06/08/2026
Lifestyle Madge PCR

Memang Boleh Cowok Sebingung itu? Saya Ngobrol dengan Aliansi Laki-laki Baru untuk Cari Tahu Jawabannya

Benarkah cowok enggak boleh bingung? Sejauh mana cowok boleh bingung? Daripada kita bingung, mending baca sampai selesai.

  • August 6, 2026
  • 6 min read
  • 32 Views
Memang Boleh Cowok Sebingung itu? Saya Ngobrol dengan Aliansi Laki-laki Baru untuk Cari Tahu Jawabannya

Beberapa waktu belakangan, linimasa media sosial saya dipenuhi beragam konten berisi curahan hati perempuan tentang hubungan asmara. Mereka membagikan pengalaman menghadapi laki-laki yang tidak memberikan kejelasan dalam relasi.

Kesamaan pengalaman itu kemudian melahirkan satu istilah yang merangkum berbagai cerita tersebut, yakni “cowok bingung”.

Dari banyak cerita yang beredar, perempuan mengeluhkan laki-laki yang enggan berkomitmen, gemar tarik ulur, tidak memiliki tujuan yang jelas, dan tidak punya pendirian dalam hubungan. Namun, pada saat yang sama, mereka juga tidak ingin mengakhiri hubungan dengan pasangannya.

Istilah “cowok bingung” memang lekat dengan relasi romantis. Namun, dalam percakapan sehari-hari, saya juga menemukan istilah ini dipakai untuk menyebut laki-laki yang belum siap secara finansial, tidak tegas mengambil keputusan, atau masih kebingungan menentukan arah hidup.

Lantas, mengapa kebingungan laki-laki bisa menjadi viral hingga melahirkan istilah baru? Mengapa kita mengonstruksikan laki-laki seolah tidak boleh bingung? Atau, seperti apa kebingungan yang masih bisa dimaklumi? Untuk mencari jawabannya, saya berbincang dengan aktivis kesetaraan gender dari Aliansi Laki-Laki Baru.

Baca juga: Ada Apa dengan ‘Cowok Bingung’? Saat Validasi Jadi ‘Currency’ di Relasi

Asal-usul Istilah Cowok Bingung

Tak bisa dimungkiri, istilah cowok bingung mencuat setelah semakin banyak perempuan berani menceritakan pengalaman tidak menyenangkan dalam hubungan. Aktivis kesetaraan gender Aliansi Laki-Laki Baru, Wawan Suwandi atau akrab disapa Jundi, menilai fenomena ini dipengaruhi keberanian perempuan menyuarakan pengalaman mereka di media sosial.

“Generasi sekarang itu kan masuk kategori asertif atau blak-blakan, ya. Mereka menginformasikan apa yang mereka lihat, ditambah lagi dengan dukungan publikasi yang masif melalui media di era media sosial saat ini,” kata Jundi.

Seiring viralnya istilah tersebut, diskusi mengenai latar belakang perilaku cowok bingung pun bermunculan. Banyak media maupun konten di media sosial mengaitkannya dengan pola asuh sejak kecil hingga kondisi ekonomi saat ini yang dinilai membuat laki-laki semakin takut berkomitmen dalam hubungan.

Menurut Jundi, ada banyak faktor yang membentuk laki-laki menjadi cowok bingung. Salah satu faktor yang sulit dilepaskan adalah norma gender tradisional.

Dalam norma gender tradisional, laki-laki sering dimanjakan di lingkungan domestik. Mereka terbiasa dilayani dan tidak dibiasakan mengerjakan pekerjaan rumah. Namun, ketika dewasa, mereka justru dituntut menjadi sosok superhero yang superior, pemimpin, sekaligus mapan secara ekonomi.

“Jadi norma gender tradisional itu, dia memprioritaskan anak laki-laki. Selalu dilayani, tidak melakukan pekerjaan yang mestinya bisa dilakukan di rumah oleh anak laki-laki (pekerjaan domestik),” tutur Jundi saat diwawancara Magdalene (30/7).

Menurut Jundi, kondisi tersebut memunculkan paradoks maskulinitas. Laki-laki dituntut menjadi sosok superior, tetapi sejak kecil tidak dipersiapkan menjadi pribadi yang mandiri.

“Nah dari situ kita bisa melihat bahwa fenomena laki-laki bingung karena ada sesuatu yang tidak dipersiapkan dari kecil yaitu soal kemandirian. Dia tidak dipersiapkan mandiri karena sejak kecil dimanja oleh norma gender tradisional. Tapi ketika besar ada tugas yang sangat luar biasa,” kata Jundi.

Kesulitan menjadi mandiri, tegas, dan mengambil keputusan akibat pola pengasuhan tersebut pada akhirnya dapat memunculkan kebingungan sekaligus kecemasan saat menjalani kehidupan bermasyarakat. Mereka merasa kesulitan memenuhi ekspektasi sosial terhadap laki-laki.

