Langit mulai gelap saat saya menulis kata terakhir artikel yang sudah dikerjakan seharian. Saya kemudian memutuskan menunaikan mandi kedua. Setelah menggantung handuk, baju, dan celana pendek yang akan dipakai seusai membersihkan diri, saya duduk sejenak di kloset, membuka handphone, lalu menunggu niat mandi datang.
Saya menekan logo mini-games yang beberapa waktu lalu diunduh dari iklan mini-games lain. Cara mainnya sederhana, saya hanya perlu menggeser prajurit ke kanan dan kiri untuk membunuh zombie yang ingin memakannya. Setelah menang, iklan game lain langsung muncul di layar.
Saya harus menunggu iklan tersebut sebelum bisa memainkan level berikutnya. “Seru juga,” pikir saya ketika iklan game mencocokkan bentuk sate untuk dihidangkan kepada pembeli muncul. Jari saya spontan menekan layar dan langsung dibawa ke Play Store. Tombol download saya klik tanpa pikir panjang. Level demi level saya selesaikan dengan mudah.
Tanpa sadar, saya sudah menghabiskan beberapa jam duduk di kloset, menunduk menatap sekaligus menyentuh layar untuk menyelesaikan permainan yang seolah tidak ada ujungnya. Jika pacar saya tidak mengirim pesan singkat yang mempertanyakan keberlangsungan hidup saya, mungkin kesadaran itu tidak kunjung datang.
“Kamu mandi dari jam enam sampai jam sembilan belum selesai, gitu? Ngapain saja sih?” sebagaimana tertulis di pesan singkat yang menyadarkan saya. “Eh iya keseruan main game iklan, ini baru mau mandi,” jawab saya sebelum akhirnya membuka baju dan membasahi tubuh.
Baca Juga: Gerakan Retro Gen Z: Buang ‘Smartphone’, Pakai Ponsel Jadul
Ketika Bermain Sambil Melakukan Hal Lain
Pacar saya tidak marah ketika tahu saya terlalu asyik bermain game di kamar mandi. Lagipula, ada beberapa kali kami menghabiskan satu jam bermain game di gawai masing-masing sambil melakukan panggilan video menggunakan laptop.
“Busyet! ini video call cuma main game doang, ayo ngobrol apa,” kata saya atau pacar ketika sama-sama sadar terlalu banyak waktu habis untuk bermain.
Jadi, aman mengatakan dia punya masalah yang sama. Alih-alih marah, pacar saya justru menceritakan temannya yang tidak lagi bisa mengikuti rapat daring tanpa diam-diam memainkan mini-games di gawainya.
“Jadi ya dia dengerin aja orang-orang lagi ngobrol apa, baru berhenti main kalau sudah waktunya dia ngomong, abis ngomong ya main lagi,” kisahnya.
Saya kemudian menceritakan pengalaman melihat seorang jurnalis bermain Candy Crush sembari mendengarkan narasumber berbicara dalam konferensi pers. Setelah narasumber mengucapkan terima kasih kepada para jurnalis, ia menutup aplikasi Candy Crush lalu membuka voice note yang sejak tadi merekam suara.
“Aku belum sampai ke titik itu sih, masih takut enggak ngerti narasumbernya ngomong apa,” kata saya.
Namun, sejujurnya saya sudah berada di tahap tidak bisa menyaksikan video podcast tanpa memainkan game-game kecil itu. Sesekali saya mencoba menonton tanpa bermain, tetapi rasa bosan datang begitu cepat. Tangan terasa gelisah dan ingin terus menyentuh layar gawai. Percobaan itu hampir selalu berakhir dengan telunjuk saya menekan logo mini-game di handphone.
Rasa penasaran membawa saya berbincang dengan pakar neuroscience Trisa Triandesa mengenai kemampuan multitasking. Menurut Trisa, otak manusia sejak awal didesain untuk mengerjakan satu tugas dalam satu waktu.
Istilah multitasking, kata Trisa, hanyalah mitos. Nyatanya, otak tidak pernah mengerjakan lebih dari satu tugas secara bersamaan, melainkan berpindah perhatian dengan sangat cepat. Misalnya, saat saya bermain game sambil mendengarkan orang berbicara, otak sebenarnya lebih condong pada salah satu aktivitas.
Pilihannya hanya dua, saya fokus bermain game sehingga tidak mendengarkan dengan baik, atau saya fokus mendengarkan sehingga tidak benar-benar berpikir saat bermain. “Apakah otak manusia memang didesain untuk bisa mengemban banyak fokus? sebenarnya enggak,” ungkap Trisa kepada Magdalene melalui aplikasi perpesanan, (10/7).
“Kalau misalkan otak kita ini dipaksa atau harus mengerahkan menaruh perhatian ke satu tugas yang memang membutuhkan kognitif load yang tinggi gak bisa gitu jadi otak kita memang canggih tapi didesain untuk fokus pada satu hal saja pada satu waktu gitu,” lanjutnya.
Percakapan itu menjawab satu rasa penasaran, tetapi memunculkan pertanyaan lain. Apa dampak terlalu banyak bermain game iklan? Apakah ada risiko buruk yang sedang menunggu saya, atau sebenarnya permainan semacam ini tidak berdampak apa pun?
Baca Juga: Waspada Pedofil dan Child Grooming di ‘Online Game’
Bukan Game-nya, tetapi Cara Kita Memainkannya
Untuk mencari jawabannya, saya kembali berbincang dengan Trisa Triandesa. Menurutnya, bermain game dalam durasi yang terlalu lama berpotensi menyebabkan depresi, kecemasan, dan kesulitan fokus. Kondisi tersebut terjadi akibat terganggunya kinerja prefrontal cortex.
“Prefrontal cortex adalah bagian otak yang bertugas atau fungsi utamanya itu untuk perencanaan, pengambilan keputusan, terus regulasi emosi, dan juga kontrol impuls,” katanya.
Dalam perspektif neuroscience, persoalan utamanya bukan terletak pada permainannya, melainkan penggunaan yang berlebihan. Karena itu, motif seseorang bermain game juga penting diperhatikan. Trisa menjelaskan, bermain game menjadi berbahaya ketika tujuannya untuk lari atau mendistraksi diri dari berbagai persoalan, seperti pekerjaan maupun tugas.
Secara umum, screen time berlebih memang berpotensi menurunkan kemampuan fokus. “Screen time yang berlebih, terus kebanyakan main gitu kan ya, tujuan bermainnya kayak misalkan untuk eskapism, untuk melarikan diri dari masalah, itu memang berdampak terhadap gangguan fokus,” ujar Trisa.
Tidak ada angka pasti untuk menentukan kapan seseorang sudah bermain game secara berlebihan. Menurut Trisa, penggunaan yang berlebihan justru lebih mudah dikenali ketika mulai mengganggu aktivitas sehari-hari.
“Patokannya adalah kayak kalau sudah mengganggu tidur, mengganggu aktivitas sehari-hari dari mulai kerja, kuliah, atau pun relasi interpersonal, ya itu berarti ternyata sudah kelebihan gitu,” tutupnya.
Percakapan itu membuat saya mengambil satu kesimpulan sederhana. Saya akan bermain hanya ketika tidak ada aktivitas lain yang menunggu. Saat ada pekerjaan yang lebih mendesak, permainan harus berhenti. Setelah semua tugas selesai, barulah saya kembali bermain, misalnya ketika kalimat terakhir artikel ini sudah selesai diketik.





















