Nellie Bly, Perempuan Jurnalis yang Jadi Pelopor Jurnalisme Investigasi Modern
Pada 1887, jurnalis Elizabeth Cochran Seaman, yang dikenal dengan nama pena Nellie Bly, melakukan investigasi penyamaran di Rumah Sakit Jiwa di Pulau Blackwell. Langkah ini ia tempuh untuk memverifikasi maraknya laporan terkait dugaan kekerasan dan kelalaian penanganan terhadap pasien perempuan di fasilitas tersebut. Penyamaran ini kemudian menjadi salah satu laporan paling dikenal dalam perjalanan kariernya sebagai jurnalis.
Demi menembus fasilitas itu, Bly berpura-pura mengalami gangguan mental. Ia menggunakan nama samaran, memalsukan amnesia, dan sengaja bertingkah ganjil hingga meresahkan penghuni rumah penginapan. Setelah melalui pemeriksaan oleh pihak kepolisian, tim medis, dan hakim, ia dinyatakan mengalami gangguan mental lalu dirujuk ke Rumah Sakit Jiwa di Pulau Blackwell.
Selama sepuluh hari menjalani masa penyamaran, Bly mendokumentasikan berbagai kejanggalan dan praktik terselubung yang dilakukan di fasilitas tersebut. Di dalamnya, diskriminasi serta kekerasan fisik maupun psikologis telah dinormalisasi hingga dianggap sebagai bagian dari rutinitas harian. Catatan Bly memperlihatkan bagaimana kondisi tersebut dialami langsung oleh para pasien perempuan.
Ketimpangan operasional terlihat jelas dari rasio tenaga medis yang tidak seimbang. Institusi ini hanya menyediakan 16 dokter untuk menangani sekitar 1.600 pasien. Keterbatasan ini berdampak langsung pada terabaikannya pemenuhan hak dasar para penghuni, termasuk kebutuhan makanan dan perawatan medis.
Pasien tidak diberikan makanan yang layak konsumsi, bahkan mereka yang mengalami gizi buruk atau penurunan berat badan drastis dibiarkan begitu saja tanpa penanganan medis yang memadai. Selain pengabaian nutrisi, tindakan pendisiplinan yang berlebihan juga lazim terjadi. Petugas kerap memaksa pasien menanggalkan pakaian lalu menceburkan mereka ke dalam bak mandi berisi air es sebagai metode pemaksaan agar para pasien tetap patuh.
Di saat yang sama, pengawasan ketat yang dilakukan oleh para pengawas di setiap sudut ruangan membatasi seluruh ruang gerak dan percakapan antara pasien. Bly pun menilai lingkungan institusi tersebut menerapkan manipulasi psikologis yang terstruktur. Tata kelola fasilitas secara tidak langsung mendorong para pasien meragukan akal sehat mereka sendiri.
Setelah beberapa hari, misalnya, Bly menghentikan sandiwaranya dan berusaha bersikap normal. Namun, staf medis tetap memperlakukannya sebagai pasien gangguan mental. Dari pengalaman ini, Bly menyimpulkan sistem di institusi tersebut secara konsisten menolak argumen pasien dan membentuk persepsi para perempuan di dalamnya sebagai sosok yang tidak rasional.
Kondisi ini tampak paling nyata pada pasien imigran yang diisolasi dan paling banyak mengalami pendisiplinan bak mandi es hanya karena kendala bahasa. Penyamaran Bly berakhir setelah surat kabar yang menaunginya, New York World, mengutus pengacara untuk mengurus pembebasannya. Dua hari setelah bebas, yakni pada Minggu, 9 Oktober 1887, New York World mulai mempublikasikan serial investigasinya “Ten Days in a Mad-House” selama tiga minggu berturut-turut.
Baca juga: Nh. Dini: Semarang, Perempuan, dan Jejak yang Tak Luruh
Pelopor Jurnalisme Investigasi Modern
Tidak hanya melambungkan namanya, laporan tersebut berhasil mengarahkan perhatian publik terhadap kelompok masyarakat yang selama ini terabaikan, yaitu para perempuan yang diisolasi di lembaga perawatan jiwa. Banyak dari mereka sebenarnya tidak mengalami gangguan mental, melainkan hanya hidup dalam kemiskinan, menderita sakit fisik, atau ditelantarkan oleh keluarga mereka. Kesadaran publik ini pada akhirnya menjadi pendorong utama terjadinya reformasi sistemis.
