Aku Dita, 37 tahun, seorang ibu rumah tangga. Setiap hari aku mengurus keluarga sepenuhnya: menyiapkan makan, mencuci, merapikan rumah, mengantar dan menjemput anak, serta memastikan semua kebutuhan kecil yang sering tidak terlihat tetap berjalan.
Di atas kertas, hidupku mungkin terlihat biasa saja. Tapi di laci rumah, ada ijazah S1 dan S2 dengan predikat cum laude. Aku bahkan pernah dinobatkan sebagai lulusan terbaik. Dulu, pencapaian itu membuatku bangga. Sekarang, setiap pagi ketika aku masih memakai daster lusuh sambil menjemur cucian, rasa bangga itu sering berubah menjadi minder yang datang tanpa diundang.
Apalagi saat melihat tetanggaku, Pinky, berangkat kerja. Ia selalu tampak rapi, wangi, memakai seragam atau blazer, lalu masuk ke mobil dengan wajah yang terlihat siap menghadapi hari. Sementara aku masih berdiri di depan rumah dengan rambut seadanya dan tangan penuh cucian.
Baca Juga: Juliana Melawan Stigma: Kisah Sarjana Perempuan Pertama dari Suku Anak Dalam
Suatu pagi, aku memberanikan diri mengobrol dengan Pinky. Ternyata, di saat aku merasa minder dan insecure, perempuan berusia 32 tahun itu pun menyimpan luka yang berbeda. Ia berangkat kerja ketika anaknya yang baru berusia tiga tahun masih terlelap. Padahal, hatinya ingin sekali memeluk si kecil yang sedang lucu-lucunya. Ia ingin menyiapkan sarapan sederhana, tapi rapat pagi menuntutnya segera berangkat.
Di balik seragam rapi dan parfum wangi yang tampak meyakinkan, ada rasa bersalah yang terus menempel, seperti bayangan yang tak pernah hilang. Saat aku merasa kecil di balik daster lusuh, ia merasa hampa di balik blazer elegan. Dua sudut pandang itu membuatku sadar, ternyata bukan hanya aku yang merasa tidak cukup.
Dari situ aku mulai melihat pola yang lebih besar. Yang biasanya paling sering menanggung rasa bersalah adalah perempuan. Seorang ibu rumah tangga dianggap menyia-nyiakan pendidikan tinggi yang sudah dibiayai orang tuanya karena memilih tidak bekerja. Sementara seorang ibu bekerja dianggap egois karena meninggalkan anak di bawah pengasuhan babysitter atau asisten rumah tangga. Seolah-olah perempuan tidak pernah benar. Apa pun pilihannya, selalu ada tudingan yang menempel.
Di lain pihak, laki-laki, meski juga diharapkan berperan dalam rumah tangga, mendidik anak, dan menjalankan pekerjaan domestik, tetap tidak dibebani ekspektasi seberat perempuan. Beban itu melekat, seakan menjadi bayangan yang mengikuti perempuan ke mana pun ia melangkah.
Beban itu bukan hanya cerita personal, melainkan juga fakta sosial yang bisa diukur. Angka-angka menunjukkan bahwa rasa minder dan rasa bersalah yang kami alami bukan sekadar perasaan pribadi, melainkan bagian dari realitas yang dialami banyak perempuan di Indonesia.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) 2024 menunjukkan 14,37 persen perempuan Indonesia menjadi pencari nafkah utama keluarga. Ironisnya, meski menopang ekonomi rumah tangga, banyak perempuan tetap tercatat hanya sebagai “istri” dalam dokumen resmi. Riset akademik juga menegaskan bahwa norma patriarki membuat perempuan tetap harus mengurus pekerjaan domestik meski aktif bekerja di sektor publik.
