18/08/2026
Culture Issues Politics & Society

Dari Nadin sampai Baskara ‘Hindia’, Kenapa Penting Musisi Tanah Air Dukung Hak Kwir?

Nadin Amizah dan Baskara Putra memilih bersuara soal persekusi dan diskriminasi terhadap kelompok kwir. Di dunia seni, suara musisi juga punya sejarah panjang sebagai medium untuk melawan ketidakadilan dan mendorong perubahan.

  • August 18, 2026
  • 6 min read
  • 7 Views
Dari Nadin sampai Baskara ‘Hindia’, Kenapa Penting Musisi Tanah Air Dukung Hak Kwir?

Dalam beberapa bulan terakhir gelombang persekusi bagi kelompok kwir terbilang kian intens terjadi. Pada (16/7) lalu, sejumlah transpuan di Bogor mendapatkan intimidasi, ancaman, penganiayaan, hingga pengusiran.

Teranyar, kasus persekusi kembali menimpa transpuan di Alun-Alun Rangkasbitung, Banten. Mengutip keterangan akun “@pelanginusantara_org”, transpuan yang menjadi korban kini tengah dirawat karena mengalami luka serius. Dalam peristiwa tersebut, diduga ada lebih dari 10 orang yang terlibat dalam pengeroyokan.

Di tengah persekusi yang menimpa kelompok queer, sejumlah musisi tanah air memilih untuk bersuara. Nadin Amizah, lewat cerita Instagram, mengecam tindak kekerasan yang dilakukan terhadap transpuan di Bogor.

“Pengguna akun (atau Instagram) sudah menghapus unggahannya (konten persekusi) bukan berarti keamanan queer terjamin. Kekerasan tetaplah kekerasan, tidak peduli di pihak mana pun kamu berada.” Tulis Nadin.

Vokalis Hindia sekaligus vokalis band .Feast, Baskara Putra, juga beberapa kali menyampaikan kecamannya terhadap diskriminasi terhadap kelompok queer. Ia pernah menegur seorang pengguna X setelah menggunakan potongan lirik lagu “Peradaban” miliknya untuk menyerang queer. Baskara menegaskan bahwa ia tidak mau karyanya dipakai untuk merendahkan kelompok minoritas.

Baskara juga pernah mengecam aksi kameramen di konsernya yang menyorot tulisan “JADI APAPUN ASAL JANGAN JADI BOTI” yang ditampilkan di videotron. Lewat cuitannya di X, ia menulis “tol*l. kameramen jg ngapain nyorot ginian, katro”.

Selain Nadin dan Baskara, penyanyi bergenre hipdut, Naykilla, juga pernah secara terbuka mengucapkan “I love gays” di atas panggung. Sementara itu, girl band no na dalam sebuah wawancara secara terbuka mengatakan lagu mereka yang bertajuk “work” didedikasikan untuk para perempuan dan komunitas gay.

Baca juga: Dari Naykilla hingga no na, Era Lagu Centil dan Perempuan yang Berani Ekspresikan Diri

Musisi Punya Privilese Panggung dan Suara

Apa yang dilakukan oleh Nadin, Baskara, Naykilla, sampai no na menunjukkan, publik figur selalu punya pilihan untuk menyuarakan kemanusiaan.

Tak bisa disangkal, publik figur punya posisi strategis dalam menyuarakan isu sosial karena popularitas memberikan mereka akses kepada audiens yang lebih luas, termasuk orang-orang yang mungkin tidak secara aktif mengikuti isu tersebut.

Fenomena ini dikenal dengan “aktivisme selebriti”. Aktivisme selebriti sendiri memiliki sejarah yang panjang di dunia. Menukil tulisan Jennifer dan Laura (2024), Putri Diana dari Inggris dianggap oleh banyak orang sebagai aktivis selebriti modern pertama sebab ia mendefinisikan ulang sejauh mana publik figur terlibat dalam isu-isu global.

Diana secara pribadi pernah mengunjungi sebuah rumah sakit pada 1987 dan berjabat tangan serta memeluk para pasien AIDS ketika ketakutan dan stigma sosial tentang penyakit tersebut masih sangat kental saat itu. Kemudian pada 1997 ia berjalan melalui ladang yang baru dibersihkan dari ranjau darat di Angola, untuk meningkatkan kesadaran akan bahaya ranjau yang terlupakan.

Jika berbicara di era digital, salah satu gerakan yang juga banyak disuarakan oleh selebriti dan akhirnya mendorong perubahan adalah gerakan MeToo. Gerakan MeToo sendiri dibentuk oleh aktivis sosial asal Amerika Serikat bernama Tarana Burke, yang ditujukan untuk mendukung para penyintas kekerasan seksual. Kemudian tagar #MeToo menjadi viral di media sosial pada 2017 setelah dipopulerkan oleh aktris Alyssa Milano, menyusul kasus kekerasan seksual di industri hiburan yang dilakukan produser Harvey Weinstein.

