketimpangan relasi mayoritas-minoritas. Persoalan Papua sendiri jauh lebih kompleks daripada yang dapat dijelaskan satu film.
Perhatian publik yang belakangan kembali menguat terhadap Papua mengingatkan bahwa soal siapa yang didengar belum kehilangan relevansinya. Di sinilah Ibunda menawarkan pintu masuk yang khas: memperlihatkan bagaimana prasangka dalam masyarakat menemukan jalannya hingga ke dalam hubungan keluarga.
Institusi dapat berubah lebih cepat daripada sikap. Undang-undang dapat menjamin kesetaraan, sementara prasangka tetap hidup dalam percakapan sehari-hari. Kita dapat merayakan keberagaman sebagai identitas nasional, tapi tetap tidak nyaman ketika perbedaan hadir terlalu dekat. Ujian terhadap demokrasi tidak hanya berlangsung di parlemen. Ia berlangsung juga di sekolah, tempat kerja, ruang digital, bahkan meja makan keluarga.
Pada akhir Ibunda, tampil cuplikan puisi karya Rik A. Sakri tentang seorang ibu yang telah membaca sebuah buku, dan generasi sesudahnya yang baru mulai membacanya dari halaman pertama. Metafora itu terus tinggal dalam ingatan saya. Maknanya terasa berbeda bertahun-tahun kemudian. Mungkin begitulah karya besar bertahan: kita kembali kepadanya di usia dan zaman berbeda, lalu menemukan pertanyaan yang sebelumnya belum kita ajukan.
Setiap generasi menerima semacam buku dari generasi sebelumnya. Di dalamnya ada cinta, nilai, dan ingatan. Tapi di antara halamannya juga terselip prasangka dan luka yang belum selesai. Kita tidak harus membuang seluruh buku itu. Tapi kita juga tidak harus menerima setiap kalimatnya begitu saja. Tugas sebuah generasi barangkali adalah membaca warisannya cukup jujur untuk tahu apa yang patut diteruskan, dan cukup berani untuk menghentikan apa yang melukai.
Itulah sebabnya Ibunda masih penting hampir empat dekade kemudian. Bukan karena Indonesia tidak berubah, melainkan justru karena kita telah berubah, sementara sebagian pertanyaannya masih menunggu jawaban. Bisakah kita menyebut diri toleran jika penerimaan berhenti begitu seseorang yang berbeda hendak menjadi bagian dari keluarga kita? Bisakah demokrasi dianggap matang hanya karena institusinya berdiri, sementara sehari-hari kita masih kesulitan melihat mereka yang berbeda sebagai manusia yang setara?
Mungkin kita memang telah membaca jauh lebih banyak daripada generasi sebelumnya. Tapi untuk beberapa persoalan, kita tampaknya masih harus kembali ke halaman pertama.
Bonar Hutapea adalah dosen Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara, Menaruh minat pada psikologi sosial dan kajian psikologis-filosofis tentang film, sastra, dan budaya popular.





















