10/07/2026
Environment Issues Opini

Di Kaki Gunung Halimun, Orang Muda Belajar Energi dari Padi dan Leuit

Di Kasepuhan Gelaralam kita belajar bahwa kedaulatan energi tidak selalu dimulai dari teknologi baru. Ia bisa berakar dari padi, leuit, hutan, dan cara masyarakat adat menjaga keseimbangan alam.

  • July 10, 2026
  • 5 min read
  • 18 Views
Di Kaki Gunung Halimun, Orang Muda Belajar Energi dari Padi dan Leuit

Foto: Laman resmi Kemenpar

Malam hampir berganti hari ketika mobil bak terbuka yang kami tumpangi meninggalkan Kantor Desa Sirnaresmi menuju Kasepuhan Gelaralam, sebuah kampung adat Sunda di Kabupaten Sukabumi. Awal Juni lalu, saya bersama RE-Agent, komunitas orang muda untuk keadilan energi, menempuh perjalanan hampir lima jam dari Jakarta untuk belajar tentang keseimbangan alam, kedaulatan pangan, dan makna energi dari masyarakat adat.

Selama tiga hari, kami meninggalkan kesesakan ibu kota. Paru-paru kami merasakan udara segar yang bebas dari polusi. Mata kami menangkap jalur Bima Sakti yang begitu jelas. Jalan beraspal perlahan berubah menjadi bebatuan, tanah liat, dan tanjakan yang membelah perbukitan Taman Nasional Gunung Halimun Salak.

Di bawah langit yang hanya diterangi rembulan, tubuh kami terombang-ambing mengikuti ritme jalan. Di tengah gelap malam, kami melihat kunang-kunang. Cahaya kecilnya berkelip sebentar sebelum hilang ditelan kegelapan. 

Semakin jauh kendaraan menanjak, semakin jelas suara air mengalir dari lereng-lereng gunung. Rumah-rumah panggung berdinding anyaman bambu muncul sesekali di antara gelap. Di kejauhan, siluet hutan berdiri seperti penjaga kehidupan di bawahnya.

Kami tiba ketika dingin mulai menggigit kulit. Di ujung jalan, Kang Sodong, dengan ikat kepala hitam khas Kasepuhan Gelaralam, menyambut kami di depan Imah Gede (Rumah Besar), rumah adat yang digunakan sebagai ruang komunal untuk ritual dan musyawarah.

“Kasepuhan Gelaralam mengingatkan bahwa kemajuan tidak selalu identik dengan gedung-gedung tinggi atau teknologi canggih. Kadang, kemajuan justru lahir dari kemampuan menjaga keseimbangan, menghormati alam, dan memastikan apa yang diwariskan kepada generasi berikutnya tetap lestari,” kata Natasya, anggota RE-Agent.

Baca juga: Mayoritas Muslim Indonesia Gagal Paham tentang Transisi Energi

Belajar dari padi

Pagi pertama di Gelaralam memperlihatkan sesuatu yang sempat saya lihat sekilas pada malam sebelumnya. Di beberapa titik berdiri lantayan, rak-rak bambu tempat ikatan padi dijemur. Dari kejauhan, bentuknya menyerupai instalasi seni yang tersebar di lanskap perkampungan.

Lantayan umum ditemui di komunitas adat Kasepuhan Sunda. Di Kasepuhan Gelaralam, padi dijemur dengan cara diikat, sementara ujung batangnya dijaga agar tidak busuk saat terkena air. Selama ujung batang tidak basah, padi dapat bertahan lama. Padi kemudian disimpan di leuit, bangunan dari potongan kayu dan anyaman bambu yang berdiri kokoh seperti penjaga rahasia tua. 

Sistem pertanian di Kasepuhan Gelaralam diatur oleh lembaga adat Rorokan Pamakayaan, yang bertugas membaca tanda alam, termasuk rasi bintang Kidang dan Kerti, untuk menentukan waktu tanam. Dari masa tanam hingga panen, masyarakat menjalankan rangkaian upacara adat, seperti ngaseuk, mipit, nganyaran, pongokkan, hingga puncaknya Seren Taun.

“Pertanian dilakukan hanya sekali dalam setahun, bukan karena keterbatasan, bukan karena kemalasan, melainkan rasa hormat. Alam pun perlu beristirahat, seperti manusia,” ujar Ki Upat, anggota Rorokan Pamakayaan.