Berkaca dari sejarah, tidak perlu gelar aktivis untuk bisa menyuarakan isu kemanusiaan dan perubahan. Publik figur apa pun itu titelnya–aktris, musisi, atau influencer–juga dapat berkontribusi besar pada perubahan lewat platform yang mereka punya.

Kesadaran akan privilese yang dimiliki—panggung, karya, dan audiens yang luas—menjadi penting bagi publik figur untuk menggunakan pengaruhnya dalam menolak diskriminasi dan memperluas percakapan tentang hak kelompok kwir. Suara mereka setidaknya dapat menunjukkan bahwa kekerasan dan kebencian terhadap kwir bukan sesuatu yang layak dinormalisasi.

Baca juga: Mendengarkan Maskulinitas yang Manusiawi dari Band Perunggu

Seni Tak Bisa Lepas dari Kemanusiaan

Apa yang dilakukan Nadin dan Baskara dalam menyuarakan penindasan juga menunjukkan bahwa seni tak akan pernah bisa dilepaskan dari perlawanan dan kemanusiaan. Mengutip tulisan di Myartbroker, dalam sejarah para seniman telah menggunakan karya mereka untuk menantang status quo dan menginspirasi perubahan.

Contoh perlawanan lewat seni tercatat di peradaban di Mesir kuno, di mana para seniman menggunakan karya mereka untuk mengkritik firaun dan kelas penguasa. Di Yunani kuno, para seniman menggunakan karya mereka untuk menantang norma-norma politik dan sosial pada masa itu.

Kemudian, Selama masa Renaisans, para seniman mulai menggunakan karya mereka untuk mengekspresikan pandangan tentang agama dan politik. Seniman Italia Michelangelo menciptakan beberapa karya seni protes paling terkenal pada masa itu, termasuk patung David, yang dianggap sebagai simbol perlawanan terhadap patronase Medici yang kuat di kota Florence.

Seni musik pun kerap digunakan sebagai medium perlawanan. Mengutip Ongoing History of Protests Songs, salah satu contohnya adalah “Ode to Joy” karya Beethoven (berdasarkan puisi Friedrich Schiller “Ode to Freedom”), yang mendukung persaudaraan universal dan menentang perbudakan yang ada di banyak bagian dunia.

Lalu pada 1795, muncul lagu protes dari para feminis berjudul “Rights of Woman” sebagai bentuk perjuangan hak-hak perempuan, yang merupakan penggarapan ulang dari “God Save The Queen”.

Selama abad ke-20, para seniman musik folk dan blues mulai bersuara untuk menyoroti ketidakadilan sosial. Di antaranya yang terkenal Joe Hill, Lead Belly, dan Josh White.

Lagu anti-lynching atau anti hukuman mati di luar pengadilan oleh Billie Holiday tahun 1939 berjudul “Strange Fruit”, secara luas dianggap sebagai katalis penting bagi gerakan hak-hak sipil. Saat itu, praktik lynching banyak menarget warga kulit hitam di Amerika Serikat.

Mengutip McKay dan Arnold (2020), dalam sejarah musik kwir sendiri, perlawanan terhadap diskriminasi juga dilakukan melalui musik. Salah satunya “Queercore”, atau gerakan punk kwir yang muncul pada pertengahan 1980-an sebagai respons atas meningkatnya kekerasan terhadap kwir, sekaligus memprotes norma sosial yang terlalu membatasi ekspresi kwir.

Tradisi menggunakan karya seni sebagai medium untuk menyuarakan persoalan juga bukan sesuatu yang asing di Indonesia. Sejumlah musisi menggunakan karya mereka untuk merefleksikan kondisi masyarakat, mengkritik ketidakadilan, hingga mempertanyakan kekuasaan.

Baca juga: Pengalaman Mendengar Hipdut: Instrumen Penuh ‘Pleasure’, Liriknya Bikin ‘Guilty’

Salah satunya Baskara Putra. Bersama .Feast, ia menghadirkan lagu “Peradaban” yang berbicara tentang berbagai persoalan sosial, termasuk diskriminasi dan intoleransi yang masih terjadi di tengah masyarakat. Sementara melalui lagu “Kami Belum Tentu”, Baskara menyuarakan kegelisahan terhadap kepemimpinan dan sistem politik negeri ini.

Pada akhirnya, musik dan karya seni tak pernah sekadar menjadi alat untuk menghibur. Sejarah menunjukkan bahwa seni juga dapat menjadi medium untuk melawan ketidakadilan, menyuarakan mereka yang dimarjinalkan, dan mendorong perubahan.

Maka, ketika musisi menggunakan karya dan panggungnya untuk membela kelompok kwir, mereka juga sedang melanjutkan tradisi panjang seni sebagai medium perlawanan melawan penindasan dan membela nilai-nilai kemanusiaan.

About Author

Muhammad Rifaldy Zelan

Muhammad Rifaldy Zelan adalah penyuka makanan pedas tapi gak suka berkeringat. Ia juga suka duduk-duduk di taman dengan pikiran kosong.