07/08/2026
Culture Safe Space

Ariana Grande, Dugaan Anoreksia, dan Dilema Membicarakan Tubuh Perempuan

Mengomentari tubuh Ariana bisa berujung ‘bullying’, tetapi mendiamkannya juga berisiko menormalisasi gerakan “This is in”. Lalu, bagaimana menyikapinya dengan empati?

  • August 7, 2026
  • 6 min read
  • 43 Views
Ariana Grande, Dugaan Anoreksia, dan Dilema Membicarakan Tubuh Perempuan

Foto: The Week

Bersamaan dengan rilis album baru dan tur album “Eternal Sunshine” selesai, nama Ariana Grande kembali mencuat setelah ia menyatakan akan hiatus dari aktivitas publik. Pernyataan itu ia sampaikan di hari pertama dari tiga konsernya di United Center, Chicago, (3/8). 

Ia menyatakan keputusannya dilatarbelakangi oleh komentar negatif terhadap dirinya. Ariana menyebut keputusan itu sudah dipertimbangkan dan bukan keputusan yang reaktif. 

“Jadi, pengumuman yang disampaikan kemarin bukan sesuatu yang reaktif. Itu sesuatu yang sudah lama saya rencanakan secara diam-diam, dan keputusan itu dibuat dengan penuh pertimbangan serta dari tempat yang penuh keyakinan,” ujar Grande kepada penonton, mengutip Variety.

Pernyataan Ariana itu muncul di tengah ramainya pembicaraan di internet yang menyoroti kondisi kesehatannya dalam beberapa tahun terakhir. Kondisi tersebut memunculkan asumsi keputusan hiatus yang diambil Ariana merupakan respons atas sorotan publik terhadap tubuhnya.

Perbincangan mengenai kondisi tubuh Ariana sudah mengemuka sejak ia memerankan tokoh Glinda dalam Wicked. Saat itu, banyak netizen mengomentari tubuhnya yang terlihat jauh lebih kurus. Sebagian orang kemudian berasumsi perubahan tersebut dilakukan demi kebutuhan peran dalam film.

Sorotan itu berlanjut ketika Ariana merilis album barunya, “Petal”. Video musiknya kembali menuai kritik karena tubuh Ariana dinilai semakin kurus. Banyak warganet kemudian memvonis Ariana mengidap eating disorder atau gangguan makan.

Di sisi lain, sebagian penggemar membela Ariana dan meyakini idola mereka justru berada dalam kondisi yang lebih sehat dibanding sebelumnya. Banyak pula yang menilai komentar terhadap tubuh Ariana merupakan bentuk pengekangan terhadap tubuh perempuan sekaligus body shaming.

Ariana sendiri pernah merespons komentar mengenai tubuhnya pada 2023. Saat itu, ia mengatakan kondisi tubuhnya merupakan versi dirinya yang paling sehat.

“Sehat bisa berarti tampil beda. Kalian tidak pernah tahu apa yang sedang dialami seseorang, jadi meskipun kalian berasal dari tempat yang penuh kasih atau perhatian, orang itu mungkin sedang berjuang,” ujar Ariana, dikutip dari Kompas.com.

Perdebatan dari dua kutub tersebut membuat pembahasan konstruktif menjadi tertutup, yakni bagaimana kita tetap menghormati tubuh perempuan tetapi di saat yang bersamaan tidak menormalisasi tren yang dapat menyakiti tubuh perempuan.

Baca juga: ‘This is in!, ‘SkinnyTok’, dan Kembalinya Standar Cantik Kurus Ekstrem

Ariana dan Konsekuensi Publik Figur

Posisi Ariana sebagai publik figur menjadi fakta penting yang perlu diperhatikan di dalam diskursus ini. Sebagai publik figur, Ariana memiliki banyak penggemar dari kalangan perempuan yang bukan tidak mungkin akan meniru gaya hidup Ariana.

Memang, tidak diketahui secara jelas alasan Ariana menjadi sangat kurus. Namun, penggemar bisa menangkap kondisi Ariana sebagai kondisi sehat atau cantik yang ideal. Sehingga, mereka berisiko melakukan diet ekstrem hingga membuat dirinya kelaparan untuk mencapai kondisi tubuh yang sangat kurus.

Sebagaimana dipaparkan oleh Brown dan Tiggemann di artikel mereka, berjudul “Celebrity influence on body image and eating disorders: A review yang menemukan paparan terhadap citra selebriti, kebiasaan membandingkan penampilan dengan mereka, dan celebrity worship (keterikatan atau pemujaan berlebihan terhadap selebriti) berkaitan dengan cara pandang yang lebih negatif terhadap tubuh sendiri.

Hal yang sejalan juga disampaikan oleh aktris dan aktivis Jameela Jamil. Lewat cerita Instagram, ia bersimpati dan menghormati langkah Ariana untuk hiatus. Akan tetapi ia tetap menyoroti bahwa Ariana adalah publik figur yang memiliki daya pengaruh besar.

“Kalau kita mengomentari tubuhnya (Ariana Grande), kita bisa memperburuk kesehatan mentalnya … jika kita tidak mengomentari, kita bisa berisiko menormalisasi citra tubuh seperti itu di mata ratusan juta remaja perempuan, anak-anak, bahkan orang dewasa yang mudah terpengaruh,” tulis Jameela.

Psikolog Kim Lampson, Ph.D., di Psychology Today, mengatakan tren tubuh kurus kini kembali dan menggeser body positivity. Tren itu fokus pada obat-obatan pelangsing, penurunan berat badan selebriti, dan pemasaran massal. Ditambah, obat peramping badan seperti GLP-1 juga dikonsumsi oleh berbagai selebriti seperti Oprah Winfrey hingga Kelly Clarkson.

