04/08/2026
Culture Opini

Dear Teman-teman Milenialku, Kenapa ‘Honk!’ dari no na Layak Didengar

Honk! mungkin tak langsung klik di telinga milenial. Namun, lagu ini menawarkan cara baru bercerita tentang keseharian, identitas, dan cara perempuan muda menegosiasikan agensinya.

  • August 4, 2026
  • 8 min read
  • 33 Views
Dear Teman-teman Milenialku, Kenapa ‘Honk!’ dari no na Layak Didengar

Foto: Instagram/nonawav

Teman-teman milenial, aku paham sebagian dari kita mungkin merasa susah terhubung dengan lagu Honk! dari no na. Mungkin kita juga bertanya, sebenarnya lagu ini sedang bercerita tentang apa, sih?

Jujur, aku pun sempat merasakan hal yang sama. Bukan karena lagu yang dinyanyikan Baila Fauri, Christy Gardena, Shazfa Adesya, dan Esther Geraldine ini enggak bisa dinikmati. Namun, cara mereka menyusun cerita terasa berbeda dari musik yang selama ini akrab di telinga kita, generasi cohort 1990-an.

Honk! menumpuk banyak elemen dalam waktu bersamaan. Ada angkot, suara “Om Telolet Om”, lirik berbahasa Inggris, slang khas Generasi Z, latar apartemen padat, es kelapa muda, rombongan pekerja kantoran yang buru-buru pulang, hingga suasana warung Madura. Buat kita, susunan seperti ini mungkin terasa random dan too much untuk dicerna sekaligus. Namun, kalau dicermati lebih jauh, potongan-potongan itu saling terhubung membentuk dunia yang ingin dibangun no na.

Barangkali, rasa asing itu muncul karena kita tumbuh dengan cara menikmati musik yang berbeda. Sejak sekolah, kita terbiasa dengan cerita yang memiliki alur jelas: Ada pembuka, konflik, klimaks, hingga penutup. Pola semacam ini juga banyak hadir dalam lagu-lagu yang menemani masa remaja kita.

Masa remajaku sendiri ditemani musisi seperti Sheila On 7, Dewa 19, Padi, Peterpan, hingga Maliq & D’Essentials. Dari luar negeri, ada Avril Lavigne, Maroon 5, Westlife, Backstreet Boys, hingga Taylor Swift. Lagu-lagu mereka melekat di ingatan karena menghadirkan pengalaman personal yang terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari, mulai dari jatuh cinta, kehilangan, patah hati, hingga proses mencari jati diri.

Kita terbiasa mendengarkan lagu seperti mengikuti perjalanan seseorang. Ada cerita yang berjalan, emosi yang berubah, lalu kesan yang tertinggal setelah lagu selesai. Sementara itu, Honk! memilih jalan yang berbeda. no na tidak membawa pendengar mengikuti satu kisah dari awal sampai akhir, melainkan mengajak kita menangkap suasana dan pengalaman yang hadir bersamaan. Mungkin itu sebabnya lagu ini terasa asing di awal, tetapi perlahan menemukan maknanya ketika kita melihat gambaran besarnya.

Baca juga: Dari NIKI hingga No Na: Musisi yang Berhasil di Tengah Absennya Negara

Cara Baru Bercerita lewat Potongan Keseharian

Cara no na membangun cerita dalam Honk! terasa dekat dengan kebiasaan generasi yang tumbuh bersama media sosial. Analoginya mirip unggahan August dump atau September dump di Instagram. Isinya bisa campur aduk, mulai dari foto makanan, perjalanan pulang, selfie di kaca pinggir jalan, screenshot percakapan, hingga momen-momen kecil yang sekilas tampak tidak saling berkaitan.

Jika dilihat satu per satu, foto-foto tersebut mungkin terasa acak. Namun, ketika disusun dalam satu unggahan, kita justru dapat menangkap cerita yang lebih utuh tentang suasana bulan itu, apa yang dirasakan pemilik akun, serta bagaimana ia ingin mengingat pengalaman tersebut. Cara semacam itulah yang digunakan no na dalam Honk!.