Survei 2025 bahkan menemukan lebih dari 54 persen perempuan pekerja mengalami kelelahan dan stres akibat peran ganda sebagai ibu, istri, dan pekerja. Fakta ini memperlihatkan bahwa beban ganda perempuan bukan sekadar wacana, melainkan realitas sehari-hari yang menggerus kualitas hidup mereka.
Baca Juga: Ibu-ibu yang Menunggu di Depan Kelas
Belajar Melepas Ekspektasi yang Tidak Bisa Kita Kendalikan
Di sini, aku menemukan Stoicism sebagai salah satu cara untuk membaca ulang rasa bersalah itu. Stoicism mengingatkan bahwa ekspektasi orang lain berada di luar kendali kita. Apa pun pilihan perempuan, selalu ada suara yang menilai. Namun, kita tidak perlu tunduk pada semua suara luar itu. Yang bisa kita kendalikan adalah sikap, pilihan, dan cara menjalani hidup. Selebihnya, biarlah berjalan sebagaimana adanya.
Stoicism sendiri adalah aliran filsafat kuno yang lahir di Yunani sekitar abad ke-3 SM oleh Zeno dari Citium, lalu berkembang di Roma melalui tokoh-tokoh seperti Seneca, Epictetus, dan Marcus Aurelius. Intinya sederhana: manusia hanya punya kendali atas pikiran, sikap, dan tindakannya sendiri. Sementara hal-hal eksternal, seperti status sosial, penilaian orang lain, atau komentar sekitar, berada di luar kuasa kita.
Kalimat Marcus Aurelius dalam Meditations terasa relevan untuk perempuan yang setiap hari berhadapan dengan suara luar: “You have power over your mind — not outside events. Realize this, and you will find strength.”
Aku memahaminya begini: ketenangan batin tidak datang dari upaya membuat semua orang memahami pilihan kita. Ketenangan justru datang ketika kita sadar bahwa kita tidak mungkin mengendalikan semua penilaian orang lain.
Bagi ibu rumah tangga sepertiku, komentar tentang “menyia-nyiakan pendidikan” adalah sesuatu yang berada di luar kendali. Yang bisa kukendalikan adalah kualitas pengasuhan, kasih sayang, dan ketekunan dalam membangun rumah tangga. Gelar akademikku tidak hilang hanya karena hari-hariku diisi dengan pekerjaan domestik.
Begitu pula bagi ibu bekerja seperti Pinky. Rasa bersalah karena meninggalkan anak sering kali lahir dari ekspektasi eksternal tentang ibu yang “seharusnya” selalu hadir. Yang bisa ia kendalikan adalah bagaimana ia tetap mencintai anaknya, bekerja dengan penuh tanggung jawab, dan menjalani pilihan hidupnya sebaik mungkin.
Dengan cara ini, perempuan tidak lagi harus terus-menerus terjebak dalam dilema minder atau bersalah. Kita bisa mulai menyadari bahwa ekspektasi orang lain bukanlah ukuran tunggal atas nilai diri kita.
Pada akhirnya, perempuan akan selalu dibayangi ekspektasi, apa pun pilihan hidupnya. Selalu ada suara yang menilai, selalu ada standar yang bergeser, selalu ada tuntutan baru yang seolah harus dipenuhi. Namun, mungkin kita tidak harus hidup untuk menjawab semua tudingan itu.
Yang bisa kita kendalikan hanyalah sikap, pilihan, dan kebajikan yang kita jalani setiap hari. Dengan prinsip itu, perempuan bisa berhenti merasa bersalah atau minder, dan mulai berdamai dengan dirinya sendiri.
Karena nilai seorang perempuan tidak ditentukan oleh label sosial, apakah ia ibu rumah tangga atau ibu bekerja, memakai daster lusuh atau blazer rapi. Nilainya juga tidak hilang hanya karena hidupnya tidak berjalan sesuai ekspektasi orang lain.
Di situlah letak kekuatan sejati: ketenangan batin yang tidak mudah digoyahkan oleh suara luar.





















