17/07/2026
Culture Environment Opini Prose & Poem

Ulasan ‘Senjata Kami adalah Upacara Adat’: Kala Perempuan Adat Melawan

Lewat ritual, pengetahuan leluhur, dan aksi kolektif, perempuan adat dalam buku “Senjata Kami adalah Upacara Adat” berjuang mempertahankan ruang hidup mereka.

  • June 19, 2026
  • 7 min read
  • 515 Views
Ulasan ‘Senjata Kami adalah Upacara Adat’: Kala Perempuan Adat Melawan

*Peringatan: Spoiler!

Deru mesin ekskavator memecah keheningan lembah Mollo, Nusa Tenggara Timur. Debu putih dari bongkahan marmer beterbangan, menjadi penanda kerusakan ekologis yang enggak pernah terjadi sebelumnya. Bentang alam yang selama ini menyatu dengan kehidupan masyarakat adat perlahan berubah menjadi kawasan tambang.

Bagi perusahaan tambang, gunung-gunung karst itu tak lebih dari komoditas bernilai tinggi. Namun, bagi masyarakat adat Mollo, setiap pahatan alat berat pada batuan tersebut adalah luka yang merobek ruang hidup sekaligus situs suci leluhur mereka. Dari benturan dua cara pandang itulah perlawanan kemudian lahir.

Aleta Baun, perempuan adat Mollo yang sejak kecil hidup dekat dengan alam, memilih untuk tidak tinggal diam. Bersama perempuan Mollo lainnya, ia berjalan menuju tapak tambang untuk melawan. Mereka tidak membawa senjata tajam, melainkan alat tenun tradisional.

Di bawah terik matahari dan ancaman intimidasi, mereka bersimpuh di atas batu-batu raksasa yang hendak dihancurkan. Benang demi benang dirajut menjadi sehelai kain, menjadikan aktivitas menenun sebagai bentuk perlawanan. Aksi tersebut berlangsung berbulan-bulan dan menarik perhatian publik.

Perlawanan itu merefleksikan keterikatan spiritual manusia dengan alam sekaligus upaya menjaga warisan leluhur dari kerusakan lingkungan. Hingga akhirnya, pada akhir 2011, perjuangan tersebut membuat empat perusahaan tambang marmer angkat kaki. Masyarakat di wilayah Tune dan Bon’leo pun berhasil merebut kembali tanah adat mereka.

Baca Juga: ‘Invisible Women’: Data Laki-laki yang Utama, Perempuan Nanti Saja

Melawan Pengrusakan Alam dengan Kearifan Lokal

Kisah Mama Aleta Baun merupakan satu dari lima potret perlawanan perempuan adat yang diabadikan dalam buku Senjata Kami adalah Upacara Adat. Diterbitkan oleh Insist Press bersama Aleta Baun Foundation, buku ini mengajak pembaca merefleksikan kembali hubungan manusia dengan Ibu Bumi yang kian renggang dihantam arus modernitas. Melalui pengalaman para tokohnya, buku ini menunjukkan bagaimana masyarakat adat memandang alam sebagai bagian dari kehidupan, bukan sekadar sumber daya.

Akar keterputusan tersebut, menurut buku ini, berangkat dari cara manusia memandang alam. Modernitas melahirkan pemisahan antara manusia dan lingkungan hidup. Logika pembangunan maupun pendidikan modern masih banyak dipengaruhi dualisme metafisika René Descartes yang membedakan pikiran manusia (res cogitans) dan dunia material (res extensa).

Cara pandang tersebut membuat alam semakin sering dinilai berdasarkan angka, produktivitas, dan keuntungan ekonomi. Relasi emosional maupun spiritual manusia dengan lingkungan perlahan memudar. Alam kemudian diperlakukan sebagai objek yang dapat dieksploitasi selama menghasilkan nilai ekonomi.

Pembangunan terus dikejar, sementara inovasi teknologi melesat semakin cepat. Di tengah situasi tersebut, buku ini menawarkan perspektif yang berbeda. Ketika banyak orang semakin jauh dari alam, masyarakat adat justru mempertahankan hubungan yang intim dengan tanah, air, hutan, dan batu sebagai bagian dari keberlangsungan hidup mereka.

Bagi perempuan adat, merusak alam bukan sekadar persoalan kerugian material. Kerusakan lingkungan dipahami sebagai ancaman terhadap tubuh dan kehidupan mereka sendiri. Filosofi itulah yang disuarakan Aleta Baun:

“Tanah seperti daging, air seperti darah, hutan bagai rambut atau urat nadi, batu seperti tulang. Maka, ketika kita merusak tubuh alam, kita seperti merusak tubuh sendiri.”

