Agustus lalu menandai tepat satu tahun sejak aku meninggalkan kedua anakku di Surabaya karena harus kembali bekerja di Jakarta. Sebagai PNS yang pernah menandatangani pernyataan siap ditempatkan di mana saja, tentu aku tahu risiko ini ada. Tapi tetap saja, menjalani kenyataannya terasa menyayat.
Posisiku terasa semakin sulit karena aku perempuan. Entah kenapa, orang-orang lebih mudah menerima laki-laki yang pergi jauh dari rumah untuk bekerja daripada perempuan. Selama puluhan tahun, banyak ayah pergi berbulan-bulan dan hanya pulang sesekali, dan tidak ada yang peduli. Tapi ketika aku, seorang ibu, melakukan hal serupa, tatapan orang berubah seolah aku baru saja melakukan dosa besar.
Tapi tahukah apa yang lebih menyayat?
Pada hari pertama aku kembali bekerja, seseorang bertanya, “Anak-anak di mana?”
“Di Surabaya, sama ayahnya,” jawabku.
Kedua matanya langsung terbelalak.
“Tega ya? Kalau aku sih enggak bisa. Sehari pun aku enggak bisa!”
Benarkah aku tega? Aku meninggalkan anak-anak bersama ayah mereka sendiri, yang memang bekerja dari Surabaya. Di sana juga ada keluarga besar kami: orang tua, saudara kandung, sampai saudara jauh yang siap membantu. Lalu kenapa rasanya aku tetap dianggap tidak bertanggung jawab?
“Sehari-hari siapa yang jaga anakmu?”
Ah, matilah.
PRT memang.
Tamatlah sudah riwayatku. Hancurlah reputasiku. Akulah ibu buruk itu: meninggalkan anak-anak untuk diasuh PRT, sementara aku memilih menembus ibu kota dan bekerja di antara gedung-gedung tinggi.
Baca juga: Daycare Bukan Kemewahan: Menilik Sejarah Crèche di Prancis
Sesama ibu yang meninggalkan anaknya
Sejak saat itu, setiap pulang ke Surabaya seminggu sekali, aku jadi semakin memperhatikan interaksi anak-anakku dengan PRT kami. Orang tuaku? Jangan harap. Mereka masih bekerja. Tak mungkin mereka menjaga anakku setiap hari.
PRT-ku memperlakukan mereka dengan baik. Sangat baik. Kadang terasa terlalu baik.
Menyayat rasanya ketika anak-anakku menangis sambil memanggil namanya, bukan namaku. Menyesakkan ketika mereka lebih menurut kepadanya daripada kepadaku. Ada saat-saat ketika aku benar-benar mempertanyakan keberadaanku sebagai ibu.
Saat libur Lebaran, kedua anakku menangisi PRT kami yang pulang kampung. Mereka menghitung hari sampai ia kembali.
Lalu pada hari keberangkatannya kembali ke Surabaya, aku melihat WhatsApp Story-nya. Ia sedang menimang-nimang anaknya sendiri sebelum berangkat bekerja lagi.
Aku menangis.
Aku meninggalkan anakku untuk bekerja, lalu anakku diasuh oleh perempuan yang juga seorang ibu—yang juga meninggalkan anaknya di kampung demi bekerja.
Baca juga: Ibu-Ibu Pro ASI, Tolong Jangan Hakimi Aku!
Ingin menjadi biasa-biasa saja
Banyak orang bilang aku seharusnya bersyukur. Katanya, banyak orang berebut mendapatkan posisi seperti yang kumiliki.
Benarkah?
Kalau begitu, mengapa rasanya sesak sekali?
Semakin hari aku semakin enggan menjadi sesuatu. Kalau bisa mengendap, aku ingin mengendap sedalam-dalamnya. Jangan sampai ada yang melihatku. Jangan sampai, lebih buruk lagi, ada yang mempromosikanku.
Seorang pimpinan pernah bertanya, beberapa tahun lagi aku ingin jadi apa.
