12/06/2026
Issues Politics & Society

Mama Yasinta Ramai Dibicarakan, tapi Isu Utama Papua di ‘Pesta Babi’ Justru Tenggelam

Nama Mama Yasinta memenuhi linimasa setelah kontroversi film ‘Pesta Babi’. Namun, riset menunjukkan percakapan publik justru bergeser dari isu utama yang diangkat film tersebut.

  • June 12, 2026
  • 5 min read
  • 43 Views
Mama Yasinta Ramai Dibicarakan, tapi Isu Utama Papua di ‘Pesta Babi’ Justru Tenggelam

Yasinta Moiwend atau Mama Yasinta, figur perempuan adat Papua, menjadi salah satu tokoh yang paling banyak diperbincangkan di media sosial dalam beberapa pekan terakhir. Sejak video pernyataannya tersebar di ruang digital pada (23/5), namanya terus muncul dalam berbagai percakapan daring. Sorotan terhadap Mama Yasinta semakin menguat setelah ia melaporkan Ketua Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Papua Pos Merauke, Johnny Teddy Wakum, atas dugaan pelanggaran data pribadi dan penggunaan identitas tanpa izin dalam film Pesta Babi pada 29 Mei.

Perkembangan kasus ini terus berlanjut. Berdasarkan laporan Tempo, Mama Yasinta juga telah mengajukan permohonan perlindungan kepada Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) terkait dugaan tindak pidana Perlindungan Data Pribadi (PDP) pada 5 Juni.

Rangkaian peristiwa tersebut memicu beragam respons publik. Sebagian netizen mengaku khawatir terhadap kondisi Mama Yasinta. Di sisi lain, muncul spekulasi mengenai kemungkinan intimidasi yang dialaminya. Ada pula kelompok yang mempertanyakan kredibilitas pembuat film, terutama terkait dugaan eksploitasi dan etika dalam proses produksi karya dokumenter tersebut.

Di tengah derasnya percakapan itu, Ika Idris, Associate Professor Program Public Policy and Management Monash University, melakukan penelitian terhadap obrolan publik di media sosial. Dengan menggunakan keyword “Mama Yasinta”, “Mama Sinta”, dan “Yasinta Moiwend”, penelitian tersebut memetakan tema-tema utama yang berkembang di ruang digital.

Hasil penelitian menunjukkan film Pesta Babi menjadi pusat kontroversi dalam percakapan publik. Isu mengenai etika pembuatan film dokumenter, representasi masyarakat adat, hingga bantahan terkait dugaan keterlibatan militer mendominasi pembahasan mengenai Mama Yasinta.

Baca juga: Keluarga Hilang Kontak Sebelum Mama Yasinta Muncul di Polda Metro Jaya, Apa yang Terjadi?

Percakapan Publik Berpusat pada Etika dan Representasi Masyarakat Adat

Penelitian ini menganalisis berbagai percakapan dan konten daring di X serta Instagram. Pengamatan dilakukan sejak video pertama Mama Yasinta beredar pada 23 Mei hingga munculnya pernyataan pejabat Kementerian Pertahanan yang membantah keterlibatan TNI pada 2 sampai 3 Juni 2026.

Di X, Ika menganalisis sedikitnya 52 ribu cuitan. Dari jumlah tersebut, ia menemukan percakapan didominasi interaksi organik. Puncak percakapan terjadi pada 25 Mei, dua hari setelah video pernyataan Mama Yasinta tersebar, dan kembali meningkat pada 31 Mei ketika video dugaan penculikan Mama Yasinta yang ditayangkan Jubi beredar luas di media sosial.

Tema yang paling sering muncul berkaitan dengan pengkhianatan dan manipulasi, kekhawatiran terhadap aspek etis pembuatan film, serta perubahan sikap Mama Yasinta. Percakapan mengenai pengkhianatan dan manipulasi banyak merujuk pada pernyataan Mama Yasinta yang mengaku merasa dikhianati dan dimanipulasi terkait keterlibatannya dalam film Pesta Babi.

Narasi tersebut kemudian berkembang menjadi diskusi yang lebih luas mengenai etika produksi dokumenter. Banyak pengguna X mengkritik pembuat film karena menilai kehadiran Mama Yasinta dalam film tidak sepenuhnya bersifat sukarela. Pertanyaan mengenai persetujuan (consent) dan potensi eksploitasi suara masyarakat adat menjadi salah satu isu yang paling sering dibahas.

Selain itu, bantahan terhadap tuduhan intimidasi juga menjadi topik yang cukup dominan. Percakapan ini berpusat pada pernyataan Mama Yasinta yang secara terbuka membantah klaim dirinya mengalami intimidasi militer. Diskusi tersebut berkembang menjadi perdebatan mengenai tanggung jawab etis pembuat film, representasi masyarakat adat, serta cara narasi mereka disampaikan di ruang publik.