Angkot, suara “Om Telolet Om”, bahasa Inggris, slang, apartemen, es kelapa muda, pekerja kantoran yang buru-buru pulang, hingga warung Madura bukan sekadar daftar elemen agar lagu terdengar ramai. Seluruhnya bekerja layaknya potongan adegan yang membentuk kehidupan perempuan muda urban. Masing-masing memang tampak kecil, tetapi ketika dirangkai, semuanya menghadirkan dunia yang ingin dibangun no na.

Pendekatan tersebut sebenarnya sudah terlihat sejak no na debut pada 2025 lewat Shoot di bawah label 88rising. Konsistensi itu berlanjut dalam Rollerblade hingga Honk!, melalui penggunaan bahasa campuran, simbol budaya populer, dan berbagai detail keseharian yang dekat dengan pengalaman anak muda Indonesia.

Salah satu simbol yang paling menonjol dalam Honk! adalah angkot. Namun, no na tidak hanya menghadirkannya sebagai latar. Mereka juga menyisipkan momen-momen komikal yang terasa sangat akrab bagi banyak orang Indonesia. Misalnya, ada adegan ketika salah satu penumpang berlari mengejar angkot merah muda yang dikendarai Christy karena kendaraan itu telanjur melaju. Adegan singkat tersebut mungkin tampak sepele, tetapi justru mengingatkan banyak penonton pada pengalaman sehari-hari yang nyata.

Sebagai pengguna angkot jalur Citayam-Terminal Depok dan KRL untuk mobilitas sehari-hari, aku langsung teringat pengalaman yang mungkin juga dialami banyak orang. Di angkot biru Citayam, selama satu kaki sudah menginjak pijakan, sopir biasanya menganggap penumpang sudah naik lalu langsung tancap gas. Momen-momen kecil seperti itulah yang membuat Honk! terasa dekat. No na tidak sedang bercerita tentang angkot, melainkan menggunakan pengalaman yang akrab bagi banyak warga urban Indonesia untuk membangun dunia dalam lagu mereka.

Lewat lirik,

Get on the angkot
Beep-beep

angkot bukan sekadar kendaraan, melainkan salah satu fragmen yang menyusun kehidupan sehari-hari. Bersama simbol-simbol lain, pengalaman-pengalaman kecil tersebut membuat Honk! terasa hidup. Ceritanya tidak dibangun melalui satu alur yang utuh, melainkan melalui potongan keseharian yang begitu dekat dengan pengalaman banyak pendengarnya.

Baca juga: Dari ‘Backburner’ sampai ‘The Apartment We Won’t Share’: Kenapa Sosok Ibu dan Ayah Kerap Muncul di Lagu NIKI?

Ajakan pada Perempuan untuk Merayakan Diri

Bagian pembuka Honk! langsung memberi petunjuk tentang cara no na memperkenalkan dirinya.

Look at me, look at her.

Kalimat ini menempatkan empat anggotanya sebagai pusat narasi sejak awal. Pendekatan tersebut diperkuat melalui visual music video-nya. Hampir sepanjang video, kamera mengikuti pergerakan no na lewat kombinasi close-upmedium shot, dan wide shot. Mereka tampil bernyanyi, menari, bercanda, berpindah dari satu ruang ke ruang lain, serta berinteraksi dengan berbagai elemen keseharian.

Cara pengambilan gambar yang berpusat pada perempuan dibahas oleh Laura Mulvey dalam Visual Pleasure and Narrative Cinema (1975). Ia menjelaskan kamera dalam sinema modern erat hubungannya dengan konsep male gaze, yakni cara pandang yang menempatkan perempuan sebagai objek visual, agar menarik bagi penonton.

Namun menurut saya, pembacaan terhadap Honk! Enggak sesederhana itu. Memang terdapat sejumlah close-up pada wajah, bibir, pinggang, maupun bagian tubuh tertentu yang sempat memunculkan tudingan oversexualized dari sebagian warganet. Namun, close-up merupakan teknik visual yang lazim digunakan dalam video musik untuk membangun ritme, karakter, dan kedekatan dengan penonton. Karena itu, maknanya tidak dapat dilepaskan dari keseluruhan narasi visual yang dibangun.

