17/07/2026
Issues Opini

Di Balik Sawit Berkelanjutan, Ada Kerja Perempuan yang Sering Tak Terlihat

Sawit berkelanjutan tidak cukup dibicarakan dari kebun, pasar, atau sertifikasi. Ia juga perlu dilihat dari rumah tangga petani: siapa bekerja, siapa memegang uang, dan siapa ikut mengambil keputusan.

  • July 13, 2026
  • 5 min read
  • 296 Views
Di Balik Sawit Berkelanjutan, Ada Kerja Perempuan yang Sering Tak Terlihat

Ketika membicarakan sawit berkelanjutan, yang sering muncul biasanya soal produksi, rantai pasok, praktik budidaya, pasar, dan sertifikasi. Semua itu penting. Namun, ada satu ruang yang sering luput dibicarakan: rumah tangga petani.

Padahal, banyak keputusan penting tentang sawit justru berawal dari rumah. Siapa yang pergi ke kebun dan memanen sawit? Siapa yang tinggal di rumah untuk memasak dan merawat keluarga? Siapa yang memegang uang hasil panen? Siapa yang menentukan penggunaannya? Siapa yang boleh ikut rapat kelompok, pelatihan, atau mengambil keputusan di luar rumah?

Pertanyaan-pertanyaan ini tampak sederhana, tetapi dari sanalah kehidupan petani sawit berjalan setiap hari. Karena itu, membicarakan sawit berkelanjutan tidak cukup hanya berhenti di kebun atau pasar. Kita juga perlu melihat apa yang terjadi di dapur, ruang keluarga, kebun, kelompok perempuan, dan percakapan sehari-hari antara suami dan istri.

Himpunan Serikat Perempuan Indonesia (HAPSARI) mencatat pembelajaran ini dalam proyek HORAS Hub bersama SNV Netherlands Development Organisation di Sumatera Utara pada 2025. Dalam proyek ini, kami belajar bahwa kesetaraan gender dan inklusi sosial (GESI) tidak cukup hadir sebagai istilah dalam modul atau laporan. Ia harus bisa dipahami dalam bahasa sehari-hari komunitas petani sawit.

Di HAPSARI, percakapan tentang GESI tidak dimulai dengan istilah yang rumit. Kami memulainya dari hal-hal yang dekat dengan hidup peserta. Misalnya, “Jam berapa Ibu harus bangun pagi supaya bisa datang tepat waktu ke pelatihan pukul 08.00?”

Pertanyaan sederhana itu sering membuka cerita panjang. Ada yang tertawa, ada yang saling membenarkan, ada juga yang berani menyangkal. Dari situ peserta mulai melihat bahwa pembagian peran di rumah bukan sesuatu yang netral. Ada pekerjaan yang otomatis dianggap tugas perempuan, ada ruang yang lebih mudah diakses laki-laki, dan ada keputusan yang jarang melibatkan suara perempuan.

Kami membawa percakapan ini dalam kegiatan Dialog Rumah Tangga. Bukan untuk menyalahkan salah satu pihak, melainkan untuk membantu keluarga melihat kembali cara mereka membagi peran, waktu, tenaga, dan keputusan.

Catatan pentingnya, percakapan semacam ini memang bisa ditulis rapi dalam modul. Namun, hidup perempuan tidak otomatis berubah hanya karena modul selesai dibacakan, daftar pertanyaan dijawab, dan kelas pelatihan ditutup. Perubahan membutuhkan percakapan berulang, rasa percaya yang tumbuh pelan-pelan, dan keberanian melihat hal-hal kecil yang selama ini dianggap biasa.

Baca Juga: Girl to Girl’, Media Perempuan Belum Tentu buat Perempuan

Kader Perempuan Sebagai Penghubung

Selain fasilitator kegiatan, kami selalu melibatkan kader perempuan desa di lokasi program. Peran mereka penting karena mereka memahami bahasa lokal, kebiasaan warga, rasa sungkan atau malu, serta cara yang tepat untuk memulai percakapan yang sensitif.