Pada Instagram, Ika meneliti 100 unggahan sampel. Puncak percakapan terjadi pada 30 Mei, saat Mama Yasinta melapor ke Polda Metro Jaya, dan kembali meningkat pada 3 Juni ketika Kementerian Pertahanan membantah keterlibatan TNI dalam keberangkatan Mama Yasinta ke Jakarta.

Secara umum, pola percakapan di Instagram tidak jauh berbeda dengan yang terjadi di X. Kekhawatiran terhadap etika pembuatan film tetap menjadi tema utama. Selain itu, bantahan terhadap tuduhan keterlibatan militer juga banyak dibicarakan, terutama di tengah meningkatnya spekulasi mengenai keselamatan dan kebebasan Mama Yasinta.

Menariknya, penelitian ini menemukan hampir tidak ada percakapan mengenai kerusakan hutan maupun Proyek Strategis Nasional (PSN) di Papua. Padahal, isu-isu tersebut merupakan bagian penting dari substansi yang diangkat dalam film Pesta Babi. Dengan kata lain, pembahasan di X dan Instagram yang menggunakan keyword Mama Yasinta lebih banyak berfokus pada kontroversi di sekitar tokohnya dibanding isu utama yang dibahas film tersebut.

Baca juga: Greenpeace: Papua Bukan Tanah Kosong, tapi Tetap Mau Ditanami Sawit

Saat Perhatian Publik Datang dan Pergi dengan Cepat

Menurut Ika, percakapan mengenai Mama Yasinta sebenarnya tidak mendominasi media sosial secara terus-menerus. Lonjakan perhatian hanya terjadi pada momen-momen tertentu sebelum kemudian menurun kembali. Kondisi ini menunjukkan perhatian publik di media sosial sangat mudah terpecah oleh berbagai peristiwa lain yang berlangsung bersamaan.

“Saya juga bertanya, kok cuma di dua waktu ini gitu? Kenapa langsung turun gitu kan percakapannya. Nah ternyata setelah saya telusuri memang ada banyak peristiwa-peristiwa yang jauh menarik perhatian orang seperti Presiden bertolak ke Paris, sampai kontroversi kurban sapi presiden,” kata Ika.

Naik-turunnya percakapan mengenai Mama Yasinta berpotensi memengaruhi besarnya perhatian publik terhadap isu tersebut. Ketika sebuah topik hanya ramai dalam waktu singkat, algoritma platform dapat menganggapnya tidak lagi relevan sehingga tidak banyak ditampilkan kepada pengguna lain.

“Engagement itu kan menjadi indikator platform untuk menentukan apakah postingan-postingan ini tetap relevan bagi pengguna platform. Kalau enggak ramai bisa jadi ini enggak dimasukin lagi ke FYP (for your page) orang-orang,” imbuh Ika.

Baca juga: ‘Pesta Babi’: Ketika Beras Menjadi Alat Kuasa di Papua

Perhatian Publik Bergeser dari Isu Utama

Temuan ini juga memperlihatkan adanya pergeseran fokus percakapan publik. Menurut Ika, perhatian netizen yang semula tertuju pada isi dan kritik sosial dalam film Pesta Babi perlahan beralih ke kontroversi yang melibatkan Mama Yasinta dan pembuat film.

Akibatnya, substansi kritik yang ingin disampaikan melalui film tersebut berisiko tertutupi oleh perdebatan mengenai sosok pembuat film maupun polemik yang mengitarinya. Fenomena ini sekaligus menunjukkan betapa mudahnya perhatian publik di media sosial berpindah dari satu isu ke isu lain dalam waktu singkat.

Ika menilai kondisi tersebut menjadi pengingat penting bagi masyarakat untuk terus mengikuti perkembangan isu secara utuh dan tidak berhenti pada potongan informasi yang viral. Keterlibatan publik dalam percakapan digital juga berperan dalam menjaga isu-isu penting tetap mendapat perhatian.

“If we just passively consume berita-berita soal isu penting ini, bisa jadi platform akan menganggap ini hal yang enggak relevan dan penting. Jadi menurut saya, kita harus senantiasa mengembalikan lagi fokus perhatian kita ke isu-isu yang penting, dan kedua kita juga sebisa mungkin engage di dalam percakapan tersebut,” tutup Ika.

About Author

Syifa Maulida

Syifa adalah lulusan Psikologi dan Kajian Gender UI yang punya ketertarikan pada isu gender dan kesehatan mental. Suka ngopi terutama iced coffee latte (tanpa gula).