Popularitas Sepak Bola Perempuan Naik, tapi Penghapusan Stigma dan Kekerasan Jalan di Tempat
*Peringatan pemicu: Kekerasan dan pelecehan seksual.
Ranita Suhendi, biasa dipanggil Rani, masih mengingat bagaimana ketertarikannya pada sepak bola bermula. Saat itu ia duduk di bangku sekolah dasar di Lamongan, Jawa Timur. Kakak laki-laki mengajaknya bermain sepak bola di gang sekitar rumah.
“Saat itu kegiatan sepak bola wanita masih sangat jarang, jadi saya baru dapat kesempatan gabung tim ketika kelas 2 SMA. Waktu itu saya ikut seleksi di Persegres –Persatuan Gresik Nasional—Putri. Alhamdulillah lolos,” kata bek tengah Srikandi Majapahit ini saat diwawancara lewat telepon oleh Magdalene (3/2).
Dari Gresik, perjalanan Rani berlanjut ke sejumlah klub lain. Ia sempat memperkuat Lamongan FC Putri dan Persatuan Sepak Bola Indonesia Solo (Persis Solo) Women untuk berlaga di Piala Pertiwi regional. Di kejuaraan amatir tersebut, suasana pertandingan relatif lebih terkendali. Petugas keamanan dapat menegur penonton yang melontarkan kata-kata merendahkan.
Pengalaman berbeda ia temui di turnamen antar-kampung (tarkam). Di arena tersebut, Rani pernah menerima catcalling dari penonton laki-laki.
“Sering terjadi yang kayak gitu di tarkam,” ujar perempuan berusia 24 tahun ini.
Cerita serupa datang dari Nurmalitasari Ega Arwidya, 27. Perjalanan sepak bolanya juga dimulai dari bermain bersama teman-teman laki-laki di sekitar rumahnya di Sidoarjo.
“Saya tertarik sendiri (untuk bermain dengan mereka) gitu. Apalagi saya kan enggak bisa diam, mbak,” ujar guru olahraga di sekolah menengah kejuruan (SMK), saat dihubungi Magdalene via telepon (3/2).
Tahun lalu, salah satu rekan Ega bercerita tentang pelecehan verbal yang terjadi dalam sebuah pertandingan tarkam di Surabaya.
“Pelaku ngomong gitu tapi suaranya enggak keras, jadi hanya beberapa pemain yang mendengar. Dia mengeluarkan komentar enggak senonoh,” kata pemain Srikandi Majapahit ini.
Baca juga: Kami Datang ke Stadion untuk Nonton Bola, Bukan Ditanya ‘Udah Nikah Belum?’

Risiko Kekerasan Berbasis Gender Masih Tinggi
Popularitas sepak bola perempuan menunjukkan tren peningkatan secara global. Pada 2023, Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA) mencatat sekitar 16,6 juta perempuan dan anak perempuan bermain sepak bola dalam kompetisi formal. Angka ini meningkat 24 persen dibandingkan data 2019.
Survei Nielsen Sports dan PepsiCo pada 2025 memprediksi jumlah penggemar sepak bola perempuan akan naik 38 persen, dari 500 juta menjadi 800 juta pada 2030.
Lonjakan tersebut, sayangnya, tidak otomatis menghadirkan ruang yang lebih aman bagi para pemain. Stigma dan kekerasan berbasis gender (KBG) masih menjadi bagian dari pengalaman banyak pesepak bola perempuan.

Ayu, 28, yang aktif berlaga di berbagai turnamen amatir dan tergabung dalam Powershoot — komunitas yang menyelenggarakan turnamen dan fun game sepak bola mini serta futsal perempuan — mengaku masih kerap menerima komentar merendahkan.
“Cewek mah di dapur aja. Ngapain main sepak bola,” ujarnya pada (4/2) menirukan cemoohan yang pernah ia dengar dari penonton laki-laki.