Sekitar satu bulan setelah artikel-artikelnya terbit, berbagai persoalan mendasar yang ia laporkan mulai membaik secara signifikan. Penyelidikan resmi dilakukan oleh pemerintah kota New York yang kemudian mendorong pengalokasian dana tambahan sebesar 1 juta dolar AS untuk pembiayaan lembaga tersebut. Perubahan juga menyentuh kondisi hunian, sanitasi, makanan, hingga penanganan pasien warga asing.
Kondisi hunian dan sanitasi ditingkatkan menjadi lebih layak, makanan dengan nutrisi yang lebih baik mulai disediakan, dan penerjemah resmi disiagakan untuk pasien warga asing yang selama ini disalahartikan mengalami gangguan mental hanya karena kendala bahasa. Selain itu, perawat dan dokter yang terbukti melakukan tindakan kekerasan resmi dipecat dan digantikan. Perubahan tersebut menunjukkan dampak langsung dari laporan Bly terhadap pengelolaan institusi.
Sebagaimana dicatat dalam buku Nellie Bly: Daredevil, Reporter, Feminist (1994), Bly adalah pelopor detective atau stunt journalism pada dekade 1880-an, sebuah bentuk liputan yang diakui sebagai cikal bakal jurnalisme investigasi modern. Metode tersebut menempatkan jurnalis dalam situasi yang memungkinkan mereka melihat langsung kondisi yang menjadi objek liputan, termasuk melalui penyamaran.
Pencapaian ini terbilang luar biasa mengingat pada era tersebut, peran utama perempuan dibatasi hanya pada urusan domestik dan pengasuhan anak. Perempuan masa itu dituntut untuk selalu didampingi, dijaga, serta dianggap membutuhkan dukungan laki-laki sepanjang hidup mereka. Di samping itu, mereka juga belum memiliki hak pilih dalam ranah politik.
Meski demikian, tekadnya untuk mengadvokasi hak-hak kelompok tertindas mendorongnya menerobos berbagai batasan sosial dan profesional. “Setiap kali menghadapi penolakan, ia justru memutuskan untuk berjuang lebih keras,” tulis jurnalis Brooke Kroeger mengenai Bly. Kutipan tersebut menggambarkan perjalanan Bly yang sejak awal kariernya berhadapan dengan batasan berbasis gender.
Sebelum namanya dikenal secara luas, Bly memulai kariernya pada 1885 dengan menulis surat tanggapan terhadap kolom berjudul “What Girls Are Good For” di Pittsburgh Dispatch. Kolom yang ditulis oleh jurnalis Erasmus Wilson tersebut merupakan respons atas keluhan seorang ayah dengan lima putri yang belum menikah, di mana Wilson menyayangkan pola pengasuhan yang dinilainya gagal mempersiapkan perempuan untuk menjalankan peran sebagai istri dan ibu.
Gusar oleh pandangan Wilson yang patriarkal, Bly menulis surat balasan anonim. Tulisan kritis tersebut menarik perhatian pimpinan redaksi Pittsburgh Dispatch hingga memuat iklan khusus yang meminta Bly untuk membuka identitasnya. Setelah bertemu dengan Cochran, nama asli Bly, pimpinan redaksi langsung memberinya posisi sebagai jurnalis dan ini menandai lahirnya sosok jurnalis Nellie Bly.
Melansir laporan Quartz, Bly telah menjadi seorang pejuang kesetaraan sejak awal kariernya. Artikel pertamanya, “The Girl Puzzle”, mengadvokasi reformasi hukum perceraian dan berhasil membawanya meraih posisi jurnalis purnawaktu. Ia kemudian melanjutkan liputannya dengan menginvestigasi kondisi kerja para buruh di pabrik-pabrik, langkah yang memicu kemarahan para pemilik modal hingga mereka menekan redakturnya agar menghentikan penulisan artikel tersebut.
