Aksi #MerebutKemerdekaan Diwarnai Penghadangan, BEM UI: Tak Ada Larangan Berpendapat
Wakil Ketua BEM UI Fathima Azzahra meminta polisi yang terus berbicara saat dia sedang memberikan instruksi kepada mahasiswa, untuk diam (Foto: Andrei Wilmar/Magdalene).
Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) menggelar aksi massa di Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat, (18/8). Dengan tajuk #MerebutKemerdekaan, massa membawa delapan tuntutan, di antaranya menurunkan harga kebutuhan pokok dan BBM serta evaluasi total Proyek Strategis Nasional.
Peserta aksi tergabung dari mahasiswa UI, Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka (UHAMKA), Universitas Pancasila, Universitas Pasundan, Universitas Bung Karno, dan masyarakat sipil. Namun, sekitar 300 peserta aksi dihadang polisi di depan gedung Bank UOB dan tidak diizinkan maju ke Bundaran HI.
Pada pukul 14.30 WIB, seorang polisi dengan tanda ‘Kasubdit Dalmas’ berjalan di trotoar sambil memegang toa dan meminta masyarakat sipil tidak mengikuti “demonstrasi mahasiswa”.

Polisi mendorong mahasiswa yang meminta membuka jalan ke Bundaran HI (Foto: Andrei Wilmar/Magdalene).
Baca juga: Meski Dihadang, Mahasiswa Tetap ke Bundaran HI Tolak BBM
Gangguan Menggelar Aksi
Aksi tersebut kemudian diwarnai tindakan aparat terhadap peserta. Pada pukul 14.42 WIB, polisi memukul, menendang, dan mendorong peserta aksi yang berdiri di jalur TransJakarta untuk membuka jalan kendaraan.
Kepala Departemen Kajian Strategis BEM UI, Namora Diarta Siahaan atau Mora, mengatakan gangguan sudah terjadi sebelum mahasiswa berangkat dari Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) UI, Depok, Jawa Barat.
“Kita dihalangi di Pasar Minggu, kita disuruh turun tadi sebelum flyover Semanggi tadi kita disuruh turun,” ujar Mora kepada wartawan.
Selain itu, bus yang sudah dipesan sejak jauh-jauh hari, kata Mora, dibatalkan mendadak. “Kita di sini harusnya pakai Kopaja, tapi tadi pagi jam 08.00, kita diinfokan 17 Kopaja yang kita sewa dibatalkan secara sepihak, mereka bilang karena ada koordinasi dari atas,” tambahnya.
Mora mempertanyakan alasan mahasiswa mendapat gangguan dalam perjalanan menuju lokasi aksi. Menurutnya, tidak ada larangan melakukan aksi di Bundaran HI.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung sebelumnya juga pernah mengatakan hak menyampaikan pendapat di muka umum dijamin Undang-Undang ketika publik ramai berdiskusi soal aturan demonstrasi di Bundaran HI pada Juli lalu.
“Di dalam negara demokrasi, hak untuk menyampaikan pendapat, berunjuk rasa, itu dijamin oleh undang-undang,” tutur Pramono, dilansir dari Suara.com.

Baca juga: Setop MBG sampai Kembalikan TNI-Polri ke Barak, Tuntutan Mahasiswa di Aksi #MenujuIndonesiaBangkrut
Perdebatan Mobil Komando
Setelah tindakan aparat terhadap peserta aksi, mahasiswa meminta polisi membuka jalan. Mereka meneriakkan yel-yel, “buka, buka, buka jalannya, buka jalannya sekarang juga!”
Namun, polisi meminta peserta aksi tetap tertib dan “tidak mendorong”, serta meminta anggota kepolisian untuk “bertahan”. Mahasiswa pun merespons pernyataan tersebut, sementara sebagian peserta mengeluh, “tadi muka gue kena tonjok.”
Wakil Ketua BEM UI, Fathima Azzahra, kemudian meminta mahasiswa tetap tenang dari mobil komando. Di tengah komando Fathima, polisi terus berbicara menggunakan pengeras suara dari mobil komando kepolisian yang membawa pagar untuk menutupi jalan mahasiswa.
Fathima kemudian meminta polisi di balik pengeras suara mobil komando untuk diam karena ia sedang berusaha berkoordinasi dengan mahasiswa.
“Pak polisi anda juga diam, anda dari tadi menceramahi kita tentang ketertiban umum, tidak boleh menggunakan mobil komando, tapi anda sendiri menggunakan mobil komando, anda sendiri menggunakan pengeras suara,” ujar Fathima.
Ia kemudian mengingatkan mahasiswa untuk tetap tenang dan memberi contoh kepada aparat untuk menghargai orang lain. Menenangkan mahasiswa, kata Fathima, ia lakukan bukan karena takut, melainkan tidak ingin rekan-rekannya terprovokasi.
“Saya memegang mic karena melihat teman-teman saya sudah terhimpit. Karena saya ingin mereka kembali ke mobil komando. Bukan karena saya takut, bukan karena saya nurut pada anda,” ujar Fathima.
“Karena bagi saya teman-teman saya lebih berharga, karena saya tahu, bagi anda, nyawa teman-teman saya ini tidak ada artinya,” tambahnya.
Setelah berbagai orasi terkait tuntutan, seperti evaluasi program Makan Bergizi Gratis (MBG), kekerasan aparat, dan bencana di NTT, massa aksi membubarkan diri pada pukul 18.00 WIB. Dari mobil komando, Koordinator Bidang Sosial dan Politik BEM UI, Hafidz Haernanda, mengingatkan aparat meminta maaf atas tindakan yang dilakukan terhadap peserta aksi.
“Untuk adik-adik polisi jangan lupa meminta maaf kepada mahasiswa yang tadi kalian represi,” tutup Hafidz sebelum mobil komando meninggalkan lokasi aksi.





















