06/08/2026
Boys' Love Culture Opini

‘A Confession of a 35 Year Old’: Mengapa Tekanan Menikah Lebih Berat bagi Kwir?

Tekanan menikah membuat saya mempertanyakan cinta, keluarga, dan identitas. Lewat ‘A Confession of a 35 Year Old’, saya menemukan bagaimana heteronormativitas dan dominasi monoseksualitas membentuk kegelisahan itu.

  • August 6, 2026
  • 7 min read
  • 21 Views
‘A Confession of a 35 Year Old’: Mengapa Tekanan Menikah Lebih Berat bagi Kwir?

Foto: Goodreads

“Sekarang kan Gen Z banyak yang milih menunda pernikahan, ya. Kamu gimana? Mau nikah, kah?” tanya seorang kawan.

Aku mengangkat bahu, “Bukan prioritasku saat ini.”

Jawaban itu terdengar mantap, tetapi di dalam hati aku tetap gelisah. Sebagai individu kwir, pertanyaan tentang pernikahan tak pernah sesederhana basa-basi. Setiap kali mendengarnya, aku kembali diingatkan pada panjangnya jalan yang harus ditempuh agar bisa menikmati hak yang selama ini dirampas dari komunitas LGBTQIA+. Aku menghela napas.

Tekanan itu tidak berhenti di ruang percakapan. Saat Lebaran bersama keluarga besar, aku kembali berhadapan dengan gambaran kehidupan yang dianggap “ideal”. Di sekelilingku, sepupu-sepupu seumuran datang bersama pasangan dan anak-anak mereka. Mereka mengenakan pakaian seragam, tampil rapi dengan riasan mencolok, sementara anak-anak mereka berlarian, bercanda, lalu sesekali menangis karena berebut mainan.

Pemandangan itu hanya berlangsung beberapa menit, tetapi cukup membuat pikiranku dipenuhi pertanyaan.

Apakah aku akan menikah dengan pasanganku?

Apakah itu mungkin?

Apakah aku, sebagai pluriseksual yang terlahir female, pada akhirnya akan dipaksa menikah dengan laki-laki?

Jika nanti menikah, apakah masyarakat akan menganggap hubungan kami hanya sah jika mengikuti pola menikah, punya anak, lalu membentuk nuclear family?

Jika aku memilih jalan yang berbeda, apakah hubungan itu tetap dianggap utuh?

Pertanyaan lain segera menyusul. Bagaimana jika suatu hari aku justru menikah dengan laki-laki? Apakah identitasku sebagai individu kwir otomatis dianggap tidak lagi valid? Apakah aku masih bisa visible? Lalu, apakah visibilitas benar-benar menentukan kualitas sebuah hubungan?

Di tengah kekacauan itu, aku menemukan manhua Boys’ Love (BL) A Confession of a 35 Year Old (2023) karya TEI.

Kisahnya mengikuti Junren Liu atau Jason, pekerja kantoran berusia 35 tahun yang belum pernah menjalin hubungan romantis. Satu-satunya pengalaman yang paling membekas datang dari pengakuan cinta adik kelas laki-laki semasa kuliah. Jason menolaknya. Bertahun-tahun kemudian, ia justru merasa dikhianati ketika mengetahui adik kelas tersebut memiliki pacar perempuan.

Sejak saat itu, Jason merasa cinta sulit dipahami. Ia memilih menjalani hidup tanpa terlalu memikirkan hubungan romantis. Namun, menjelang ulang tahunnya yang ke-36, kesadaran itu menghantamnya.“WHY AM I THE ONLY ONE WITHOUT A PARTNER?!”

Baca juga: 5 Alasan Kenapa Kamu Harus Ikuti Anime ‘Witch Hat Atelier’

Saat Menikah Jadi Tolok Ukur Keberhasilan

Melalui Jason, TEI menunjukkan bagaimana masyarakat menjadikan kehidupan berpasangan sebagai tolok ukur keberhasilan seseorang. Akibatnya, mereka yang masih lajang di usia 30-an mudah merasa tertinggal, berbeda, bahkan gagal. Perasaan malu, not good enough, dan frustrasi terus menghantui keseharian.

Pertanyaan pun bermunculan. Benarkah memiliki pasangan otomatis membuat hidup lebih mudah? Lalu, bagaimana jika pasangan itu sesama jenis? Apakah hubungan tersebut justru menghadirkan tekanan baru?

