‘Love Bombing’ Hingga Budaya Menyalahkan Perempuan dalam Film ‘Penerbangan Terakhir’
Penerbangan Terakhir, film produksi VMS Studio arahan Benni Setiawan, mengangkat tema perselingkuhan di dunia penerbangan. Sebuah isu yang sebenarnya dekat dengan realitas, tetapi jarang dibicarakan secara serius di layar lebar Indonesia.
Lewat karakter Tiara (Nadya Arina), seorang pramugari baru, penonton diajak masuk ke relasi yang sejak awal tampak romantis, tetapi perlahan berubah menjadi toksik. Hubungannya dengan Kapten Deva (Jerome Kurnia) memperlihatkan bagaimana kerentanan perempuan sering kali dieksploitasi melalui praktik manipulatif yang dibungkus sebagai cinta. Tindakan manipulatif ini belakangan kita kenal dengan istilah love bombing.
Baca juga: ‘Love Bombing’: Saat Dihujani Cinta dari Doi Bisa Berbahaya
Dengan durasi hampir 1,5 jam film ini bukan hanya bercerita tentang perselingkuhan, tapi juga tentang bagaimana perempuan kerap menanggung beban stigma paling berat ketika relasi itu terbongkar.
Menonton film ini, membawa ingatan saya ke kasus viral Januari 2024: pengakuan TikToker Ira Nandha tentang perselingkuhan suaminya, Elmer Syaherman, dengan Bella Damaika, seorang pramugari. Saya masih ingat betul bagaimana amarah publik diarahkan nyaris sepenuhnya kepada Bella. Hujatan, makian, hingga pelabelan brutal membanjiri media sosial dan jejak digital itu masih tertinggal hingga hari ini. Tak sedikit pula yang menduga Penerbangan Terakhir terinspirasi dari kisah tersebut, meski film ini tentu berdiri sebagai fiksi. Ia dipromosikan sebagai adaptasi dari novel Gadis Pramugari, karya Annastasia Anderson.
Polanya terasa akrab. Dalam film, ketika perselingkuhan mencuat ke ruang publik melalui unggahan istri sah Kapten Deva (diperankan Aghniny Haque), Tiara yang jelas-jelas berada dalam relasi manipulatif justru menjadi sasaran utama amuk warganet. Ia dituding sebagai perebut suami orang, perempuan “nakal” dan sumber utama kerusakan rumah tangga.
Lagi-lagi, perempuanlah yang lebih dulu diseret ke ruang penghakiman publik.
Sementara itu, Kapten Deva sering muncul di pinggir cerita. Kadang diposisikan sebagai korban keadaan, kadang sekadar manusia yang “khilaf”. Jarang benar ia ditempatkan sebagai pusat kesalahan.
Dari sini, pertanyaan itu kembali muncul di kepala saya: Mengapa dalam begitu banyak kasus perselingkuhan, perempuan selalu menjadi tersangka utama?
Baca juga: ‘VIP’ Hingga ‘The World of The Married’: 4 Drakor Perselingkuhan yang Seru dan Penuh ‘Plot Twist’
Narasi Perempuan Jadi Tersangka Terus Berulang di Media dan Masyarakat
Dalam banyak perbincangan publik baik di media maupun media sosial ada pola bahasa yang terus berulang. Perempuan dengan mudah diberi label berat: pelakor, penggoda, perusak rumah tangga. Sementara laki-laki kerap mendapat narasi yang lebih lunak: terjebak, kurang perhatian, atau sekadar “namanya juga laki-laki”.
Bahasa semacam ini bukan sekadar pilihan kata. Ia mencerminkan cara pandang yang menempatkan perempuan sebagai penjaga moral, sementara laki-laki dianggap wajar jika tergelincir. Media sosial pun berubah menjadi ruang pengadilan bagi perempuan, dan ruang pembelaan tidak resmi bagi laki-laki.
Dalam kasus perselingkuhan, publik sering lupa atau sengaja melupakan bahwa ada laki-laki yang secara aktif membangun, mengelola, dan mempertahankan relasi ganda itu. Dialah yang mengenal kedua perempuan, dialah yang mengatur ritme kebohongan, tetapi justru posisinya sering lolos dari sorotan. Invisibilitas laki-laki inilah yang menurut saya merupakan sebuah privilese.
