31/07/2026
Issues Lifestyle Opini Travel & Leisure

Benarkah Singapura Curi Budaya Indonesia? Penelusuran Saya di Haji Lane dan Marina Bay

Singapura menggunakan budaya Indonesia sebagai daya tarik wisata. Di balik klaim budaya, ada pelajaran tentang cara negara mengelola identitas hingga membangun citra.

  • July 31, 2026
  • 8 min read
  • 23 Views
Benarkah Singapura Curi Budaya Indonesia? Penelusuran Saya di Haji Lane dan Marina Bay

Saya tengah mengantre es teh tarik di kafe kecil Haji Lane, Singapura siang itu. Tiba-tiba saya mendengar tour guide, dengan Bahasa Inggris beraksen lokal yang fasih, menjelaskan kepada rombongan turis asing tentang mural besar di dinding seberang. Mural itu menggambarkan seorang bapak yang membakar sate di atas anglo, asap mengepul, dengan wajah teduh khas pedagang kaki lima. Rombongan tersebut mengangguk-angguk, sementara beberapa orang mengabadikannya dengan kamera.

Beberapa langkah dari situ, tour guide kembali berhenti di depan Rumah Makan Padang lengkap dengan etalase kaca berisi rendang, gulai, dan sambal hijau yang ditata bertingkat khas Minang. Ia menjelaskan filosofi cara makan orang Padang, cara memilih lauk, hingga alasan nasi dibungkus daun. Penjelasan itu disampaikan dengan penuh antusias kepada wisatawan yang tampak mendengarkan dengan saksama.

Saya berdiri di antrean dengan perasaan campur aduk. Ada rasa bangga melihat budaya yang akrab bagi saya diperkenalkan kepada turis asing dengan penuh kekaguman. Namun, di saat yang sama, muncul pertanyaan ketika menyaksikan negara yang dikenal piawai membangun citra kosmopolitan dan hipster justru banyak memanfaatkan budaya negara tetangganya sebagai daya tarik wisata.

Pertanyaan itu semakin menguat malam harinya di Marina Bay. Ketika pertunjukan cahaya dan musik dimulai, di antara deretan lagu dari berbagai negara ASEAN, saya mendengar melodi yang sangat akrab di telinga. Bengawan Solo mengalun di tengah gemerlap gedung pencakar langit yang menjadi ikon negara yang kerap disebut sebagai kota masa depan Asia.

Pengalaman tersebut mendorong saya bertanya, mengapa negara yang identik dengan efisiensi, kedisiplinan, dan modernitas justru banyak bersandar pada budaya negara-negara di sekitarnya untuk membangun citra pariwisata? Setelah menelusuri berbagai kajian, saya menemukan jawaban yang jauh lebih menarik dan justru lebih membanggakan bagi Indonesia dibanding sekadar tuduhan “Singapura mencuri budaya kita”.

Baca juga: The Truth about Manila: The City Has a Lot to Offer Than People’s Prejudices

Negara yang Lahir Tanpa Cerita Asal-usul

Ada satu fakta historis dan sosiologis yang jarang dibahas secara terbuka, tetapi menjadi kunci untuk memahami fenomena ini. Secara struktural, Singapura merupakan salah satu dari sedikit negara modern yang lahir tanpa cerita asal-usul etnis tunggal. Berbeda dengan banyak negara-bangsa yang memiliki narasi peradaban pra-kolonial sebagai pijakan identitas nasional, Singapura merdeka pada 1965 sebagai masyarakat imigran multiras yang dipersatukan lebih oleh dinamika geopolitik dibanding sejarah panjang bersama.

Kajian akademik mengenai identitas nasional Singapura menjelaskan secara eksplisit, karena tidak memiliki cerita asal-usul etnis tunggal, pembangunan bangsa sejak awal diarahkan pada konstruksi kewargaan melalui konsep multiracialism. Kerangka kebijakan ini secara sengaja merawat keberagaman etnis Tionghoa, Melayu, India, dan kelompok lainnya sebagai dasar kehidupan berbangsa. Studi yang sama juga mencatat Singapura masih dianggap elusive dan terus menjadi proyek kebangsaan yang belum selesai, lebih berorientasi ke masa depan daripada bertumpu pada satu masa lalu.

Kondisi tersebut bukan kelemahan yang perlu ditutupi. Justru di situlah letak strategi komunikasi Singapura. Alih-alih membangun satu identitas budaya yang seragam, negara ini mengelola keberagaman sebagai aset. Kajian mengenai pariwisata etnis di Singapura menjelaskan etnisitas diperlakukan sebagai produk budaya yang dikurasi dan dipasarkan kepada konsumen sehingga menjadi bagian penting dari kehidupan ekonomi negara tersebut.

