18/09/2026
Issues Opini

‘Biaya Kelakuan Suami’: Ketika Istri Selalu Dituduh Boros

Ketika uang rumah tangga habis, istri sering menjadi orang pertama yang dituduh boros. Sebuah pelatihan ekonomi keluarga justru membuka pertanyaan lain: sudahkah pengeluaran suami ikut dihitung?

  • September 18, 2026
  • 5 min read
  • 21 Views
‘Biaya Kelakuan Suami’: Ketika Istri Selalu Dituduh Boros

“Kalau mulai besok semua pencari nafkah di keluarga tidak menerima gaji lagi, berapa lama keuangan keluarga mampu bertahan?”

Saya membuka sesi pelatihan tentang ketahanan ekonomi keluarga dengan pertanyaan itu di sebuah desa di Serdang Bedagai. Pesertanya sekitar 20 orang, laki-laki dan perempuan dengan jumlah yang relatif berimbang.

Jawabannya bermacam-macam. “Paling lama seminggu.” “Tiga hari,” jawab seorang peserta. “Hari ketiga langsung stroke.”

Satu ruangan tertawa. Namun, di balik candaan itu ada persoalan serius: banyak keluarga nyaris tidak memiliki cadangan untuk menghadapi hilangnya penghasilan, bahkan untuk waktu yang sangat singkat.

Saya kemudian mengajak peserta memetakan pengeluaran rutin. Mana yang wajib dibayar, mana yang bisa dikurangi, ditunda, atau bahkan dihentikan. Setelah itu saya bertanya, “Apa yang biasanya membuat uang keluarga cepat habis setiap bulan?”

Seorang peserta laki-laki langsung menjawab, “Mamak-mamak ini boros. Terlalu sering belanja online. Duit belanja habis.”

Seorang peserta perempuan tidak mau kalah. “Bapak-bapak beli rokok terus. Nongkrong di warung, minum kopi. Padahal di rumah juga bisa ngopi.”

Ruangan kembali riuh.

Beberapa laki-laki saling menimpali bahwa ibu-ibu memang boros. Uang belanja habis sebelum akhir bulan, sementara penghasilan suami segitu-gitu saja, kecuali ketika panen. Beberapa perempuan menggeleng-gelengkan kepala. Jelas mereka keberatan.

Baca juga: Lebih dari Sekadar Pelupa: Ketika ‘Mom Brain’ Menyembunyikan ‘Mental Load’ Ibu

Mengapa yang selalu ditanya istri?

Saya lalu menunjukkan gambar empat kotak yang berjajar dari kiri ke kanan. Setiap kotak mewakili satu minggu dalam sebulan. Kotak pertama menunjukkan pengeluaran pada minggu pertama. Kotak kedua menggambarkan akumulasi pengeluaran selama dua minggu. Kotak ketiga memuat pengeluaran hingga minggu ketiga. Kotak terakhir paling besar karena berisi seluruh pengeluaran keluarga selama satu bulan.

Logikanya sederhana: semakin jauh kita berjalan dalam satu bulan, semakin banyak kebutuhan yang sudah dibayar dan semakin besar pula uang yang telah dikeluarkan.

Setelah peserta memahami gambar itu, saya kembali bertanya kepada peserta laki-laki yang tadi mengatakan istrinya boros.

“Ketika Bapak bilang uang belanja sudah habis, itu terjadi pada minggu keberapa? Apakah pengeluarannya masih sekecil kotak minggu pertama? Atau kotaknya memang sudah membesar karena keluarga sudah masuk minggu ketiga?”

“Nah!” seru para peserta perempuan. Mereka seperti mendapat energi baru.

Istilah “uang belanja” sering membuat uang yang dikelola perempuan terdengar seperti uang yang dipakai untuk kepentingannya sendiri. Padahal, dari uang itulah keluarga makan, listrik dibayar, anak bersekolah, kendaraan diisi bahan bakar, dan berbagai kebutuhan rumah tangga dipenuhi.

Ketika uang itu habis, perempuan dianggap gagal mengelolanya. Boros, begitu label yang segera dilekatkan. Kekurangan anggaran diperlakukan seperti kegagalan pribadi istri. Padahal, sering kali perempuan justru sedang dipaksa membuat uang yang tidak cukup seolah-olah harus selalu cukup.

Pada sesi tanya jawab, seorang peserta laki-laki kembali bertanya, “Bagaimana caranya supaya ibu-ibu tidak boros?”

Tuduhannya muncul lagi: perempuan boros.

Baca juga: ‘Mother-Blaming’ di Kasus ‘Daycare’ Jogja: Salah Kaprah Publik Melihat Kerja Perawatan

Gen z dan “biaya kelakuan suami”

Saya berbagi sesi dengan seorang narasumber laki-laki muda yang memperkenalkan dirinya sebagai Gen Z. Sejak awal ia lebih banyak mendengarkan. Namun, kali ini ia ikut menjawab.

