Foto: Billboard Philippines
Selama bertahun-tahun, lagu bertema patah hati seolah menjadi soundtrack utama kehidupan banyak orang. Lirik tentang kehilangan, penyesalan, dan cinta yang kandas kerap mendominasi tangga lagu sekaligus media sosial. Namun, dalam beberapa waktu terakhir, warna baru mulai bermunculan. Lagu-lagu dengan karakter centil, karismatik, dan penuh rasa percaya diri justru semakin banyak mendapat perhatian.
Fenomena ini mulai terlihat ketika genre hip-dut mencuri perhatian pada 2025. Salah satu pelopornya adalah Naykilla lewat lagu So Asu, yang menghadirkan lirik berisi sindiran, keberanian, sekaligus rasa percaya diri yang ditampilkan secara lugas. Alih-alih meratapi hubungan yang berakhir, lagu ini justru menempatkan penyanyinya sebagai sosok yang yakin pada nilai dirinya sendiri.
Memasuki 2026, tren tersebut semakin berkembang. Naykilla kembali merilis MMG (my mine gueh), sementara grup no na menghadirkan rollerblade yang juga mengusung persona perempuan yang percaya diri dan karismatik. Meski no na berada di bawah label musik Barat, sejumlah karya mereka belakangan banyak memadukan nuansa Nusantara sekaligus memperkenalkan ikon Indonesia ke panggung global.
Baca juga: Dear Teman-teman Milenialku, Kenapa ‘Honk!’ dari no na Layak Didengar
“Ga usah diam-diam, langsung aja bilang,
Kamu mau balikan, karna aku cantikan.” – So Asu by Naykilla (2025)
“Ini statement, aku yang paling baddie,
Ini statement, aku cewek yang paling centil.” – MMG by Naykilla (2026), kini menduduki sound #1 kategori YouTube Shorts.
“Every day of the week, so keren, so asyik,
Semua laki-laki, I’ll make ‘em freak, freak, freak.” – rollerblade by no na (2026)
“Red lipstick merah merona,
Globally aku menggoda.” – rollerblade remix by no na bersama Jebung (2026)
Lagu-lagu tersebut tidak hanya ramai di tangga lagu, tetapi juga berseliweran di TikTok, Instagram Reels, hingga YouTube Shorts. Potongan liriknya dipakai dalam berbagai konten, mulai dari dance challenge, outfit check, hingga video keseharian. Fenomena ini menunjukkan lagu tidak lagi sekadar didengar, melainkan juga menjadi bagian dari cara orang menampilkan identitasnya di ruang digital.
Ada pola yang menarik dari lirik-lirik tersebut. Perempuan tidak lagi digambarkan sebagai sosok yang menunggu pengakuan atau larut dalam kekecewaan akibat hubungan asmara. Sebaliknya, mereka tampil sebagai subjek yang mendefinisikan dirinya sendiri. Ungkapan seperti “aku cantikan”, “aku yang paling baddie“, hingga “globally aku menggoda” bukan semata-mata bentuk kesombongan, melainkan penegasan atas citra diri yang ingin ditampilkan.
Popularitas lagu-lagu semacam ini juga dapat dibaca sebagai pergeseran cara sebagian pendengar menikmati musik. Jika lagu galau selama ini menjadi ruang untuk memvalidasi kesedihan, lagu-lagu bertema afirmasi diri menawarkan pengalaman yang berbeda. Pendengar tidak hanya menikmati irama dan melodinya, tetapi juga ikut mengafirmasi citra diri yang dibangun melalui liriknya.
Fenomena tersebut tidak serta-merta menunjukkan orang kini berhenti menikmati lagu galau. Sebaliknya, keberadaan dua jenis lagu ini memperlihatkan musik memiliki fungsi yang lebih luas daripada sekadar hiburan. Lagu dapat menjadi ruang untuk mengolah emosi, sekaligus membangun cara seseorang memandang dirinya sendiri.
Baca juga: “Ini Statement Aku yang Paling Baddie”: Merayakan Hiperfeminitas Tanpa Rasa Bersalah
Mencari Jati Diri Lewat Musik
Jika ditinjau melalui filsafat, fenomena ini dapat dibaca menggunakan perspektif eksistensialisme. Salah satu tokoh yang dikenal sebagai pelopor eksistensialisme, Søren Kierkegaard, menekankan pentingnya pilihan dan komitmen pribadi dalam membentuk eksistensi manusia. Dalam pandangan ini, identitas bukan sesuatu yang diberikan sejak lahir, melainkan terus dibentuk melalui pilihan yang diambil seseorang sepanjang hidupnya.
