06/08/2026
Environment Issues Opini

Berlari Demi Sehat, Pelari Jakarta Justru Dikepung Panas dan Polusi

Tren lari di Jakarta terus meningkat, tetapi para pelari harus menghadapi dua ancaman sekaligus, yakni suhu yang makin menyengat dan kualitas udara yang terus memburuk.

  • August 6, 2026
  • 5 min read
  • 25 Views
Berlari Demi Sehat, Pelari Jakarta Justru Dikepung Panas dan Polusi

Aku cukup kaget melihat catatan angka denyut jantung (heart rate) ketika berlari di kawasan Gelora Bung Karno (GBK)beberapa pekan lalu (13/6). Lewat jam pintar, kulihat catatan heart rate-ku menyentuh angka yang tak biasa, yakni 179 bpm (beats per minute), padahal kecepatan lariku tergolong sedang. Biasanya, rata-rata denyut jantungku berada di angka 155 bpm untuk sekali berlari. Hari itu, keringat juga mengucur lebih deras dari biasanya.

Tak hanya terjadi padaku, Bagus, 28, juga mengalami pengalaman serupa. Selang sehari setelah aku berlari (14/6), Bagus pun merasa detak jantungnya berdenyut lebih kencang dari biasanya. Ia yang terbiasa long run dengan jarak puluhan kilometer mengaku tubuhnya juga lebih berkeringat hari itu. 

“Belum mulai aja heart rate-ku bahkan udah 150-an loh ini,” ungkapnya.

Sebagai pegiat lari yang berdomisili di Jabodetabek, aku paham betul bagaimana suhu dan kelembaban udara menjadi tantangan tersendiri untuk beraktivitas di luar ruang. Pada hari itu (13/6), VIVA melaporkan kualitas udara Jakarta berada di angka 184 dengan tingkat konsentrasi polutan PM2,5 sebesar 102 mikrogram per meter kubik, atau 20,4 kali lebih tinggi dibanding nilai panduan kualitas udara tahunan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Masyarakat bahkan diimbau menggunakan masker saat berkegiatan di luar rumah. Jakarta berada di urutan ketiga dengan kualitas udara terburuk di Indonesia setelah Serpong dengan poin 240 dan Tangerang Selatan dengan poin 231.

Meski saat itu aku hanya merasa lebih terengah-engah, kualitas udara Jakarta sebenarnya berada dalam kondisi tidak sehat hampir setiap hari. Rangkuman IQAir menunjukkan secara rata-rata kualitas udara Jakarta konsisten jauh melampaui pedoman kesehatan WHO. Per Mei 2026, Jakarta bahkan masuk dalam 10 kota paling berpolusi di dunia. Di kawasan Asia Tenggara, Indonesia juga tercatat sebagai negara paling berpolusi.

Baca juga: Lari adalah Olahraga Murah, ‘Flexing’-nya yang Bikin Mahal

Di Tengah Tren Lari, Pelari Dihadapkan pada Kota yang Tak Ramah

Antusiasme masyarakat terhadap olahraga lari memang sedang meningkat. Berdasarkan catatan Garmin, perusahaan jam pintar, terjadi lonjakan signifikan aktivitas lari di Indonesia. Sepanjang Januari hingga Mei 2026, terdapat 5,1 juta aktivitas running yang terekam di aplikasi mereka. Angka ini meningkat sekitar 46 persen dibanding periode yang sama pada 2025, yakni sekitar 3,5 juta aktivitas.

Aku pun memahami mengapa tren ini terus bertumbuh. Bagi pekerja sepertiku, lari menjadi salah satu olahraga yang paling mudah dilakukan sebelum atau sesudah jam kerja. Biayanya juga relatif minim karena tak perlu membayar kelas maupun coach, setidaknya untuk pelari rekreasional. Belum lagi manfaat kesehatan dan dorongan dopamin setelah berlari yang membuat tubuh terasa lebih segar usai menamatkan beberapa kilometer.

