Cinta Bersyarat Orang Tua ke Anak: Aku Mencintaimu, tapi Syarat Ketentuan Berlaku
Usia tujuh tahun menjadi kali pertama aku merasa takut pada bapak. Seusai mengambil rapor, kedua orang tuaku berjanji mengajakku makan di restoran all you can eat. Aku menyambut rencana itu dengan antusias, membayangkan makan siang yang menyenangkan bersama ibu dan bapak.
Namun, semangat itu langsung sirna ketika guru mengumumkan nilai akademikku menurun. Aku kecewa karena merasa tidak belajar maksimal dan menyesal karena gagal membanggakan orang tua. Di atas semua emosi itu, ada satu perasaan yang masih membekas hingga sekarang, yakni bingung menghadapi bapak.
Aku menyadari perubahan suasana hatinya dari ekspresi wajah dan caranya berbicara. Semula ia tampak antusias, tetapi kemudian lebih banyak diam dengan raut wajah yang menyiratkan kekecewaan. Sejak saat itu, bapak berhenti berbicara kepadaku.
Siang itu, kami tetap pergi ke restoran all you can eat. Namun, suasana di meja makan membuat makanan terasa hambar. Aku takut membuka percakapan dan merasa tidak pantas menikmati makanan tersebut karena nilainya tidak memenuhi harapan orang tua.
Pengalaman itu sangat berbeda dengan setahun sebelumnya. Saat naik kelas dengan nilai memuaskan, bapak dan ibu mengajakku ke Kramat Jati, Jakarta Timur, untuk membeli sepeda baru. Mereka mengatakan hadiah itu diberikan karena aku berhasil membanggakan keluarga.
Dua pengalaman yang bertolak belakang tersebut membuatku tumbuh dengan rasa cemas. Aku takut kembali mengecewakan bapak, menerima silent treatment, dan tidak tahu bagaimana harus memperbaiki keadaan. Setelah dewasa, aku baru memahami pengalaman itu sebagai bentuk cinta yang bersyarat.
Baca Juga: Andai Jadi Ibu, Ini yang Takkan Saya Lakukan pada Anak
Cinta Bersyarat dari Orang Tua
Cinta bersyarat merupakan bentuk kasih sayang yang diberikan ketika anak memenuhi syarat atau harapan tertentu. Anak belajar kasih sayang hanya diterima ketika berhasil menyenangkan orang tua, bukan karena dirinya berharga sebagai individu. Akibatnya, mereka tumbuh dengan keyakinan cinta harus diperjuangkan, bukan diterima secara utuh.
Dalam hubungan orang tua dan anak, pola ini kerap muncul ketika anak berprestasi, memenuhi ekspektasi, atau selalu menuruti keinginan orang tua. Sebaliknya, ketika anak melakukan kesalahan atau gagal memenuhi harapan, perhatian dan kasih sayang perlahan ditarik. Bentuknya bisa berupa silent treatment, sikap dingin, hingga penghargaan yang hanya diberikan saat anak berhasil.
Persoalannya, cinta bersyarat sering kali tidak disadari sebagai bentuk kekerasan emosional. Banyak orang tua menganggap hadiah, pujian, atau perhatian setelah anak berprestasi merupakan cara memotivasi. Padahal, ketika kasih sayang hanya hadir setelah anak memenuhi harapan tertentu, anak dapat belajar menilai harga dirinya berdasarkan pencapaian, bukan sebagai pribadi yang layak dicintai apa adanya.
Pandangan serupa disampaikan psikoterapis Kaytee Gillis dalam artikel The Lasting Harm of Conditional Parental Loveyang terbit di Psychology Today (2024). Gillis menjelaskan, anak yang dibesarkan dengan cinta bersyarat belajar menganggap dirinya layak dicintai hanya ketika berperilaku sesuai keinginan orang tua. Dalam jangka panjang, mereka lebih mudah merasa dirinya penuh kekurangan, tidak layak dicintai, dan terus mencari penerimaan dari orang lain.
Ayu, 34, pernah mengalami pola pengasuhan seperti itu. Ayahnya mengharuskannya memperoleh peringkat pertama, baik di sekolah maupun di Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA). Harapan tersebut membuat Ayu tumbuh dengan dorongan kuat untuk terus berprestasi karena takut mengecewakan ayahnya.
Ketika berhasil mempertahankan peringkat pertama, Ayu dan ayahnya akan makan mi ayam bersama. Momen itu terasa istimewa karena menjadi kesempatan langka menghabiskan waktu berdua. Ayahnya juga membanggakan prestasi Ayu kepada orang-orang di sekitar, sesuatu yang membuat Ayu merasa dihargai.
Namun, semua berubah ketika Ayu duduk di kelas dua SD. Saat itu, ia hanya meraih peringkat kedua di TPA setelah sakit ketika ujian praktik salat. Karena takut melihat reaksi ayahnya, Ayu memilih bersembunyi di rumah tetangga hingga malam sebelum akhirnya pulang.
Begitu melihat rapornya, ayah Ayu hanya menatap dengan wajah kecewa lalu bertanya, “Ranking dua?”
Sejak saat itu, Ayu berusaha keras agar tidak lagi mengecewakan ayahnya. Ia merasa harus selalu menjadi yang terbaik dan diliputi rasa bersalah ketika tidak memberikan hasil yang sempurna. Baginya, nilai tinggi bukan lagi sekadar prestasi, melainkan cara mempertahankan kasih sayang ayah.
Pola tersebut juga memengaruhi hubungan Ayu dengan orang lain. Ia mengaku tidak memiliki banyak teman karena merasa relasi yang dibangun hanya bertujuan memperoleh nilai bagus. Sementara hubungannya dengan sang ayah terasa lebih seperti hubungan antara mentor dan murid dibandingkan ayah dan anak.
