Setiap kali melihat kucing diberi identitas oleh pemiliknya, entah berupa kalung, pakaian, topi, atau aksesori lain, saya enggak merasa itu lucu tapi justru sedih. Imaji tentang kucing sebagai makhluk lincah, mandiri, dan penuh insting perlahan bergeser menjadi keprihatinan. Praktik yang kerap dibungkus sebagai bentuk kasih sayang itu, di mata saya, lebih menyerupai penjinakan berlebihan, bahkan perbudakan dalam bentuk halus. Sebab, kucing tidak lagi hadir sebagai dirinya, melainkan ditata agar selaras dengan selera dan imajinasi manusia.
Bayangkan seekor kucing berkalung keluar dari rumah dan bertemu kucing liar di jalanan—lebih garang, waspada, dan terlatih bertahan hidup tanpa bergantung pada tangan manusia. Perjumpaan itu bukan soal ejekan dalam arti manusiawi, melainkan kontras eksistensial. Satu makhluk hidup dengan kebebasan dan instingnya, satu lagi berada dalam batasan, proteksi, serta ketergantungan. Kucing liar tidak menengadah pada manusia. Ia berburu, menghindar, dan membaca alam sebagai dunianya.
Baca Juga: Apakah Kucing Bisa Berduka?
Mungkinkah Kucing Merasa Kehilangan Jati Dirinya?
Kegelisahan ini tidak semata soal preferensi personal, melainkan menyentuh persoalan filosofis tentang kebebasan, kuasa, dan cara manusia memperlakukan kehidupan lain. Jean-Paul Sartre menempatkan kebebasan sebagai inti eksistensi. Meski gagasannya berpusat pada manusia, kritik terhadap objektifikasi tetap relevan. Ketika makhluk hidup diperlakukan sebagai objek—sebagai properti yang dapat dihias, diatur, dan dipamerkan—kebebasannya dinegasikan. Kucing yang diberi aksesori direduksi menjadi citra yang melayani kebutuhan estetika pemiliknya.
Dalam kerangka Michel Foucault, praktik ini dapat dibaca sebagai bentuk kekuasaan yang bekerja halus. Tidak ada paksaan kasar, tidak ada kekerasan terbuka, tetapi tubuh kucing tetap diatur dan dinormalisasi. Aksesori berfungsi sebagai simbol domestikasi. Ia menjadi penanda tubuh yang telah “aman”, “jinak”, dan sepenuhnya berada dalam kendali manusia. Dominasi menjadi tak terlihat karena dibungkus dalam bahasa kelucuan dan cinta.
Pandangan Arne Naess melalui Deep Ecology memperdalam kritik tersebut. Naess menolak anggapan nilai makhluk hidup ditentukan oleh kegunaannya bagi manusia dan menekankan setiap makhluk memiliki nilai intrinsik. Mengacu pada ini, praktik yang memaksakan preferensi manusia pada tubuh hewan dapat dipahami sebagai bentuk dominasi antroposentris, di mana integritas hidup makhluk lain menjadi subordinat terhadap kepentingan manusia.
Praktik domestikasi yang tampak sepele ini pada akhirnya mengungkap kecenderungan manusia modern untuk mengatur, mengendalikan, dan “memperindah” kehidupan lain, sering kali dengan mengorbankan kebebasan alaminya.
Baca Juga: Belajar Mencintai Tanpa Syarat dari Kucing
Sayang Tuh Enggak Begitu, Pawrents
Pertanyaan mengapa manusia, justru melalui kasih sayang, kerap mencabut nature makhluk lain membawa kita pada ironi mendasar dalam relasi manusia dan kehidupan. Kasih sayang sering tidak berhenti pada merawat, melainkan berlanjut pada mengatur dan mengendalikan. Cinta hadir bukan sebagai pengakuan atas keberlainan, melainkan keinginan menjadikan yang lain aman, jinak, dan dapat diprediksi.
Secara filosofis, kecenderungan ini berakar pada ketidaknyamanan manusia terhadap kebebasan yang tidak berada di bawah kendalinya. Kebebasan makhluk lain dipersepsikan sebagai sesuatu yang perlu dijinakkan. Kasih sayang kemudian berubah menjadi alat kontrol.
Modernitas memperhalus kecenderungan ini dengan membungkus kontrol dalam bahasa kepedulian. Merawat, melindungi, dan menghias tubuh makhluk lain tampak wajar, bahkan penuh niat baik. Namun pada titik tertentu, kasih sayang kehilangan dimensi etisnya karena tidak lagi menanyakan apa yang dibutuhkan oleh yang dirawat, melainkan apa yang membuat sang perawat merasa tenang.
Mencabut nature makhluk lain akhirnya bukan lagi tindakan kejam yang disadari, melainkan konsekuensi dari cinta yang posesif. Manusia mencintai dengan cara membatasi, melindungi dengan cara menghilangkan kemungkinan.
Pertanyaan etisnya kemudian bergeser. Apakah kasih sayang menuntut kepemilikan, atau justru keberanian untuk membiarkan makhluk lain tetap bebas, meski kebebasan itu tidak selalu nyaman bagi kita?
SF Maratul Ulya adalah perempuan yang reflektif, berbicara seperlunya, tertarik pada Filsafat dan Ilmu Humaniora.




