Di level profesional, stigma mulai berkurang. Namun di akar rumput, terutama di wilayah pedesaan, anggapan sepak bola sebagai olahraga laki-laki masih kuat. Hal ini disampaikan Sicilia Setiawan, Women Program Director Inspire Indonesia, organisasi yang menjadikan sepak bola sebagai sarana pemberdayaan dan pendorong perubahan sosial.
“Saya masih harus datang ke rumah beberapa orang tua untuk kasih pengetahuan (tentang sepak bola perempuan),” tuturnya (9/2).
Saya memberi tahu mereka bahwa sepak bola bisa dijadikan alat untuk mendapatkan beasiswa, mendapatkan kesempatan bermain di luar kota, bahkan kesempatan main buat kotanya, buat kabupatennya,” kata Sicilia.
Selain stigma sosial, pelecehan seksual dan diskriminasi juga masih terjadi, termasuk di lingkungan profesional.
“Di level nasional, masih ada pelatih dan official laki-laki yang mencoba untuk menyentuh tubuh pemain. Terkait diskriminasi, masih banyak pelatih laki-laki yang enggak mau merekrut asisten pelatih perempuan karena mereka menganggap, ‘Ah, dia kan perempuan. Tahu apa sih?’” ujar Sicilia.
Ia menambahkan, kekerasan berbasis gender (KBG) dalam sepak bola berakar pada relasi kuasa yang timpang. Temuan ini sejalan dengan survei Badan PBB untuk Pembangunan (UNDP) di Meksiko bertajuk “Tarjeta roja a la violencia de género” (Kartu Merah untuk Kekerasan Berbasis Gender). Riset tahun lalu tersebut mencatat, 78 persen perempuan yang berkarier di dunia sepak bola pernah mengalami kekerasan berbasis gender.
Survei yang sama juga menyoroti faktor-faktor yang membuat persoalan ini terus berulang, mulai dari budaya yang menormalisasi kekerasan, minimnya mekanisme pencegahan dan penanganan yang jelas, hingga ketakutan korban akan potensi pembalasan jika melaporkan kejadian.
Terkait maraknya kekerasan di dunia sepak bola, Sicilia menjelaskan, “Jadi banyak laki-laki ini berpikir mereka jauh lebih bagus, tahu, dan berpengalaman dari perempuan.”
Kekerasan tidak berhenti di lapangan. Media sosial juga menjadi arena baru. Yolanda Krismonica, anggota komite eksekutif Asosiasi Pesepakbola Profesional Indonesia (APPI), mengakui organisasinya pernah menerima pengaduan kasus kekerasan berbasis gender online (KBGO).
“Ada seorang pemain perempuan yang setelah upload foto di feed Instagram-nya, ada satu komentar yang menurut dia (nada) bahasanya enggak bagus,” kata Yolanda.

Investigasi APPI menemukan pelaku merupakan suporter klub sepak bola di Jawa Timur. Korban sempat mempertimbangkan somasi, namun akhirnya urung dilakukan.
“Kami mengikuti apa kata pemain. Kami hanya memberikan arahan. Kalau pun kasusnya mau dibawa ke kepolisian, kami bersedia membantu. APPI punya tim legal yang siap mendampingi,” tutur Yolanda.
Ia menilai kesadaran terhadap isu perundungan dan pelecehan seksual belum sepenuhnya terbangun di kalangan pemain.
“Fokusnya mereka lebih ke gimana bisa main, gimana bisa berkembang. Tapi memang faktanya hal itu ada dan mereka (yang menjadi korban) lebih sering keep sendiri,” ujarnya.
Baca juga: Meluncur di Atas Kebebasan: Kisah Perempuan 40-an dan ‘Skateboard’
PR yang Perlu Dibenahi
Di tengah eksposur sepak bola perempuan yang semakin meluas, sejumlah persoalan dinilai perlu dibenahi. Salah satunya adalah cara pandang masyarakat.
“Dimulai dari kesadaran individu. Harus ada perspektif sepak bola bukan buat laki-laki saja,” ujar Ayu.