Cara pandang tersebut menarik jika dikaitkan dengan tren lagu-lagu yang mengedepankan afirmasi diri. Musik memang tidak menentukan identitas seseorang. Namun, lirik, persona penyanyi, dan emosi yang dibangun dalam sebuah lagu dapat menjadi medium bagi pendengar untuk membayangkan atau bahkan menegaskan versi diri yang ingin mereka hadirkan.
Dalam artikel “How To Overcome an Existential Crisis“ (2024), psikolog Susan Albers, PsyD, yang dipublikasikan Cleveland Clinic, menjelaskan existential crisis sebagai fase ketika seseorang mulai mempertanyakan makna hidup, identitas, tujuan, dan nilai-nilai yang mereka pegang. Momen tersebut umumnya muncul ketika seseorang menghadapi perubahan besar atau kehilangan yang mengguncang hidupnya.
Pada fase seperti itu, sebagian orang mencari berbagai cara untuk memahami dirinya, termasuk melalui musik. Musik memang tidak menyelesaikan krisis eksistensial, tetapi dapat menjadi ruang bagi pendengar untuk menemukan resonansi emosional dengan pengalaman yang sedang mereka alami.
Di titik inilah lagu-lagu bertema self-love memiliki daya tarik tersendiri. Lirik yang menonjolkan rasa percaya diri dan penghargaan terhadap diri sendiri dapat menjadi bentuk afirmasi bagi sebagian pendengar. Ketika seseorang menyanyikan atau mendengar lirik seperti “aku yang paling baddie” atau “aku cantikan”, yang sedang dicari belum tentu rasa percaya diri yang sudah dimiliki, tetapi bisa jadi keberanian untuk melihat dirinya dengan cara yang lebih positif.
Hal tersebut juga sejalan dengan salah satu gagasan utama dalam eksistensialisme, yakni kebebasan. Manusia dipandang memiliki kebebasan untuk menentukan makna hidup serta membentuk jati dirinya sendiri. Dalam konteks musik, kebebasan itu tampak ketika seseorang memilih lagu yang paling merepresentasikan kondisi emosional atau citra diri yang ingin ia tampilkan pada suatu waktu.
Meski begitu, fenomena ini tidak berarti lagu galau kehilangan relevansinya. Lagu bertema patah hati tetap memiliki fungsi yang sama pentingnya, yakni memberi ruang bagi pendengar untuk memproses kehilangan, kekecewaan, atau kegagalan dalam hubungan. Banyak orang mendengarkan lagu galau bukan untuk terus larut dalam kesedihan, melainkan agar merasa dipahami dan mengetahui ada orang lain yang pernah mengalami emosi serupa.
Baca juga: Dari NIKI hingga No Na: Musisi yang Berhasil di Tengah Absennya Negara
Dengan kata lain, pilihan musik sering kali mencerminkan kebutuhan emosional seseorang pada fase tertentu dalam hidupnya. Ketika seseorang memilih lagu galau, ia mungkin sedang mencari validasi atas kesedihannya. Sebaliknya, ketika memilih lagu yang centil, karismatik, dan penuh afirmasi diri, bisa jadi ia sedang mencari dorongan untuk melihat dirinya secara lebih positif.
Karena itu, menarik melihat bagaimana lagu-lagu seperti So Asu, MMG, atau rollerblade hadir di tengah lanskap musik Indonesia yang selama ini lekat dengan narasi patah hati. Lagu-lagu tersebut menawarkan bentuk ekspresi yang berbeda. Perempuan tidak lagi semata hadir sebagai tokoh yang menunggu dicintai atau meratapi kehilangan, tetapi juga sebagai sosok yang berani mendefinisikan nilai dirinya sendiri melalui lirik yang jenaka, percaya diri, dan penuh karisma.
Pada akhirnya, musik tidak hanya menjadi cermin emosi, tetapi juga ruang tempat seseorang membangun, menegosiasikan, dan menampilkan identitasnya. Pergeseran popularitas lagu-lagu bertema afirmasi diri mungkin tidak menunjukkan perubahan selera musik semata, melainkan juga memperlihatkan bagaimana sebagian pendengar sedang mencari cara baru untuk memaknai dirinya di tengah kehidupan yang terus berubah.





