“Jadi paradoks maskulinitas adalah kekhawatiran laki-laki tidak dapat memenuhi ekspektasi masyarakat atau keluarganya terhadap dirinya sebagai laki-laki sempurna. Dalam filosofi Jawa misalnya, poinnya (menjadi laki-laki sempurna) adalah soal kemapanan ekonomi, kemampuan mengambil keputusan, dan wawasan,” jelasnya.

Paradoks maskulinitas juga membuat sebagian laki-laki merasa insecure saat tidak memenuhi standar tersebut. Perasaan itu kemudian dapat membuat mereka enggan berkomitmen dalam hubungan.

“Makanya kemudian beberapa laki-laki itu merasa inferior kalau pasangannya punya gaji lebih besar atau pendidikannya lebih tinggi. Beberapa laki-laki tidak berani PDKT (pendekatan) sama perempuan yang pendidikannya di atas dia karena dia merasa inferior,” jelas Jundi.

Baca juga: Perempuan Matang dan Laki-laki yang Belum Selesai

Mengapa Cowok Bingung Terasa Janggal?

Jundi menjelaskan, norma gender tradisional yang menempatkan laki-laki sebagai sosok mapan, tegas, dan mampu mengambil keputusan membuat kebingungan laki-laki dianggap sebagai sesuatu yang janggal atau anomali.

Pandangan tersebut juga sejalan dengan artikel Vandello dan Bosson (2012) berjudul Hard Won and Easily Lost: A Review and Synthesis of Theory and Research on Precarious Manhood.

Dalam artikelnya, para penulis memaparkan status gender laki-laki merupakan status sosial yang rapuh karena harus terus diraih dan dipertahankan melalui tindakan yang dapat dilihat serta diakui orang lain.

Misalnya, seorang laki-laki baru dianggap sebagai lelaki sejati ketika mampu menjadi pencari nafkah, bersikap tegas, atau mengambil keputusan. Sebaliknya, ketika kehilangan pekerjaan, menangis di depan umum, atau mengaku belum siap berkomitmen, statusnya sebagai laki-laki kerap dipertanyakan. Karena itu, laki-laki cenderung mengalami kecemasan terhadap status gender mereka.

Dengan kata lain, yang membuat cowok bingung terasa janggal bukan semata-mata karena kebingungan itu sendiri. Anggapan tersebut muncul karena masyarakat telah lama mengonstruksikan laki-laki sebagai sosok yang selalu yakin, tegas, dan tahu arah hidupnya.

Jundi menilai istilah cowok bingung lebih tepat digunakan untuk menggambarkan ketidakjelasan sikap laki-laki dalam hubungan hingga merugikan pihak lain. Namun, ketika istilah itu dipakai untuk melabeli laki-laki secara umum seolah mereka tidak boleh bingung, harus selalu tegas, dan mapan, istilah tersebut justru berpotensi melanggengkan standar gender yang tidak sehat.

“Mestinya kan kita jadi agent of change dari norma gender yang timpang. Tapi kemudian beberapa dari kita justru menjadi agen pelanggeng norma gender yang timpang dengan menganggap laki-laki yang tidak mapan secara ekonomi adalah laki-laki gagal. Apalagi disebut laki-laki yang bingung,” katanya.

Bagi laki-laki yang merasa bingung dalam hubungan, Jundi menyarankan tiga langkah. Pertama, mengidentifikasi diri untuk memahami ketakutan dan harapan yang dimiliki. Setelah itu, hal-hal tersebut perlu dikomunikasikan kepada pasangan, alih-alih membiarkan hubungan menggantung tanpa kejelasan.

“Nah, kedua hal itu kalau sudah ketemu ya dikomunikasikan dengan pasangan atau orang yang sedang dia dekati,” saran Jundi.

Jika masih kesulitan memahami diri sendiri, Jundi juga mendorong laki-laki agar tidak ragu mencari bantuan kesehatan mental.

Baca juga: Mereka yang Bergaji Tinggi, tapi Merendah demi Suami

“Makanya jangan ragu untuk berdiskusi sama orang yang dipercaya atau kalau perlu ke profesional sekaligus supaya lebih jelas.”

Selain itu, Jundi menilai laki-laki perlu mendefinisikan ulang konsep maskulinitas agar tidak terjebak dalam maskulinitas beracun.

“Penting kita mendorong laki-laki untuk mendefinisikan ulang konsep maskulin, bahwa maskulin yang perlu kita praktikkan adalah maskulin positif. Misal membutuhkan bantuan tidak ragu untuk mencari bantuan, kita tidak ragu untuk mengapresiasi diri kita sendiri,” ucap Jundi.

“Karena kalau kita masih mempraktikkan maskulin yang toxic (beracun), ya kita akan terjebak dengan upaya mencari validasi pada orang lain: Bahwa kita adalah laki-laki keren dengan berupaya mati-matian menunjukkan (maskulinitas),” pungkasnya.

About Author

Muhammad Rifaldy Zelan

Muhammad Rifaldy Zelan adalah penyuka makanan pedas tapi gak suka berkeringat. Ia juga suka duduk-duduk di taman dengan pikiran kosong.