Dengan kata lain, alih-alih menciptakan identitas budaya yang sepenuhnya “asli Singapura”, pemerintah dan industri pariwisatanya memilih pendekatan yang lebih pragmatis. Mereka mengemas ulang, mengurasi, dan memasarkan warisan budaya dari komunitas etnis yang hidup di sana, termasuk warisan Nusantara yang dibawa diaspora Melayu dan Indonesia jauh sebelum Singapura berdiri sebagai negara modern.

Baca juga: Hati-hati Jebakan ‘Tourist Gaze’: Bahaya Mengeksploitasi Desa Pariwisata

Pengakuan Terbuka atas Warisan Budaya Nusantara

Kampong Glam, kawasan tempat Haji Lane berada, secara historis merupakan kawasan Melayu. Dahulu wilayah ini menjadi lokasi Istana Sultan, yang kini berfungsi sebagai Malay Heritage Centre, sekaligus titik keberangkatan jemaah haji Muslim sehingga melahirkan nama Haji Lane. Kawasan tersebut juga dikenal sebagai pusat penjualan satay di sekitar Beach Road, dan mural yang saya lihat merujuk langsung pada sejarah kuliner lokal itu.

Satay dan warisan Melayu di Kampong Glam bukan sesuatu yang murni “dicuri” dari Indonesia secara sepihak. Keduanya merupakan bagian dari warisan budaya Nusantara yang telah saling bertaut dan mengalir melalui jalur perdagangan Selat Malaka selama berabad-abad. Dalam konteks ini, klaim kepemilikan tunggal atas satu budaya oleh satu negara justru menjadi argumen yang rapuh jika ditinjau dari sejarah.

Berbeda dengan Rumah Makan Padang yang berdiri di sebelah kafe tempat saya mengantre. Kasus ini jauh lebih clear-cut. Masakan Padang merupakan produk budaya khas Minangkabau, Sumatera Barat, yang asal-usulnya dapat ditelusuri secara jelas ke satu wilayah di Indonesia, bukan warisan bersama kawasan Selat Malaka. Kehadirannya di Kampong Glam menunjukkan budaya Indonesia turut menjadi bahan baku bagi narasi pariwisata negara tetangga ini.

Begitu pula dengan lagu Bengawan Solo. Lagu berbahasa Indonesia ini menjadi salah satu karya musik pertama yang meraih popularitas luas di tanah air sekaligus membawa makna simbolis tentang gambaran “tanah air” yang menyatukan bangsa setelah lepas dari penjajahan. Popularitasnya kemudian melampaui batas Indonesia. Lagu tersebut dinyanyikan dan diajarkan di sekolah-sekolah di Malaysia, Singapura, dan Brunei, bahkan sangat populer di Jepang setelah dibawa pulang tentara pendudukan yang jatuh hati pada melodinya hingga diterjemahkan ke sedikitnya tiga belas bahasa berbeda.

Kajian akademik mengenai musik populer di kawasan ASEAN bahkan secara eksplisit menyebut lagu ini sebagai “travelling songs“, yakni warisan budaya yang kepemilikannya kerap diperdebatkan antarnegara karena penyebaran dan penerimaannya yang begitu luas di kawasan. Kondisi tersebut membuat klaim kepemilikan tunggal atas lagu ini menjadi tidak realistis. Namun, studi yang sama tetap menegaskan Bengawan Solo “berasal dari Indonesia” (of Indonesian origin).

Status tersebut kini juga diperkuat secara resmi setelah pada Oktober 2025 lagu Bengawan Solo ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Nasional oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia.

Fakta lagu ini masih diputar dalam pertunjukan cahaya paling ikonik di Marina Bay, puluhan tahun setelah diciptakan dan jauh dari tanah kelahirannya, menunjukkan daya tarik budaya tidak lahir semata dari kampanye pemasaran. Daya tarik tersebut tumbuh dari kekuatan naratif dan emosional yang membuatnya terus dipilih secara sukarela oleh negara lain untuk merepresentasikan identitas kawasan yang lebih besar daripada sekadar satu negara.

Yang menarik, pengakuan atas identitas budaya yang dikurasi itu justru disampaikan secara terbuka oleh Singapura sendiri. Hal ini tampak dalam salah satu pencapaian budaya paling membanggakan mereka, yakni pengakuan UNESCO terhadap budaya hawker atau pedagang kaki lima pada Desember 2020. Dalam dokumen resmi yang disusun think tank pemerintah Singapura untuk merayakan pencapaian tersebut, tertulis secara gamblang budaya hawker mungkin tidak berasal dari Singapura dan bukan sesuatu yang eksklusif dimiliki pulau itu. Namun, budaya tersebut telah berkembang menjadi bagian dari budaya, sejarah, dan identitas masyarakat Singapura.