Guna mengakomodasi tuntutan pembaca dari kalangan pemodal, redaktur memindahkan Bly ke divisi gaya hidup. Menolak dibatasi pada rubrik “halaman perempuan”, Bly memutuskan pergi ke Meksiko untuk menjadi koresponden luar negeri. Pada usia yang baru 21 tahun, dengan tekad melakukan hal yang belum pernah dicoba oleh perempuan jurnalis mana pun, Bly meliput realitas kehidupan di bawah kediktatoran Porfirio Diaz selama enam bulan.
Ketika diancam akan ditangkap oleh otoritas setempat, ia melarikan diri dari Meksiko menuju New York. Di kota itulah jurnalis tangguh ini kemudian menghasilkan laporan Ten Days in a Mad-House. Laporan tersebut memperkuat reputasinya sebagai jurnalis yang menggunakan pengalaman langsung di lapangan untuk mengungkap persoalan yang sulit terlihat dari luar.
Baca juga: Ita Fatia Nadia: Lawan Penghapusan Sejarah Perempuan dan Pelanggaran HAM
Jurnalisme untuk Keadilan dan Perempuan yang Jadi Pelopor
Walaupun liputan-liputan populernya dirancang untuk memicu diskusi terbuka di masyarakat, Bly tidak pernah mengorbankan akurasi data atau terjebak dalam praktik yellow journalism yang mengandalkan sensasionalisme. Sebagaimana dijelaskan dalam buku Young Heroes in World History (1999), Bly konsisten berpihak pada kaum miskin dan kelompok yang terpinggirkan. Melalui karya-karyanya, ia secara berani menguak bobroknya sistem yang korup serta realitas kemiskinan di lapangan.
Sebagai contoh, hanya berselang satu tahun setelah investigasinya di rumah sakit jiwa, Bly kembali melakukan penyamaran sebagai seorang pelobi guna membongkar praktik korupsi di lembaga legislatif negara bagian New York. Dalam aksi ini, ia menargetkan Ed Phelps, figur yang menjuluki dirinya sendiri sebagai “Raja Lobi”.
Bly bepergian ke Albany dan berpura-pura menjadi klien yang ingin menghentikan rancangan undang-undang (RUU) karena berpotensi merusak bisnis suaminya. Saat bertemu dengan Phelps, ia ditawari jaminan Phelps dapat menyuap sejumlah anggota legislatif senilai 1.000 dolar AS demi menggagalkan RUU tersebut. Laporan investigasi Bly seketika memicu penyelidikan resmi terhadap para anggota dewan, sekaligus memaksa Phelps melarikan diri meninggalkan Albany.
Setelah laporan tersebut, Bly konsisten jadi sosok yang ditakuti oleh para pelanggar hukum, penipu, serta pihak-pihak yang mengeksploitasi masyarakat miskin atau termarginalkan. Bly rela menyusup ke penjara perempuan demi melaporkan secara langsung bagaimana para tahanan perempuan mengalami berbagai tindak kekerasan, termasuk kekerasan seksual di dalam sel.
Tidak berhenti di situ, dengan berpura-pura menjadi pekerja rumah tangga yang sedang mencari pekerjaan, ia membongkar praktik tidak diskriminatif dari penyalur tenaga kerja. Dalam kesempatan lain, Bly menyamar sebagai ibu tunggal dengan bayi baru lahir untuk menginvestigasi sindikat perdagangan anak secara ilegal. Ia juga pernah berpura-pura menjadi buruh pabrik perempuan untuk mengungkap buruknya kondisi kerja serta potensi bahaya yang harus dihadapi para pekerja perempuan setiap harinya.
Dedikasi dan keberaniannya ini menginspirasi lahirnya generasi perempuan jurnalis baru. Teknik penyamaran yang dirintis oleh Bly pun berkembang menjadi metode bagi para perempuan muda pada masa itu untuk menembus dan membangun karier di dunia jurnalisme. Tidak kalah penting, Bly memasang fondasi kuat untuk berkembangnya jurnalisme investigasi yang kita kenal hingga hari ini.
Baca juga: Dari Kompos ke Komunitas: Perempuan Petani Kota Menanam Harapan di Tengah Beton
Yang Pertama dalam Banyak Hal
Tidak hanya menjadi pelopor bagi perkembangan jurnalisme investigasi modern, Nellie Bly juga merupakan figur pelopor dalam berbagai ranah lainnya. Ia tercatat sebagai salah satu jurnalis perjalanan perempuan pertama di dunia, sekaligus menunjukkan kemampuan perempuan untuk mengambil ruang di bidang yang saat itu didominasi laki-laki.