Abah Ugi, Kepala Adat Kasepuhan Gelaralam, menekankan bahwa tradisi bertani sekali setahun adalah cara masyarakat memberi jeda kepada alam.

“Jika lahan terus-menerus dipaksa produktif, akan ada masa lahan itu kelelahan dan tidak mampu lagi memberikan kehidupan bagi manusia,” ujarnya.

Di Kasepuhan Gelaralam, padi bukan sekadar komoditas. Dalam kosmologi Kasepuhan, padi merupakan perwujudan Nyi Pohaci Sanghyang Asri atau Dewi Sri. Karena itu, padi diperlakukan dengan penuh penghormatan. Hal itu tecermin dalam peribahasa lokal, “Mupusti pare, lain migusti”, atau memuliakan padi, bukan menuhankannya.

Kalimat itu menjelaskan cara pandang masyarakat Kasepuhan terhadap alam. Penghormatan bukan penyembahan, melainkan kesadaran bahwa kehidupan manusia bergantung pada sesuatu yang lebih besar daripada dirinya sendiri. Bagi masyarakat Kasepuhan, padi dimuliakan karena menopang kehidupan.

Penghormatan terhadap padi juga membentuk cara masyarakat menjaga ketahanan pangan. Padi tidak diperjualbelikan, tapi disimpan di leuit untuk kebutuhan keluarga dan komunitas. Leuit menjadi simbol kerja keras, semangat gotong royong, serta warisan budaya yang terus dijaga dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Baca juga: Mengurai Komitmen Pertamina dalam Transisi Energi Terbarukan

Kedaulatan energi yang berakar pada kehidupan

Selama ini, energi sering diasosiasikan secara sempt dengan listrik, bahan bakar, atau teknologi. Namun, di Kasepuhan Gelaralam, energi dipahami dari sesuatu yang paling mendasar: pangan. Padi memberi tenaga, menjaga kehidupan, dan memastikan komunitas tetap bertahan.

Karena itu, kedaulatan energi tidak bisa dilepaskan dari kedaulatan pangan. Cara masyarakat Gelaralam mengelola padi—menanam sekali setahun, menyimpan hasil panen di leuit, dan tidak memperjualbelikannya—menunjukkan bahwa kecukupan tidak selalu lahir dari produksi yang terus digenjot. Ia juga bisa tumbuh dari kemampuan menjaga batas.

Di banyak tempat, pembangunan kerap datang dengan bahasa besar tentang swasembada, kemajuan, dan ketahanan. Namun, tidak jarang praktiknya justru merampas ruang hidup masyarakat dan merusak lingkungan. Gelaralam menawarkan cara pandang lain: alam bukan sumber daya yang bisa terus diambil, melainkan rumah yang harus dijaga.

“Masyarakat Kasepuhan Gelaralam hidup dengan keyakinan bahwa alam bukan sekadar sumber daya untuk dimanfaatkan, melainkan rumah yang selama ini menopang kehidupan manusia,” ujar Laras, anggota RE-Agent.

Refleksi itu tinggal lama di kepala saya. Di kota, energi sering dipahami sebagai sesuatu yang harus selalu tersedia untuk menopang hidup yang serbacepat. Di Gelaralam, energi justru mengikuti siklus yang dijaga bersama: ada waktu menanam, memanen, menyimpan, dan membiarkan alam beristirahat.

Di kaki Gunung Halimun, orang muda urban seperti kami diajak melihat ulang arti kemajuan. Mungkin kemajuan bukan hanya tentang bergerak lebih cepat, menghasilkan lebih banyak, atau membangun lebih besar. Mungkin kemajuan juga berarti tahu kapan harus berhenti, memberi jeda, dan memastikan kehidupan tetap lestari.

Nur Herliati adalah juru kampanye energi terbarukan di Trend Asia. Tulisan dan kunjungan ini dilakukan oleh Trend Asia bersama RE-Agent, komunitas orang muda untuk keadilan energi. Tulisan ini adalah seri pertama dari “Refleksi Orang Muda Telusuri Kedaulatan Energi di Desa Adat Kaki Gunung Halimu

About Author

Nur Herliati