Foto: Instagram/naykillaaa
Wajah polos tanpa riasan. Musik menghentak. Lalu, dalam hitungan detik, semuanya berubah: alis tegas warna pink-kuning, blush merona sampai ke bawah mata, bibir mengilap, dan estetika Y2K yang mencolok. Perempuan di layar itu menatap kamera dengan percaya diri penuh, seolah menegaskan lewat lipsync lagu “MMG (My Mine Gueh)” milik Naykilla: Ini statement aku yang paling baddie.
Tren ini sedang di mana-mana. Satu video transisi makeup muncul, disusul ratusan versi lain. Masing-masing dengan gaya berbeda tapi dengan energi yang sama: berani, dramatis, dan tanpa ragu mengklaim diri paling menarik. Tidak ada jeda untuk menunggu dipuji atau disahkan laki-laki. Perempuan-perempuan ini mengatakannya sendiri, ke kamera, ke dunia.
Baca juga: Pengalaman Mendengar Hipdut: Instrumen Penuh ‘Pleasure’, Liriknya Bikin ‘Guilty’
Ada yang menyenangkan dari keberanian itu. Kita hidup dalam budaya yang membolehkan perempuan tampil menarik, asal tidak terlalu sadar bahwa dirinya menarik. Boleh percaya diri, asal tetap cukup rendah hati agar tidak “mengganggu” orang lain. Maka kalimat “aku yang paling baddie” terasa seperti gangguan kecil yang menyegarkan terhadap aturan lama itu. Karenanya, tren ini pantas dilihat lebih serius daripada sekadar tren FYP yang lewat begitu saja.
Ada anggapan lama bahwa makeup selalu berarti perempuan sedang tunduk pada standar kecantikan. Tapi mewarnai alis, memulas blush, atau menciptakan efek bibir ombre di tren MMG terasa lebih seperti proses artistik daripada ritual “memperbaiki kekurangan.” Wajah jadi kanvas, kamera jadi panggung, dan lirik lagu jadi deklarasi.
Riset Sofia P. Caldeira, Sander De Ridder, dan Sofie Van Bauwel, “Between the Mundane and the Political: Women’s Self-Representations on Instagram” (2020), menemukan bahwa representasi diri perempuan di media sosial tak bisa disederhanakan jadi dua pilihan: “memberdayakan” atau “dangkal.” Unggahan sehari-hari, termasuk yang tampak sepele seperti video transisi makeup, bisa jadi cara menegaskan harga diri dan merayakan identitas.
Hal serupa berlaku untuk hiperfeminitas yang selama ini sering dijadikan senjata untuk meremehkan perempuan—dicap terlalu centil, terlalu menor, terlalu haus perhatian. Riset Honor Sandall, “#BimboTok: A Critical Discourse Analysis of Hyper-Feminine Bimbo Identities on TikTok” (2024), menunjukkan bahwa kreator hiperfeminin justru menantang anggapan bahwa perempuan yang tampil sangat feminin pasti lemah, bodoh, atau sekadar mendandani diri demi male gaze. Kesenangan berdandan mereka jadikan cara merebut kembali otoritas atas tubuh sendiri.
Video berdurasi beberapa detik itu pun sebenarnya butuh proses panjang: imajinasi, keterampilan merias, pemahaman warna dan cahaya, sampai kepekaan mengikuti irama musik. Dan karena semuanya tidak permanen, tren ini juga memberi ruang bermain-main dengan identitas. Hari ini tampil sebagai karakter cutesy dengan blush warna-warni, besok kembali berwajah polos tanpa harus memilih salah satu sebagai versi “asli.”
Baca juga: Pengalaman Jadi Anak Jaksel Sehari: Lebih Nyaman Jadi Warga Pinggiran
Kapan kesenangan ini berubah jadi komoditas
Merayakan tren ini bukan berarti menutup mata dari batasnya. Media sosial berjalan di atas ekonomi perhatian: wajah yang didandani dramatis lebih mudah menghentikan guliran jempol, yang lalu cepat berubah jadi konten tutorial, rekomendasi produk, sampai peluang endorsement. Di titik ini, ekspresi diri memang rentan bergeser jadi komoditas pasar.
Rosalind Gill, dalam esai klasiknya “Postfeminist Media Culture: Elements of a Sensibility” (2007), mengingatkan bahwa budaya media kerap menyulap tekanan untuk tampil cantik menjadi proyek pribadi yang seolah dilakukan sukarela—padahal perempuan terus didorong mengawasi dan mengoptimalkan penampilannya, berkedok kebebasan memilih.
Tapi kritik itu semestinya diarahkan ke ekosistemnya, bukan ke perempuan yang sekadar bersenang-senang dengan lip gloss dan video transisi. Menyalahkan mereka hanya mengulang standar ganda usang: terlalu natural dianggap tidak merawat diri, terlalu menor dicap haus perhatian; tidak ikut tren dibilang membosankan, ikut tren malah dicap korban kapitalisme.
Yang lebih patut diwaspadai justru siapa saja yang dapat panggung dalam tren ini. Terlalu sering, hanya satu jenis “baddie” yang tampil: muda, berkulit mulus, bertubuh sesuai standar kecantikan, dan punya privilese waktu serta uang untuk meracik tampilan rumit. Hiperfeminitas bisa dianggap imut dan fashionable pada satu tubuh, tapi murahan pada tubuh yang lain. Kesenangan ini baru terasa utuh kalau makin banyak bentuk wajah, ukuran tubuh, warna kulit, dan ekspresi gender ikut dirayakan di dalamnya.
Batas-batas itu nyata, tapi tidak lantas menghapus nilai tren MMG sebagai ruang bermain yang membebaskan. Ada lebih banyak percikan kegembiraan daripada ancaman di sini: perempuan yang berani mengklaim ruang jadi pusat perhatian, keterampilan yang dipamerkan tanpa perlu disamarkan sebagai kegiatan “lebih penting,” dan kesenangan kolektif yang menular dari satu video ke video berikutnya.
Komunitas Kendal Berkain dan Berkebaya: Pakai Kebaya Tiap Hari, ‘Why Not’?
Kita tidak perlu memaksa tren ini masuk satu label absolut—murni pemberdayaan atau semata komodifikasi. Perempuan berhak bersenang-senang di tengah sistem yang belum sepenuhnya adil, sadar penuh bahwa algoritma dan industri kecantikan ikut bermain, sambil tetap menikmati warna, musik, dan kepuasan bilang: hari ini aku merasa paling baddie.
Yang lebih esensial adalah memperluas makna baddie itu sendiri. Ia boleh memakai blush sampai ke bawah mata, tapi juga berhak tampil dengan wajah polos. Bebas bergaya cutesy, seksi, dramatis, atau sama sekali tidak feminin. Boleh mendambakan sorotan, dan nilainya tidak berkurang sedikit pun ketika algoritma kebetulan tidak memihaknya.
Jadi, silakan berdandan, menari, mengangkat dagu, dan mendeklarasikan diri “paling laku.” Setelah terlalu lama didikte untuk menunggu penilaian orang lain, sesekali merayakan diri sebagai yang “paling baddie” bukan keangkuhan yang perlu ditertibkan. Itu cuma cara paling menyenangkan untuk berseru: aku hadir, aku terlihat, dan aku tak perlu minta maaf atas itu.
Agnes Monica Marpaung adalah dosen Ilmu Komunikasi di UPN “Veteran” Jakarta. Minat dan kepakarannya meliputi komunikasi periklanan, komunikasi pemasaran digital, serta komunikasi budaya.





