Dampak cinta bersyarat tidak selalu berhenti pada masa kanak-kanak. Menurut Gillis, pengalaman tersebut dapat terbawa hingga dewasa dan memengaruhi cara seseorang memandang dirinya sendiri maupun membangun hubungan dengan orang lain. Anak yang terbiasa menerima kasih sayang setelah memenuhi ekspektasi lebih rentan menggantungkan harga diri pada prestasi, status, atau validasi dari luar dirinya.
Psikolog Klinis Anak dan Remaja Gisella Tani menjelaskan, anak yang dibesarkan dengan pola asuh seperti ini cenderung merasa hubungan dengan orang tua tidak bisa diandalkan. Mereka juga lebih sulit mempercayai ketulusan orang lain sehingga berisiko membangun relasi yang bersifat transaksional, yakni hubungan yang didasarkan pada pencapaian atau timbal balik semata.
Baca Juga: Apa itu ‘Emotional Blackmail’ dan Bagaimana Cara Mengatasinya
Upaya Orang Tua Mencintai Anak Tanpa Syarat
Banyak orang tua menarik perhatian atau kasih sayang dengan harapan anak berubah menjadi lebih baik. Padahal, cara tersebut justru bertolak belakang dengan konsep unconditional love, yakni kasih sayang yang tetap hadir meski anak melakukan kesalahan. Bagi anak, rasa aman tumbuh ketika mereka mengetahui orang tua tetap menerima dan mendampingi mereka, bukan hanya ketika berhasil memenuhi harapan.
Gillis dalam artikel The Lasting Harm of Conditional Parental Love (Psychology Today, 2024) menjelaskan, anak membutuhkan kasih sayang yang konsisten agar merasa dunia adalah tempat yang aman. Sebaliknya, ketika cinta orang tua hadir secara bersyarat, anak belajar mengantisipasi penolakan dan tumbuh dengan keyakinan dirinya akan ditinggalkan ketika melakukan kesalahan. Pengalaman itu kemudian memengaruhi cara mereka menghadapi konflik, membangun kelekatan, hingga menjalin hubungan saat dewasa.
Menurut Gisella, membentuk perilaku anak tidak harus dilakukan dengan menarik kasih sayang. Orang tua justru dapat membimbing anak secara bertahap sesuai tahap perkembangannya, terutama dalam membangun keterampilan sosial dan kesadaran diri. Pendekatan tersebut membantu anak memahami perilaku yang diharapkan tanpa merasa harga dirinya dipertaruhkan.
Orang tua juga dapat lebih banyak mengapresiasi usaha dibandingkan hasil akhir. Misalnya, memberikan pujian atas proses belajar yang sudah dilakukan, menghargai kerja keras anak, atau mengakui sifat-sifat positif yang mereka miliki. Dengan begitu, anak belajar keberhargaan dirinya tidak hanya ditentukan oleh prestasi.
Sebaliknya, Gisella mengingatkan orang tua untuk menghindari ancaman maupun hukuman yang memutus hubungan emosional. Misalnya, mengancam berhenti menyayangi anak jika mereka melakukan kesalahan atau memberikan silent treatment. Cara-cara tersebut justru membuat anak merasa hubungan dengan orang tua tidak lagi menjadi tempat yang aman.
Baca Juga: Apa itu ‘Mindful Parenting’, Kunci Bangun Keluarga Sehat
“Cara-cara itu justru memutus perhatian, koneksi, dan komunikasi. Jadinya anak nangkep hubungan sama orang tuanya nggak bisa diandalkan karena merasa nggak aman,” terang Gisella.
Bagi individu yang baru menyadari dirinya tumbuh dengan cinta bersyarat, proses pemulihan membutuhkan waktu. Menurut Gisella, langkah pertama yang dapat dilakukan ialah mengenali kembali dampak pola asuh tersebut terhadap cara memandang diri sendiri maupun menjalin hubungan dengan orang lain. Kesadaran itu menjadi titik awal untuk membangun rasa percaya diri yang lebih sehat.
Salah satu cara yang dapat dilakukan ialah melatih diri menghargai kemampuan sendiri tanpa selalu mengaitkannya dengan pencapaian besar. Misalnya, mengakui keberhasilan menyelesaikan ujian, presentasi, atau meeting, meski hasilnya tidak selalu sempurna. Latihan sederhana tersebut membantu seseorang melihat nilai dirinya tidak semata-mata bergantung pada pengakuan orang lain.
“Nggak perlu hal-hal besar kayak berprestasi, sesederhana menyelesaikan ujian atau meeting,” kata Gisella.
Latihan menghargai diri secara konsisten dapat membantu mengurangi perasaan tidak berharga maupun keraguan terhadap kemampuan diri. Jika luka emosional yang muncul sejak kecil mulai mengganggu kehidupan sehari-hari atau hubungan dengan orang lain, mencari bantuan psikolog atau tenaga kesehatan mental dapat menjadi pilihan untuk membantu proses pemulihan.
Anak yang tumbuh dengan cinta bersyarat tidak selalu berhenti menyayangi orang tuanya. Namun, mereka lebih rentan meragukan nilai dirinya sendiri ketika gagal memenuhi harapan yang dibebankan kepada mereka. Karena itu, kasih sayang yang hadir secara konsisten bukan hanya membantu anak merasa dicintai, tetapi juga menjadi fondasi bagi rasa aman, kepercayaan diri, dan hubungan yang sehat hingga mereka dewasa.
Ilustrasi oleh Karina Tungari





