Dalam cerita, Jason berusaha mengatasi rasa kasihan pada dirinya sendiri. Ia percaya horoskop, mencoba membuka diri terhadap orang lain, hingga akhirnya bertemu rekan kerja yang lebih muda, Qianfan Ye atau Frank. Pertemuan itu perlahan memaksanya menghadapi pertanyaan yang selama ini dihindari.

“Relationships are weird. Knowing you might get hurt, you’ll still reach out again and again,” ucap Jason.

Frank tampil jauh lebih terbuka dibanding Jason. Meski terpaut tujuh tahun usia, ia tidak ragu mengungkapkan perasaannya. Sebaliknya, Jason terus bergulat dengan kecemasan. Ia takut ketertarikannya kepada laki-laki akan mencelakakan mereka berdua. Tekanan dari orang tua, perjodohan, dan ekspektasi sosial membuatnya terus mempertanyakan dirinya sendiri. Apakah ia normal? Apakah ia harus menerima Frank? Jika menolak, apakah penyesalan itu akan kembali menghantuinya?

Pergulatan Jason memperlihatkan proses questioning yang tidak sederhana. Ia seolah berdiri di dua dunia. Di satu sisi, ia masih mengukur hidup dengan standar heteronormatif: Menikah, memiliki anak, lalu membangun keluarga. Karena belum mencapai semua itu, ia merasa tertinggal dibanding orang-orang di sekitarnya.

Di sisi lain, pengakuan cinta yang pernah ia terima membuka kemungkinan hidup yang selama ini tak pernah benar-benar ia bayangkan. Namun, heteronormativitas membuat kemungkinan itu sulit diimajinasikan. Seolah hanya ada satu jalur yang dianggap benar: laki-laki mencintai perempuan, menikah, lalu memiliki anak. Di luar pola itu, hubungan terasa tidak lengkap, bahkan dianggap gagal.

Melihat Jason, aku seperti sedang bercermin. Aku menyadari masih menjadikan milestone heteronormatif sebagai ukuran keberhasilan sebuah hubungan. Kesadaran itu sempat membuatku menyalahkan diri sendiri. Bukankah aku seorang kwir? Mengapa pikiranku tetap berpusat pada standar heteronormatif?

Pengalaman itu ternyata tidak hanya kualami sendiri. Sophie K. Rosa membahasnya dalam Radical Intimacy (2023). Rosa mengutip Amy Gahran untuk menjelaskan konsep relationship escalator, yakni anggapan hubungan romantis ideal harus melalui tahapan yang sama: Berkencan, menjadi eksklusif, berkomitmen secara seksual, menikah, lalu memiliki anak. Urutan itu diperlakukan sebagai satu-satunya jalan yang benar. Hubungan yang tidak mengikutinya mudah dianggap kurang serius, bahkan gagal.

Menurut Rosa, pola pikir tersebut merupakan efek samping dari sistem patriarki hetero yang hadir di berbagai aspek kehidupan. Tak heran jika banyak orang, termasuk individu kwir, merasa tertekan, kehilangan pilihan, dan terdorong menyesuaikan diri meski tidak sepenuhnya menginginkannya.

Pengalaman serupa juga muncul saat Jason bertanya kepada teman dekatnya, “Would it be strange if it were two men with kids?”

Baca juga: ‘The Summer Hikaru Died’: Ketika Queer dan Horor Melebur dan Menggugat “Yang Normal”

Heteronormativitas dan Dominasi Monoseksualitas

Pertanyaan Jason, “Would it be strange if it were two men with kids?”, memperlihatkan jika konsep keluarga yang dominan masih bertumpu pada satu pola: Ayah, ibu, dan anak. Dalam imajinasi heteronormatif, hanya laki-laki dan perempuan yang dianggap dapat membangun keluarga. Akibatnya, pasangan sesama jenis kerap ditempatkan di luar definisi tersebut, seolah hubungan mereka tidak memiliki ruang dalam konsep keluarga yang dianggap ideal.

Cara pandang itu memunculkan kekhawatiran yang akrab bagi banyak pasangan kwir. Apa risiko yang harus dihadapi ketika hubungan menjadi terlihat? Mengapa mencintai sesama jenis terasa seperti membutuhkan persetujuan publik? Pertanyaan-pertanyaan tersebut menunjukkan jika persoalannya bukan hanya soal relasi personal, tetapi juga legitimasi sosial.