Lewat landasan berpikir tersebut, buku ini memperlihatkan bagaimana ritual dan ritus spiritual dapat bertransformasi menjadi senjata politik sekaligus tameng perlawanan. Ketika negara tidak melindungi hak-hak masyarakat adat, atau justru membuka jalan bagi industri ekstraktif melalui izin-izin yang merusak lingkungan, komunitas adat membangun kekuatan mereka sendiri.

Dalam konteks ini, upacara adat bukan sekadar tradisi yang diwariskan turun-temurun. Ritus menjadi instrumen perlawanan yang mempertemukan manusia, alam, dan leluhur dalam satu ruang perjuangan. Spiritualitas hadir bukan sebagai pelengkap, melainkan bagian penting dari upaya mempertahankan ruang hidup.

“Senjata kami adalah upacara adat, maka kami bersama leluhur melawan perusak Ibu Bumi,” tegas Mama Aleta.

Perjuangan mempertahankan ruang hidup juga hadir dalam kisah Mardiana Deren, perempuan adat Dayak Ma’anyan di Barito Timur, Kalimantan Tengah. Ia berperan sebagai pelestari budaya, paralegal, sekaligus pejuang lingkungan di tengah ekspansi industri yang terus menyusutkan ruang kelola masyarakat.

Di Kalimantan Tengah, dari total 15,3 juta hektar luas daratan, sekitar 11,2 juta hektar telah dikapling untuk izin industri pertambangan, kehutanan, dan perkebunan skala besar. Di sisi lain, hanya tersisa sekitar 1,7 persen lahan untuk permukiman dan kelola rakyat. Angka tersebut menunjukkan besarnya tekanan yang dihadapi masyarakat lokal.

Sejak kecil, Mardiana hidup bersama kakeknya yang merupakan seorang balian atau juru pengobatan tradisional. Dari sana ia mewarisi pengetahuan herbal yang bersumber dari hutan adat. Pengetahuan tersebut kemudian menjadi bagian penting dari perjuangannya menjaga hubungan masyarakat dengan alam.

Setelah pensiun sebagai perawat rumah sakit pada 2011, ia rutin melakukan pengobatan keliling. Mardiana memadukan ilmu kebidanan modern dengan ramuan tradisional yang semakin langka akibat deforestasi. Upaya tersebut sekaligus menjadi cara mempertahankan pengetahuan lokal yang perlahan menghilang.

Untuk memperkuat memori kolektif generasi muda, Mardiana mendirikan sanggar tari tradisional seperti Sanggar Tari Tamiang Miraputut. Melalui sanggar tersebut, anak-anak muda diperkenalkan pada nilai-nilai spiritual yang mengajarkan penghormatan terhadap alam sekaligus pentingnya mempertahankan wilayah adat dari eksploitasi.

Baca Juga: “Bagaimana Cara Mengatakan ‘Tidak’?” Tampilkan Perempuan di Lingkaran Kekerasan

Dekolonialisasi Pengetahuan oleh Perempuan Adat

Perlawanan perempuan adat dalam buku ini tidak hanya hadir melalui ritual dan upacara adat. Perlawanan juga dilakukan melalui dekolonialisasi pengetahuan, sebagaimana tergambar dalam kisah Gunarti, perempuan keturunan Sedulur Sikep di Pegunungan Kendeng, Jawa Tengah.

Ketika wilayah Rembang dihadapkan pada rencana pembangunan pabrik semen berskala masif, Gunarti tidak meresponsnya dengan kemarahan. Ia memilih berjalan kaki menyusuri sumber-sumber mata air di kawasan karst tersebut. Melalui kepekaan batin dan kedekatannya dengan alam, ia merasa ruang hidup di wilayah itu belum pernah benar-benar diajak berbicara mengenai ancaman yang datang.

Dari sanalah lahir pilihan untuk merawat ingatan kolektif komunitas. Cara yang ditempuh Gunarti adalah mendirikan sekolah adat pada 1994. Pendidikan dikembalikan pada fungsi dasarnya sebagai ruang penyadaran dan pewarisan nilai-nilai komunitas.

Di sekolah tersebut, anak-anak diajar bernyanyi tanpa iringan musik dalam bahasa Jawa dan Kawi. Mereka juga menulis puluhan tembang menggunakan aksara Jawa sebagai cara merawat pengetahuan leluhur. Harapannya, ketika alam terancam, generasi berikutnya memiliki kesadaran untuk ikut menjaganya.