Namun, semangat menjalani hidup sehat di Jakarta harus berhadapan dengan kualitas udara yang terus memburuk. Seperti dipaparkan sebelumnya, kualitas udara Jakarta secara konsisten melampaui standar WHO. Yuyun Harmono, Juru Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia, menilai berlari di Jakarta ibarat mencari sehat di tengah lingkungan yang tidak mendukung.

“Budaya hidup sehat tentu kita dukung, tapi dengan kualitas udara yang ada, pelari Jakarta justru seperti sedang mencari sehat di tengah lingkungan yang tidak sehat,” ungkapnya. (29/7)

Selain kualitas udara yang buruk akibat polusi, Yuyun juga menyoroti tingginya suhu udara sebagai tantangan lain bagi para pelari. Menurutnya, musim kemarau membuat suhu Jakarta meningkat sehingga masyarakat perlu lebih berhati-hati saat beraktivitas di luar ruang.

Baca juga: Aku ‘Flexing’ maka Aku Ada: Dari Joki Strava hingga Lanyard BUMN

“Yang perlu diperhatikan juga itu heat stress yang bisa timbul karena suhu yang meningkat ya. Jangan sampai kita cari sehat malah berujung sakit,” imbuh Yuyun.

Peringatan tersebut juga sejalan dengan penjelasan para ahli kesehatan. Dari laman resmi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, DR. dr. Agus Dwi Susanto Sp.P(K)., FAPSR., FISR., dokter spesialis paru, menjelaskan udara dengan kadar polutan tinggi dapat mengganggu sistem pernapasan, terutama saat seseorang berolahraga karena frekuensi napas meningkat.

“Hindari beraktivitas di luar ruangan pada saat kadar polutan yang tinggi, kalau siang-siang lari-lari, senam, pada saat polusi tinggi, yang ada frekuensi napas meningkat polutan pada masuk,” kata dr. Agus.

Sementara itu, dr. Antonius Andi Kurniawan, dokter spesialis kedokteran olahraga, menyebut suhu udara yang tinggi dapat memicu kenaikan denyut jantung sekaligus mempercepat kelelahan. Lewat AFU, dr. Antonius menjelaskan suhu panas dapat memicu laju pernapasan meningkat sehingga tubuh lebih cepat kehilangan energi.

Baca juga: Dari ‘Insecurity’ ke Kapitalisasi: Bagaimana Pilates hingga ‘Gym’ Agresif Sasar Perempuan

Mencari Sehat Perlu Didukung Lingkungan yang Sehat

Meski para pelari perlu lebih waspada terhadap risiko tersebut, Yuyun menilai tanggung jawab tidak bisa dibebankan sepenuhnya kepada individu. Menurutnya, pemerintah juga perlu memberi perhatian lebih terhadap kualitas udara dan suhu kota, mengingat keduanya berkaitan dengan kebijakan pengendalian pencemaran udara yang belum berjalan maksimal.

“Saya kira pemerintah Jakarta juga harus melihat masalah ini ya. Karena kalau kita lihat, Jakarta sendiri contribute terhadap buruknya kualitas udara lewat industri-industri yang ada di sekitarnya. Belum lagi penggunaan batu bara yang masih masif. Jadi menurutku pemerintahan Jakarta harusnya lebih meng-address hal yang sistemik itu sih gitu,” kata Yuyun.

Pengalaman berlari di tengah cuaca panas dan udara yang berpolusi membuatku menyadari satu hal. Menjalani hidup sehat di Jakarta ternyata tidak hanya bergantung pada kedisiplinan mengatur jadwal olahraga, tetapi juga dipengaruhi kondisi lingkungan tempat kita bergerak. Selama kualitas udara dan suhu kota masih menjadi persoalan, aktivitas berlari bukan hanya menjadi latihan fisik, melainkan juga pengingat pentingnya hak setiap orang untuk menghirup udara yang lebih bersih.

About Author

Syifa Maulida

Syifa adalah lulusan Psikologi dan Kajian Gender UI yang punya ketertarikan pada isu gender dan kesehatan mental. Suka ngopi terutama iced coffee latte (tanpa gula).