Pada sebuah pesta adat ketika bertugas di Sumba, saya mengikuti percakapan keluarga tentang belis atau mahar yang akan diserahkan dalam rangkaian perkawinan. Di tengah tawa, kain-kain tenun yang dikenakan para anggota keluarga, serta pembicaraan tentang kerbau, kuda, emas, dan berbagai benda adat, seseorang memuji calon pengantin perempuan sebagai perempuan “mahal” karena belisnya tinggi.
Sebagai orang luar, kata “mahal” itu membuat saya tercenung. Saya memahami bahwa sebutan tersebut disampaikan sebagai penghormatan. Namun, saya juga bertanya-tanya: ketika penghargaan kepada perempuan dinyatakan melalui besaran belis, apakah batas antara penghormatan dan penilaian material selalu mudah dibedakan?
Di berbagai wilayah Nusa Tenggara Timur, termasuk Sumba, belis merupakan bagian penting dalam perkawinan adat. Ia tidak dapat dipahami semata-mata sebagai pemberian dari keluarga laki-laki kepada keluarga perempuan, apalagi disederhanakan sebagai transaksi untuk “membeli” pengantin perempuan. Belis mengandung penghormatan, tanggung jawab, martabat keluarga, ikatan kekerabatan, serta kewajiban timbal balik yang dapat berlangsung lintas generasi.
Mariana, perempuan muda dari Kampung Adat Ratenggaro, Sumba Barat Daya, menegaskan bahwa belis dalam pemahaman masyarakatnya adalah bentuk penghargaan, meski sekarang kadang orang lebih banyak bicara soal jumlahnya daripada maknanya.
Deonatus Jama Bohe, Ketua Dewan Adat Kampung Ratenggaro, juga menekankan bahwa inti belis terletak pada relasi antara kedua keluarga, sebagai cara dua keluarga saling menghargai dan menjaga persaudaraan.
Justru karena belis memiliki makna sosial dan kultural yang dalam, pergeseran dari relasi menuju jumlah perlu dibicarakan secara terbuka. Kritik dalam tulisan ini bukan ditujukan pada belis sebagai adat, melainkan pada praktik yang menjadikan besarnya belis sebagai ukuran gengsi, kemampuan ekonomi, bahkan nilai seorang perempuan.
Ketika jumlah lebih sering dibicarakan daripada hubungan yang hendak dibangun, belis dapat berubah menjadi penanda status. Nilai yang tinggi menjadi sumber kebanggaan, sedangkan nilai yang dianggap rendah dapat memunculkan rasa malu atau penilaian terhadap keluarga.
Persinggungan antara adat, status sosial, dan kemampuan ekonomi tidak hanya terjadi di Sumba. Dalam tradisi sinamot pada masyarakat Batak, misalnya, besaran pemberian adat juga terkadang dikaitkan dengan pendidikan, pekerjaan, dan latar belakang calon pengantin perempuan. Meskipun memiliki konteks yang berbeda, keduanya menunjukkan bahwa praktik adat terus berinteraksi dengan perubahan sosial dan cara masyarakat memaknai prestise.
Di titik inilah cara perempuan dibicarakan perlu diperiksa secara kritis. Pendidikan dan pekerjaan perempuan dapat menjadi pertimbangan dalam menentukan belis yang dianggap “pantas”. Hal itu mungkin dimaksudkan sebagai pengakuan atas pencapaiannya. Namun, ketika pencapaian perempuan diterjemahkan menjadi nilai materi, penghormatan berisiko berubah menjadi pengukuran.
Istilah perempuan “mahal” memang tidak serta-merta berarti bahwa masyarakat menganggap perempuan sebagai barang. Namun, bahasa tidak pernah sepenuhnya netral. Ketika digunakan bersama penekanan yang kuat pada jumlah, istilah tersebut dapat membentuk kesan bahwa nilai perempuan dapat ditentukan dan dinegosiasikan.
Baca Juga: Sebab-sebab Tingginya Perkawinan Anak, Krisis Iklim Salah Satunya
Antara Solidaritas dan Tekanan Ekonomi

Belis tidak hanya melibatkan calon pengantin dan orang tua mereka, tetapi juga jaringan keluarga besar. Paman, saudara, dan kerabat dapat menyumbangkan hewan, barang, atau uang ketika seorang anggota keluarga menikah. Bantuan tersebut kelak dibalas ketika keluarga pemberi mengadakan perkawinan atau upacara adat lainnya.
Timbal balik ini menjadi cara keluarga menjaga hubungan, menunjukkan tanggung jawab, dan memastikan tidak ada anggota keluarga yang menghadapi kewajiban adat seorang diri. Belis dengan demikian juga memuat semangat gotong royong yang tidak dapat dinilai hanya berdasarkan perhitungan ekonomi individual.