Aku menjawab sambil tersenyum, “Enggak mau jadi apa-apa. Mau jadi staf saja.”
Menjadi staf saja aku sudah menghadapi risiko mutasi ke seluruh Indonesia. Bagaimana kalau jadi pimpinan?
Ah, maaf. Enggak dulu.
Aku hanya ingin lebih dekat dengan suami dan anak-anakku.
Lalu ia mempertanyakan gelar S2-ku. Beasiswa yang pernah kudapat. Pendidikan yang sudah kutempuh.
Dan aku pun mulai mempertanyakan diriku sendiri: sebenarnya aku sedang melakukan apa?
Sungguh, saat ini aku hanya ingin menjadi biasa-biasa saja. Kembali ke Surabaya dan mengendap di sana sepuluh atau dua puluh tahun kalau bisa.
Kadang aku berpikir, para perempuan pejuang di luar sana mungkin akan malu melihatku.
Baca juga: Daster Lusuh, Blazer Rapi, dan Rasa Bersalah yang Sama-sama Dipikul Perempuan
Rasa bersalah seolah mengkhianati perjuangan perempuan
Ada hari-hari ketika rasanya ingin mengundurkan diri saja. Tapi apakah semudah itu?
Mengundurkan diri dari umbi-umbian ini membutuhkan waktu enam sampai delapan bulan, itu pun kalau lancar. Belum kalau prosesnya ditahan-tahan pimpinan. Belum lagi aku harus memastikan ada jaring pengaman sosial sebelum benar-benar memohon SK pemberhentian. Lalu kalau resign, aku mau kerja apa?
Sering kali aku bertanya-tanya: sembilan tahun bekerja ini, sebenarnya keterampilan khas apa yang kumiliki dan bisa kujual di dunia kerja? Membuat nota dinas?
Di sisi lain, kalau aku mengundurkan diri dan memutuskan menjadi ibu rumah tangga, muncul rasa bersalah lain. Seolah-olah aku mengkhianati sejarah panjang perjuangan perempuan untuk merebut kembali tempat di ruang publik.
Ketika perempuan akhirnya punya kebebasan untuk memilih tempatnya sendiri, aku justru ingin kembali ke rumah. Tapi bukankah itu juga bentuk kebebasan? Bukankah kebebasan seharusnya juga berarti aku berhak memilih untuk berhenti?
Aku adalah produk dari seorang ibu yang mendapatkan kebebasan itu. Ibuku PNS dan kariernya menjulang. Ia punya gelar S2 pada masa ketika perempuan menjadi sarjana saja belum seumum sekarang.
Aku dibesarkan oleh PRT. PRT yang juga meninggalkan anaknya di kampung. Dan sekarang aku merasa sedang mengulang siklus yang sama. Apakah aku bahagia? Lalu, bagaimana sebenarnya kita mendefinisikan kebahagiaan?
Dengan kedua orang tua yang bekerja sampai pucuk pimpinan, tentu aku mendapat banyak hal: pendidikan, akses, pengalaman, dan berbagai bentuk pengayaan. Tapi aku tidak pernah benar-benar merasa mengenal orang tuaku. Maksudku, aku hafal tanggal ulang tahun mereka. Tapi makanan kesukaan mereka saja aku tidak tahu. Dan itu berlaku sebaliknya.
Tiga puluh dua tahun hidup, dan aku tetap merasa asing dengan orang tua sendiri. Dan sepertinya, aku tidak ingin menjadi orang tua seperti itu.
Masih ada beberapa tahun bagiku untuk memutuskan apakah aku akan terus menjalani hidup seperti ini, atau berhenti. Dan kalau ada yang bertanya kenapa aku tidak membawa anak-anak ke mana pun aku pindah, jawabannya juga tidak sederhana: I was deemed unfit.
Perempuan dengan masalah kesehatan jiwa? Jangan harap keluargaku memberi izin.
Ilustrasi oleh Karina Tungari





