Pada era ketika perempuan dianggap membutuhkan bantuan bahkan sekadar untuk menyeberang jalan, Bly pada 1889 mengambil tantangan besar untuk memecahkan rekor perjalanan fiktif Phileas Fogg dari novel karya Jules Verne, Around the World in 80 Days, di bawah naungan majalah Cosmopolitan. Tantangan tersebut menjadi salah satu perjalanan paling dikenal dalam karier jurnalistiknya.
Mini dokumenter animasi rilisan The Atlantic menyebutkan ide tersebut pada awalnya diragukan oleh atasan tempatnya bekerja. Semata-mata karena dirinya perempuan, sang atasan menilai ia membutuhkan pengawal laki-laki, harus membawa koper penuh pakaian, serta dinilai terbatas karena hanya menguasai bahasa Inggris. Bly kemudian berangkat dengan persiapan yang jauh lebih sederhana dari perkiraan atasannya.
Namun, sudah menjadi tabiat Bly untuk tidak mudah menyerah. Hanya berbekal satu tas kecil dan satu gaun, Bly menempuh perjalanan mengelilingi dunia selama 72 hari. Rutenya melintasi berbagai negara dan kota besar dunia, mulai dari Port Said di Mesir, Penang di Malaysia, Singapura, Hong Kong di Tiongkok, hingga San Francisco di Amerika Serikat.
Di sepanjang perjalanan, ia mencatat setiap detail petualangannya serta interaksinya dengan warga lokal. Laporan perjalanan ini terus ia kirimkan secara berkala ke surat kabar The World. Hasilnya, publik Amerika Serikat dengan cepat terpesona oleh kisah-kisah perjalanan luar biasa yang ditulis oleh Bly.
Gebrakan Bly di dunia jurnalistik tidak berhenti sampai di situ. Di saat perempuan jurnalis lain masih harus berjuang keras sekadar untuk mendapatkan ruang di luar rubrik gaya hidup, Bly melangkah lebih jauh dengan menjadi perempuan pertama yang melaporkan secara langsung dari Front Timur pada Perang Dunia I. Dalam bukunya, jurnalis Brooke Kroeger mencatat bagaimana Bly, yang saat itu menulis untuk New York Evening Journal, terjun langsung mendatangi garis depan pertempuran aktif di Eropa, bahkan sering kali berada di bawah hujan tembakan.
Bly bersembunyi di dalam parit pertahanan saat serangan artileri Rusia membombardir, mengalami paparan gas beracun, serta bertahan dalam cuaca dingin dan hujan lebat bersama para prajurit selama berminggu-minggu. Pengalaman nyata di lapangan ini menghasilkan 21 laporan yang mendetailkan perang parit, kondisi rumah sakit militer, hingga penderitaan para prajurit Rusia dan Austria.
Bly secara sadar menghindari penulisan analisis strategi militer yang kaku dan kering yang biasa dilakukan jurnalis laki-laki. Ia justru berfokus pada dampak kemanusiaan dari perang tersebut, seperti menggambarkan kondisi prajurit yang terluka, situasi rumah sakit lapangan yang darurat, hingga realitas kelam yang harus dihadapi oleh warga sipil yang terpaksa jadi prajurit. Pendekatan tersebut membuat pengalaman manusia di tengah perang menjadi bagian penting dalam laporan-laporannya.
Karena keberaniannya berada di garis terdepan, ia sempat ditangkap atas dugaan sebagai mata-mata Inggris, sebelum akhirnya dibebaskan setelah petugas mengenali dirinya sebagai reporter ternama Nellie Bly. Pengalaman tersebut menjadi bagian lain dari perjalanan panjangnya sebagai jurnalis yang berkali-kali memasuki situasi berisiko demi mendapatkan laporan langsung.
Melalui rentetan laporannya, Nellie Bly membuktikan jurnalisme bukan sekadar menulis. Ia menjadikan karya jurnalistik sebagai alat perjuangan sosial untuk mendobrak batasan gender, mengungkap persoalan yang tersembunyi, serta mendorong reformasi publik.





