Gunarti secara tegas menolak pandangan yang mengukur kesejahteraan hanya dari pertumbuhan ekonomi. Menurut kepercayaan Sedulur Sikep, sandang dan pangan harus berjalan beriringan dengan perlindungan atas tanah rakyat serta penghormatan terhadap keberagaman keyakinan. Nilai-nilai itulah yang menjadi fondasi perjuangan mereka.

Dekolonialisasi pengetahuan juga tampak dalam gerakan kedaulatan pangan yang digagas Maria Loretha di Flores Timur. Ia secara konsisten melawan gastro-kolonialisme pada masa Orde Baru yang mendorong penyeragaman konsumsi beras demi mengejar ambisi swasembada.

Dalam proses tersebut, beras tidak lagi sekadar bahan pangan. Beras menjelma simbol kemajuan sekaligus tolok ukur pembangunan suatu daerah. Pada saat yang sama, pangan nonberas perlahan dilekatkan dengan stigma keterbelakangan.

Padahal, dari sudut pandang ekologis, sorgum jauh lebih sesuai dengan kondisi alam Nusa Tenggara Timur. Tanaman ini membutuhkan sedikit air dan memiliki ketahanan tinggi terhadap cuaca ekstrem. Namun pengetahuan mengenai sorgum perlahan tersisih oleh kebijakan penyeragaman pangan.

Tercerabutnya masyarakat lokal dari isi piring mereka sendiri mendorong Maria Loretha mulai menanam sorgum pada 2007. Ia menyadari upaya menghidupkan kembali pangan lokal membutuhkan proses panjang karena pengetahuan tersebut telah lama terkubur. Karena itu, langkah awal yang dilakukan bukan hanya menanam, tetapi juga mempelajari kembali pengetahuan yang hampir hilang.

Baru tiga tahun kemudian, ia mulai mengedukasi dan mengajak warga menanam sorgum bersama. Pada 2014, gerakan tersebut memperoleh dukungan dari Keuskupan Larantuka melalui Yayasan Pembangunan Sosial Ekonomi Larantuka (Yaspensel) yang dipimpin Romo Ben Daud. Dukungan itu membantu memperluas gerakan kedaulatan pangan yang ia bangun.

Baca Juga: ‘As Long As Lemon Trees Grow’: Trauma dan Perlawanan dalam Konflik Suriah

Tantangan Regenerasi Kepemimpinan Perempuan Adat

Meski memuat berbagai catatan kemenangan, Senjata Kami adalah Upacara Adat juga menyimpan kegelisahan mengenai masa depan perjuangan perempuan adat. Salah satu yang paling menonjol adalah persoalan regenerasi kepemimpinan.

Gunarti merumuskan kegelisahan tersebut dalam sebuah refleksi yang tajam: “Para penambang, para pengorder, dan para penjahat lingkungan itu punya struktur generasi. Bgaimana dengan kita?”

Pertanyaan tersebut sejalan dengan kegelisahan Mama Aleta Baun. Menurutnya, persoalan paling rumit yang dihadapi saat ini adalah regenerasi kepemimpinan di kalangan perempuan adat. Banyak perempuan di akar rumput tidak memiliki ruang gerak yang cukup luas ataupun kesempatan belajar menjadi pemimpin karena sejak usia muda telah dibebani pekerjaan domestik yang menyita waktu dan tenaga.

Untuk memutus kebuntuan tersebut, Aleta menekankan pentingnya transfer pengetahuan yang dilakukan secara sengaja dan terencana. Calon pemimpin masa depan perlu menyediakan waktu untuk belajar langsung dari para tetua dan terlibat dalam kehidupan komunitas. Sebab, pengetahuan perjuangan ekologis tidak lahir dari ruang kelas formal, melainkan dari pengalaman yang diwariskan melalui perjumpaan sehari-hari.

Pada akhirnya, Senjata Kami adalah Upacara Adat bukan sekadar buku tentang perjuangan perempuan adat menjaga Ibu Bumi dan warisan leluhur mereka. Buku ini juga merefleksikan tantangan sekaligus strategi untuk memastikan perlawanan tetap hidup, tumbuh, dan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

About Author

Jasmine Floretta V.D

Jasmine Floretta V.D. adalah pencinta kucing garis keras yang gemar membaca atau binge-watching Netflix di waktu senggangnya. Ia adalah lulusan Sastra Jepang dan Kajian Gender UI yang memiliki ketertarikan mendalam pada kajian budaya dan peran ibu atau motherhood.