Lampson menyoroti bagaimana selebriti bisa berpengaruh dalam menghidupkan tren ini. Sebagaimana dirinya dulu saat masih muda terpengaruh oleh gerakan “This is in” yang dipopulerkan Twiggy dan membuat Lampson memiliki gangguan makan. 

Baca juga: Ketika Ozempic Jadi Tren, Aku Berhenti Menyalahkan Tubuhku

Menyikapi dengan Empati

Kritik kepada Ariana dan timnya menjadi penting apabila dilihat dari dimensi pengaruh yang Ariana punya. Akan tetapi, komentar miring kepada Ariana yang menyerang ketubuhannya dan mendiagnosis Ariana tanpa dibuktikan oleh rekam medis yang jelas dapat berujung pada bullying.

Selama bertahun-tahun, tubuh perempuan di dunia pop menjadi langganan objektifikasi publik. Mengutip Variety, pada 2020 Taylor Swift mengungkapkan kepada mereka, ia pernah “berhenti makan”. Ia mengemukakan kebiasaan tersebut muncul sebagai respons refleks terhadap komentar dan penilaian publik yang terus-menerus mengomentari ukuran tubuhnya. 

Hal serupa juga pernah disampaikan penyanyi Lorde. Masih mengutip Variety, dalam remix lagu “Girl, so confusing” bersama Charli xcx, ia menyanyikan pengalaman “berperang dengan tubuhnya sendiri”. Pengalaman itu membuatnya membatasi makan hingga kelaparan, lalu kembali mengalami kenaikan berat badan.

Menurut lirik lagu tersebut, kenaikan berat badan terasa sama menyakitkannya secara emosional dibanding proses kelaparan yang ia alami. Lorde kemudian mengembangkan tema itu dalam album “Virgin” (2025). Lewat lagu “Broken Glass”, ia mengaku sempat “terseret” ke dalam obsesi terhadap ukuran tubuh, seperti rasio pinggang dan pinggul yang dianggap ideal.

Pengalaman para selebriti tersebut memperlihatkan satu benang merah, yakni ekspektasi publik terhadap tubuh ideal dapat membentuk cara figur publik memandang tubuh mereka sendiri. Meski demikian, bukan berarti pengalaman Ariana dapat disamakan dengan mereka.

Hingga kini, tidak ada informasi yang memastikan apa yang sebenarnya sedang dialami Ariana. Tubuhnya memang terlihat sangat berbeda dibanding sebelumnya. Namun, perubahan penampilan seseorang dapat dipengaruhi beragam faktor sehingga tidak dapat dijadikan dasar untuk menyimpulkan kondisi kesehatannya.

Kasus Chadwick Boseman dapat menjadi pengingat, meski tidak bisa disamakan begitu saja dengan situasi Ariana. Dalam jumpa pers dan berbagai acara publik, pemeran film Marvel “Black Panther” itu kerap memperagakan gestur ikonik karakternya dengan menyilangkan tangan di dada sebagai simbol “Wakanda Forever“.

Seiring waktu, Boseman mulai melakukan gerakan tersebut dengan tatapan kosong dan tangan yang tampak lemah. Saat itu, banyak warganet menjadikannya bahan lelucon. Belakangan, candaan tersebut berubah menjadi penyesalan setelah Boseman meninggal dunia dan keluarganya mengungkap ia selama ini mengidap kanker usus besar.

Kasus Boseman menjadi pengingat akan keterbatasan publik dalam menyimpulkan kehidupan seseorang hanya dari serpihan informasi yang terlihat. Namun, bukan berarti ruang diskusi mengenai kondisi tubuh Ariana harus ditutup sepenuhnya.

Baca juga: Buccal fat removal dan Heroin chic : Sosial Media dan Obsesinya Terhadap Kurus

Mengakui adanya kekhawatiran terhadap kondisi tubuh Ariana dapat menjadi bentuk empati. Di saat yang sama, publik juga perlu membuka ruang terhadap kemungkinan tidak mengetahui keseluruhan situasi yang sedang ia hadapi. Sebagaimana kasus Boseman, kondisi sebenarnya baru diketahui setelah ia meninggal dunia.

Sebagai pihak luar, hal terbaik yang dapat dilakukan adalah menghormati keputusan Ariana mengambil jeda dan berharap masa hiatus tersebut memberinya ruang untuk memperoleh apa pun yang sedang ia butuhkan.

Momen ini juga dapat menjadi kesempatan membangun empati sekaligus kesadaran kritis. Empati berarti tidak menjadikan tubuh seseorang sebagai bahan ejekan. Sementara itu, kesadaran kritis berarti memahami figur publik memiliki pengaruh besar terhadap cara banyak orang memandang tubuh ideal.

Kedua sikap tersebut tidak saling bertentangan. Menghormati privasi Ariana sebagai manusia dapat berjalan beriringan dengan sikap kritis terhadap standar kecantikan yang terus menyakiti perempuan.

Pada akhirnya, kasus Ariana Grande membuka ruang untuk membicarakan tubuh secara lebih kritis dan bertanggung jawab, tanpa kehilangan empati terhadap manusia yang berada di balik sorotan publik.

About Author

Muhammad Rifaldy Zelan

Muhammad Rifaldy Zelan adalah penyuka makanan pedas tapi gak suka berkeringat. Ia juga suka duduk-duduk di taman dengan pikiran kosong.