Dalam Honk!, sorotan kamera pada no na selalu hadir bersamaan dengan berbagai simbol keseharian, mulai dari angkot, jalanan kota, hingga warung Madura. Penampilan mereka tidak dipisahkan dari ruang yang mereka tempati. Sebaliknya, tubuh, gaya berpakaian, koreografi, ekspresi wajah, dan lanskap urban dirangkai menjadi satu kesatuan yang membentuk citra no na.

Cara no na membangun citra tersebut dapat dibaca melalui pemikiran Rosalind Gill dalam Postfeminist Media Culture: Elements of a Sensibility (2007). Gill menjelaskan budaya media kontemporer memperlihatkan pergeseran dari perempuan sebagai object menjadi subject yang aktif membangun citra dirinya. Perempuan tidak lagi sekadar dipandang, tetapi juga didorong mengelola tubuh, penampilan, gaya hidup, dan identitas sebagai bagian dari proyek diri yang terus diperbarui.

Menurut Gill, proses tersebut dibingkai sebagai bentuk choice dan agency. Perempuan tampak bebas menentukan bagaimana ingin berpakaian, bergerak, berbicara, dan menampilkan diri di ruang publik. Namun, kebebasan tersebut tidak pernah sepenuhnya netral. Pilihan-pilihan itu tetap dipengaruhi standar kecantikan, daya tarik visual, dan logika industri media. Karena itu, agency selalu berjalan berdampingan dengan self-surveillance, yakni dorongan untuk terus mengelola diri agar sesuai dengan ekspektasi budaya populer.

Perspektif inilah yang membantu membaca Honk! secara lebih utuh. Video musik ini menampilkan no na sebagai perempuan muda yang percaya diri melalui pilihan busana, koreografi, dan simbol-simbol keseharian yang akrab dengan pengalaman urban.

Namun, kepercayaan diri tersebut tidak otomatis dapat dimaknai sebagai bentuk pemberdayaan yang sepenuhnya lepas dari logika industri. Sebagai grup di bawah naungan 88rising, label yang juga menaungi Stephanie Poetri, Rich Brian, dan NIKI, no na juga membangun citra yang dirancang agar mudah dikenali di pasar musik global. Karena itulah Honk! memperlihatkan bagaimana ekspresi diri dan kepentingan industri enggak saling meniadakan, tetapi terus bernegosiasi.

Negosiasi itu juga terlihat dari cara Honk! membangun narasinya. Video musik ini enggak bertumpu pada relasi romantis atau kehadiran tokoh laki-laki sebagai pusat cerita. Sebaliknya, no na menempatkan persahabatan, mobilitas, dan fragmen keseharian perempuan muda sebagai inti narasi. Pilihan itu mengarahkan perhatian penonton pada pengalaman yang mereka bangun sendiri, alih-alih hubungan mereka dengan tokoh lain.

Baca juga: Pengalaman Mendengar Hipdut: Instrumen Penuh ‘Pleasure’, Liriknya Bikin ‘Guilty’

Lewat pilihan tersebut, Honk! memperlihatkan perempuan muda yang terus menegosiasikan identitasnya di antara ekspresi diri, budaya digital, dan tuntutan industri hiburan. Pembacaan ini sejalan dengan argumen Rosalind Gill bahwa representasi perempuan dalam budaya populer selalu berada dalam tarik-menarik antara agensi dan struktur yang membentuknya.

Bagi pendengar milenial, cara bercerita seperti ini mungkin terasa asing karena tidak mengikuti pola naratif yang selama ini kita kenal. Namun, bukan berarti Honk! kehilangan cerita. no na hanya memilih menyampaikannya lewat potongan-potongan keseharian yang lebih dekat dengan generasi yang tumbuh bersama media sosial. Karena itu, Honk! layak didengar bukan hanya sebagai lagu pop, tetapi juga sebagai cara memahami bagaimana perempuan muda Indonesia membangun identitas, merayakan agensi, dan bercerita tentang dunianya hari ini.

About Author

Purnama Ayu Rizky

Jadi wartawan dari 2010, tertarik dengan isu media dan ekofeminisme. Kadang-kadang bisa ditemui di kampus kalau sedang tak sibuk binge watching Netflix.