Pola pikir serupa tampak saat Jason bertanya kepada adik kelasnya, “If he’s going to date a girl in the end, why did he confess to me back then?” Pertanyaan itu memperlihatkan asumsi jika seseorang hanya dapat tertarik pada satu gender. Tanpa disadari, Jason memosisikan adik kelasnya pada dua pilihan yang saling bertolak belakang: Heteroseksual atau homoseksual. Tidak ada ruang bagi identitas yang berada di antaranya.

Cara berpikir tersebut mencerminkan monoseksualitas, yakni anggapan jika seseorang hanya dapat memiliki ketertarikan pada satu gender. Perspektif ini juga berkaitan dengan plurisexual erasure atau bi+ erasure. Menurut Kenji Yoshino (2000), sebagaimana dirujuk Amy R. McCole dan Joel R. Anderson dalam Not Queer Enough: A Systematic Review of the Literature Exploring Experiences of Bi-Erasure (2025), erasure berlangsung dalam tiga lapisan: class erasureindividual erasure, dan delegitimization.

Kisah Jason terutama memperlihatkan individual erasure dan delegitimization. Ia meragukan ketertarikan adik kelasnya, menganggap pengakuan cintanya tidak sungguh-sungguh, lalu mengasumsikan ia akhirnya menjadi heteroseksual. Cara pandang itu melahirkan stereotipe jika individu pluriseksual tidak konsisten, tidak dapat dipercaya, atau enggan menentukan pilihan.

Kecurigaan yang sama muncul ketika Frank mengungkapkan perasaannya kepada Jason. Berusaha menjelaskan posisinya, Frank berkata, “I’m bisexual.” Pengakuan itu menjadi salah satu momen yang paling membekas bagiku. Di satu sisi, aku merasa lega karena akhirnya menemukan representasi pluriseksual yang dinyatakan secara eksplisit dalam Boys’ Love. Di sisi lain, aku kembali bertanya mengapa tokoh pluriseksual hampir selalu dituntut menjelaskan identitasnya agar dipercaya.

Semakin kupikirkan, semakin aku melihat diriku dalam diri Frank. Sebagai pluriseksual, aku berkali-kali merasa perlu menjelaskan ketertarikanku kepada lebih dari satu gender agar tidak otomatis dianggap heteroseksual. Aku juga merasa harus terus coming out agar keberadaanku diakui sebagai bagian dari komunitas LGBTQIA+.

Baca juga: ‘Sasaki to Miyano’: Anime BL Menggemaskan dengan Tema Penerimaan Diri

Pengalaman itu membuatku menyadari tantangan pluriseksual tidak berhenti pada stigma masyarakat heteronormatif. Ada tekanan lain yang lebih halus, yakni dorongan untuk terus membuktikan identitas sendiri. Rasanya seperti harus memperoleh pengakuan dari dua arah sekaligus: masyarakat heteronormatif dan komunitas LGBTQIA+.

Kesadaran itu mengubah pertanyaan-pertanyaan yang sejak awal memenuhi kepalaku. Bukan lagi sekadar apakah aku akan menikah atau dengan siapa aku akan membangun hubungan, melainkan mengapa aku merasa harus memenuhi standar tertentu agar identitas dan hubunganku dianggap sah. Apakah visibilitas benar-benar menghadirkan rasa memiliki, atau justru memperlihatkan kuatnya internalisasi stigma yang masih kubawa?

A Confession of a 35 Year Old (2023) karya TEI menawarkan ruang untuk mempertanyakan standar tersebut. Melalui Jason dan Frank, manhua ini menunjukkan bagaimana heteronormativitas dan dominasi monoseksualitas membentuk cara kita memahami cinta, keluarga, dan keberterimaan. Meski berfokus pada tokoh berusia 30-an, pergulatan yang diangkat terasa dekat dengan pembaca kwir dari berbagai usia. Bagi mereka yang masih questioning, pluriseksual, atau pernah merasa sulit fit in tetapi tetap ingin belong, kisah ini mengingatkan jika perjalanan menerima diri sendiri sering kali dimulai dengan mempertanyakan norma yang selama ini dianggap paling wajar.

Silvy Rianingrum adalah penggemar Franz Kafka dan pembaca poligamis yang suka menulis.

About Author

Silvy Rianingrum