UNESCO juga menyebut pusat-pusat jajanan sebagai penanda Singapura sebagai kota-negara multikultural yang mengambil inspirasi dari perpaduan berbagai budaya, lalu mengadaptasi hidangan sesuai selera dan konteks lokal. Pengakuan tersebut memperlihatkan identitas budaya Singapura dibangun melalui proses adaptasi dan kurasi, bukan dengan mengklaim seluruh unsur budaya yang berkembang di wilayahnya berasal dari sana.

Baca juga: Turis Nakal Viral di Instagram, Adakah Solusi Bikin Mereka Lebih ‘Beradab’?

Indonesia Perlu Lebih Serius Mengelola Warisan Budaya

Pengalaman tersebut juga memperlihatkan sisi lain yang perlu dicermati. Mengemas budaya etnis sebagai produk yang dikurasi untuk konsumsi wisatawan memang efektif membangun daya tarik, tetapi juga menyimpan risiko. Budaya yang hidup dan kompleks dapat direduksi menjadi sekadar dekorasi atau latar foto sehingga kehilangan konteks sosial dan sejarah yang membentuknya.

Risiko itu tampak ketika mural yang indah kehilangan cerita di baliknya, rumah makan lebih dirancang untuk memanjakan mata wisatawan daripada menjaga keaslian rasa, atau lagu hanya menjadi pemantik nostalgia tanpa menghadirkan pemahaman atas sejarah yang melahirkannya. Sejumlah pengamat budaya bahkan menilai strategi semacam ini, jika tidak dilakukan secara hati-hati, dapat mengarah pada komodifikasi budaya yang meratakan makna aslinya demi kepentingan komersial.

Meski demikian, pengalaman tersebut juga memperlihatkan satu pelajaran penting. Identitas yang kuat tidak selalu lahir dari orisinalitas tunggal. Kekuatan sebuah brand, termasuk sebuah negara, tidak semata ditentukan oleh seluruh elemennya benar-benar asli, melainkan oleh kemampuan mengurasi, merawat, dan menyusunnya menjadi narasi yang konsisten serta meyakinkan.

Singapura tidak menutupi kenyataan identitas budayanya terbentuk dari masyarakat multikultural. Sebaliknya, keterbukaan tersebut justru disampaikan secara apa adanya. Saya bahkan mendengar langsung penjelasan itu dari seorang tour guide di Haji Lane. Yang dilakukan Singapura bukan memalsukan identitas, melainkan mengurasi identitas. Negara tersebut mengambil unsur-unsur budaya yang secara historis dan geografis memang hidup di tengah masyarakatnya, termasuk warisan besar dari Indonesia, lalu merawat, mempromosikan, dan membingkainya sebagai bagian dari cerita nasional mereka.

Strategi ini dalam kajian nation branding dikenal sebagai pendekatan “outwardly-oriented“, yakni menjadikan keterbukaan terhadap budaya luar sebagai nilai jual utama, alih-alih mengejar kesan orisinalitas semu. Pendekatan tersebut juga terlihat dalam slogan-slogan pariwisata Singapura selama beberapa dekade terakhir, mulai dari “Surprising Singapore” yang sengaja menantang stereotip negara yang steril dan membosankan hingga “Uniquely Singapore” yang menonjolkan pengalaman lokal melalui makanan, festival, dan kehidupan masyarakat multikultural.

Pengalaman di Haji Lane dan Marina Bay buat saya memperlihatkan isu ini tidak sesederhana narasi “mencuri budaya”. Sejumlah unsur budaya memang merupakan warisan bersama Nusantara yang telah berkelindan selama berabad-abad. Sementara sebagian lainnya, seperti Masakan Padang dan lagu Bengawan Solo, memiliki asal-usul yang jelas dari Indonesia. Dalam konteks tersebut, tantangan bagi Indonesia bukan semata memperdebatkan klaim kepemilikan, melainkan memastikan warisan budayanya terus dirawat, didokumentasikan, dan dipromosikan secara konsisten.

Penetapan Bengawan Solo sebagai Warisan Budaya Takbenda Nasional pada akhir 2025 menjadi langkah penting, meski semestinya dilakukan lebih awal. Namun, pengakuan formal saja belum cukup jika tidak diikuti strategi pariwisata dan komunikasi yang membuat dunia terus memilih mengenal, menikmati, dan merayakan budaya Indonesia.

Malam itu saya pulang ke hotel dengan perasaan yang berbeda. Rasa aneh yang sempat muncul di awal perjalanan perlahan berganti menjadi kebanggaan. Bukan semata karena Indonesia diakui lewat klaim resmi, tapi karena budaya kita terbukti memiliki pesona hingga terus dipilih, dinyanyikan, dan diceritakan ulang oleh orang lain, bahkan tanpa harus kita memintanya.

About Author

Ade Indriani Siagian