Namun, solidaritas dapat berubah menjadi tekanan ketika tuntutan sosial melampaui kemampuan keluarga. Beberapa orang yang saya temui bercerita tentang keluarga yang memilih berutang agar tetap dapat menyumbang atau memenuhi belis. Mereka khawatir dianggap tidak peduli kepada kerabat atau tidak menjalankan tanggung jawab adat.
Baca Juga: Tokoh Agama, Adat Pegang Kunci Pencegahan Perkawinan Anak
Beban tersebut dapat terbawa hingga setelah pesta selesai. Ada pasangan muda yang memulai rumah tangga sambil mencicil utang selama bertahun-tahun. Rencana membeli rumah, mengembangkan usaha, melanjutkan pendidikan, atau memenuhi kebutuhan keluarga akhirnya harus ditunda.
Saya juga pernah berbincang dengan seseorang yang mengatakan bahwa perkawinannya belum dapat diberkati atau dicatatkan di gereja karena proses belis belum selesai. Pasangan lain merasa belum sepenuhnya memperoleh pengakuan dari keluarga atau komunitas adat sebelum seluruh kewajiban dipenuhi.
Ketika pasangan harus berutang, menunda kebutuhan penting, atau kehilangan ruang untuk mengambil keputusan, belis tidak lagi hanya menjadi persoalan simbolik. Ia memiliki konsekuensi ekonomi dan sosial yang nyata.
Dalam The Play of Time: Kodi Perspectives on Calendars, History, and Exchange, antropolog Janet Hoskins menunjukkan bahwa pertukaran dalam masyarakat Kodi di Sumba membawa hubungan, kewajiban, ingatan, dan konsekuensi sosial yang panjang. Pertukaran bukan sekadar perpindahan benda, tetapi cara hubungan sosial dibangun dan dipelihara.
Pemahaman ini membantu kita melihat mengapa belis tidak dapat dinilai hanya sebagai pengeluaran atau utang. Namun, mengakui kompleksitas tersebut tidak berarti mengabaikan beban yang mungkin ditanggung pasangan muda dan keluarga mereka.
Baca Juga: Menyoal Perkawinan Anak di Pesantren
Merawat Tradisi dengan Ruang Negosiasi
Belis tidak harus dihapus agar praktik yang membebani dapat dikritisi. Tradisi dapat terus dijalankan sekaligus dinegosiasikan. Bahkan, kemampuan untuk berubah dapat menjadi cara menjaga agar nilai adat tetap relevan dan tidak kehilangan maknanya.
Sejumlah keluarga mulai menyesuaikan besaran belis dengan kemampuan calon pengantin dan keluarga. Ada yang lebih mengutamakan benda-benda simbolis, mengurangi tuntutan jumlah, atau memberi waktu agar kewajiban adat tidak harus dipenuhi sekaligus. Ada pula yang membuka percakapan antarkeluarga agar pasangan tidak memulai rumah tangga dengan utang berkepanjangan.
Penyesuaian semacam ini bukan berarti mengurangi penghormatan kepada perempuan atau keluarga mereka. Sebaliknya, penghormatan dapat menjadi lebih bermakna ketika tidak diukur dari seberapa besar pengorbanan ekonomi yang mampu ditanggung keluarga.
Negosiasi juga perlu memberi ruang yang lebih besar kepada calon pengantin, terutama perempuan. Jika belis dimaknai sebagai penghormatan kepada perempuan, ia semestinya bukan hanya menjadi objek yang dibicarakan oleh keluarga. Perempuan perlu didengar mengenai bentuk penghormatan yang ia harapkan, dampak keputusan tersebut terhadap kehidupannya, dan masa depan yang ingin ia bangun bersama pasangannya.
Karena itu, yang perlu ditanyakan adalah bagaimana belis dijalankan, siapa yang menentukan, apakah keputusan dibuat dengan mempertimbangkan kemampuan keluarga, serta siapa yang akhirnya menanggung bebannya.
Belis dapat tetap menjadi cara dua keluarga saling menghormati dan menjaga persaudaraan. Namun, ketika jumlah lebih menonjol daripada makna, apakah kita masih sedang menghormati perempuan—atau justru mulai mengukurnya?
Naurah Lisnarini adalah dosen Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran. Tertarik menulis tentang isu perempuan, budaya, dan dinamika sosial dalam kehidupan sehari-hari, khususnya dalam perspektif komunikasi.




