Operator pertandingan juga memegang peran penting dalam pencegahan dan penanganan KBG. Yolanda menggarisbawahi pentingnya penyelenggara mengikuti pedoman Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA).
“FIFA punya aturan khusus mengenai perlindungan pemain perempuan dari sexual harassment dan hal-hal lainnya. Operator pertandingan harus bisa memahami sepak bola perempuan adalah special case,” kata Yolanda.
Menyadari tingginya kasus KBG, Inspire Indonesia mengembangkan program pelatihan pencegahan KBG bagi anak laki-laki dan perempuan. Program ini merupakan bagian dari inisiatif Breaking Barriers, Building Future yang didanai Kedutaan Besar Inggris.
Melalui pendekatan yang menggabungkan kurikulum kekerasan berbasis gender (GBV) dan klinik sepak bola, kegiatan ini telah dijalankan di enam kota, dari Bandung, Jakarta, Lombok, Lampung, Manado, hingga Medan. Menyasar remaja usia 13–17 tahun, kurikulumnya mencakup peningkatan kesadaran, pemahaman tentang bentuk-bentuk KBG, hingga dorongan menjadi agen perubahan, termasuk sesi dialog lintas gender dan komitmen “Pledge2Respect”
“Kami membuka mata ke kelompok yang biasanya melakukan kekerasan. Kami bilang tindakan KBG itu enggak benar. Hal itu berakar dari pemikiran ‘ada sebuah kelompok yang dianggap lebih tinggi,’” jelas Sicilia.
Pendekatan yang digunakan berbeda untuk tiap kelompok. Pelatih laki-laki diajak melihat ulang pola pikir dan peran mereka di komunitas. Pelatih perempuan didorong memperkuat kepercayaan diri dan ketahanan mental.
Baca juga: Perempuan Dilarang Suka Sepak Bola dan Musik Keras

Namun, proses perubahan tidak selalu berjalan mulus.
“Beberapa pelatih ada yang tidak peduli hal itu. Ada yang berkomentar, ‘ah apa sih ini?’ Ada yang pulang pada hari kedua atau ketiga karena mindset mereka tidak bisa diubah,” tutur Sicilia.
Upaya serupa coba dibawa ke lingkungan sekolah. Respons yang diterima pun beragam.
“Banyak dari pejabat sekolah berpikir, ‘Kalau saya izinkan kamu bikin training di sini, saya dapat apa?’” katanya lagi.
Iklim sepak bola perempuan di Indonesia masih diwarnai berbagai tantangan. Stigma, pelecehan, hingga diskriminasi tetap menjadi bagian dari realitas yang dihadapi pemain.
Meski demikian, Rani, Ega, dan Ayu memilih bertahan.
“Main sepak bola itu menyenangkan ya. Gara-gara sepak bola, aku bisa (pergi) kemana-mana, aku bisa dapat beasiswa juga, bisa ketemu banyak orang,” ujar Rani.
Di tengah keterbatasan kompetisi, Ega sempat mempertimbangkan pensiun. Keputusan tersebut urung diambil.
“Sudah kadung (terlanjur), sudah nyemplung. Tahun lalu ada rezeki ikut kompetisi nasional. Ternyata saya masih bisa dan masih diizinkan bermain sepak bola,” katanya.
Bagi Ayu, keterlibatan di Powershoot menjadi alasan lain untuk terus berada di lapangan.
“Sesama perempuan pun harus sadar kita harus menciptakan lingkungan yang suportif dan saling mendukung,” pungkasnya.
Artikel liputan ini merupakan hasil kolaborasi antara British Embassy Jakarta, Inspire Indonesia, dan Magdalene dalam rangka memperingati Hari Perempuan Internasional 2026. Serta merupakan bagian dari serial liputan bertema “Merebut Kembali Ruang Aman di Dunia Olahraga”.
Ilustrasi oleh Karina Tungari




