Kader perempuan desa bukan sekadar pelaksana kegiatan. Mereka adalah penghubung antara pesan program dan kehidupan sehari-hari warga. Mereka tahu kapan harus berbicara, kapan harus menunggu, dan bagaimana membuka percakapan tanpa terasa menggurui. Pengalaman hidup mereka juga sering dekat dengan peserta, sehingga obrolan terasa lebih jujur.

Fasilitator tetap dibutuhkan untuk membuka ruang belajar dan membantu peserta melihat pengalaman mereka dengan cara baru. Namun, agar percakapan tidak berhenti setelah pelatihan selesai, kader perempuan desa memegang peran yang sangat penting. Mereka hadir di dapur, halaman rumah, kebun, kelompok arisan, dan ruang-ruang kecil tempat perempuan biasa saling bercerita.

Di ruang-ruang seperti itulah perubahan sering kali mulai terlihat. Misalnya, ketika seorang perempuan mulai berani menyampaikan pendapat tentang penggunaan uang hasil panen. Atau ketika suami mulai menyadari bahwa pekerjaan rumah dan kerja kebun sama-sama melelahkan. Atau ketika keluarga mulai membicarakan keputusan bersama, bukan hanya menyerahkannya kepada satu orang.

Di sisi lain, GESI bisa kehilangan makna ketika diperlakukan hanya sebagai urusan teknis proyek. Dalam dokumen, semuanya bisa tampak rapi: ada tujuan, indikator, modul, jumlah peserta, jadwal kegiatan, dan laporan. Semua itu tentu dibutuhkan. Namun, persoalannya muncul ketika GESI dianggap selesai setelah sejumlah perempuan mengikuti pelatihan.

Padahal, ukuran keberhasilan tidak hanya terletak pada jumlah peserta. Kita juga perlu melihat apakah perempuan mulai lebih percaya diri berbicara, apakah laki-laki mulai memahami beban kerja istrinya, apakah keluarga mulai terbuka membicarakan uang hasil panen, dan apakah desa mulai melihat perempuan sebagai bagian penting dari ekonomi sawit.

Pemikir feminis Naila Kabeer dalam The Conditions and Consequences of Choice mengingatkan bahwa pemberdayaan perempuan tidak cukup dilihat dari sumber daya yang tersedia. Yang juga penting adalah apakah perempuan punya kemampuan mengambil keputusan, serta apakah keputusan itu benar-benar membawa perubahan dalam hidup mereka.

Baca Juga: Nasib Perempuan Pekerja: Batas Umur di Loker Lebih Merugikan Perempuan?

Dalam konteks petani sawit, ini berarti perempuan tidak hanya hadir di pelatihan atau tercatat dalam daftar peserta. Mereka juga perlu punya ruang untuk bicara, berpendapat, dan ikut menentukan hal-hal yang memengaruhi hidup keluarga mereka.

Sawit tidak akan sungguh-sungguh berkelanjutan jika hanya kebunnya yang dibenahi, sementara kehidupan di rumah tangga petani dibiarkan timpang. Tanah bisa dijaga, rantai pasok bisa ditelusuri, dan praktik budidaya bisa diperbaiki. Namun, keberlanjutan juga harus tumbuh dalam keluarga yang lebih adil dan komunitas yang mau mendengar suara perempuan.

Karena itu, GESI seharusnya tidak berhenti sebagai bahasa proyek. Ia perlu hadir dalam hal-hal yang sangat sehari-hari: siapa yang bangun paling pagi, siapa yang menanggung pekerjaan rumah, siapa yang ikut mengambil keputusan, dan siapa yang selama ini suaranya jarang didengar.

Dari rumah tangga petani, kita bisa melihat bahwa sawit berkelanjutan bukan hanya soal kebun yang lebih baik, tetapi juga keluarga yang lebih setara. Di sana, perempuan tidak hanya dihitung sebagai peserta, tetapi diakui sebagai bagian penting dari kehidupan dan masa depan sawit.

About Author

Laili Zailani

Lely adalah fasilitator pemberdayaan perempuan, pendiri HAPSARI dan Rumah Kata. Fellow Ashoka Indonesia (2000), serta penulis yang percaya bahwa cerita adalah alat perubahan.