Buat saya, sebagai seseorang yang dibesarkan di desa, narasi semacam ini terasa sangat familiar.
Laki-laki diposisikan sebagai subjek yang bebas memilih, sementara perempuan adalah objek yang dipilih. Ketika laki-laki berselingkuh, selalu ada saja alasan yang disiapkan: istrinya kurang perhatian, kurang merawat diri, atau tidak cukup “melayani”. Seolah-olah perselingkuhan adalah respons yang bisa dimaklumi.
Penerbangan Terakhir dengan jelas memperlihatkan bagaimana stereotip ini bekerja. Perempuan diperlakukan sebagai “liyan” yang lain, yang berbeda, yang mudah dipersalahkan.
Pemikir feminis Simone de Beauvoir dalam The Second Sex menyebut perempuan sebagai liyan karena tidak diberi ruang untuk mendefinisikan eksistensinya sendiri. Dalam konteks perselingkuhan, istri dianggap “perempuan baik” jika mampu menjaga kesetiaan suami. Jika suami berselingkuh, maka ia pula yang dinilai gagal. Sementara perempuan kedua langsung dicap sebagai penggoda, tanpa upaya kritis untuk mempertanyakan peran dan tanggung jawab laki-laki.
Akibatnya, perempuan baik yang pertama maupun yang kedua dipaksa saling berhadapan, saling disalahkan, dan saling menanggung beban moral. Laki-laki, lagi-lagi, berada di luar lingkaran penghakiman.
Di bagian akhir film, pola ini terasa semakin jelas dan terlihat. Suara perempuan tenggelam. Ketika Tiara mencoba berbicara, suaranya dianggap tidak kredibel. Publik sudah lebih dulu menentukan siapa yang bersalah. Media sosial mengamplifikasi kesalahannya: foto, video, identitas pribadi disebar tanpa ampun. Sementara kesalahan laki-laki nyaris tenggelam.
Ketimpangan ini begitu telanjang, tetapi sering dianggap biasa. Barangkali karena kita sudah terlalu lama dilatih untuk melihat perempuan sebagai pelaku tunggal, dan laki-laki sebagai pihak yang pantas dimaklumi.
Yang paling menyedihkan, dampaknya tidak berhenti pada hari ini. Jejak digital akan terus mengikuti perempuan yang distigmatisasi menghantui hidupnya, bahkan mungkin dibaca oleh anak-cucunya kelak. Inilah bentuk kekerasan simbolik ketika bahasa dan opini publik menjadi alat penghukuman tanpa sentuhan fisik.
Baca juga: Tak Melulu Nestapa: 5 FTV dengan Cerita Perempuan Berdaya
Tentang Love Bombing dan Kewaspadaan
Salah satu pesan penting Penerbangan Terakhir adalah ajakan untuk lebih waspada terhadap love bombing. Produser Tony Ramesh pernah menyampaikan bahwa ide film ini berangkat dari realitas relasi kuasa dan perilaku manipulatif yang kerap terjadi di ruang kerja. Film ini diharapkan menjadi peringatan, terutama bagi perempuan, agar lebih berani menyadari dan menyuarakan ketidaknyamanan dalam hubungan yang tidak sehat.
Pujian berlebihan, perhatian intens, dan janji-janji manis yang diberikan Kapten Deva kepada banyak perempuan bukanlah bentuk cinta, melainkan jebakan. Love bombing adalah strategi manipulasi memberi kasih sayang secara berlebihan dalam waktu singkat untuk mengendalikan emosi korban.
Sebagai perempuan akhirnya penting sekali kita mengenali tanda-tandanya: Pujian yang tak masuk akal, intensitas emosional yang terlalu cepat, hadiah berlebihan, hingga upaya mengontrol waktu dan ruang pribadi. Menetapkan batasan bukan berarti tidak mencintai, tetapi justru cara menjaga diri.




















