17/07/2026
Issues Opini Politics & Society

Anak Saya Dirundung di PAUD, dan Saya Menolak Diam

Perundungan di PAUD sering diremehkan sebagai bercanda. Padahal, anak-anak perlu belajar sejak dini tentang batas tubuh, empati, dan konsekuensi, sementara sekolah dan orang tua wajib menciptakan ruang belajar yang aman.

  • July 13, 2026
  • 5 min read
  • 333 Views
Anak Saya Dirundung di PAUD, dan Saya Menolak Diam

Tidak pernah terpikir oleh saya bahwa ruang kelas Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), yang selama ini saya bayangkan sebagai tempat anak belajar, bermain, dan merasa aman, justru menjadi tempat anak saya mengalami perundungan berulang.

Anak saya masih balita. Usianya terlalu kecil untuk memahami sepenuhnya mengapa teman-temannya bisa menyakitinya. Namun, ia cukup paham bahwa ada sesuatu yang tidak beres ketika celananya ditarik ke bawah di depan umum, tubuhnya didorong dari perosotan, alat mewarnainya diambil, gantungan kuncinya dirampas, hingga akhirnya tas sekolahnya digunting.

Yang membuat saya semakin terpukul adalah respons sekolah. Wali kelas beberapa kali menyederhanakan kejadian itu sebagai gurauan antar-anak. Sebagai ibu, saya sulit menerima dalih itu. Bercanda seharusnya membuat dua pihak tertawa, bukan membuat satu anak takut, malu, dan merasa tidak aman. Ketika tindakan yang melukai terus diulang oleh orang yang berbeda, kita tidak bisa lagi menyebutnya kenakalan biasa. Itu sudah menjadi pola.

Katanya, anak-anak sudah saling memaafkan. Sekilas, kalimat itu terdengar menenangkan. Namun, bagi saya, “sudah saling memaafkan” kerap menjadi jalan pintas yang mengaburkan posisi korban dan pelaku.

Anak saya yang terluka diminta kembali duduk bersebelahan dengan anak yang menyakitinya. Alih-alih diberi ruang aman, ia justru ditempatkan kembali dalam situasi rentan. Saya melihat sendiri bagaimana pembiaran kecil demi pembiaran kecil membuat anak saya menjadi sasaran terus-menerus.

Ketika kondisi psikologis anak saya semakin tertekan, saya mencoba berbicara dengan beberapa orang tua murid lain. Saya berharap mendapat dukungan, atau setidaknya sudut pandang yang membantu. Namun, sebagian tanggapan justru memojokkan. Anak saya dianggap terlalu lemah. Saya diminta mengajarinya melawan karena tubuhnya memang paling kecil di kelas.

Saya menolak logika itu. Perundungan bukan tentang siapa yang paling kecil, paling pendiam, atau paling mudah menangis. Perundungan adalah tentang perilaku menyakiti yang dibiarkan. Menyuruh korban “melawan” tanpa membenahi lingkungan hanya memindahkan tanggung jawab dari orang dewasa kepada anak kecil yang sedang terluka.

Saya juga tidak bisa menerima ketika sekolah justru menegur saya agar anak saya tidak membawa mainan ke sekolah. Padahal, di kelas yang sama, banyak anak lain membawa gantungan kunci atau alat tulis berbentuk aksesori menarik. Bagi saya, teguran itu terasa seperti pengalihan tanggung jawab. Mengapa anak saya yang dibatasi, sementara perilaku merampas, merusak, dan mempermalukan tidak ditangani secara serius?

Baca Juga: 3 Cara Setop Normalisasi Perundungan di Sekolah

Ketika “Bercanda” Menjadi Pembiaran

Kita sering menganggap konflik di usia PAUD tidak perlu dibesar-besarkan karena pelakunya masih kecil. Namun, justru sejak usia dini anak perlu belajar tentang batas tubuh, empati, dan konsekuensi. Menarik celana teman ke bawah bukan sekadar bercanda. Itu pelanggaran terhadap batas tubuh. Mendorong teman dari perosotan bukan sekadar bermain kasar. Itu bisa membahayakan fisik. Merampas dan merusak barang teman bukan sekadar “anak-anak memang begitu”. Itu perilaku yang harus dihentikan dan diarahkan.

