20/08/2026
Lifestyle Opini

Apa yang Sebenarnya Kita Konsumsi Saat Beli Barang Bermerek?

Kita mungkin enggak cuma membayar fungsi dan kualitas, tetapi juga citra, status, hingga identitas yang melekat pada sebuah merek.

  • August 20, 2026
  • 5 min read
  • 10 Views
Apa yang Sebenarnya Kita Konsumsi Saat Beli Barang Bermerek?

Waktu kecil, ketika ibu mengajak saya berbelanja di sebuah pusat perbelanjaan, saya melihat bagaimana ia memilih barang berdasarkan kegunaan dan kualitasnya. Pakaian, tas, maupun perlengkapan untuk merawat diri dibeli karena memang dibutuhkan. Jika memilih barang dari merek yang terkenal atau dianggap bagus, alasannya pun sederhana: berharap mendapatkan kualitas yang lebih baik.

Namun, ketika beranjak dewasa, saya menemukan pengalaman yang berbeda. Seorang teman saya, Tari, pernah membeli sebuah barang bukan semata-mata karena fungsi atau kualitasnya, melainkan karena apa yang barang tersebut dapat katakan tentang dirinya di hadapan orang lain. Merek tertentu memberinya rasa percaya diri dan, dalam pandangannya, membuatnya terlihat memiliki status sosial yang lebih tinggi.

Saya yang sejak kecil terbiasa melihat ibu membeli barang dari kegunaan dan kualitasnya sempat bertanya-tanya: mengapa sebuah barang bisa dianggap membawa status sosial bagi pemiliknya? Mengapa kita bisa merasa lebih berharga hanya karena mengenakan atau memiliki merek tertentu? Seolah-olah apa yang melekat pada tubuh ikut mengatakan sesuatu tentang siapa diri kita.

Mungkin kita bisa melihat orang-orang di sekitar kita yang begitu bangga ketika membicarakan barang bermerek yang mereka miliki. Yang mereka bicarakan barangkali bukan hanya barang itu sendiri, tetapi juga hubungan sosial yang terbentuk di sekitarnya. Sesama pengguna merek tertentu dapat merasa lebih dekat karena memiliki sesuatu yang sama-sama mereka gunakan dan pahami.

Pada titik tertentu, sebuah merek bahkan dapat menjadi semacam penanda kelompok: membedakan siapa yang dianggap bagian dari suatu lingkungan dan siapa yang berada di luarnya. Di beberapa lingkungan sosial, kepemilikan merek tertentu juga dapat menunjukkan kelas dan menciptakan rasa eksklusivitas dibandingkan dengan kelompok lainnya.

Baca Juga: Cara Kecil Bantu Ekonomi Lokal Saat Hidup Lagi Berat

Barang Menjadi Penanda Identitas

Seperti yang pernah dikemukakan Jean Baudrillard, masyarakat modern dalam mengonsumsi tidak hanya berhenti pada fungsi suatu barang, tetapi juga pada nilai dan tanda yang melekat padanya. Coba kita perhatikan, apakah kita melihat corak identitas yang berbeda pada pengguna sepatu Converse atau New Balance? Bahkan pada mereka yang memilih Uniqlo dibandingkan H&M? Mungkin secara fungsi, keduanya sama-sama dapat memenuhi kebutuhan kita untuk mengenakan alas kaki atau berpakaian.

Namun, mengapa merek-merek tersebut seolah membawa kesan dan identitas yang berbeda bagi orang yang menggunakannya? Sehingga ketika mengonsumsinya adalah cara mengatakan, “inilah siapa saya”.

Pernahkah kita bertanya, jika nilai dan tanda tersebut ikut kita konsumsi, siapa yang sebenarnya membentuknya? Mengapa merek tertentu dianggap mewah, sementara merek lainnya dianggap biasa, bahkan ada yang dipandang murahan? Nilai tersebut seolah-olah sudah melekat pada barang sebelum sampai ke tangan kita. Memilih dan memiliki merek tertentu juga dapat menjadi cara untuk menunjukkan kemampuan finansial seseorang, meskipun bisa jadi bukan itu alasan utama ketika pertama kali membelinya.

Mungkin kita perlu merenung lebih jauh. Bisa jadi kapitalisme tidak hanya menjual barang, tetapi juga menjual keinginan untuk menjadi sesuatu. Namun, saya juga tidak ingin mengatakan membeli barang bermerek adalah sesuatu yang sia-sia. Bagaimanapun, saya sendiri merupakan bagian dari sistem konsumsi tersebut.

Pada akhirnya, kita tetap memiliki pilihan. Setiap kali kita membeli sesuatu, secara tidak langsung kita sedang memilih apa yang ingin kita dukung dan apa yang kita anggap bernilai dalam masyarakat. Pilihan itu kemudian membawa kita pada pertanyaan lain: sejauh mana kita memahami konsekuensi dari barang yang kita konsumsi?

Baca Juga: Trendi tapi Mencemari: Mengurai Industri ‘Fast Fashion’ yang Ternyata Rugikan Perempuan

Konsumsi Enggak Lagi soal Memiliki

Tetapi apa yang terjadi ketika pilihan kita dalam berkonsumsi tidak memiliki batas? Mungkin kita perlu bertanya lebih jauh tentang konsekuensi dari setiap barang yang kita beli. Apakah barang tersebut benar-benar kita butuhkan atau hanya menjadi bentuk pemborosan karena keinginan untuk terus memiliki sesuatu yang baru?

Pertanyaan itu juga dapat diperluas pada proses di balik barang yang kita beli. Dari bahan apa barang itu dibuat? Bagaimana proses produksinya? Bagaimana kondisi para pekerja yang membuatnya? Ke mana limbah produksinya berakhir?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi semakin penting ketika kita melihat bagaimana industri, misalnya fast fashion, menghasilkan begitu banyak barang dalam waktu singkat dan meninggalkan persoalan lingkungan yang tidak sederhana. Ketika konsumsi tidak lagi sekadar tentang memiliki sebuah barang atau menunjukkan status sosial, kita juga perlu memikirkan jejak yang ditinggalkannya.

Sebab, setiap barang yang sampai ke tangan kita memiliki proses panjang di belakangnya. Proses tersebut mungkin membawa konsekuensi yang sampai saat ini belum kita rasakan dampaknya.

Barangkali tidak ada yang salah dengan memiliki barang bagus atau bermerek, selama kita memang menghargai kualitas dan kegunaannya. Mungkin yang perlu kita lakukan adalah berhenti sejenak sebelum membeli dan bertanya kepada diri sendiri: apakah kita benar-benar membutuhkan barang ini, atau sebenarnya sedang membeli keinginan untuk dianggap oleh orang lain?

Pada akhirnya, mungkin kita perlu mengingat keberhargaan diri tidak selalu ditentukan oleh barang yang kita miliki. Kita tetap menjadi diri kita sendiri ketika logo dan merek itu dilepaskan. Sebab sebelum memiliki semua barang yang ingin kita beli, keberadaan kita sendiri sudah lebih dulu memiliki nilai.

Ros Rahma Yahya

Penafian: Penulis menggunakan Chat GPT (AI) terbatas pada penyuntingan kosakata atau kemudian struktur kalimat. Pengalaman, sudut pandang, dan opini murni ditulis oleh penulis.

About Author

Ros Rahma Yahya