“Menurut saya, tidak ada istri yang boros,” katanya.

Ruangan mendadak hening.

Menurutnya, jika uang belanja tidak cukup, bisa jadi suami belum benar-benar menghitung seluruh kebutuhan keluarga. Bisa jadi ia tidak tahu berapa besar “empat kotak” pengeluaran tadi. Atau, jangan-jangan perhitungannya belum memasukkan satu komponen penting:

“Biaya kelakuan suami.” Peserta langsung tertawa.

Ia kemudian menjelaskan. Seorang suami mungkin merasa sudah menyerahkan seluruh gajinya kepada istri. Namun, setelah itu ia meminta kembali sebagian uang tersebut untuk membeli rokok, nongkrong, atau minum kopi. Pengeluaran itu tetap keluar dari uang keluarga. Tetapi ketika uangnya tidak cukup sampai akhir bulan, siapa yang disebut boros?

Istri.

Narasumber muda itu kemudian berkata bahwa jika uang bulanan tidak cukup, pendapatan keluarga memang perlu ditambah. “Enggak perlu berhenti ngopi. Kalau penghasilannya bertambah, bisa ngopi berdua dengan pasangan dan sesekali makan di luar bareng keluarga.”

Saya tersenyum mendengarnya. Jawaban itu memang masih menempatkan suami sebagai pencari nafkah utama. Padahal, banyak perempuan juga menghasilkan pendapatan. Bahkan ketika tidak menerima upah, perempuan melakukan pekerjaan yang membuat keluarga tetap berjalan: memasak, mengasuh anak, merawat anggota keluarga, hingga mengatur kebutuhan sehari-hari.

Namun, ada satu hal penting dari respons laki-laki muda itu: ia tidak langsung menerima tuduhan bahwa istri boros. Ia justru memeriksa uang yang tersedia, kebutuhan yang harus dipenuhi, dan pengeluaran laki-laki yang kerap luput dari perhitungan. Ia tidak menuntut perempuan untuk selalu mencukupkan berapa pun uang yang diberikan. 

Di situlah persoalannya. Masalahnya bukan sekadar rokok, kopi, atau belanja online. Masalahnya adalah cara kita memberi jenis kelamin pada pengeluaran. Belanja dilekatkan pada perempuan. Rokok dan nongkrong dianggap sebagai bagian biasa dari kehidupan laki-laki.

Ketika keuangan keluarga bermasalah, pelabelan ini menjadikan perempuan tersangka pertama.

Di sudut ruangan, kami melanjutkan percakapan. Saya mengatakan bahwa ketahanan ekonomi keluarga tidak bisa dibangun hanya dengan meminta perempuan semakin pandai mengencangkan ikat pinggang. Ketahanan ekonomi membutuhkan keterbukaan soal pendapatan dan pengeluaran, pembagian tanggung jawab, pengakuan terhadap kerja perawatan, dan pengambilan keputusan bersama.

Baca juga: Tak Ada Hari Libur bagi Perempuan, Bahkan Saat Liburan

Perspektif ini juga mengajak kita bertanya: siapa yang memegang kendali atas uang? Siapa yang melakukan kerja pengelolaan sehari-hari? Siapa yang paling sering diminta berhemat? Dan siapa yang paling cepat disalahkan ketika uang tidak cukup?

Pada akhir sesi, pertanyaannya berubah. Bukan lagi, “Bagaimana supaya istri tidak boros?”

Melainkan: Apakah keluarga sudah menghitung seluruh kebutuhan secara jujur? Apakah keputusan keuangan dibuat bersama? Dan mengapa, ketika pendapatan tidak cukup, perempuan selalu menjadi orang pertama yang diminta mempertanggungjawabkannya?

Saya masih tersenyum. Senyuman itu saya bawa pulang.

Ilustrasi oleh Karina Tungari

About Author

Laili Zailani

Lely adalah fasilitator pemberdayaan perempuan, pendiri HAPSARI dan Rumah Kata. Fellow Ashoka Indonesia (2000), serta penulis yang percaya bahwa cerita adalah alat perubahan.

Royal ID adalah kunci utama akunmu. Di situs top up royal dream yang benar, Royal ID hanya dipakai untuk mengirim koin ke karakter yang tepat, bukan untuk mengakses akun. Tidak ada alasan bagi layanan mana pun untuk meminta password, PIN, atau kode OTP yang kamu terima lewat SMS. Kalau ada yang meminta hal itu, itu tanda bahaya dan sebaiknya segera ditinggalkan.