Jika sejak kecil anak diajarkan bahwa mempermalukan tubuh orang lain bisa dimaklumi sebagai humor, kita sedang mengaburkan konsep consent dan body boundaries. Jika anak yang menyakiti hanya diminta minta maaf tanpa benar-benar dibantu memahami dampak perbuatannya, kita sedang mengajarkan bahwa kekerasan bisa selesai dengan kata-kata singkat.

Dalam buku The Bully, the Bullied, and the Bystander, Barbara Coloroso mengingatkan bahwa perundungan tidak hanya melibatkan pelaku dan korban, tetapi juga orang-orang di sekitar yang memilih diam. Sikap abai orang dewasa dapat membuat rantai perundungan terus hidup. Dalam konteks sekolah, diam bukan sikap netral. Diam bisa menjadi bentuk pembiaran.

Setelah saya membagikan pengalaman ini, beberapa teman sesama orang tua mulai bercerita. Ternyata anak-anak mereka juga pernah mengalami hal serupa di sekolah yang berbeda. Polanya mirip: dimulai dari “bercanda”, lalu berkembang menjadi ejekan, pemaksaan meminta barang atau uang, hingga tindakan fisik. Dari cerita-cerita itu, hanya sedikit sekolah yang benar-benar menangani masalah secara serius. Banyak yang berhenti pada teguran verbal, tanpa pendampingan, pemantauan, atau komunikasi yang jelas dengan orang tua.

Di tengah semua kekecewaan itu, saya tetap menyimpan rasa bangga kepada anak saya. Ia tidak memendam semuanya sendirian. Ia berani bercerita kepada saya dan gurunya. Bagi saya, itu bukan sikap cengeng, melainkan keberanian.

Anak yang melapor sedang meminta bantuan orang dewasa untuk melindunginya. Ia sedang percaya bahwa ada orang yang akan mendengarkan. Tugas kita bukan menyuruhnya diam atau membalas dengan kekerasan, melainkan memastikan kepercayaannya tidak dikhianati.

Baca Juga: Drama Korea ‘Study Group’: Aksi Seru di Sekolah yang Penuh Kekacauan

Akhirnya, saya mengambil langkah lebih jauh. Saya menghubungi kepala sekolah PAUD untuk memprotes pembiaran ini. Saya juga melacak dan menghubungi sekolah dasar yang berada di bawah yayasan yang sama, karena anak saya akan masuk ke SD yang sama dengan salah satu pelaku utama. Saya menghubungi beberapa guru secara personal dan mendesak agar sekolah memiliki edukasi terstruktur tentang perundungan.

Hasilnya, pada hari pertama Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), saya menerima rundown yang mencantumkan sosialisasi bullying sebagai salah satu agenda. Itu bukan akhir dari perjuangan, tetapi setidaknya menjadi tanda bahwa suara orang tua bisa mendorong perubahan.

Melalui tulisan ini, saya ingin memberi pelukan kepada orang tua yang anaknya sedang mengalami perundungan: Anda tidak sendirian. Anak Anda tidak lemah. Jangan ragu bersuara ketika keselamatan fisik dan emosional anak dipertaruhkan.

Kepada sekolah, saya berharap keselamatan anak tidak diperlakukan sebagai urusan tambahan. Edukasi tentang perundungan, batas tubuh, empati, dan resolusi konflik yang adil harus menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari di kelas, bukan hanya materi sosialisasi sesekali.

Kepada sesama orang tua, kita juga perlu berani melihat ke rumah masing-masing. Apa yang ditonton anak? Bagaimana kita merespons ketika anak menyakiti orang lain? Apakah kita mengajarkan empati, atau justru menormalisasi sikap agresif sebagai keberanian?

Sekolah dan rumah harus menjadi dua pilar yang saling menguatkan. Sebab diam terhadap perundungan, sekecil apa pun usia anak yang melakukannya, berarti membiarkan kekerasan tumbuh dengan nama lain: bercanda.

About Author

Rully Restiana